My Teacher Is Mine

My Teacher Is Mine
MTIM-93 Lagi dan Lagi


__ADS_3

“Bee mau ngapain?”


Pikiranku masih belum kembali normal. Melihat perlakuan Pak Angga yang seperti itu, masih membuat hatiku gentar. Aku segera melepaskan tangan Pak Angga dan menjauhkannya dari badanku.


“Aku pulang sekarang ya, biar kamu bisa tenang.”


“Lho Bee, bukan itu maksud Angel.”


“Iya sayang aku ngerti kok. Aku harus pulang sekarang. Katanya Rendy nyariin aku.”


“Oh gitu. Ya udah gak papa. Hati-hati ya, Bee!”


“Kamu juga hati-hati ya! Jangan panik terus. Setannya udah ikut bersama aku.”


“Ihhh Bee...”


Aku mencubit pinggang Pak Angga dan membuatnya mengaduh kesakitan. Padahal aku hanya mencubitnya pelan, tetapi berhasil membuat Pak Angga meringis. Entah itu hanya akting atau memang rasanya menyakitkan.


“Aww sayang jangan seperti ini perpisahannya dong.”


“Terus gimana, Bee?”


“Disini!”


Pak Angga menunjuk bibirnya. Sedangkan aku semakin kencang mencubit Pak Angga. Tidak peduli jika Pak Angga lebih keras mengeluarkan suara kesakitannya. Aku baru bisa berhenti setelah Pak Angga keluar dari pintu.


Setelah pintu dikunci, aku merebahkan badan di atas kasur. Akhinya aku bisa bernafas lega dan merasa lebih tenang.


***


“Ini Neng makanannya.”


“Oke. Terimakasih Bu.”


“Kok cuma berdua, yang lainnya kemana Neng?”


“Oh hmm. Mungkin nanti nyusul, Bu.”


Aku baru tersadar bahwa Kak Aldo tidak ada bersama kami. Seharusnya ketika jam mata kuliah berakhir, Kak Aldo ada disini. Tetapi sampai pesanan kami sudah siap, tidak ada tanda-tanda kemunculannya. Sedangkan Kak Beni sudah dipastikan tidak akan bergabung karena amarahnya belum mereda.


“Cha, Kak Aldo mana ya? Kok belum kesini sih?”


“Mungkin sebentar lagi juga kesini, Ngel.”


“Coba lo telepon! Feeling gue gak enak.”


“Bentar.”


Alessyia merogoh ponselnya yang di simpan di dalam tas. Ia mencari nomor tujuan kemudian melakukan panggilan. Aku menunggu kabarnya sambil menikmati minuman hangat rasa cokelat.


“Gak ada jawaban, Ngel.”


“Coba lo panggil lagi!”


Alessyia mengulangi kegiatannya. Sudah lebih dari 3 panggilan tidak ada jawaban dari Kak Aldo. Padahal kami melihat rekan satu kelasnya sudah meninggalkan ruangan.


“Gak bisa Ngel...”


“Duuhh kok perasaan gue gak enak ya.”


Entah kenapa feeling aku mengatakan sesutau yang buruk menimpa Kak Aldo. Aku harap itu hanyalah kesalahan. Seorang pria berlari ke arah aku dan Alessyia. Mungkin karena pelariannya yang terlalu cepat membuat nafasnya tersengal-sengal.


“Kalian temannya Aldo dan Beni kan?”


“Iya. Ada apa Kak?”


“Itu...itu...”

__ADS_1


“Tenang dulu ya Kak! Jangan buru-buru!”


Aku mengambilkan air mineral untuk membuat pria itu tenang. Setelah meminum beberapa teguk ia kembali melanjutkan pembicaraannya.


“Mereka..mereka sedang baku hantam di belakang halaman kampus?”


“Baku hantam?”


“Mereka siapa Kak?”


“Aldo sama Beni.”


“Haaa...”


Alessyia segera berlari setelah mendengar penjelasan dari pria yang datang dengan membawa kabar buruk tersebut. Ternyata perasaanku tidak keliru. Itu benar-benar nyata. Setelah mengucapkan terimakasih, aku juga segera berlari menyeimbangi langkah Alessyia.


Setelah tiba di halaman belakang telah banyak putra putri yang mengelilingi lapang basket. Kali ini bukan untuk menyaksikan pertandingan basket. Melainkan untuk menyaksikan perkelahian antara Kak Aldo dan Kak Beni.


“Kak Aldo...”


“Cha tunggu!”


“Lepas Ngel! Gue mau tolongin Kak Aldo.”


Aku gagal menahan Alessyia. Ia segera berlari menuju tengah lapang basket.


“Kak stop!”


“Kak Beni cukup!”


“Kak Aldo...”


“Hiks...Kenapa kalian diam saja? Seharusnya kalian memisahkan mereka! Hiks...”


Karena kecemasan yang sudah memuncak, tanpa sadar Alessyia memarahi semua orang yang sedang menyaksikan perkelahian Kak Aldo dan Kak Beni.


“Terlalu lama...”


Bukk!!!


“Cha...”


“Alessyia...”


Malangnya Alessyia menjadi korban dari perkelahian tersebut. Dia yang berusaha memisahkan Kak Aldo dari cengkraman Kak Beni, ternyata malah pukulan keras Kak Aldo mendarat pada muka cantiknya.


Setelah Alessyia terkapar tak berdaya, barulah aksi tersebut dihentikan. Aku segera berlari untuk menyelamatkan Alessyia. Kak Aldo juga sangat panik. Ia berusaha untuk menyadarkan Alessyia dengan menepuk-nepuk pipinya. Sedangkan Kak Beni hanya terdiam sejenak, kemudian pergi meninggalkan tempat kejadian perkara tanpa simpati.


Kak Aldo segera membopong Alessyia dan membawanya ke klinik kampus. Kali ini giliran Kak Aldo yang merawat Alessyia. Aku dapat melihat raut muka penuh kecemasan yang tergambar pada wajah tampan Kak Aldo.


“Biar saya aja, Sus.”


“Tapi Mas, ini tugas saya.”


“Gak papa Sus, dia terluka karena saya. Jadi saya harus mengobatinya.”


Akhirnya suster mengalah. Ia memberikan kapas yang telah diolesi obat untuk luka kepada Kak Aldo. Dengan perlahan, Kak Aldo mengarahkan kapas itu kepada luka yang tergambar di muka Alessyia.


“Aww...”


“Cha, lo udah sadar?”


“Maafkan Kak Aldo, Cha! Seharusnya Kakak bisa mengontrol emosi. Jika Kakak tidak kebawa hawa nafsu, maka kamu tidak akan terluka seperti sekarang.”


“Echa gak papa. Justru Echa khawatir sama Kak Aldo. Pasti sakit ya, Kak?”


“Enggak. Kakak gak sakit.”

__ADS_1


Alessyia mengarahkan tangannya kepada ujung bibir Kak Aldo yang masih mengeluarkan darah.


“Aw aww.”


“Tuh kan pasti sakit. Kak Aldo juga harus di obati!”


“Nanti juga sembuh. Sekarang yang penting kesehatan kamu dulu.”


“Ya ampun kalian so sweet banget sih sampai lupa ada orang lain disini. Ya udah deh gue keluar dulu ya! Kalian mau nitip minuman gak?”


Berlari dari kantin ke belakang kampus, kemudian menuju klinik, belum lagi rasa khawatir yang menggelora membuat kerongkonganku terasa kering. Apalagi melihat perhatian yang diberikan oleh Alessyia dan Kak Aldo, membuat aku semakin merasa haus.


“Sorry!”


“Buat kamu aja!”


Ketika aku hendak mengambil minuman bersoda yang hanya menyisakan satu di dalam lemari pendingin, rupanya bersamaan dengan seseorang yang baru saja tiba. Dan yang lebih mengejutkan lagi dialah orang yang tidak asing di dalam hidupku.


“Kak Beni?”


“Maaf! Buat kamu aja.”


“Gak papa Kak. Buat Kak Beni aja! Nanti Angel cari yang lain.”


“Gak usah. Buat kamu aja!”


Tidak ada kata-kata lain lagi yang keluar dari mulut Kak Beni. Ia berlalu dengan sangat dingin. Bahkan tidak bertanya perihal keadaan Alessyia dan Kak Aldo. Aku merasa itu seperti bukan Kak Beni. Aku kehilangan sosok Kak Beni yang aku kenal.


Dred...dred...


Dering ponsel pertanda pesan masuk. Aku segera membuka isi pesan tersebut. Ternyata Alessyia yang mengirimnya. Ia mengatakan bahwa sekarang sudah tidak lagi di klinik, melainkan sedang berada di ruang kelas.


“Lho kok udah keluar dari klinik? Emang udah baikan?”


“Iya. Udah gak papa kok.”


“Hmm. Oh iya, ini pesanan kalian.”


“Terimakasih Angel yang baik hati dan tidak sombong.”


“Udah deh, kalau muji tuh jangan berlebihan. Nanti di jatuhkan sekaligus langsung sakit.”


“Hahaha.”


Alessyia dan Kak Aldo tertawa terbahak bersama. Kemudian mereka membuka kemasan botol minuman yang baru aku kasih.


“Tadi Angel ketemu Kak Aldo di kantin.”


“Oh ya? Terus?”


“Kak Beni berubah 360 derajat. Angel kehilangan sosok Kak Beni yang dulu Angel kenal. Dia sangat dingin. Bahkan sama sekali tidak menanyakan kabar kalian. Tidak ada guratan senyuman yang terlukis. Berbicara layaknya kayu yang sangat kaku.”


Setiap orang bisa berubah. Tetapi aku tidak mengharapkan perubahan yang seperti ini. Sama sekali tidak ingin adanya jarak dengan seseorang yang dulunya sangat dekat. Memperlakukan diriku dengan sangat acuh, padahal dulu kami saling bertukar cerita. Bahkan sampai membuat salah satu terluka, padahal dulu kami saling melindungi.


Tidak bisakah kami kembali kepada waktu dulu ? Ketika kita bersama tanpa rasa dendam dan benci ?


*Bersambung*


.


.


.


Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak berupa like, komen, rate 5 & vote😘🥰


Terimakasih 🙏

__ADS_1


__ADS_2