
Sebelum lanjut jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak berupa like, komen, rate 5 & vote seikhlasnya 🥰
Semuanya itu gratis kok. Tapi sangat berarti untuk author. Karena itulah penyemangat author😍😍
Salam sejahtera untuk kita semua 😇😇
Terimakasih 🙏🙏🙏
**************************************************
Angin malam semakin menembus kulit. Meskipun telah ditutupi selimut sekujur tubuhku, tetap saja ada angin nakal yang menyelinap masuk. Hidungku juga terasa gatal, seperti ada serangga yang mengotak-atik di dalam sana.
“Haacciihh…”
Jika saja saat ini aku sedang berada di rumah, maka sudah pasti ada yang membantu melegakan hidungku yang sudah tersumbat. Tenggorokanku juga terasa kering dan susah untuk menelan. Biasanya jika seperti ini segera meminum seduhan jahe. Tetapi aku malas untuk beranjak dari ranjang. Meninggalkan selimut yang sedikit memberikan penghangatan.
“Haacciihh…”
Jika terus dibiarkan, maka aku tidak akan bisa terlelap sampai fajar tiba. Dengan sangat terpaksa aku beranjak dari tempat tidur, dengan mata yang masih menyipit serta langkah kaki yang menyeret selimut. Beruntunglah masih ada susu jahe instan yang tersisa. Sehingga aku bisa segera menikmatinya hanya tinggal merebus air hangat.
Selama menunggu air rebusan masak, suhu tubuhku bisa lebih hangat karena ada api kompor yang menyala. Namun kedinginan itu tidak hilang seutuhnya. Ketika kompor telah dimatikan, maka tubuhku kembali menggigil. Aku segera menuangkan air panas tersebut ke dalam gelas yang di dalamnya telah ada serbuk susu jahe.
Dengan langkah yang susah karena terbelit oleh selimut, aku kembali menuju ranjang. Jika tidak dingin seperti sekarang, maka akan terasa nikmat untuk menikmati susu hangat sambil menatap pemandangan angkasa malam hari.
“Argghhh…”
Seteguk telah melewati tenggorokanku. Terasa hangat dan melegakan. Hidungku juga tidak lagi terasa gatal dan bisa sedikit bernafas lega. Tenggorokanku juga sudah mulai membaik dan tidak sakit ketika menelan.
Tok..tok..tok…
“Siapa yang mengetuk pintu malam-malam?”
Gumamku dalam hati, “Aku tidak merasa mempunyai janji malam ini. Tetapi ada suara ketukan pintu. Aku yakin pintu kamarku yang diketuk. Tetapi siapa yang bertamu pukul 11 malam? Oh mungkin tetangga kost yang membutuhkan bantuan.”
Lagi dan lagi dengan sangat terpaksa aku harus kembali meninggalkan ranjang. Kali ini aku meninggalkan selimut dan menggantinya dengan jaket tebal yang ada di dalam lemari. Dengan sangat hati-hati dan masih berusaha menetralkan suhu tubuh, aku membuka pintu kamar.
Klek!
Brakk!
Ketika pintu kunci telah diputar dan gagang pintu ditarik, mungkin hanya 3 detik aku membuka pintu. Setelah itu aku menutupnya kembali dengan sangat kasar. Entah apa yang membawa dia kemari di jam seperti ini. Dia juga belum sempat berbicara telah aku tutup terlebih dahulu. Tetapi dia tidak menyerah begitu saja. Tamu tak di undang itu masih berdiri di depan sana dan mengetuk pintu.
__ADS_1
Tok..tok..tok…
“Angel buka pintunya! Berikan aku waktu, sebentar saja! Aku mohon!”
“Tidak bisa. Kita tidak bisa ketemu lagi.”
“Angel, please! Berikan aku kesempatan!”
“Heh, berisik lo! Pergi dari sini! Gak tahu jam apa. Ini udah malam.”
“Maaf maaf, Bu.”
Ketika aku sedang membalas perkataan dari orang yang ada di luar, sepertinya tidak hanya kami berdua. Penghuni kamar kost yang lain juga ikut berbicara. Dia merasa terganggu karena kegaduhan yang kami ciptakan. Sejenak aku dapat merasakan keheningan. Sepertinya orang yang di luar juga sudah pergi karena di marahi oleh ibu-ibu.
“Hffttt. Mungkin dia sudah pergi. Lagian mau ngapain lagi sih Pak Angga kesini?”
Bagaimana aku tidak terkejut ketika pertama membuka pintu dan langsung menatap wajah Pak Angga. Aku tidak tahu apa maksud dan tujuannya datang kesini, tapi yang pasti aku masih enggan berbaikan dengannya.
Tok..tok…
“Angel, buka pintunya! Sebentar saja!”
Batinku menjerit, “Lho, dia masih ada disini? Arghh.”
Tok..tok..tok…
“Angel…please buka pintunya!”
Jika aku masih kukuh dengan pendirianku, bisa-bisa aku tidak tidur semalaman karena terus berdiam di balik pintu. Aku juga tidak mau tetangga-tetanggaku membenci Pak Angga dan mengusirnya secara paksa. Nantinya aku juga yang akan dibawa-bawa. Aku bisa di cap sebagai pembuat onar.
Dengan sangat buru-buru aku membuka pintu. Belum sempat aku mengeluarkan kata-kata untuk mengusir Pak Angga, tanganku telah ditarik dengan mulut yang juga dibekap oleh dia. Pintu ditutup kembali dengan rapat. Bahkan tanpa seizin dariku, Pak Angga telah mengunci pintunya.
“Pak Angga ngapain…mmm…”
“Sstttt! Jangan berisik nanti bisa dimarahi lagi sama orang-orang.”
Sebelum aku menyelesaikan pembicaraan, mulutku telah kembali ditutup oleh telapak tangannya. Dan juga ucapan Pak Angga benar. Jika kami gaduh kembali, sudah pasti kali kedua akan mendapatkan pengusiran. Kali ini aku mencoba berbicara dengan lirih.
“Pak Angga ngapain kesini?”
“Ada sesuatu yang harus aku jelaskan kepada kamu.”
__ADS_1
“Tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi. Angel tidak mau mendengarkan penjelasan apa-apa dari Bapak. Lebih baik Pak Angga sekarang pergi sebelum aku memanggil petugas keamanan untuk membawa paksa Bapak!”
“Angel dengarkan dulu! Aku sangat menyayangi kamu. Aku menyesal telah meninggalkan kamu. aku meninggalkan kamu demi kebaikan kamu seorang. Aku tidak mau melihat kamu dibenci oleh orang tua kamu sendiri. Aku juga tidak mau jika sampai kamu terusir dari rumah dan harus berhenti kuliah. Masa depan kamu masih panjang Angel. Lebih baik aku yang mengalah daripada harus melihat kamu menderita.”
“Pak Angga tidak sadar bahwa apa yang Bapak lakukan jauh lebih membuat Angel menderita? Kepergian Bapak sungguh telah sangat menyiksa batin Angel.”
“Iya Angel, aku sadar. Aku sadar betul apa yang telah aku lakukan sangatlah salah. Suatu kesalahan terbesar dalam hidupku yaitu menyerah atas cinta kepadamu dan meninggalkan kamu. Beri aku kesempatan untuk memperbaiki hubungan kita lagi! Aku janji apapun situasi dan kondisinya, aku tidak akan menyerah apalagi jika sampai meninggalkan kamu. Akan aku pastikan itu tidak akan terjadi lagi!”
“Bapak lupa, dulu juga pernah berjanji seperti itu? Tidak akan meninggalkan sampai mendapatkan restu. Tapi nyatanya, Pak Angga menyerah begitu saja. Bagaimana Angel bisa percaya lagi kepada Bapak sekarang? Mungkin jika Angel memberikan kesempatan kedua, maka kesempatan itu juga akan Bapak gunakan untuk meninggalkan lagi. Bukan begitu?”
“Apapun akan aku lakukan untuk membuat kamu percaya lagi. Katakan apa yang harus aku lakukan sekarang untuk membuktikan!”
“Bapak pikir hati Angel ini apa? Dengan mudahnya Bapak pergi lalu datang kembali. Semudah itu Pak Angga datang dan pergi sesuka hati? Dan juga, Angel tidak mau hadir lagi menjadi orang ketiga di antara hubungan Pak Angga. Sudah cukup besar kesalahan Angel dengan hadir dalam rumah tangga Pak Angga dengan Windy.”
“Angel, kenapa kamu mengungkit masa lalu? Itu sudah lama berlalu. Sudah berapa kali aku mengatakan bahwa kamu bukan perusak rumah tangga aku.”
“Sudahlah Pak, toh sudah ada pengganti yang lebih baik dari Angel. Secara pria setampan Bapak akan mudah untuk menggaet wanita-wanita yang Bapak inginkan. Bahkan Pak Angga bisa mendapatkan lebih dari satu wanita sekaligus. Benarkan kata Angel?”
“Angel sudah aku katakan bahwa wanita yang tadi di rumahku hanyalah muridku.”
“Oh murid, ya? Kalau wanita yang waktu itu di resto, apakah itu juga murid Bapak?”
Sejenak Pak Angga terhenti. Mungkin pikirannya sedang mengingat kejadian yang dimaksud olehku. Atau mungkin justru sedang mencari alasan. Entahlah aku tidak tahu. Aku tidak bisa membaca pikiran orang lain.
“Jelas mereka muridku. Aku tidak tahu bagaimana kamu tahu atau cara kamu melihatnya, tetapi jika kamu mengingatnya dengan teliti, dia salah satu murid yang sempat meminta foto bersamaku dan kamu yang jadi fotografernya.”
*Bersambung*
.
.
.
Apa yang akan terjadi selanjutnya antara Angel dan Pak Angga, ya?
Apakah mereka akan bersatu?🤔
Ada yang kangen gak nih sama keromantisan mereka?
Menurut kalian Angel dan Pak Angga harus bersama kembali atau enggak nih?
__ADS_1
Yuk boleh kasih sarannya di kolom komentar di bawah👇👇👇
Terimakasih 🥰🥰