
Kehilangan sesorang tepat di depan mata itu sangat menyedihkan. Dan yang lebih menyakitkan lagi aku tidak bisa melakukan apa-apa untuk menahan kepergiannya.
Satu bulan telah berlalu. Tetapi aku tidak bisa tersenyum selama itu. Aku tidak tahu kabar dan keberadaan Pak Angga. Hubungan kami telah terputus. Nomor handphonenya juga tidak dapat dihubungi. Apa Pak Angga benar-benar menyerah atas cintanya ? Dulu dia telah berjanji akan berjuang bersama sampai mendapatkan restu dari orang tuaku. Nyatanya, dia berlalu pergi tanpa simpati.
Tiada kehilangan yang tidak menyakitkan. Apalagi ditinggalkan tanpa perpisahan. Kenapa orang-orang yang aku sayang pergi dari kehidupanku ? Pak Angga sudah pergi. Kak Reza juga tidak ada kabar. Terakhir aku melihat Kak Reza ketika aku masuk dan di rawat di rumah sakit. Kak Aldo dan Kak Beni saja sahabat dekatnya tidak mengetahui keberadaan Kak Reza.
Hubungan aku, Alessyia, Kak Aldo dan Kak Beni yang sempat retak kembali menyatu. Kami memutuskan untuk kembali berdamai dan melupakan masalah yang pernah ada. Tidak baik jika berlarut-larut dalam suatu masalah. Kita tidak bisa terus-menerus menghindar dari masalah. Justru kita harus memecahkan jawaban dari setiap masalah yang kita hadapi.
“Angel kamu kenapa sih ? Seperti sedang memikirkan sesuatu ?”
“Eu-enggak kok, Kak.”
“Kamu gak ceria seperti dulu. Ada yang mengganggu pikiran kamu ?”
“Gak ada, Kak. Angel gak papa. Hehe.”
Senyum yang aku berikan bukanlah senyuman tulus yang berasal dari hati. Kak Beni benar, ada sesuatu yang aku pikirkan. Tetapi aku tidak mau menceritakannya kepada orang lain. Aku belum siap untuk memutar ingatan kembali tentang Pak Angga. Mungkin suatu hari nanti ketika aku telah berhasil mengontrol emosiku, aku akan menceritakannya kepada mereka.
“Oh iya Kak, masih belum ada kabar dari Kak Reza ?”
“Belum.” Kak Aldo dan Kak Beni menjawab sambil menggeleng-gelengkan kepala.
“Sebelum Kak Reza menghilang mungkin ada sesuatu yang disampaikan ?”
“Eu-eu. . .”
Kak Aldo menjawab gugup. Sedangkan Kak Beni terdiam tanpa ekspresi.
“Pasti ada sesuatu yang disampaikan Kak Reza. Coba Kakak ingat-ingat lagi !”
“Emmm.”
“Cha, lo tahu gak ? Kalian yang terakhir bersama Kak Reza.”
“Gue. . .gue gak tahu apa-apa, Ngel.”
“Apa saja perkataan terkahir Kak Reza ketika bersama kalian ?
Semuanya terdiam. Aku yakin kalau mereka mengetahui sedikitnya tentang detik-detik Kak Reza menghilang.
“Ayolah !”
“Reza bilang bahwa dia ingin pergi dari kehidupan kamu demi kebahagiaan kamu.”
“Maksudnya ?”
“Kamu tahu kan Reza sangat mencintai kamu. Kepergiannya untuk menghilangkan rasa itu. Reza tahu bahagia kamu terletak pada Pak Angga. Dia tidak sanggup melihat kalian bersama.”
__ADS_1
Apakah semua yang terjadi adalah kesalahanku ? Kenapa semua meninggalkan pada waktu yang bersamaan ?
Perihal Kak Reza, aku ingin meminta maaf sebesar-besarnya. Mungkin kepergiannya untuk menyembuhkan sakit hatinya. Tetapi aku tidak bisa memaksakan perasaanku. Aku tidak bisa menerima cinta Kak Reza. Karena sampai sekarang, hanya Pak Angga yang menempati ruang hampa di dalam hatiku.
Aku menyayangi Kak Reza. Bukan rasa sayang dari wanita kepada pria. Melainkan rasa sayang sesama manusia. Lebih dari itu, bak adik dan kakak. Perasaan itu lebih abadi dari rasa cinta sepasang kekasih. Karena tidak ada hubungan adik-kakak yang terputus.
“Angel, lo gak papa ?”
“Maafkan Angel ! Angel telah membuat kalian kehilangan Kak Reza. Padahal sebelum Angel datang kesini, kalian adalah sahabat yang tak terpisahkan.”
“Jangan menyalahkan diri sendiri atas semua yang terjadi. Perjalanan hidup kamu masih panjang. Kamu masih terus berjalan. Percayalah, suatu hari nanti kita akan dipertemukan kembali.”
Dred. .dred. .
“Angel harus pulang.”
Aku membuka ponsel ketika bergetar pertanda ada pesan masuk. Semenjak Papah merestui Frans menjadi kekasihku, aku seperti terkekang. Tidak boleh keluar sendirian tanpa Frans yang menemani. Frans selalu mengawasi setiap gerak-gerik yang aku lakukan.
“Angel, kamu kenapa sih cemberut gitu setiap bersamaku ?”
“Ayo pulang !”
Aku tidak mau berbicara panjang lebar dengan Frans. Aku tidak pernah memulai perbincangan lebih dulu. Dan aku selalu menjawabnya singkat, tanpa ekspresi dan tanpa nada. Diseberang sana Alessyia dan dua rekan lainnya sedang mengamati pergerakan langkahku.
“Frans . . .”
“Frans siapa, Cha ?”
“Oh iya, kalau dulu tuh siapa namanya, Ben ?”
“Ang. .Angga kalau gak salah. Iya kan, Cha ?”
“Terus yang tadi jemput Angel siapa ?”
Wajar saja mereka bertanya-tanya tentang sosok yang telah membawaku keluar dari kampus. Mereka belum pernah bertemu dengan Frans, dan aku juga tidak bercerita apa-apa tentangnya. Biasanya aku meminta Frans menjemput cukup jauh di luar kampus. Tetapi kali ini terlambat. Aku tidak bisa memintanya untuk menjauh. Frans telah berada di halaman kampus.
“Dia Frans. Mantannya Angel ketika masih di bangku Sekolah Menengah Pertama.”
“Kenapa mereka bersama ? Apa mereka balikan ?”
“Echa rasa tidak mungkin. Angel sangat membenci Frans. Untuk menerima Frans kembali, itu hal yang mustahil bagi Angel. Echa juga gak ngerti kenapa mereka sekarang bersama.”
Bahkan kepada Alessyia sahabat terdekatku, aku tidak menceritakan masalah yang aku jalani sekarang. Aku masih membutuhkan waktu untuk beradaptasi dan menerima kenyataan.
Mobil mewah berwarna merah telah terpakir di depan bangunan kost-kostan. Frans anak dari pemilik perusahaan yang sangat sukses. Cabang perusahaannya telah berdiri di beberapa daerah. Bahkan salah satu perusahaan milik Ayahnya menjalin kerja sama dengan perusahaan tempat Papah bekerja serta menjadi pemilik saham terbesar. Wajar saja jika barang-barang yang ia kenakan berasal dari brand ternama.
“Lo mau kemana ?”
__ADS_1
Ketika aku hendak memasuki pintu depan kost-an, Frans mengikuti langkahku.
“Ya ampun sayang. Aku mau masuk ke dalam. Masa gak boleh sih. Kan pacar sendiri.”
Frans berbicara sambil membelai rambutku. Aku segera menjauhkan tangannya. Aku tidak suka dengan perlakuan Frans kepadaku.
“Angel kamu mau makan apa ? Kamu pasti lapar kan ? Biar aku masakin buat kamu.”
“Enggak. Gue gak lapar. Dan gue gak mau makan masakan buatan lo.”
“Sayang kamu galak banget sih. Ya udah paling enggak aku ambilkan minum, ya.”
Padahal aku belum mengatakan apa-apa tetapi Frans telah melangkah menuju tempat makanan dan minuman berada. Ia kembali dengan membawa segelas susu putih hangat di tangan kanannya.
“Angel ini kamu minum dulu !”
“Simpan saja. Nanti aku minum kalau sudah haus.”
Aku beranjak dari kursi untuk menyimpan tas yang berisi perlengkapan kuliah.
“Frans lo ngapain ?”
Aku tidak menyadari pergerakan Frans. Aku tidak tahu bagaimana caranya ia melangkah mendekatiku. Yang aku tahu Frans sekarang berada di depan mataku. Ia memojokkan aku ke sudut dinding. Ketika aku hendak menghindar ke arah samping, Frans lebih dulu mengunci dengan tangannya.
“Frans minggir.”
Frans sama sekali tidak mendengarkan perkataanku. Ia semakin menatapku sangat tajam. Bola matanya bergerak dari atas ke bawah.
“Gue bilang menjauh dari gue !”
Tangannya berpindah menyentuh tanganku. Kemudian bergerak perlahan sampai menyentuh muka. Ia mencubit pipiku, menyentuh hidungku dan membelai daguku. Aku tidak tahan dengan sikap Frans. Tetapi aku tidak bisa menjauhinya. Aku telah terkunci di pojokan oleh badan kekar Frans.
“Cantik.”
“Frans gue mohon lepaskan gue !!!”
“Kamu cantik. Aku tidak akan membiarkan kamu pergi lagi dari hidupku.”
Frans semakin mendekatkan wajahnya. Ia memiringkan kepalanya sambil memejamkan mata. Sedangkan aku, masih mengepalkan tangan seperti hendak adu tinju.
*Bersambung*
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak melalui like, komen, rate 5 & vote 💙🥰🥰
Terimakasih 🙏🙏