
“Angel harus segera pulang, Bee.”
“Sudah terlanjur tengah malam. Menginaplah disini. Besok kan weekend.”
“Tapi, Bee. . .”
“Tenang aja, kamu tidur di kamarku. Biar aku tidur di sofa ruang tamu.”
“Ehh jangan ! Hmm biar Angel tidur sama Rendy aja.”
“Kamu yakin ?”
“Heem.”
Aku melangkah menuju kamar Rendy. Ketika pertama membuka pintu, aku melihat Rendy tanpa menggunakan selimut yang menutupi tubuhnya. Padahal suhu kota disini sangat dingin. Dengan segera aku menutupi tubuh Rendy menggunakan selimut.
Mungkin karena aktivitas seharian yang cukup padat, membuat aku merasa sangat lelah. Baru beberapa detik merebahkan badanku di samping Rendy, kini aku telah berada di alam mimpi.
Bahkan aku tidak menyadari jika matahari telah menampakan sinarnya. Karena disini tidak ada jendela, maka aku tidak dapat melihat sinar matahari yang menerobos memasuki kamar yang aku dan Rendy tiduri.
Pak Angga juga telah mengetuk-ngetuk pintu berulang kali. Tetapi tidak ada orang yang menyahut. Ia memutuskan untuk membuka pintu tersebut dengan tujuan membangunkan para penghuninya. Pak Angga dibuat takjub dengan pemandangan yang ia lihat. Rendy yang memeluk diriku, begitupun dengan aku yang membalas pelukan Rendy.
“Dua harta berharga aku di dunia ini.” Gumam Pak Angga dalam hati.
Cup !
Cup !
Pak Angga mendaratkan kecupan di kening Rendy dan aku secara bergantian. Aku yang merasakan bau khasnya segera membuka mata. Dan benar, aku dapat melihat Pak Angga yang telah menggunakan pakaian rapi serta rambut yang tertata.
“Lho Bee, kok udah rapi ?"
“Udah pagi sayang.”
“Pagi ?”
“Heem.”
Aku mengambil ponsel yang diletakan disamping lampu tidur. Ketika melihat waktu yang menunjukan pukul 07.00 AM, aku segera terbangun dari ranjang.
“Whoaa Angel kesiangan.”
“Sekarang weekend sayang.”
“Bukan itu, Bee.”
“Terus apa ?”
“Angel belum mandi.”
Pak Angga terkekeh geli ketika mendengar jawabanku. Aku memang berniat untuk mandi lebih awal sebelum Pak Angga bangun. Akan terasa malu bila Pak Angga melihat aku masih dalam keadaan acak-acakan.
“Kamu lupa, aku udah pernah lihat kamu dalam keadaan belum mandi.”
“Enggak, Bee. Kapan ?”
“Dulu. Waktu aku menantang kamu lari untuk pertama kali bertemu dengan Rendy.”
Aku menutupi mukaku dengan sepuluh jari. Pak Angga benar, waktu itu aku juga belum mandi. Hanya mencuci muka. Tetapi sekarang lebih parah. Aku sama sekali belum mencuci muka untuk menghilangkan noda bekas tidur.
“Aku tunggu di luar.”
Pak Angga berkata lirih. Aku lupa bahwa Rendy masih tertidur. Sebelum membuat Rendy merasa terganggu dengan obrolan aku dan Pak Angga, aku juga segera meninggalkan kamar tersebut dengan membawa ponsel dalam genggaman.
Sebelum kakiku melangkah jauh, aku berbalik untuk meninggalkan ciuman di pipi kanan Rendy. Karena ia dalam posisi miring, maka aku tidak bisa mengecupnya di kening.
__ADS_1
Ketika aku telah sampai di ruang tamu, aku tidak dapat melihat Pak Angga. Aku hanya melihat bayangan Bi Rani yang sedang menyapu halaman depan.
“Bii, lihat Pak Angga gak ?”
“Bapak di dapur, Non.”
“Di dapur ? Lagi ngapain, Bii ?”
“Bibi juga gak tahu Non. Bapak menyuruh Bibi untuk meninggalkannya sendiri.”
“Ya udah. Makasih ya, Bii.”
“Iya Non.”
Dalam perjalanan menuju dapur, aku dapat mendengar suara pisau yang bertabrakan dengan talenan. Dan ketika telah tiba di tempat tujuan, aku melihat Pak Angga dengan beberapa sayuran yang ada di hadapannya.
“Bee lagi ngapain ?”
“Lagi masak sayang. Emangnya aku lagi apa ?”
“Emang bisa masak, Bee ?”
“Bisa sih. Walaupun gak jago. Kamu bisa masak ?"
Aku menggeleng.
“Mau aku ajarkan ?”
“Susah gak ?”
“Awalnya susah. Tapi kalau sudah terbiasa akan mudah.”
Aku mendekati Pak Angga. Aku memegang wortel yang masih utuh. Kemudian Pak Angga memberikan pisau yang terlihat sangat tajam.
“Kamu kupas dulu kulitnya, kemudian potong-potong kecil.”
Aku mencoba untuk mengupas kulit wortel. Ternyata tidak semudah yang aku lihat. Kulitnya sangat tipis dan berwarna sama dengan buahnya. Harus mempunyai ketelitian untuk memisahkan kulit dari buahnya. Aku juga takut pisau yang tajam akan melukai jariku.
“Awas. Hati-hati !”
Dengan sangat hati-hati akhirnya aku bisa menyelesaikan tugas yang diberikan Pak Angga. Meskipun membutuhkan waktu yang lama. Pak Angga sudah berhasil mengupas 3-5 buah wortel. Sedangkan aku cuma satu.
“Yeay. Udah, Bee.”
“Sekarang kamu potong-potong menjadi kecil !”
“Gimana caranya, Bee ?"
“Kamu belah menjadi dua terlebih dulu.”
Aku menjalankan perintah dari Pak Angga. Tetapi susah. Batang wortel yang sangat kecil membuat pisau yang mendarat disana menjadi tergelincir.
“Awww.”
“Angel. . .”
Pak Angga segera mengambil jariku yang telah mengeluarkan darah segar. Ia menghilangkan darah yang mengalir disana menggunakan cara lama, yaitu dengan menghisapnya. Setelah dirasa tidak ada lagi darah yang mengalir. Pak Angga segera membuka kotak P3K dan membawa plester. Kemudian ia menempelken plester tersebut ke ujung jari telunjuk lengan kiriku.
“Mulai sekarang dan seterusnya kamu gak usah masak. Biar aku aja yang memasak untuk kamu.”
“Tapi Bee, tugas seorang perempuan kan memasak. Seorang pria juga akan mencari calon istri yang jago memasak.”
“Aku tidak mau melihat kamu terluka. Bagiku tidak penting kamu bisa masak atau tidak. Karena yang terpenting, kamu mencintai aku dengan tulus, dan menerima kehadiran Rendy.”
“Tapi Bee, apakah kamu tidak malu jika kelak ditanya istrimu suka memasakan apa untukmu ?”
__ADS_1
“Aku tidak perlu menjawab pertanyaan yang tidak penting. Aku hanya perlu menjawabnya bahwa istriku telah melayaniku dengan sangat baik.”
Pak Angga melanjutkan pembicaraannya, “Jangan memikirkan hal yang belum tentu terjadi ! Sekarang kamu tunggu aku di depan ! Aku akan menyelesaikan membuat sarapan pagi untuk kita.”
Pak Angga kembali melanjutkan aktivitasnya. Tetapi kali ini aku tidak menajalankan perintahnya. Aku masih berdiri memperhatikan Pak Angga yang sedang sibuk mencampurkan bahan demi bahan agar menjadi masakan yang sempurna untuk dinikmati.
“Bee, Angel boleh mengaduknya ?”
“Enggak sayang. Biar aku aja.”
“Sebentar aja !”
“Ya udah. Tapi hati-hati jangan sampai terluka lagi ! Dan awas uapnya panas !”
Aku memegang spatula dan mengaduknya dengan sangat hati-hati. Ternyata benar, uap yang mengenai tanganku terasa panas. Kemudian aku merasakan ada tangan yang menutup tanganku yang sedang memegang spatula. Sedangkan satu tangan lagi melingkar di perutku. Aku juga bisa merasakan hembusan nafas seseorang mengenai bahuku.
“Bee, ngapain ?”
“Aku gak mau kamu terluka lagi. Aku akan membantu kamu.”
“Tapi Bee, nanti kalau Rendy lihat gimana ?”
“Tidak akan sayang.”
Pak Angga malah semakin mengeratkan pelukannya. Kini ia meletakan kedua tangannya melingkar di perutku. Kepalanya ia sandarkan di bahuku. Dan aku baru ingat, bahwa aku belum mandi.
“Bee, Angel bau ya ?”
“Tidak.”
“Tapi Angel belum mandi, Bee.”
“Kamu tidak bau sayang. Aku suka aroma tubuhmu.”
Aku melepaskan spatula untuk menggenggam tangan Pak Angga yang masih melingkar di perutku. Pak Angga kemudian mengecup leherku yang tidak terhalang oleh rambut, membuat aku merasa geli.
“Ayah. . .”
“Ayah. . .”
Aku segera melepaskan tangan Pak Angga dari perutku. Pak Angga juga segera menjauhkan tubuhnya dariku ketika mendengar Rendy memanggil namanya. Beruntunglah ketika Rendy tiba di dapur, aku dan Pak Angga sudah berjarak.
“Iy-ya Nak. Ayah di dapur.”
“Eh Rendy, udah bangun ?”
Pak Angga dan aku menyambut kehadiran Rendy dengan gugup.
“Pagi Ayah !”
“Pagi Kak Angel !”
Rendy menyambut Pak Angga dan aku dengan memberikan kecupan di tangan kami secara bergantian.
*Bersambung*
.
.
.
Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak berupa like, komen, rate 5 & vote seikhlasnya🥰🥰
Terimakasih 🙏🙏
__ADS_1