My Teacher Is Mine

My Teacher Is Mine
MTIM-28 Memory Masa Kecil


__ADS_3

Dengan kesadaran yang baru kembali. Aku bergegas menuruni tangga-tangga. Hampir saja ada tangga yang terlewati sehingga membuat aku sempoyongan. Mungkin karena aku yang terlalu bersemangat. Atau karena efek tidur di waktu sore.


Tidak salah lagi. Itu memang benar dia. Aku benar-benar tidak sedang bermimpi bukan ?


“Awww. Sakit.”


Aku mencubit kedua belah pipiku. Rasanya sakit. Berarti apa yang sedang terjadi saat ini bukanlah mimpi ataupun imajinasi. Aku benar-benar menyaksikan pria yang tengah duduk di jok motor gede merah terang.


“Pak Angga . . .”


“Haii !”


“Ini benar Pak Angga kan ? Aku tidak sedang bermimpi bukan ?”


“Sini saya cubit kamu.”


Pak Angga melakukan aktifitas yang sebelumnya aku lakukan. Ia mencubit pipi kananku. Dan benar. Ini adalah nyata.


“Aaawww sakit.”


“Sakit ?”


“Heem.”


“Berarti ini bukan mimpi kan ?”


“Tapi Bapak kenapa ada disini ?”


“Tidak boleh ? Ya sudah saya pergi.”


“Iiihh jangan dong.”


Aku berusaha menarik lengan Pak Angga dan menghalangi langkahnya. Aku tidak mau dia pergi. Aku tidak akan membiarkannya berlalu begitu saja.


“Bukan gitu maksud Angel. . .”


“Terus apa ? Gimana ? Hah ?”


Pak Angga malah semakin menggoda aku. Aku tidak diberi kesempatan untuk berbicara. Atau mungkin aku yang terlalu gugup saat dihadapkan dengannya ? Ini bukan pertemuan pertama kami. Kami telah sering melakukan pertemuan sebelum ini. Tapi entah kenapa rasanya kali ini gugup sekali. Apa mungkin karena kami telah lama tidak berjumpa dan bertukar kabar ?


“Kenapa ? Kok diam ? Ya sudah saya pergi.”


“Tidak. Jangan pergi ! Angel kangen sama Bapak.”


Aku semakin mengeratkan genggamanku kepada lengannya. Dan aku menatap manik matanya sambil menunjukkan ekspresi kesedihan. Bukannya respect, orang yang saat ini sedang aku tatap malah tertawa. Dia kembali mencubit pipiku, kali ini yang kiri menjadi korbannya.

__ADS_1


“Ihh Bapak sakit tahu. Nanti kalau pipi Angel gede kayak bakpau gimana ?”


Entah kenapa dia malah semakin tertawa. Lebih lepas dari tawa yang sebelumnya. Aku tidak mengerti hal apa yang membuatnya tertawa geli seperti itu.


“Bapak kok malah ketawa sih ?”


“Kamu tuh lucu banget sih. Aduhh saya gak kuat melihat ekpresi kamu kaya gitu.”


Lagi dan lagi dia mengeluarkan gelak tawanya. Biasanya dia hanya tersenyum tipis tersipu malu. Tapi kali ini dia tertawa sepuasnya. Aku senang. Tawanya seolah mengalirkan kebahagiaan pula kepada diriku.


“Kamu gak ngaca dulu sebelum kesini ?”


“Kenapa ? Ada apa di muka Angel ? Ada ileran ya ?”


Memang aku lupa. Sebelum segera menghampiri Pak Angga, aku sedang ayik tertidur. Aku segera bangun dan mencuci muka, tidak sempat untuk bercermin. Jangan sampai emang benar ada iler yang menempel di muka aku. Jika sampai ada, aku bisa malu setengah mati sama Pak Angga. Bisa jadi nanti Pak Angga malah ilfeel padaku.


Aku berusaha untuk mengarahkan spion, tetapi tangan jahil Pak Angga berusaha untuk menghalangi gerakkan tanganku.


“Bapak ih Angel pinjam dulu spionnya ! Angel malu ah.”


“Kamu cantik.”


“Hah ?”


“Kamu tidak sadar kalau kamu cantik ?”


“Makanya sebelum kamu ketemu saya, kamu bercermin dulu supaya kamu sadar diri kalau kamu itu cantik. Sangat cantik.”


Aku tidak tahu seberapa merahnya pipiku saat ini. Aku tidak pernah mendengar kata-kata manis yang keluar dari mulut Pak Angga. Aku menaruh kedua lenganku untuk menutupi pipiku yang semakin memanas. Seperti tidak ada udara yang berhembus sore itu, rasanya seluruh tubuhku terbakar oleh rayuan maut Pak Angga.


“Saya sudah jauh-jauh kesini, sudikah kamu ikut bersama saya ?”


“Kemana ? Enggak ah Angel takut.”


“Takut kenapa ?”


“Yaaa Angel takut. Bapak kan juga cowok. Apalagi disini tidak ada yang mengawasi Angel.”


“Kamu pikir saya akan ngapain kamu ? Saya tidak akan apa-apakan kamu. Saya cuma ingin bercakap-cakap bersama kamu.”


“Disini saja bisa.”


“Saya tidak mau terbebani oleh aturan itu.” Pak Angga menunjukan kertas yang ditempel di dinding yang berisikan peraturan bagi siapa saja yang menjadi penghuni kost disitu.


“Percaya sama saya ! Saya mencintai kamu. Saya tidak mungkin melakukan hal bejat kepada wanita yang sangat saya sayangi. Jika ucapan saya salah, kamu bisa laporkan saya kepada polisi.”

__ADS_1


Sebelum matahari benar-benar menghilang digantikan oleh bulan yang tinggal separuh, sebelum keindahan senja sirna, aku mengikuti kemanapun orang yang saat ini membawa motornya pergi.


Aku tidak menampik bahwa sebenarnya aku takut jauh dari pengawasan Papah dan Mamah. Aku takut jika ada seseorang yang melakukan tindak kejahatan kepadaku. seperti halnya Pak Angga, bukannya aku tidak percaya kepada dia, tetapi aku juga harus berhati-hati bahkan kepada seseorang yang mengaku sangat menyayangiku. Itu salah satu bukti bahwa aku menyayangi diriku sendiri.


“Kamu tidak akan berpegangan ?”


“Sudah.”


“Peganglah yang erat ! Saya akan melajukan motor ini lebih cepat.”


“Tidak apa. Ini sudah erat.”


Pak angga segera menarik kedua tanganku dan melingkarkan di pinggangnya. Sebelumnya aku hanya menjadikan kemeja yang ia kenakan sebagai tumpuan. Menyadari hal tersebut, Pak Angga langsung mengambil tindakan.


Mataku terpejam, dengan mulut yang terkunci. Rasanya aku ingin berteriak sekencang-kencangnya. Namun lagi lagi, rasa malu selalu mengalahkan setiap keinginanku.


Aku baru bisa merasa tenang ketika sepeda motor roda dua itu telah berhenti membelah jalanan. Saat perlahan kubuka mata, aku tidak dapat mengenali dimana tempat ini. Tentu saja ini baru bagiku. Aku penghuni baru di Bandung, dan aku belum hafal betul lokasi apa saja yang ada disini.


Pak Angga segera menggandeng tanganku untuk memasuki tempat tersebut secara bersamaan.


Ternyata itu adalah sebuah rumah makan. Uniknya rumah makan disini mengusung tema tokoh-tokoh kartun. Dimulai dari hiasan dinding, kursi dan meja, bahkan pelayannya juga memakai atribut kartun.


Terdapat berbagai macam kartun yang di usung dalam tema rumah makan disini, dimulai dari, Spongebob, Upin & Ipin, Doraemon, Kaptain Tsubasa, Shincan, dan masih banyak lagi yang aku sendiri lupa namanya. Entah lupa atau tidak tahu.


“Kenapa Pak Angga membawa aku kesini ?”


“Ini adalah tempat pertama saya makan diluar bersama Ibu dan Bapak. Kamu tahu saya berasal dari keluarga yang serba pas-pasan ? Orang tua saya mengadu nasib di Bandung. Dan ketika mereka mendapatkan uang dari hasil kerja kerasnya, mereka mengajak saya makan di luar. Disinilah tempatnya.”


“. . .”


“Waktu itu usia saya sekitar 4,5 tahun. Dulu tokoh kartunnya tidak banyak seperti sekarang. Tempatnya juga masih kecil. Sekarang sudah sangat berbeda.”


Aku ikut merasakan kesedihan yang dialami Pak Angga. Apalagi mengunjungi suatu tempat yang meninggalkan beberapa kenangan indah. Rindu yang paling berat bukanlah rindu kepada seseorang yang jauh dipisahkan oleh jarak, tetapi kerinduan kepada seseorang yang sudah berbeda alam. Hanya tangisan air mata yang keluar ketika rindu melanda.


Rindu tidak pernah tahu kapan waktu yang tepat untuk datang. Rindu tidak pernah memilih kepada siapa harus merindu. Ia hanya datang sesuka dan semaunya. Andai semua orang bisa menolak hadirnya rindu, mungkin tidak akan ada yang tersiksa menahan sesaknya ingin berjumpa namun terhalangi oleh berbagai macam alasan.


Aku menunda niat awal untuk menanyakan bagaimana perjalanan Pak Angga sampai bisa kesini. Aku membiarkan Pak Angga mengulang kembali kenangan bersama Ibu dan Bapaknya. Sudah aku katakan sebelumnya, bahwa menjadi yang ditinggalkan itu sangatlah menyakitkan. Apalagi ditinggalkan untuk selama-lamanya.


*Bersambung*


.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak melalui like, komen, rate & vote😉💙


Terimakasih 🥰🥰


__ADS_2