My Teacher Is Mine

My Teacher Is Mine
MTIM-17 Orang Ketiga Dalam Suatu Hubungan


__ADS_3

“Apapun pilihan kamu. Kemanapun kamu pergi. Saya akan selalu mendukungmu. Pergilah, wujudkan impianmu !”


“Terimakasih, Pak. Angel pergi hanya sementara, kok. Angel pergi untuk kembali lagi.”


“Jangan pernah menyerah atas apa yang telah kamu yakini. Jika kamu lelah, ingatlah saya selalu berada dibelakangmu ! Kamu tidak akan merasakan kepedihan seorang diri.”


“. . .”


“Oh iya, saya mengajak kamu kesini karena ada sesuatu yang ingin saya beri tahu padamu.”


“Apa itu ?”


“Saya telah mengajukan perceraian ke pengadilan. Dan pekan depan adalah sidang pertamanya. Apakah kamu berkenan mendampingi saya ?”


Aku tidak tahu harus senang atau sedih. Dilain sisi, ada perempuan yang sama sepertiku sedang berduka atas kegagalannya dalam berumah tangga. Tapi aku tidak menampik jika aku bahagia mendengar kabar perceraian Pak Angga.


“Pekan depan ? Sepertinya Angel tidak bisa, Pak. Angel ada janji sama Mamah. Maafkan Angel ya, Pak.”


“Tidak apa. Saya cuma ingin membuktikan keseriusan saya kepadamu. Saya bersungguh-sungguh sama kamu, Ngel. Jika saya cuma sekedar bermain, saya tidak akan menceraikan istri saya. Apakah kamu masih kurang yakin sama saya ?”


Pak Angga benar. Dengan dia menceraikan istrinya itu telah membuktikan salah satu bentuk keseriusannya. Tetapi aku masih belum yakin apakah harus menerimanya sekarang ? Mungkin setelah akta cerai itu resmi keluar, barulah aku akan mempercayai seutuhnya. Seperti perjanjian kita di awal.


Salah satu kebiasaan buruk aku yaitu, tidak ingat waktu. Aku lupa kalau Mamah minta dibelikan obat alergi. Dan sampai matahari hampir terbenam, aku belum juga sampai di rumah. Bagaimana kalau mereka menunggu obatnya ?


“Sudah sore, Pak. Angel mau pulang. Angel harus memberikan obat alergi ini ke Mamah.”


“Ibu kamu sakit ?”


“Bukan untuk Mamah. Tetapi buat salah satu asisten di rumah kita.”


“Biar saya antar.”


“Tidak usah Pak. Biar Angel naik ojol aja. Angel gak mau ditanya sama Mamah kenapa bisa bareng sama Bapak. Angel bingung memikirkan alasannya.”


“Biarkan saya mengantarmu. Saya tidak akan sampai depan rumah. Saya akan turunkan kamu jauh sebelum mendekati rumah.”


Aku tidak bisa lagi menolaknya. Jika aku terus menolak, itu mungkin akan menyinggung perasaannya. Dan aku percaya bahwa dia tidak akan mengantarkanku tepat di depan rumah. Bagaimana jika nantinya Mamah curiga kalau aku berhubungan sama Pak Angga ? Untuk saat ini aku tidak mau Mamah tahu.


“Ini, Mah obatnya. Maaf ya Angel telat. Tadi urusannya agak lama.”

__ADS_1


“Gak papa sayang. Ya udah kamu istirahat, ya."


Beruntung Mamah tidak bertanya panjang kali lebar. Mungkin karena fokus Mamah hanya tertuju pada obat alergi, sehingga tidak terlalu memperdulikan apapun di luar itu.


“Bibi gimana keadaannya ? Apakah masih sakit ? Atau terasa panas ?”


“Masih terasa panas, Non.”


Dara, itulah namanya. Wanita paruh baya kurang lebih berusia setengah abad. Telah cukup lama dia menjadi asisten dirumahku. Sejak aku masih dalam kandungan, kata Mamah dia telah berada disini. Kedekatanku sama Bi Dara tidak bisa di elakkan. Aku sudah menganggapnya seperti Nenekku sendiri, bukan asisten.


Bi Dara tidak memiliki keluarga. Ia hidup sebatang kara. Suaminya meninggal karena sakit yang di deritanya setelah 5 tahun usia pernikahan. Anak semata wayangnya juga ikut meninggal menjadi korban tabrak lari. Sehingga aku mungkin telah dianggap anak olehnya. Aku senang, karena dikelilingi oleh orang-orang baik yang sangat menyayangiku.


***


“Mah hari ini Angel mau keluar, boleh ?”


“Mau kemana sih, sayang ?”


“Angel bosan dirumah terus. Angel mau jalan sama. . . Alessya. Iya sama Alessyia. Bolehkan, Mah ?”


“Ya sudah. Asalkan kamu harus sudah ada di rumah sebelum matahari terbenam !”


Ketika motor merah telah tiba di hadapanku, hal pertama yang ia ucapkan adalah, “Terimakasih.”


“Terimakasih buat ?”


“Terimakasih sudah bersedia mendampingi sidang perdana perceraian saya.”


“Bapak tidak tanya kenapa Angel berubah pikiran ?”


“Itu tidaklah penting. Hal terpenting saat ini bahwa kamu bersedia hadir menemani saya. Bagi saya, kehadiran kamu adalah energi yang membantu menguatkan saya.”


“Maaf ya Pak, waktu itu Angel bohong. Angel mengatakan sudah ada janji. Angel hanya ingin memberikan sedikit kejutan untuk Bapak.”


“Terimakasih. Saya hanya bisa mengucapkan terimakasih. Sekali lagi terimakasih.”


Telah tiba di depan sebuah gedung. Aku berjalan memasuki ruangan dengan digandeng oleh Pak Angga. Aku duduk di kursi pengunjung untuk menyaksikan sidang berlangsung.


Terlihat orang yang duduk berlawanan dengan Pak Angga. Wanita dewasa dengan make up tebalnya, dengan celana jeans serta kemeja putih ketat yang memperlihatkan keelokkan tubuhnya. Jauh berbeda denganku, dengan penampilan sederhana tanpa riasan selain lipbalm dan lipstick merah muda, serta baju longgar yang selalu aku kenakan. Iya, dia adalah mantan istrinya Pak Angga. Tunggu ! Apakah masih menjadi istrinya ? Mereka belum resmi bercerai.

__ADS_1


Aku mengikuti sidang berlangsung sejak pertama dibuka sampai akhir acara. Hari ini sidang cukup sampai disini, dan akan dilanjutkan 2 pekan kemudian. Ternyata proses perceraian itu tidaklah mudah. Harus melalui beberapa tahap. Ribet sekali.


“Oh jadi ini pelakor nya.”


Tiba-tiba langkah aku dan Pak Angga terhenti karena dihadang oleh wanita yang menjadi lawan dalam sidang ini.


“Siapa nama kamu ? Oh lupa nama kamu pelakor, ya ?”


“Windy jaga mulutmu !”


“Kenapa ? Apa yang saya ucapkan benar kan ? Dia adalah pelakor.”


“Dan kamu ! Saya perhatikan kamu masih remaja, belum cukup dewasa. Apa dia ini salah satu dari murid kamu Angga ?”


Windy, itulah namanya. Dia berbicara dengan mengacungkan jari telunjuknya tepat dihadapan mukaku. Disertai dengan tatapan tajam yang tersorot ke arahku dari atas sampai bawah. Sungguh membuatku tidak nyaman.


“Kamu masih kecil sudah jadi pelakor. Apakah begini cara kamu dididik oleh orang tuamu ?”


Aku benar-benar tidak tahan atas hinaannya. Apalagi banyak orang di area sana menyaksikan keributan yang disebabkan oleh Windy. Terdengar samar-samar gunjingan mereka yang berkata, “Oh jadi itu pelakornya ?"


"Jadi itu alasan mereka bercerai ?"


"Waah tidak menyangka padahal masih muda, cantik tapi sudah jadi pelakor ?"


"Padahal dia juga sama perempuan, harusnya tahu bagaimana sakitnya diperlakukan seperti itu !”


Dan masih banyak lagi cibiran yang orang berikan.


“Stop !!! Angel masih bisa sabar saat anda hina Angel. Tapi Angel tidak rela jika anda membawa-bawa orang tua Angel dalam masalah ini. Mereka tidak tahu apa-apa. Silahkan saja anda caci maki, hina Angel sepuasnya. Tapi jangan pernah anda menghina orang tua Angel !”


Aku bisa diam selagi tidak ada orang yang menghina keluargaku. Tetapi jika Papah dan Mamah telah dibawa-bawa, aku tidak bisa diam lagi.


“Oh jadi nama kamu Angel. Nama yang cantik. Wajah kamu juga cantik. Tapi sayang hati kamu tidak cantik. Merebut suami orang, apakah kamu tidak malu ? Kecantikan kamu digunakan untuk merebut kebahagiaan wanita lain ? Dimana harga diri kamu ?”


Mungkin yang dikatakan Windy benar, bahwa aku telah menyakiti hatinya. Dari awal aku yang salah. Aku jatuh cinta kepada pria yang telah menikah. Tetapi aku sama sekali tidak berniat untuk mencurinya. Justru pria itu yang memulainya, bukan aku.


Bagaimanapun alasannya. Bagaimanapun kebenarannya, mereka tidak akan peduli. Mereka tidak akan percaya. Yang mereka yakini saat ini adalah aku si perebut laki orang.


*Bersambung*

__ADS_1


__ADS_2