
Tangisan Alessyia belum juga berhenti. Kak Aldo juga telah kehabisan cara. Berbagai usaha telah dilakukannya untuk membuat Alessyia berhenti menangis. Tetapi belum juga ada yang membuahkan hasil.
Aku dan Pak Angga juga telah membantu Kak Aldo untuk meyakinkan Alessyia bahwa semuanya sudah baik-baik saja. Lama-lama kami dibuat tertawa dengan sikap Kak Aldo yang semakin tidak tenang, karena bukannya berhenti, Alessyia malah semakin kencang mengeluarkan suaranya.
Kak Aldo membawa Alessyia ke dalam pelukannya.
“Hahahaha.”
Kami semua dibuat terheran dengan gelak tawa Alessyia. Karena baru saja ia menangis dan sekarang sudah tertawa lagi. Alessyia segera menjauhkan badannya dari Kak Aldo.
“Kak Aldo panik ya ?”
“Cha, kamu ngerjain Kakak ?”
“Itu balasan, karena Kakak udah ngerjain Echa. Wlee.”
Alessyia menjulurkan lidahnya kepada Kak Aldo. Kemudian ia berlari keluar pintu. Kak Aldo yang tidak terima segera mengejar Alessyia. Aku dan Pak Angga hanya bisa geleng-geleng kepala menyaksikan pertunjukan layaknya tom dan jerry.
“Oh iya, stok makanan kamu udah habis kan dimakan Alessyia ?”
“Kayaknya iya, Bee. Tapi nanti, Angel periksa dulu ke depan.”
Aku berdiri dan melangkah menuju balkon. Ternyata semua kemasan snack telah terbuka. Dan ketika aku mengangkatnya, semuanya telah kosong. Pak Angga yang juga ikut keluar membantuku untuk membereskan wadah yang berceceran.
“Angel, sebentar aku keluar dulu !”
“Mau kemana, Bee? Pulang ?”
“Enggak. Nanti kesini lagi.”
Setelah semuanya kembali bersih, aku terduduk menikmati senja yang perlahan mulai menghilang sembari menunggu kembalinya Pak Angga.
“Pak Angga kemana sih? Katanya akan kesini lagi. Ini udah cukup lama lho.”
Aku menyalakan tombol on pada smartphone untuk melihat jam yang tertera di layar. Telah lebih dari 30 menit berlalu sejak kepergian Pak Angga. Tetapi belum ada tanda-tanda kedatangannya lagi.
Klekk !!
Aku dibuat terkejut dengan kehadiran seseorang yang langsung masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Syukurlah dia orang yang sudah aku nanti sedari tadi. Dengan membawa kantong berukuran besar yang penuh oleh isinya.
“Bee, apa itu ?”
“Ini buat stok makanan kamu !”
Saat kantong tersebut aku buka, ternyata di dalamnya penuh dengan beberapa jenis makanan yang berbeda. Dimulai dari makanan berat seperti roti tawar. Biskuit dengan beraneka rasa. Serta makanan ringan seperti keripik singkong, keripik ubi, dan masih banyak jenis yang lainnya. Dan dilengkapi dengan beberapa pack susu kotak dengan rasa cokelat, strawberry, dan full cream.
“Bee, banyak banget...”
“Nanti kalau habis, hubungi aku aja ! Pokoknya mulai sekarang, aku yang akan mengurus kebutuhan makanan kamu.”
“Tapi Bee, Angel gak enak ah. Angel juga udah di kasih uang jajan sama Papah kok.”
“Uang itu kamu tabung aja! Buat biaya kita nikah.”
“Bee. . .”
Pak Angga menggodaku dengan berbisik di dekat telingaku dan di akhiri oleh senyuman yang terlukis di wajahnya. Aku yang mendengarnya juga ikut tertawa dan mencubit pinggangnya pelan.
“Aww...sakit sayang.”
“Sakit ya, Bee? Padahal Angel pelan kok nyubitnya.”
__ADS_1
“Kamu mau coba ?”
“Enggak.”
“Sini coba dulu !”
“Enggak, Bee.”
Pak Angga berusaha untuk menggapai tubuhku. Aku yang tidak mau mendapat cubitan dari Pak Angga berusaha untuk menghindari pergerakannya. Tetapi Pak Angga menghentikan langkahnya dan melihat jam tangan yang menghiasi tangan kirinya.
“Aku pulang ya, udah malam.”
“Oh iya, Bee. Kasihan Rendy pasti udah menunggu. Salam buat Rendy ya, Bee.”
“Siap. Nanti aku sampaikan dari calon Ibu sambungnya.”
“Bee...”
“Hehehe.”
Sebelum pintu tertutup Pak Angga membalikan pandangannya, “Jangan lupa hari esok. Aku jemput kamu pukul delapan pagi.”
Kali ini Pak Angga benar-benar telah melangkah jauh. Setelah ia berpamitan dengan memperingatiku dan mengedipkan sebelah matanya. Aku semakin gemas dengan sikap Pak Angga. Bahkan aku tidak lagi menganggapnya sosok yang dingin.
***
Hari yang dijanjikan Pak Angga telah tiba. Aku bangun lebih pagi dari hari-hari biasanya. Aku ingin memberikan sedikit penampilan yang berbeda. Bahkan semalam aku telah melakukan perawatan muka dengan menggunakan masker kapsul yang berwarna hijau. Meskipun baunya menyengat, aku berusaha menahannya. Karena kata Alessyia, masker itu cukup bagus untuk perawatan wajah.
Make up yang aku pakai juga sedikit mencolok. Terlihat lebih menyala dari make up yang biasa aku pakai. Bahkan cukup menghabiskan banyak waktu untuk memilih kombinasi warna yang cocok di mukaku.
Dred...dred...
Aku menuruni tangga dengan langkah yang sangat hati-hati. Dengan tangan yang mengangkat gaun agar tidak terinjak highils tajamku. Serta sebelah tangan lagi menenteng tas berukuran sedang yang senada dengan warna gaun.
“Sudah siap ?”
“Heem.”
“Kita berangkat sekarang ?”
“Ayo !”
Aku memasuki mobil setelah sebelumnya pintu dibuka oleh Pak Angga. Pedal gas di injak secara perlahan. Mobil hitam itu kini bersaing dengan laju kecepatan mobil yang lain.
“Kamu cantik sekali hari ini.”
“Hem ?”
“Aku yakin semuanya akan jatuh cinta sama kamu. Dan aku menjadi orang yang sangat beruntung karena berhasil mencuri hati kamu.”
“Pak Angga juga tampan. Angel suka dengan penampilan kamu hari ini. Membuat kamu terlihat sangat jantan.”
“Makasih sayang.”
“Kembali kasih, Bee.”
“Hahaha.”
Si hitam telah memasuki gerbang yang bertuliskan We Come To Study. Inilah sekolah tempat dimana Pak Angga membagikan ilmunya. Bangunan yang sangat luas. Lebih luas sedikit dari tempat sekolahku yang dulu. Dengan taman hijau yang dipenuhi dengan tanaman. Serta bangunan yang diberi cat abu-abu. Menjadikan campuran yang enak di pandang.
“Silakan Tuan Putri !”
__ADS_1
“Hehe. Makasih Pangeran !”
Pak Angga menggandeng tanganku untuk keluar dari dalam mobil. Ia tidak melepaskan sedetikpun ikatan tangan kami. Hanya ketika mengisi draft tamu, terpaksa genggaman itu terlepas.
Sejak pertama aku dan Pak Angga menginjakan kaki, semua mata menatap kepada kami. Aku tidak tahu apa arti dari tatapan itu. Karena aku tidak bisa membaca pikiran orang lain. Pak Angga yang seolah mengetahui ketidak nyamanan yang aku rasa, semakin mengeratkan genggamannya.
“Hallo Pak Angga! Selamat datang.”
“Iya Pak. Terimakasih.”
“Eu-eu adiknya ?”
Pria yang sudah tidak muda lagi dengan rambut yang sudah berubah menjadi uban semua, menunjuk ke arahku dan bertanya kepada Pak Angga apakah aku adiknya.
“Bukan Pak. Ini pacar saya.”
“Ooohhh, ya ampun saya minta maaf Pak. Saya benar-benar tidak tahu. Saya kira Bapak sudah beristri.”
“Tidak apa-apa Pak. Oh iya, Angel kenalin ini Kepala Sekolah disini.”
Aku mengarahkan perkenalan tangan kepada pria tua tersebut dengan menunjukan senyuman yang juga di balas ramah oleh dia.
“Silakan menempati kursi yang telah disediakan Pak! Selamat menikmati acaranya."
“Baik Pak. Terimakasih.”
Pak Angga kembali membawa tanganku untuk melingkar di lengan kekar miliknya. Kemudian Pak Angga membawa aku untuk memilih tempat duduk dan membersihkan kursi yang akan aku tempati.
“Silakan !”
Aku tersenyum manis kepada Pak Angga. Sesekali kami berbicara dengan cara berbisik. Entah kenapa aku merasa orang-orang masih memperhatikanku.
“Bee, kayaknya orang-orang masih memperhatikan Angel.” Bisikku lirih.
“Sudah aku katakan. Semua orang akan terpana karena kecantikan kamu.”
“Tapi Angel tidak nyaman, Bee.”
“Mungkin mereka belum pernah melihat bidadari.”
“Ihhh Bee...”
Aku mencubit perut Pak Angga, membuat dia meringis kesakitan.
“Selamat Pagi !”
“Pagi !”
Sapaan dari pembawa acara disambut kompak oleh para tamu hadirin. Aku dan Pak Angga menghentikan aktivitas sebelumnya dan fokus untuk mengikuti acara demi acara.
*Bersambung*
.
.
.
Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak berupa like, komen, rate 5 & vote seikhlasnya 🥰
Terimakasih 🙏
__ADS_1