
Mungkin aku jahat. Aku bukanlah anak yang baik. Aku tidak bisa berkata jujur kepada orang tuaku. Dan sampai saat ini aku masih sering jalan bersamanya.
Kali ini aku hanya terdiam menemani Pak Angga yang sedari tadi sedang menatap layar monitor mengerjakan sebuah projek. Memang seperti itu, jika telah ada komputer di antara kita, akulah yang menjadi nomor dua. Tapi tak apa, aku mengerti. Itu semua demi karirnya. Tapi kali ini Pak Angga merasakan perbedaan pada diriku. Biasanya aku selalu berusaha untuk mencuri perhatian darinya. Entah itu dengan selalu berbicara tanpa rem, menawari atau bahkan menyuapi Pak Angga makan dan minum tanpa seijin darinya, atau sesekali bergelayutan di lengan kekar miliknya.
“Kamu kenapa daritadi diam aja ? Tidak seperti biasanya.”
“Angel gak papa kok.”
“Kamu bosan ? Ya udah saya antar kamu pulang.”
“Tidak mau. Angel masih ingin disini.”
“Tapi kamu jenuh kan ? Saya gak papa kok sendiri, sudah biasa. Lebih baik kamu keluar dulu cari angin !”
“Pak . . .”
“Iya. Kenapa ?”
“Eu-eu. . . gak jadi.”
Pak Angga menghentikan aktifitasnya. Ia mengesampingkan laptop yang sedari tadi ditatap oleh sepasang manik miliknya.
“Ada masalah apa ?”
Sebenarnya aku ragu untuk bilang kepada Pak Angga perihal ucapan Mamah tempo hari. Aku takut jika Pak Angga tahu, ia akan menyerah atas cintanya kepadaku. Tapi aku tidak bisa menyimpan ini sendirian. Sebelumnya aku membicarakan perihal ini pada Alessyia. Dan ia memberikan saran agar aku mendiskusikannya dengan Pak Angga.
“Kalau menurut gue lo harus kasih tahu Pak Angga ! Kalau dia menyerah begitu saja, berarti dia tidak sungguh-sungguh ingin bersama lo. Cinta sejati akan mencari cara agar dapat bersama. Ia akan berusaha sekeras batu untuk mempertahankan cintanya. Dan ia akan menemukan cara untuk mendapatkan lampu hijau dari kedua orang tua lo.”
Kurang lebih seperti itu ucapan yang Alessyia berikan padaku berupa saran. Alessyia benar. Aku harus mengatakannya. Jika dia tidak mau berjuang. Maka dia bukanlah seseorang yang layak aku perjuangkan kembali.
“Pak Angga. . .”
“Kenapa ? Ada apa Angel ?”
“Jikalau orang tua Angel tidak merestui hubungan kita bagaimana ?”
“Saya akan berusaha sampai mendapatkan restu dari mereka.”
“Tetapi orang tua Angel over protektif. Segala keinginan mereka tidak bisa dibantah. Sekali berkata tidak tetap tidak.”
“Kamu pernah dengar cerita batu yang berlubang oleh tetesan air ?”
“. . .”
“Batu itu keras. Tetapi karena air yang menetes dalam jangka waktu lama, batu itu menjadi berlubang. Itu artinya, sekeras apapun sesuatu akan kalah jika kita tidak pernah berhenti berjuang. Sama halnya dengan hati seseorang. Lama-lama ia akan luluh. Kita serahkan semuanya pada yang di atas. Hanya Tuhan-lah yang maha membolak-balikkan hati.”
__ADS_1
“Apakah Bapak tidak akan menyerah ?”
“Saya akan berusaha sampai titik terakhir. Tetapi jika pilihan mereka demi kebaikan kamu, saya mohon kamu jangan menolaknya !”
“Itu sama saja dengan Bapak menyerah.”
“Dengarkan saya Angel ! Saya tidak mau kamu bernasib sama seperti saya. Kamu tahu jika orang tua tidak pernah salah. Sekarang saya menyesal tidak mendengarkan orang tua saya. Saya memaksakan untuk menikah dengan Windy. Padahal Ibu dan Bapak telah mengetahui sejak awal bahwa Windy bukanlah perempuan baik. Bodohnya, saya baru mengetahuinya setelah ijab qobul terlaksana.”
“Tapi Angel tidak mau yang lain.”
“Kita berjuang sama-sama, ya !!!”
Lagi lagi Pak Angga benar. Aku tidak bisa menyalahkan Pak Angga. Itu bukan berarti dia menyerah. Tetapi dia telah belajar dari masa lalu yang terjadi dalam hidupnya. Mamah benar, bersama pria dewasa dapat mengajari aku beberapa hal yang tidak aku ketahui sebelumnya. Dan bersama Pak Angga selalu membuatku merasa nyaman dan tenang.
Padahal cukup lama kedekatan aku dengan Pak Angga. Tetapi kami masih menjalaninya secara sembunyi-sembunyi. Pak Angga menurunkan aku beberapa meter dari gerbang depan rumah.
Tidak seperti biasanya, siapakah yang berdiri menjaga pintu depan ? Mamah tidak mempunyai penjaga gerbang sebelumnya. Apa dia karyawan baru ?
Tunggu-tunggu. Sepertinya aku kenal sama dia, “Frans . .”
“Angel, akhirnya kamu datang juga.”
Sumpah aku tidak mengerti dengan orang yang satu ini. Apa dia tidak mempunyai saraf malu ? Atau benar kata Pak Angga jika dia adalah seorang psycho ? Jelas aku telah berkata untuk tidak pernah menemuiku lagi. Apa mungkin dia tidak mengerti bahasa Indonesia yang baik ?
Tapi kali ini, aku melihat Frans sudah biasa saja. Tidak lagi teringat kenangan saat bersama dirinya. Aku juga tidak menyimpan dendam kepadanya. Hanya saja aku kesal dengan tingkahnya.
“Om ?”
“Iya om yang waktu itu membawa kamu.”
“Maksud lo Pak Angga ?”
“Tuh kan kamu aja manggil dia Pak. Dia itu sebenarnya siapa, sih ? Kamu tidak mungkin pacaran dengan om-om kan ? Apa segitu frustasinya kamu setelah putus denganku, sehingga kamu mau menjadi simpanan om-om ?”
“Jaga mulut lo ! Gue bukan simpanan om-om. Sudah gue bilang dia pacar gue. Dan apa lo bilang ? Frustasi ? Hallo !!! Siapa lo sampai gue harus frustasi putus dari lo ? Lo itu bukan siapa-siapa Frans. Bagi gue lo hanyalah seorang playboy psycho.”
Baru saja aku mau bersikap manis kepada Frans. Tetapi dia memulainya lagi. Jelas aku kesal. Bagaimana dia bisa mengatakan aku simpanan om-om ? Apa sebegitu rendahnya aku ?
“Angel apa kamu yakin dia pacar kamu ? Dia sudah tua, Ngel. Kalau pacar kenapa pula kamu memanggilnya Pak ?”
“Itu bukan urusan lo. Mau gue manggilnya Pak, Mas, Bang, Beib, Baby, Sayang, itu hak gue. Kenapa lo peduli sama gue ?”
“Aku tetap tidak percaya. Pokoknya aku akan mencari tahu siapa pria itu. Dan ingat ! Aku akan menyingkirkan dia dari hidup kamu.”
Mungkin benar bahwa ada yang aneh dengan kejiwaan Frans. Kenapa dia terus muncul di hidup aku ? Padahal aku sudah tenang beberapa waktu terakhir ini tidak didatangi olehnya. Aarrgghhhh memikirkan ucapannya benar-benar membuat kepalaku pening.
__ADS_1
“Non ? Non kenapa memijit-mijit pelipis ?”
“Tidak apa, Bi. Hanya sedikit pening.”
“Bibi bawakan obat ya, Non.”
“Tidak usah, Bi. Tolong buatkan Angel teh manis hangat aja ya, Bi !”
Aku rasa tidak perlu obat untuk meredakan sakit kepala saat ini. Mungkin dengan beristirahat dan berhenti memikirkan Frans Psycho, rasa sakitnya akan hilang. Iya, itulah julukan baru yang aku berikan kepada Frans.
“Ini Non. Diminum dulu !”
“Emmm wangi, Bi.”
Benar saja aku tidak membutuhkan campuran bahan kimia. Aku hanya butuh aroma yang berasal dari alam. Dan aroma itu aku dapatkan dari segelas teh hangat yang dibuatkan oleh Bi Dara. Satu lagi, aku membutuhkan Mamah. Dimanakah Mamah berada saat ini ?
“Oh, iya Bi. Mamah mana ?”
“Tadi Ibu keluar sebentar, Non.”
Seperti ada ikatan batin di antara aku dan mamah. Tidak lama setelah kami membicarakan Mamah, tiba-tiba sudah tiba dihadapan kami. Aku segera berlari memeluk Mamah untuk menghilangkan keluh kesah yang terjadi hari ini.
“Anak Mamah kenapa sayang ?”
“Mamah darimana aja ? Angel kangen ?
“Tadi Non Angel sakit kepala katanya, Bu.”
“Kamu sakit sayang ? Kita ke rumah sakit, ya ?”
“Udah enggak Mah. Kan udah dibuatkan teh hangat sama Bi Dara. Oh iya Mamah belum jawab pertanyaan Angel.”
“Mamah habis beli ini.”
Mamah menunjukkan bingkisan kotak, “Ta-da.”
“Martabak ?”
“Iya.”
“Ihh ini kan kesukaan Angel. Mamah tahu aja kalau Angel ngidam banget pengen makan ini.”
Satu kata yang mewakili perasaan aku kepada Mamah, “I Love You.”
Tidak lupa juga buat Papah yang saat ini sedang berjuang demi masa depan keluarga, “I Love You.”
__ADS_1
*Bersambung*