
Sebelum lanjut jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak berupa like, komen, rate 5 & vote seikhlasnya 🥰
Semuanya itu gratis kok. Tapi sangat berarti untuk author. Karena itulah penyemangat author😍😍
Salam sejahtera untuk kita semua 😇😇
Terimakasih 🙏🙏🙏
**************************************************
“Kak Angel…”
“Iya sayang.”
“Suara siapa itu, Kak? Tadi tidak ada Ayah. Dan juga, sepertinya ada suara perempuan.”
Bukan hanya orang dewasa saja yang dapat mendengar suara aneh yang bukan berasal dari kerumunan kita. Rendy yang masih kecil, bahkan mungkin pendengarannya masih sangat jeli juga ikut mendengar suara tersebut.
Rendy saja pemilik rumah merasa bingung dengan suara tersebut, apalagi aku dan yang lainnya yang hanya tamu disana. Bibi yang baru kembali dari dapur dengan membawa nampan berisi minuman juga ikut terheran.
“Bi, apakah ada orang selain kita?”
“Bibi tidak tahu, Non. Setahu Bibi tadi tidak ada siapa-siapa. Tapi tunggu…”
Bi Rani menghentikan pembicaraannya seperti sedang mengingat-ingat sesuatu yang terlupakan. Sedangkan pendengar yang lain menanti dengan setia penjelasan dari beliau.
“Oh iya Non, pintu rumahnya tidak dikunci lagi. Tadi Bibi yakin sebelum pergi pintunya sudah dikunci.”
“Kak, Rendy takut…”
Mendengar penjelasan dari Bi Rani, Rendy spontan memelukku dari samping. Aku berusaha untuk menenangkannya dibantu dengan Alessyia yang mengelus punggungnya.
“Bi, apakah boleh kita memeriksa asal sumber suara tersebut?”
“Tentu Den, silakan!”
Kak Beni meminta izin kepada penjaga rumah untuk mencari tahu sumber suara. Rendy tidak mau diam saja hanya menjadi penonton. Meskipun dia takut, tetapi Rendy ingin menjadi saksi memergoki orang yang telah menciptakan suara tersebut.
Aku sambil menggendong Rendy mengikuti langkah Kak Beni dari arah belakang. Sedangkan Alessyia dan Kak Aldo tidak terlalu dekat. Mereka mengawasi sudut ruangan yang lain untuk memastikan rumah itu kembali aman. Sedangkan Bibi masih diam di tempat dengan nampan berada di tangannya yang gemetar.
“Udah udah gak usah! Biar saya aja yang bersihin.”
__ADS_1
“Gak papa, Pak. Biar aku bantu aja.”
Suara tersebut semakin nyaring terdengar kala langkah kami berada tepat di depan pintu salah satu ruangan. Ruang tersebut adalah kamar. Menurut penjelasan Rendy, kamar tersebut biasanya diisi oleh Ayahnya.
Entah kenapa perasaanku menjadi tidak enak. Aku yakin suara tersebut bukan berasal dari orang jahat. Jika memang itu penjahat yang hendak melakukan tindak kriminal, pastinya akan beraksi dengan cepat dan tanpa menimbulkan suara. Dan juga, aku mendengar wanita itu memanggil sebutan ‘Pak’, bukankah itu sebutan kepada Pak Angga.
Klek!
Tanpa aba-aba dan tanpa meminta izin lagi, Kak Beni telah membuka pintu ruang kamar tersebut. Beruntunglah pintu tersebut tidak dikunci. Sehingga mata kami bisa langsung tertuju dan menatap orang yang ada di dalamnya.
“Angel…”
“Ayah!”
Betapa terkejutnya aku ketika menyaksikan penghuni kamar tersebut terdiri dari sepasang wanita dan pria. Wanita itu sedang membersihkan celana bagian bawah sang pria. Sedangkan pria itu menggenggam erat pergelangan tangan sang wanita.
Wanita yang masih berusia sekitar 20-22 tahun dengan rambut berwarna cokelat, kemeja kotak-kota berwarna merah marun yang dimasukan ke dalam rok span berwarna putih, serta sepatu highilss dengan tinggi sekitar 10 cm.
Sapaan Rendy yang cukup keras menarik perhatian semua orang yang ada di rumah. Termasuk Alessyia dan Kak Aldo segera mendekat, diikuti dengan langkah Bi Rani. Kini semua pasang mata sedang menyaksikan Pak Angga dengan wanita yang entah siapa.
Dengan hati-hati aku menurunkan Rendy dari gendongan. Tanpa berpamitan terlebih dahulu, aku segera melangkah menjauhi kerumunan tersebut. Tidak ada juga yang berani menahannya. Sepertinya mereka tahu apa yang aku rasakan saat ini. Kehancuran dan penderitaan.
“Angel…tunggu!”
“Saya harus menjelaskannya sama Angel. Ini semua tidak seperti yang kalian pikirkan.”
“Anda pikir kami akan membiarkan Anda menyakiti Angel sesuka hati Anda? Sudah cukup sampai disini! Jangan lagi mengusik kehidupan Angel!”
“Saya mohon! Beri saya kesempatan!”
Langkah Pak Angga yang berusaha mengejar pelarianku terhenti karena badan tegap Kak Beni menghalanginya. Tetapi karena kekuatan Pak Angga yang di kerahkan semuanya, ia berhasil menyingkirkan Kak Beni. Sedangkan aku masih terus melangkah menjauhi rumah tersebut. Meskipun telah dipanggil berulang-ulang, tetap saja melaju tanpa henti.
“Angel…tunggu!”
“Angel please! Dengarkan penjelasan aku!”
Aku masih terus berlari sambil sesekali menengok ke arah belakang untuk mengetahui posisi Pak Angga. Ia masih bekerja keras mengejarku. Dan aku sudah merasa lelah, tenagaku sudah terkuras, cairan di dalam tubuhku juga telah keluar semuanya, penglihatanku juga mulai memudar, bahkan sudah mulai susah untuk menyeimbangi berat badanku.
Sudah tidak ada daya upaya lagi untuk melarikan diri. Untuk sekadar berjalan saja terasa berat. Kini aku pasrahkan semuanya jika Pak Angga sudah bisa menggapai diriku. Dan benar, tidak lama pergelangan tanganku telah ditarik olehnya.
“Angel dengarkan dulu! Ini semua tidak seperti yang kamu lihat dan kamu pikikan. Dia murid aku. Dia meminta untuk les di rumahku. Dan ketika aku masuk ke kamar, dia mengikutinya karena hendak menawarkan jus untukku. Ketika aku hendak berbalik tidak sengaja bertabrakan dengannya dan membuat jus itu tumpah semua ke celanaku.”
__ADS_1
Aku masih menjadi pendengar setia. Memperhatikan gerak bibir Pak Angga yang mengeluarkan beberapa kata untuk menceritakan peristiwa yang terjadi beberapa menit yang lalu. Dan aku masih berusaha untuk menstabilkan pernafasanku kembali.
“Percayalah! Apa yang aku ucapkan semuanya adalah kenyataan.”
“Hahaha.”
Setelah merasa nafasku tidak lagi memburu, aku mencoba membuka percakapan dengan gelak tawa. Meskipun sebenarnya tidak ada sesuatu yang lucu. Aku melakukan semua itu untuk menghilangkan kegelisahan yang ada.
“Memangnya apa hubungannya dengan Angel? Bukankah hubungan kita sudah berakhir? Pak Angga mau berduaan sama wanita manapun Angel tidak peduli. Entah itu di mall, caffe, rumah, kamar tidur atau bahkan kamar mandi. Angel gak peduli, Pak. Hahaha.”
“Angel…”
“Dan juga sepertinya alasan Pak Angga tidak berbobot. Apa Bapak pikir orang-orang akan percaya dengan alasan seperti itu? Sebuah ketidak sengajaan di dalam kamar, dengan pintu yang tertutup rapat? Bagaimana mungkin pria dewasa dan wanita berada di dalam kamar tanpa melakukan apa-apa? Apalagi celana Pak Angga saja sudah basah.”
“Angel, memang kenyataannya seperti itu. Aku tidak mungkin melakukan perbuatan di luar nalar.”
“Kenapa gak mungkin? Toh Pak Angga juga sama lelaki yang memiliki nafsu. Kenapa tidak mungkin?”
“Karena aku masih mencintai kamu. Aku tidak mungkin melakukan perbuatan itu dengan wanita lain disaat hatiku masih sangat mencintai kamu.”
Ucapan Pak Angga seketika mengunci pergerakan mulutku. Aku tidak mampu lagi mengeluarkan kata-kata untuk mendebatnya. Perkataannya seperti langsung menusuk jantungku. Membuat diriku mati berdiri.
Batinku kini bertanya-tanya, “Bagaimana bisa dia mengatakan masih cinta? Padahal dia sendiri yang memutuskan untuk pergi?”
“Aku tidak mau kamu salah paham dan mengira aku telah bermain dengan wanita lain. Aku tahu kamu marah, kecewa, benci kepadaku. Tetapi suatu saat kamu akan mengerti bahwa semua yang aku lakukan demi kebaikan kamu. Papah kamu benar, cinta tak harus memiliki. Jika dengan kepergianku bisa membuat kamu bahagia, maka aku akan melakukannya.”
“Pak Angga, Angel mohon berhenti mengeluarkan kata-kata yang terus membuat Angel melayang. Pak Angga selalu membuat Angel terbang, dan ketika berada di atas awan, Pak Angga menghempaskan Angel ke bumi dengan kasar. Angel sudah kehilangan kepercayaan kepada Pak Angga. Angel sama sekali tidak peduli dengan kehidupan Bapak.”
“Kamu membohongi perasaan kamu sendiri. Bilang saja kalau sebenarnya kamu cemburu!”
“Cemburu? Hahaha tidak mungkin.”
“Kalau tidak kenapa kamu lari?”
“Angel hanya tidak mau berurusan lagi dengan Pak Angga. Tolong sebelum Bapak bertindak alangkah baiknya untuk memikirkan perasaan Rendy! Apakah Bapak tidak berpikir bagaimana perasaan Rendy jika melihat Ayahnya bersama wanita berduaan di dalam kamar? Apa yang akan Bapak jelaskan kepada Rendy?”
*Bersambung*
.
.
__ADS_1
.
Sedikit bocoran nih, kalau sebentar lagi Papah akan merestui hubungan Angel dan Pak Angga. Makanya jangan sampai kelewatan ya! Pantengin terus MTIM 🥰🥰