
Dengan hati yang resah. Pikiran yang kalut. Aku mencoba mengumpulkan keberanian untuk membuka pintu. Jika peristiwa itu terjadi lagi, maka sudah pasti aku di cap sebagai pembuat onar. Padahal bukan hanya suaraku saja, ada Alessyia disana. Tapi mereka tidak mau tahu. Mereka hanya tahu siapa pemilik kamar kost-an ini.
Klek !!!
“Maaf ya, Pak ! Angel janji tidak akan gaduh lagi. Maaf telah membuat Bapak terganggu.”
Sebelum dia mengomel habis-habisan, lebih baik aku meminta maaf terlebih dulu. Usianya memang belum tua. sekitar 30-35 tahun. Tetapi dengan badan yang kekar serta muka yang sangar, membuat penampilannya ditakuti orang-orang. Dia tinggal bersama istrinya tepat di pinggir kamar kost-an aku.
“Kamu kenapa ?”
Sedari tadi aku terus menunduk. Aku tidak berani untuk menatap seseorang yang ada di hadapanku. Tetapi ketika dia bicara, rasanya aneh. Itu bukan suara pria yang waktu itu marah-marah. Melainkan suara yang tidak asing lagi di telinga.
“Pak Angga. . .”
Alessyia segera keluar untuk menemaniku. Dia menyebut nama Pak Angga. Aku mencoba untuk memberanikan diri menatap wajah pria tersebut. Tentunya dengan tatapan tidak percaya tanpa suara.
“Angel, itu ada Pak Angga. Kenapa gak di suruh masuk ?”
“Oh eu iy-ya silahkan masuk !”
Aku mempersilahkan tamu yang tak di undang tersebut untuk masuk. Pak Angga mengajak untuk duduk di balkon ditemani oleh Alessyia. Sedangkan aku menyiapkan suguhan untuk mereka.
“Ini minumannya.”
“Iya, makasih.” Jawab Pak Angga santai.
“Sini duduk !”
Pak Angga menyuruh aku untuk duduk. Sedangkan aku melihat kursi tersebut telah penuh. Kapasitasnya cuma muat 2 orang.
“Gak usah, Pak. Angel berdiri aja.”
“Ehh jangan jangan. Lo aja yang duduk disini. Biar gue yang berdiri.”
“Gak usah, Cha. Lo kan tamu. Tamu itu Raja.”
“Serius nih gak papa ?”
“Beneran.”
Alessyia kembali menduduki kursi setelah sebelumnya ia berdiri dan mencoba menarik tanganku untuk duduk di kursi tersebut.
“Gimana kabar kamu, Cha ?”
“Baik Pak. kabar Pak Angga gimana ?”
“Baik juga. Kuliah kalian gimana ?”
“Lancar.” Aku dan Alessyia menjawab kompak.
“Pak Angga kapan mau menikahi Angel ?”
Uhuk. .uhuk. .
Ucapan Alessyia membuat Pak Angga yang sedang meneguk botol minuman tersedak. Ia menutup botol itu dan menyimpan kembali di atas meja yang terletak di sampingnya.
“Kalau Angel siap, sekarang juga saya akan nikahi dia.”
“Hoaaa. Angel lo kapan siapnya ?”
“Cha apaan sih ? Gue harus kuliah dulu.”
__ADS_1
“Ya elahh. Kuliah kan bisa walaupun sudah menikah, Ngel.”
“Tapi gue belum siap, Cha.”
Alessyia tertawa mendengar penjelasanku. Kata dia, mukaku terlalu serius. Padahal dia hanya becanda. Pak Angga juga ikut tertawa menyaksikan ekspresi keteganganku.
Tak lama Alessyia berpamitan untuk pulang. Dia beralasan bahwa besok harus kuliah. Padahal biasanya juga dia suka begadang menonton drama korea. Apalagi jika ada drama yang baru rilis. Dia pantengin terus sampai bisa di akses secara online di Indonesia.
“Hati-hati ya, Cha !”
“Iya. Lo juga hati-hati, karena biasanya ada yang ketiga.”
“Maksud lo ?”
“Itu lho, yang menggoda di antara sepasang kekasih tapi tak ada wujudnya.”
“Chaaa. . .”
Alessyia segera berlari setelah berhasil membuat hatiku resah. Aku yang hendak memukulnya juga gagal karena langkahnya yang sangat cepat. Lebih baik aku melupakan perkataan Alessyia dan kembali menuju balkon.
“Sini duduk !”
“Gak usah, Bee. Angel disini aja.”
“Aku mau bicara sama kamu. Lebih enak kalau kamunya duduk.”
“Tapi kata Alessyia kalau ada yang sedang berduaan, maka yang ketiganya setan kan, Bee ?”
“Hahaha.”
Pak Angga tidak menghiraukan ucapanku. Dia menarik tanganku dan membawanya duduk di kursi yang berada di sebelah dirinya.
“Tapi kan kata Pak Angga juga pria yang normal.”
“Jelas aku normal dong. Buktinya aku cinta sama lawan jenis. Bukan pecinta sesama jenis.”
“Ih bukan itu, Bee.”
“Haha, pikiran kamu itu Angel. Tenang aja. Aku gak akan apa-apain kamu.”
“Beneran ?”
“Aku cuma mau bilang, kalau mulai besok tugasku dipindahkan kesini.”
“Maksudnya, Bee ?”
“Jadi aku akan mengajar disini. Di salah satu SMK Negeri.”
“Serius, Bee ? Jadi kita bisa dekat ? Enggak LDR lagi ?”
Pak Angga mengangguk dengan senyuman termanis yang ia miliki. Dengan refleks aku memeluknya. Sehingga mungkin membuat dirinya susah untuk menghirup oksigen. Ketika ucapan Alessyia terngiang-ngiang di ingatan, aku segera melepaskan pelukan itu.
“Maaf maaf ! Ini bukan karena orang ketiga kan, Bee ? Angel tidak di goda sama setan kan ?”
“Angel Angel. . .Udah jangan dipikirin itu orang ketiga atau setan ! Yang ada membuat kamu resah sendiri. Aku masih normal. Dan orang normal tidak akan melakukan hal gila seperti yang ada dalam pikiran kamu.”
Sejenak aku terdiam. Mungkin benar bahwa aku tidak boleh resah karena ucapan Alessyia. Jika aku mengatakan hal ini jujur kepada Alessyia, pasti dia akan merasa senang karena berhasil menjahili aku dan membuat aku terpikiran terus sama ucapannya.
“Oh iya Bee, kalau pindah kesini Rendy gimana ?”
“Rendy ikut. Tidak mungkin aku meninggalkannya sendiri. Dia tidak punya siapa-siapa selain aku, Ayahnya.”
__ADS_1
“Tapi Rendy tidak apa kalau pindah kesini ?”
“Awalnya dia menolak. Tetapi aku terus meyakinkannya. Dan juga Bi Rani ikut bersama kami. Jadi Rendy akan selalu ada yang menemani.”
“Syukurlah. Aku pikir pengasuh Rendy akan ikut ganti juga. Karena pasti Rendy perlu beradaptasi lagi dengan pengasuh yang baru. Itu membuat Rendy kurang merasa nyaman.”
Pak Angga mengacak-acak rambutku, “Kamu kok bisa kepikiran sampai kesitu sih ? Aku aja gak tahu, lho.”
“Karena itu juga pengalaman Angel. Waktu dulu Bi Dara sempat berpikir akan mengundurkan diri. Mamah mencarikan aku pengasuh yang baru. Dan ternyata rasanya berbeda ketika sama Bi Dara. Angel tidak nyaman sama pengasuh itu. Beruntunglah Bi Dara tidak jadi resign. Jadi Angel bisa sama Bi Dara lagi.”
Pak Angga menyeruput minuman dan mengambil beberapa buah snack. Ia menawarkan makanan itu kepadaku. Tetapi aku menolaknya. Aku hanya ingin menikmati pemandangan saat ini. Menyaksikan Pak Angga yang sedang asik mengunyah. Menurutku itu sangat lucu dan membuatku ingin tertawa.
“Kenapa kok ketawa ?”
“Hah ? Hem gak papa.”
“Oh iya, udah malam. Aku pulang sekarang, ya ! “
“Sekarang, Bee ?”
“Heem.” Pak Angga mengangakat jam yang berada di tangan kanannya.
“Kamu besok harus kuliah. Aku juga harus mulai mengajar di sekolah yang baru.”
“Semangat ya Bee sekolah barunya. Hehe.”
“Kamu semangat kuliahnya. Biar cepat wisuda terus kita nikah.”
Aku terus menolak ketika ada yang membicarakan pernikahan. Untuk saat ini aku belum kepikiran sampai ke arah sana. Bukannya aku tidak serius menjalani hubungan sama Pak Angga. Tetapi menikah itu membutuhkan banyak persiapan.
Mungkin benar kalau sudah menikah juga masih bisa kuliah. Tetapi aku tidak yakin bisa mengurus keduanya dalam waktu yang bersamaan. Aku takut tidak bisa menjalani tugasku sebagai istri karena terlalu fokus kuliah. Dan aku takut tidak akan bisa menyelesaikan gelar sarjana karena pemikiranku yang bercabang.
Jadi aku memutuskan untuk menyelesaikan study sampai wisuda, baru setelah itu memikirkan rencana pernihakan dengan Pak Angga. Aku tidak takut ditinggalkan sama Pak Angga dengan alasan aku belum siap menikah. Karena aku yakin Pak Angga tidak akan seperti itu. Jika dia benar-benar tulus kepadaku, maka dia siap menanggung segala resikonya.
*Bersambung*
.
.
.
Sekilas info 🤭
Nanti author crazy up lagi kalau moodnya sudah membaik🤗
.
Boleh tinggalkan saran di kolom komentar 👇👇
Jangan lupa tinggalkan jempol👍 untuk menghargai karya author😉😉
.
Kalau kalian suka boleh vote seikhlasnya😄
Dan masukan ke daftar favorit biar ada notifikasi jika novel ini up🥰🥰
.
Terimakasih 🙏🙏
__ADS_1