
Kebahagiaan kami masih terus berlanjut. Aku, Rendy dan Bi Rani menunggu Pak Angga yang sedang melakukan pemesanan tiket bioskop. Pekan ini ada film layar lebar yang baru rilis bertemakan anak-anak.
“Kak, nanti Rendy duduknya di dekat Kak Angel, ya ?”
“Boleh.”
“Aden gak mau sama Bibi aja ?”
“Sekarang Rendy mau sama Kak Angel dulu Bii. Boleh ya ?”
“Iya boleh kok, Den. Bibi cuma becanda.”
“Hahaha.”
Aden, itulah sebutan yang diberikan Bi Rani kepada Rendy. Karena telah dilakukannya sejak Rendy masih bayi, maka Rendy telah terbiasa mendengarnya.
Pak Angga kembali dengan membawa 2 popcorn. Bi Rani yang melihat Pak Angga seperti kesusahan membawanya segera menawarkan jasa.
“Biar Bibi aja yang bawa, Pak.”
“Oh iya, Bii. Tolong ya !”
Kami memasuki ruang bioskop dengan Rendy yang berada dalam genggaman aku dan Pak Angga. Bi Rani mengikuti kami dari belakang. Setelah tiba pada kursi yang sesuai pesanan, Rendy berdebat terlebih dahulu dengan Ayahnya.
“Yah, Rendy mau dekat Kak Angel.”
“Rendy dekat Ayah sama Bi Rani aja, ya.”
“Gak mau pokoknya Rendy mau disamping Kak Angel.”
Melihat Ayah dan anak yang terus berdebat tidak menjumpai titik akhir, aku segera mengambil kursi untuk ditempati dan membawa Rendy untuk duduk disampingku.
“Yeay Rendy menang. Ayah kalah. Rendy sama Kak Angel. Wleee.”
Rendy mengejek Ayahnya dengan menjulurkan lidahnya kepada Pak Angga. Aku semakin gemas dibuatnya. Pak Angga juga tidak kesal sama sekali. Justru ia tertawa melihat tingkah anaknya yang sangat lucu dan pintar. Pak Angga menggelitik Rendy di perutnya sehingga membuat Rendy tertawa geli.
“Aaaaa. . .hahah. . .ampun Ayah. . .haha.”
“Bee, udah. Kasihan Rendy.”
“Bee. . .”
Pak Angga baru menghentikan keusilannya setelah film yang ada di depan mata kami hendak diputar. Kami fokus menatap layar dengan ukuran sangat lebar. Rendy juga asik menyantap popcorn yang ada dalam lahunannya.
Sesekali aku dan Pak Angga secara tidak sengaja mengambil popcorn yang ada di genggaman Rendy pada waktu yang sama. Aku menatap Pak Angga. Dalam tatapannya seperti mengucapkan beberapa kata. Tetapi aku tidak mengerti. Ia hanya menunjuk belakang punggung Rendy melalui sorot tajam matanya.
“Apa ?”
Aku yang masih kebingungan bertanya kepadanya tanpa suara. Hanya pergerakan mulut dan tangan yang terlihat. Tanpa melakukan bahasa isyarat lagi, Pak Angga segera menarik tanganku. Ia membawanya bersembunyi ke arah belakang punggung Rendy.
Cup !
Kecupan ringan berhasil mendarat di lengan punggung kananku. Aku menatap ke arahnya dengan memberikan senyuman termanis. Kami kembali menatap layar dengan genggaman yang tidak terlepas.
Ketika Rendy hendak menyandarkan badannya kepada kursi, aku dan Pak Angga panik dan segera melepaskan genggaman kami. Pak Angga mengalihkan perhatian dengan berbicara kepada Rendy. Entah apa yang mereka bicarakan aku tidak tahu. Volumenya terkalahkan oleh suara yang berasal dari film.
“Kak Angel. . .”
__ADS_1
“Iya sayang. Rendy mau apa ?”
“Rendy ngantuk.”
“Ya udah Rendy tidur di pangkuan Kak Angel aja. Mau gak ?”
Rendy membalasnya dengan anggukan yang sangat lemas. Mungkin kantuk yang menghampiri Rendy sudah tak tertahankan lagi. Bahkan Rendy tertidur dengan cepat setelah aku membawanya ke dalam pangkuan.
“Biar sama aku aja !"
“Gak papa, Bee. Biar Angel aja yang bawa. Nanti Rendy bisa bangun.”
“Tapi Rendy berat, sayang. Sini biar sama aku aja.”
Setelah selesai menonton film sampai akhir, Pak Angga segera meminta untuk mengambil alih Rendy dariku. Aku tidak bisa menolak lagi. Pak Angga benar, ternyata walaupun kecil Rendy lumayan berat.
Pak Angga segera membawa Rendy dalam dekapannya. Beruntung Rendy tidak terbangun. Ia hanya sedikit bersuara ketika pertama di angkat oleh Pak Angga. Tetapi Pak Angga berusaha menenangkannya, sehingga Rendy kembali tertidur dengan pulas. Bahkan ketika telah tiba di rumah, Rendy masih sangat pulas.
“Sebentar. Aku antar Rendy dulu ke kamarnya.”
“Heem.”
Aku menunggu Pak Angga di ruang tamu yang sedang menyimpan Rendy ke kamarnya. Dengan ramahnya Bi Rani menawarkan suguhan untukku.
“Non Angel mau minum apa ?”
“Air mineral aja, Bee.”
Bi Rani berlalu menuju dapur. Tak lama ia kembali dengan membawa beberapa kemasan kecil botol air mineral dengan merk yang cukup populer di Indonesia.
“Ini minumannya, Non.”
Bi Rani terduduk di lantai. Meskipun itu di atas karpet, tetap saja aku merasa tidak nyaman. Karena dengan asistenku di rumah, aku tidak membedakan status sosial. Jika aku duduk di sofa, mereka juga harus duduk di sofa. Dengan segera aku meminta Bi Rani untuk beralih ke sofa.
“Jangan gitu, Bi. Disini aja di atas sofa bareng sama Angel.”
“Tapi Bibi gak enak, Non.”
“Apa Pak Angga melarang Bibi duduk di atas ?"
“Tidak, Non. Pak Angga juga sering menyuruh Bibi untuk duduk di sofa. Tapi Bibi selalu menolaknya.”
“Lain kali jangan seperti itu ya, Bii. Bagi Angel kita itu sama. Tidak ada yang membedakan.”
Meskipun awalnya Bi Rani menolak, tetapi mendengar penjelasan dariku, ia segera berpindah dari lantai.
“Non Angel sangat baik.”
“Hah ? Kenapa, Bii ?”
“Iya. Non Angel terlihat sangat tulus menyayangi Rendy. Bahkan Rendy juga sangat menyukai Non Angel. Rendy merasa nyaman bila di dekat Non.”
“Tidak seperti itu juga, Bii. Angel masih harus belajar lagi.”
Aku tersenyum tersipu malu mendengar sanjungan dari Bi Rani. Aku tidak menyangka Bi Rani menilai diriku seperti itu. Padahal aku masih sangat jauh dari kata baik.
“Non Angel calon ibu sambungnya Rendy, ya ?”
__ADS_1
“Hah ? Eu-eu. . .”
“Bibi tahu kok Non, kalau Non Angel pacarnya Pak Angga. Bibi sangat setuju Non. Semoga kalian bisa sampai ke jenjang pernikahan, ya.”
Ekhem. . .
Aku belum sempat menjawab pertanyaan Bi Rani. Mulutku telah terkunci oleh kehadiran Pak Angga. Bi Rani juga langsung terdiam. Ia segera meminta ijin untuk meninggalkan kami.
“Lho Bii, mau kemana ?”
“Bibi ke belakang ya, Pak. Kalau Bapak butuh bantuan panggil Bibi aja.”
“Oh iya, Bii. Udah malam. Bibi istirahat aja. Nanti kalau ada apa-apa biar saya sendiri.”
Bi Rani melangkah ke belakang menuju dapur. Hanya menyisakan aku dan Pak Angga di tengah ruang tamu yang tidak terlalu besar tetapi tidak kecil juga. Inilah rumah kontrakan Pak Angga selama tinggal di kota Kembang. Meskipun tidak besar, tetapi sangat nyaman untuk ditinggali.
“Bee, Bi Rani tahu ya Angel pacarnya kamu ?”
“Yaa eu eu, mungkin feeling seseorang yang telah cukup puas menelan manis pahitnya kehidupan.”
“Atau jangan-jangan kamu yang cerita ya, Bee ?”
“Hah ? Eu enggak kok.”
Aku semakin yakin kalau Bi Rani mengetahui hubungan kami dari Pak Angga. Apalagi dengan reaksi Pak Angga yang menahan senyum ketika aku menebaknya telah membocorkan hubungan kami.
“Ih tuh kan. Pasti Pak Angga yang cerita.”
“Enggak sayang.”
“Aaaaa bohong.”
Aku tidak mau berhenti menggelitik perut Pak Angga sampai ia mau mengatakan kejujurannya. Meskipun Pak Angga telah meminta ampun untuk berhenti menggelitikinya, aku tidak mau mendengarkannya.
“Ya udah iya aku jujur.”
Aku segera berhenti dan menjauhkan dari badan Pak Angga. Dengan harap cemas aku menantikan kata demi kata yang akan Pak Angga ucapkan. Tetapi 10 detik telah berlalu, Pak Angga belum juga membuka mulutnya.
“Ih Bee, Angel gelitik lagi nih.”
“Haha. Jangan dong. Iya ini cerita.”
Pak Angga melanjutkan pembicaraannya.
“Aku menceritakan kalau kamu pacar aku kepada Bi Rani sejak pertama kamu ke rumah aku. Bi Rani menilai kalau kamu wanita yang baik. Aku sangat senang mendengarnya. Karena feeling orang tua biasanya tidak pernah salah. Aku bersyukur karena tidak salah memilih lagi.”
*Bersambung*
.
.
.
Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak berupa like, komen, rate 5 & vote se-ikhlasnya😉😉
Oh ya, jangan lupa mampir di karya aku yang berjudul BERJODOH DENGAN DOKTER . Itu ada di platform sebelah ya guys. tahu kan platform yang berwarna kuning .?😆😆
__ADS_1
Bagi yang penasaran author kasih sedikit ringkasannya di part Kilas Info. Ayoo langsung berkunjung, ceritanya bakalan lebih seru loh😍😍😍
Terimakasih 🙏🙏