
Seperti yang telah aku katakan sebelumnya, setiap waktu yang aku habiskan bersama Pak Angga akan terasa berjalan sangat cepat. Seperti saat ini, aku tidak mungkin membiarkan dia menginap disini. Aku harus merelakan kepergiannya. Entah kapan kami bisa bertemu kembali. Apalagi sekarang kami tinggal di kota yang berbeda. Padahal kami baru meresmikan hubungan, tetapi jarak telah memisahkan. Kami harus menjalani hubungan jarak jauh atau Long Distance Relationship.
“Tidak bisakah tinggal disini ?”
“Tidak bisa. Tempat tinggal saya bukan disini. Kalau saya tidak kembali bagaimana dengan siswa siswi yang membutuhkan ilmu dari saya ?”
“Apakah kita akan menjalani hubungan jarak jauh ? Kalau kata orang sih LDR ?”
“Kamu tenang aja. Akan saya luangkan waktu untuk mengunjungi kamu.”
“Promise ?”
“Promise !”
Aku mengacungkan jari kelingking yang dibalas oleh ikatan jari kelingking Pak Angga.
“Angel. . .”
“Iya. . .”
Pak Angga berkata lirih begitupun dengan aku yang menjawabnya dengan mendayu-dayu.
“Kita kan sudah berpacaraan sekarang ?”
“Heem.”
“Saya boleh minta satu permintaan ?”
Permintaan ? Apa yang dia inginkan ? Ya ampun mulai lagi kan pikiran nyeleneh muncul lagi. Apa aku harus menjawabnya iya ? Bagaimana jika permintaannya aneh, dan aku tidak bisa melakukannya ?
“Permintaan ? Permintaan apa ?”
“Saya ingin kamu memanggil saya tidak dengan sebutan Bapak.”
“Kenapa ?”
“Sekarang saya bukan lagi guru kamu. Dan sekarang saya ini kekasih kamu.”
“Tapi Angel suka memanggil Bapak. Itu terkesan unik.”
“Kalau orang lain mendengar kamu memanggil saya Bapak, itu akan menjadi aneh terdengarnya.”
“Hemmm. Bapak ingin Angel panggil apa ?”
“Apapun, selain Bapak.”
“. . .”
“Kalau kamu tidak bisa tak apa. Saya tidak akan memaksa.”
“Akan Angel usahakan ya, Pak. Tapi Angel butuh waktu. Angel perlu beradaptasi lagi.”
“Tidak usah buru-buru. Perlahan saja.”
__ADS_1
“Kalau gitu, bolehkah Angel juga meminta sesuatu ?”
“Silahkan !”
“Angel ingin kita lebih dekat. Salah satunya ketika berbicara, tolong jangan terlalu formal !”
“Oke. Deal.”
“Hahaha.”
“Apakah masih formal ?”
“Tidak. Terdengar lucu.”
“Hahaha.” Kami berdua tertawa bersama.
“Ya udah aku pulang dulu !”
Pak Angga selalu mengabulkan apa yang aku inginkan. Seperti saat ini, perlahan ia mulai berbicara informal dengan aku. Tentu aku senang mendengarnya, tidak terlalu kaku. Apa aku juga harus mencobanya untuk tidak memanggil Bapak ? Tapi panggilan apa yang cocok dengannya ? Aku tidak tahu, rasanya canggung.
Pak Angga telah memakai helm. Sebelum kacanya ditutup, ia menatap ke arahku. Aku tidak tahu maksud dari tatapan matanya. Karena ia tidak mengeluarkan sepatah katapun.
“Hati-hati. .dijalan, Bang !”
Entah kata itu enak didengar atau tidak. Aku sama sekali tidak bisa berpikir jernih. Ketika mengucapkannya juga aku merasa aneh. Tetapi Pak Angga malah tersenyum dan berkata, “Terimakasih.”
***
Dulu ketika mendengar kata ospek mungkin yang ada dalam pikiran adalah bullying. Memang ospek pada masa itu dijadikan ajang balas dendam senior terhadap junior atas apa yang mereka terima dari senior terdahulu. Ospek dijadikan bahan perpeloncoan yang tak jarang akan menyakiti fisik, atau dipermalukan di depak khalayak umum.
Tetapi sekarang tidak. Tidak ada lagi ospek yang mengakibatkan perpeloncoan. Jika dulu kegiatan ospek sangatlah tidak bermanfaat, tetapi sekarang telah berubah menjadi aktifitas yang berfaedah. Ospek sekarang diisi dengan pengenalan lingkungan kampus, penyampain mengenai program study kuliah yang di ambil, serta masik banyak lagi hal positif lainnya.
Mungkin sebelum masuk kuliah dan memilih satu jurusan, telah mencari info-info formal terlebih dahulu. Daļam sesi ini akan diberi tips mengenai bagaimana agar dapat lulus dari suatu mata kuliah.
Reza Mahardika. Senior yang menjadi pengisi acara dalam sesi ini. Kulitnya tidak hitam namun tidak terlalu putih. Memiliki postur tinggi. Wajar saja ia memiliki badan yang bagus, Reza Mahardika adalah pemimpin dari salah satu tim basket yang ada di kampus. Tinggi, tampan, kapten basket pula. Sudah pasti menjadi pria yang popular di kalangan Mahasiswi.
“Angel lihat ! Oh my god ganteng banget.”
Alessyia, sepertinya ia juga sudah tersihir oleh ketampanan milik Reza Mahardika.
“Angel lihat lihat ! Ya ampun senyumnya itu. Sumpah ya kok bisa ada cowok seganteng dia sih ?”
“Cha, berisik ih. Nanti kalo ditegur malu tahu.”
“Ih Angel gue gak bisa berhenti muji itu cowok.”
Telingaku panas mendengar ocehan Alessyia. Sejak Reza Mahardika memulai salam sampai detik ini kurang lebih 30 menit berlalu menyampaikan materi, Alessyia juga ikut terus berbicara. Aku tidak bisa fokus. Satu telinga mendengarkan pembicaraan senior yang ada di atas panggung. Dan satu telinga lagi mendengarkan omongan gak jelas.
Beruntunglah tidak lama setelah itu Reza Mahardika digantikan oleh senior yang lain. Aku tidak pusing lagi mendengar histeris dari orang-orang yang memuji-muji ketampanannya.
“Cha lo duluan, ya ! Gue mau ke toilet dulu. Udah kebelet.”
“Ya udah. Hati-hati ! Awas nyasar !”
__ADS_1
Kalau udah panggilan dari alam mana bisa di tahan. Rasanya seperti sudah di ujung. Toiletnya juga berasa jauh. Apa tidak ada lagi toilet yang dekat ? Alessyia benar juga, sepertinya aku lupa ruangan mana yang harus aku masuki.
“Angel gimana sih ? Ini pertama kali masuk kampus, dan lo udah menjelajah kampus sendirian ? Duuhh gimana ini. Gue lupa harus kemana”
“Cha, please angkat teleponnya ! Gue gak tahu harus kemana”
Berulang kali aku mencoba memanggil Alessyia, tetapi tidak ada jawaban. Mungkin Alessyia tidak tahu kalau ada panggilan masuk, karena sesuai instruksi yang diberikan sebelum ospek dimulai, bahwa tidak diperbolehkan memainkan ponsel, sehingga ponsel harus dalam keadaan silent.
Dengan kaki yang melangkah penuh keraguan, serta hati yang dipenuhi kebimbangan aku memutuskan untuk memulai berjalan. Aku tidak tahu apakah ini jalan yang benar atau salah. Tapi aku tidak mungkin berdiam di toilet menunggu keajaiban datang. Aku harus menjemput keajaiban itu.
“Mungkinkah ruangan ini ?”
Aku membuka pintu dan melangkahkan kaki. Dari awal aku tidak yakin kalau ini adalah ruangan yang sebelumnya aku tempati. Tetapi karena aku tidak mengingatnya secara pasti, aku memilih untuk memasuki ruangan yang saat ini telah aku buka pintunya.
“Waah siapa ini ?”
“Ada perlu apa ?”
“Sepertinya saya baru melihat kamu ? Kamu Maba ?”
“Maaf ! Maaf Kak ! Sepertinya Angel salah masuk. Sekali lagi Angel minta maaf !”
Benar-benar memalukan. Bagaimana bisa aku memasuki ruangan yang di dalamnya berisi para senior ? Mau ditaruh dimana muka aku. Sungguh memalukan.
Dengan muka yang memerah aku segera berlalu meninggalkan ruang tersebut. Namun seseorang menghentikan langkahku. Aku tidak tahu siapa itu. Aku terlanjur malu untuk menengok ke belakang.
“Tunggu ! Kamu Mahasiswa Baru bukan ?”
“Iy-ya, Kak. Sekali lagi Angel minta maaf. Angel tidak tahu. Angel salah masuk ruangan.”
“Ada yang bisa Kakak bantu ?”
Aku masih dalam keadaan dengan tatapan yang menunduk. Berat sekali untuk mengembalikan rasa percaya diri itu.
“Kamu tidak perlu takut. Nama Kakak Reza Mahardika. Kakak akan membantu kamu.”
Reza Mahardika ? Benar dia Reza senior dan kapten basket. Selain memiliki paras yang rupawan, ternyata dia juga berhati mulia. Aku tidak tahu bagaimana nasib aku jika tidak bertemu dengan Reza. Mungkin aku akan celingukan seperti anak ayam yang kehilangan induknya. Aku kira akan dapat hukuman karena telah masuk ruang senior sembarangan. Ternyata pikiranku salah. Dia malah mengantarkan aku menuju ruangan yang seharusnya aku masuki.
“Terimakasih Kak.”
“Kembali kasih. Semoga betah disini, ya !”
*Bersambung*
.
.
.
Jangan lupa tinggalkan jejak berupa like, komen, rate & vote !!!
Terimakasih 🙏🥰
__ADS_1