
Pak Angga S
Saya sudah di depan. Cepat keluar !
Dering ponsel di Minggu pagi memecahkan kesunyian. Ini masih pagi. Aslii !!! Kenapa dia ada di depan ? Aku bahkan belum beranjak dari ranjang. Masa iya aku harus menemuinya dalam keadaan muka bantal kaya gini ? Terserahlah, mau dia mencium bau busukpun yang keluar dari aroma tubuhku itu bukan salahku. Salah dia bertamu tidak tahu waktu.
“Pak Angga ngapain kesini pagi-pagi buta ?”
“Kamu belum mandi ?”
“Bau ya ? Maaf ! Habisan Bapak kesini tidak memberi kabar. Jadinya Angel cuma sempat cuci muka.”
“Kamu tetap cantik.”
Baru kali ini aku dibilang cantik padahal belum mandi. Setahuku mukaku sama sekali tidak terkontrol jika baru bangun tidur. Entahlah, mungkin benar bahwa cinta itu buta. Mau jelek juga tetap aja dibilang cantik.
“Bapak kesini naik apa ? Motornya mana ?”
“Lari.”
“Hahaha.”
“Kenapa ketawa ?”
“Lagian Bapak becandanya keterlaluan. Masa iya Bapak lari dari rumah sampai sini. Haha.”
“Saya serius.”
Kaget dong aku mendengar jawaban Pak Angga saat dia mengatakan tidak mengendarai kendaraan dari rumahnya menuju kediamanku. Karena aku tahu bukanlah jarak yang dekat. Walaupun aku belum tahu rumah Pak Angga. Tapi aku tahu daerah situ. Biasanya kalau naik kendaraan bisa menempuh waktu 15 menit. Kurang lebih berjarak sekitar 10 km.
“Saya kesini mau nantang kamu lari.”
“Hah ? Lari ?”
Ketahuan kan kalau aku lemah dalam olahraga. Selama perjalanan 12 tahun aku duduk dibangku sekolah, nilai penjaskes selalu menjadi nilai terkecil di antara mata pelajaran yang lain. Sekarang aku ditantang lari, jelas sudah dapat diprediksi siapa yang menang.
“Tidak. Angel tidak bisa.”
“Kamu takut kalah dari saya ?”
“Enggak kok. Angel kan belum mandi. Malu ah.”
“Nanti saja mandinya setelah berolahraga. Nanti juga keringatnya keluar lagi.”
Sudah tidak bisa lagi melakukan penolakan. Dia telah menggiring aku menuju lapangan. Lapangan ini adalah tempat yang biasa dipakai berolahraga oleh banyak orang dari berbagai kalangan. Mulai dari anak-anak, remaja, orang tua, bahkan lansia. Padahal jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah. Tetapi aku sama sekali tidak pernah mengunjunginya. Seingat aku, terakhir kesini sewaktu aku masih duduk dibangku Sekolah Dasar. Sekarang bangunannya pun sudah jauh berbeda.
Perlombaan belum dimulai tapi aku telah mengeluarkan beberapa liter keringat. Siapa lagi kalau bukan ulah Pak Angga yang membawaku secara paksa. Sehingga aku harus terus berlari menyeimbangi langkah kakinya.
“Kamu capek ?”
“Heem.”
“Ini belum dimulai.”
“Huwaaaa. Angel kira sudah dihitung sejak pertama berlari.”
__ADS_1
“Tantangannya adalah, mengitari lapangan ini. Dimulai dari titik ini. Jika kamu telah kembali ke titik ini, maka dihitung 1 poin. Begitupun seterusnya. Siapa yang jumlah poinnya lebih kecil, dia yang kalah. Gimana deal ?”
“Tidak bisa. Angel yang kalah. Itu sudah pasti.”
“Kalau kamu menyerah sekarang, kamu harus traktir saya tiket ke luar negeri.”
Haaah perjanjian macam apa itu ? Mana mungkin aku mampu membelikan Pak Angga tiket pesawat, sedangkan uang jajanku saja masih minta sama Papah.
“Sama saja nanti juga Angel yang kalah.”
“Tetapi hukumannya tidak akan berat.”
“Ya udah iya Angel ikutin.”
Aku baru saja satu kali kembali ke titik awal, tetapi Pak Angga telah 2 kali. Jelas saja langkah kakinya sangatlah cepat dan juga besar. 1 langkah Pak Angga sama dengan 3 langkah kakiku.
“Haaaa Angel gak kuat.”
“Ayo kamu pasti bisa !”
“Gak . . gak . . Huaa . . Angel gak kuat.”
Bruukkk. .
“Angel. . Angel bangun ! Saya mohon sadarlah ! Maafkan saya telah menyiksa kamu seperti ini.”
‘Maaf ya, Pak ! Angel kerjain balik. Lagian Bapak tidak punya hati sih ?’
“Bangun Angel ! Saya mohon bangun ! Saya janji tidak akan membuat kamu menderita lagi.”
Ternyata dasarnya aku memiliki sifat tidak tega. Aku tidak bisa berlama-lama membohongi dia dan membuatnya cemas. Apalagi aku sudah tidak kuat ingin tertawa mengintip ekspresinya yang begitu khawatir.
“Angel kamu apaan sih ? Kamu bohong ?”
“Ihh Bapak gemas gitu deh kalau lagi khawatir.”
“Angel ini gak lucu ya.”
“Ya maaf. Habisan Bapak jahat sama Angel. Angel capek lari terus.”
“Ya udah maafin saya ! Tapi kamu jangan seperti tadi. Saya takut kamu kenapa-kenapa.”
“Angel haus.”
“Tunggu sebentar !”
Rupanya mengeluarkan keringat dipagi hari cukup menguras energi. Apalagi aku termasuk orang yang jarang berolahraga. Dan ini baru pertama kali setelah sekian lama. Mungkin otot-otot yang ada di tubuhku kaget, terasa ngilu.
“Ini ambilah !”
“Uuww makasih.”
Pak Angga kembali dengan 2 es krim strawberry ditangan kanannya, dan sandwich yang masih dalam wadahnya.
“Kamu kalah.”
“Iya Angel tahu. Bapak mau ditraktir apa ?”
__ADS_1
“Saya ingin mengajak kamu berkenalan dengan Rendy.”
“Rendy ? Siapakah ?”
“Anak saya.”
Uhuk . . uhuk . . .
Memang belum pernah sebelumnya Pak Angga memberitahukan nama anaknya. Ia hanya sekilas menceritakan tentang usianya yang masih 3 tahun.
“Kalau kamu gak mau juga tidak apa-apa.”
“Bukan itu, Pak. Angel hanya belum siap.”
“Apa yang membuat kamu belum siap ?”
“Angel takut Rendy tidak bisa menerima Angel.”
Atau mungkin bukan itu alasan sesungguhnya. Bagaimana jika ternyata aku yang belum siap menjadi ibu sambung untuk Rendy ? Bagaimana jika aku tidak bisa menjadi ibu yang baik untuk Rendy ? Bagaimana jika aku tidak bisa mendidiknya menjadi anak yang berbudi pekerti luhur ?
“Rendy anak yang welcome terhadap orang baru. Saya yakin kamu bisa merebut hati Rendy. Dan saya juga percaya kamu bisa membuat Rendy merasa nyaman. Kamu tidak perlu takut.”
“Apa yang membuat Bapak yakin terhadap asumsi Bapak ?”
“Saya dapat menilai seorang wanita dari tampilan luarnya saja. Semua itu saya pelajari dari masa lalu. Dari orang-orang yang pernah hadir di hidup saya. Dan kamu, wanita yang tampil sederhana, apa-adanya, tetapi memiliki kasih sayang terhadap sesama. Jika kamu belum siap menerima Rendy, saya tidak akan memaksa. Lain kali, cobalah untuk berjumpa dengannya, meskipun hanya sekedar bertegur sapa.”
“. . .”
“Habiskan es krimnya. Nanti mencair.”
Aku harus berani untuk memulai sesuatu yang belum pernah aku lakukan. Aku tidak akan tahu apakah akan berhasil atau gagal jika tidak mencobanya sama sekali. Begitupun dengan Rendy, aku harus berani untuk bercakap-cakap dengannya. Perihal Rendy menerima atau tidak, biar menjadi urusan nanti.
“Kapan Angel bisa bertemu dengan Rendy ?”
“Kamu yakin ?”
“Angel akan mencobanya. Tapi bisakah Bapak membantu Angel ?”
“Tentu. Saya pasti akan membantu kamu.”
***
Aku tidak tahu pakaian apa yang cocok untuk malam ini. Seluruh isi lemari telah aku keluarkan, tapi sama sekali tidak ada yang sesuai dengan hatiku. Alessyia yang memperhatikan tingkah laku aku dibalik layar ponsel hanya bisa geleng-geleng kepala.
“Cha, gue harus pakai yang mana ?”
“Angel lo pakai yang mana aja udah cocok. Gue pusing tahu lihatin lo.”
“Tapi gue bingung, Cha. Gue takut yang ini terlalu seperti ABG. Dan yang ini terlihat tua. Apalagi yang ini kaya tante ya, Cha ?” (Menunjuk satu per satu baju).
Tiba-tiba dress berwarna merah marun berlengan pendek dengan panjang dibawah lutut sedikit, dilengkapi dengan pita dipinggang berhasil mencuri perhatianku.
“Sepertinya yang ini cocok. Tidak terlalu kelihatan ABG, tetapi juga tidak terlihat tua.”
*Bersambung*
.
__ADS_1
.
Jangan lupa like, komen, dan vote🥰🥰