My Teacher Is Mine

My Teacher Is Mine
MTIM-79 Dansa


__ADS_3

Langkah kaki serta ayunan tangan yang bergerak mengikuti irama musik. Nada dan kata-kata romantis menjadi penyempurna acara dansa malam itu. Tetapi ada seseorang yang menghentikan sejenak keharmonisan yang diciptakan oleh setiap pasangan. Aku dan Alessyia beserta pasangan dansa kami menoleh kepada dia yang baru saja menghampiri kami.


Seorang wanita yang digandeng oleh pria berjas marun. Dengan gaun hitam yang bagian bawahnya sedikit transparan. Serta bagian atas dan samping bawah terbuka yang memperlihatkan belahan keindahannya.


“Do, gue datang buat nepatin janji gue.”


“Keren lo, Ben. Dapat dari mana lo ?”


“Yang terpenting sekarang janji gue udah lunas. Oke ?”


Setelah memperkenalkan bahwa sosok wanita yang digandengnya adalah pasangannya malam ini, Kak Beni segera berlalu. Aku tidak tahu mereka pergi kemana. Karena langkahnya tertutupi oleh ramainya orang banyak.


“Angel, ayo kita dansa lagi !”


“Angel. . .”


“Sayang. . .”


“Eh iya, Pak. Eu-eu maksud Angel, Bee.”


“Kamu melamun ?”


“Engga kok, Bee. Kita mulai lagi dansanya ?”


Pak Angga kembali meletakkan tangannya pada posisi awal. Aku penasaran siapa sosok wanita yang digandeng Kak Beni. Seperti merasa tidak asing. Postur tubuhnya sangat familiar. Namun sayang karena topeng yang menutupi mukanya, aku tidak bisa melihatnya dengan jelas.


Perhatianku terhadap wanita pasangan Kak Beni teralihkan kala Pak Angga melontarkan kata-kata rayuan. Dia berbisik sangat lirih di telingaku. Sehingga deru nafasnya terasa panas dan membuatku geli.


“Sayang. . .”


“Iya, Bee. . . Kenapa ?”


“Boleh aku menciummu ?”


“Bukannya sudah pernah.”


“Bukan di pipi atau di kening, sayang.”


“Maksudnya ?”


Aku merespon ucapan Pak Angga tanpa menoleh ke arahnya. Kemudian Pak Angga menaikkan lengannya di bahuku. Perlahan tangannya merayap melalui dagu. Hingga akhirnya sampai pada ujung bibir bawahku.


“Disini !”


Bisik Pak Angga pelan dengan sangat mendayu-dayu. Sedangkan aku masih termenung. Jawaban apa yang akan ku berikan padanya. Aku belum pernah melakukan hal tersebut.


“Kenapa minta ijin dulu ?”


“Karena aku tidak akan melakukannya tanpa seijin dari kamu.”


Entah jawaban yang aku berikan telah benar atau salah. Tetapi semuanya terlambat. Aku telah menganggukan kepalaku seolah menyetujui keinginan Pak Angga. Sekarang aku tidak tahu apa yang akan dilakukan Pak Angga. Aku terpejam kala Pak Angga semakin mendekatkan wajahnya.


“Tidak akan sakit. Aku janji akan melakukannya dengan hati-hati.”


Seakan Pak Angga tahu keresahan hatiku, ia meyakinkan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Tetapi justru aku semakin gelisah dibuatnya. Nafasku semakin memburu. Bahkan rasanya sulit untuk menghirup oksigen.

__ADS_1


Sebelum Pak Angga melancarkan aksinya, mataku telah terbuka kala mendengar suara jeritan orang-orang yang hadir dalam acara tersebut. Seluruh penjuru ruangan sangat gelap. Tidak ada setitik cahaya. Bahkan orang yang ada di hadapanku saja tidak bisa terlihat.


“Bee, kamu dimana ?”


“Aku disini. Tenanglah !”


Padahal sedari tadi Pak Angga berada dalam genggamanku. Namun karena keadaan yang gelap gulita membuat aku kehilangan titik fokus.


“Bee, Angel takut.”


“Gak papa. Ada aku disini.”


“Hiks. .hiks. .”


Aku memeluk Pak Angga dengan sangat erat. Kala mendengar isak tangisanku. Pak Angga semakin mengeratkan pelukannya.


Sepertinya bukan hanya ruangan tanpa pentilasi saja yang membuatku trauma. Aku tidak terbiasa berada dalam ruang tertutup tanpa pencahayaan sedikitpun. Semakin aku memaksakan untuk membuka mata, semakin membuatku kesulitan bernafas.


“Bee. . .Angel. . .”


“Angel ! Angel bangun sayang !!!”


Perlahan tubuhku melemas. Aku melepaskan pelukan Pak Angga. Kaki juga kehilangan energinya. Ia tidak mampu lagi menopang berat badanku. Jika tidak ada Pak Angga yang menahan, maka tubuhku telah terkapar di lantai.


Kesadaranku tidak hilang seutuhnya. Telingaku masih mendengar suara riuh orang-orang yang mengharapkan lampu segera kembali menyala. Aku juga mendengar Pak Angga yang terus memanggil namaku dan memintaku untuk bertahan. Tetapi aku tidak bisa meresponnya.


Pak Angga semakin mengeratkan pelukannya. Aku dapat merasakan tetesan hangat dari air mata yang keluar membasahi pipiku.


“Maafkan Angel, Bee ! Angel selalu membuat khawatir kamu.” Ucapku dalam hati. Sayangnya Pak Angga tidak dapat mengetahui dan mendengar suara hatiku. Aku hanya bisa menunggu sampai kesadaranku telah kembali seutuhnya.


Uhuk. . .uhuk. . .


“Angel, kamu sadar sayang ?”


“Bertahan, ya ! Aku akan menolongmu. Kita ke rumah sakit sekarang.”


Setelah keluar dari ruangan yang sangat gelap, perlahan aku mulai bisa membuka mata. Tetapi tenagaku masih belum kembali. Bahkan untuk membalas genggaman tangan Pak Angga saja aku tidak bisa. Aku hanya bisa menyaksikan raut mukanya yang penuh dengan kecemasan.


Setelah menempuh kurang lebih 20 menit perjalanan, mobil Pak Angga telah berhenti di parkiran salah satu rumah sakit. Memang tidak terlalu besar. Tetapi hanya rumah sakit ini yang paling dekat dari tempat berlangsungnya pesta topeng. Yang terpenting sekarang aku harus segera mendapatkan pertolongan pertama.


“Tolong. . . !”


“Tolong. . . !”


Aku yakin pasti Pak Angga berat membawa tubuhku dalam pangkuannya dan menunggu seseorang untuk membantunya. Syukurlah, teriakan Pak Angga tidak sia-sia. Suster menghampirinya dan memanggil rekan perawat lainnya.


Suster tersebut meminta Pak Angga untuk membawaku memasuki suatu ruangan. Tetapi setelah itu, Pak Angga tidak diperbolehkan berada dalam ruangan kala aku sedang di periksa.


Dengan sangat berat hati, Pak Angga meninggalkan diriku seorang diri. Hanya berteman dokter, suster dan 2 orang perawat.


Seperti biasa ketika trauma itu muncul, aku selalu mendapatkan bantuan oksigen untuk melancarkan pernafasanku. Untunglah, kali ini aku tidak perlu merasakan ngilunya jarum suntik yang akan menjadi jalan masuknya selang infus.


“Walinya Non Angel ?”


“Iya saya, Dok.”

__ADS_1


“Silakan masuk. Pasien sudah bisa dibesuk.”


Setelah menangani diriku, dokter meninggalkan ruangan. Dan ketika masuk, dokter tersebut membawa Pak Angga.


“Dok, bagaimana kondisinya ?”


“Tidak ada yang serius. Hanya rasa shock yang berlebih sehingga membuatnya sesak bernafas. Saya sarankan untuk selalu membawa tabung oksigen kemana-mana. Dikhawatirkan peristiwa seperti ini akan terjadi. Dan harus segera mendapatkan bantuan oksigen untuk pertolongan pertamanya.”


“Baik, Dok. Termakasih.”


“Kalau begitu, saya permisi.”


“Dokter tunggu !”


Dengan tenaga yang telah susah payah aku kumpulkan, akhirnya aku bisa berbicara dan menahan dokter untuk tidak pergi dari ruangan.


“Angel boleh pulang kan ?”


“Sebenarnya tidak membutuhkan perawatan intensif, jadi jika Non Angel mau pulang juga tidak apa. Tetapi akan lebih bagus jika menunggu esok saja. Karena angin malam tidak baik untuk kesehatan.”


Aku berusaha untuk merayu Pak Angga agar bisa pulang malam ini juga. Tetapi Pak Angga sangat keras kepala. Ia tidak langsung menyetujui keinginanku.


“Bee, Angel mau pulang.”


“Kita tunggu besok.”


“Sekarang, Bee.”


“Aku gak mau kamu kenapa-kenapa, Angel. . .”


“Bee, tadi kata dokter juga Angel gak papa kok.”


“Ya udah kita pulang. Tapi kamu harus janji tidak akan sakit lagi !”


“Janji.”


Pak Angga meminjam kursi roda rumah sakit untuk mempermudah membawaku keluar. Ia memintaku untuk menunggu ketika dia sedang melunasi tagihan rumah sakit. Ia berkata dengan posisi jongkok agar sejajar dengan diriku.


“Tunggu sebentar, ya ! Aku melunasi pembayarannya dulu.”


“Heem.”


Aku mengangguk. Pak Angga menuju meja yang tidak jauh dari kediamanku saat ini. Setelah semuanya selesai, Pak Angga segera melajukan mobilnya menjauhi rumah sakit.


*Bersambung*


.


.


.


Jangan lupa tinggalkan jejak berupa like, komen, rate 5 & vote seikhlasnya😉


Terimakasih 🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2