My Teacher Is Mine

My Teacher Is Mine
MTIM-106 Restu Ibu


__ADS_3

Sebelum lanjut jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak berupa like, komen, rate 5 & vote seikhlasnya 🥰


Semuanya itu gratis kok. Tapi sangat berarti untuk author. Karena itulah penyemangat author😍😍


Salam sejahtera untuk kita semua 😇😇


Terimakasih 🙏🙏🙏


**************************************************


Kali ini biarkan Papah menjadi supir pribadi kami. Aku dan Mamah duduk di kursi penumpang belakang meninggalkan Papah seorang diri yang sedang mengendalikan setir kemudi. Mamah tidak mungkin membiarkan aku duduk sendiri. Katanya ditakutkan aku akan mengalami pusing secara tiba-tiba hingga tidak sadarkan diri lagi.


Sesekali aku memalingkan pandangan ke arah belakang untuk melihat seseorang yang sedari tadi mengikuti pergerakan kami. Namun sayang karena kaca jendelanya berwarna hitam, aku tidak bisa melihat dengan jelas orang dibalik mobil hitam tersebut.


Ketika mobil yang di kendarai Papah telah terparkir dengan sempurna ke dalam garasi, tidak berselang lama mobil yang di kendarai oleh Pak Angga juga ikut masuk ke dalam gerbang. Aku menurunkan kedua pasang kaki dengan dibantu oleh Mamah. Sedangkan Papah berlalu lebih dulu untuk membuka pintu agar semua penghuni bisa masuk ke dalamnya.


Dengan langkah yang masih dibantu Mamah, aku memasuki rumah kontrakan milik Papah selama tinggal di Jakarta. Papah berjalan menjadi pemimpin di antara orang yang ada. Sedangkan Pak Angga berada pada barisan belakang dengan tatapan kurang percaya diri. Aku dapat melihat dari sorot matanya yang tidak berani menatap lurus ke depan.


“Pak Angga tunggu sebentar, ya! Saya mau memasak dulu. Tolong jaga Angel ya, Pak!”


“Baik, Bu.”


“Angel biar sama Papah aja yang menemani, Mah.”


“Tidak bisa! Papah harus membantu Mamah memasak.”


Awalnya Papah menentang keras permohonan Mamah untuk membantu memasak. Tetapi karena usaha Mamah yang tidak lelah untuk membujuk Papah, akhirnya Papah luluh juga dan mau mengikuti langkah kaki Mamah.


Menyisakan dua insan di dalam ruangan yang berisi sofa beserta televisi berada di hadapan tempat kami terdiam. Mulanya kami duduk berlawanan terhalang oleh meja yang terlentang. Tetapi secara pelan-pelan, Pak Angga mengubah posisi duduknya agar berada dekat di sampingku.

__ADS_1


“Bagaimana rasanya? Apakah masih ada yang sakit?” Tanya Pak Angga dengan suara berbisik.


Aku juga membalas pertanyaan Pak Angga dengan suara yang sangat pelan, “Sudah tidak lagi, Bee. Mamah benar bahwa kamu pembangkit semangat untuk Angel. Berada di dekat kamu membantu Angel untuk menghilangkan rasa sakit yang ada.”


“Angel…”


“Hem?”


“Aku akan meminta restu dari orang tua kamu sekarang juga. Aku tidak mau menundanya terlalu lama. Sekarang ataupun nanti, kita akan tetap melewati masa ini.”


“Pak Angga yakin? Bagaimana jika Papah semakin meradang?”


“Aku akan menerima. Asalkan kamu berjanji untuk selalu ada di dekatku, memberikan semangat kepadaku. Maka aku akan bisa melewati ujian seberat apapun.”


Aku masih mematung mendengarkan ucapan Pak Angga. Bagaimana jika ternyata respon Papah sangat mengerikan? Jauh dari ekspektasi dan harapan kita. Bagaimana jika Papah memisahkan aku dengan Pak Angga? Apa aku bisa menerima keadaannya jika seperti itu?


Tak lama kemudian, Papah menghampiri aku dan Pak Angga. Sebelum Papah tiba dan melihat secara langsung posisi duduk kami yang sangat dekat, Pak Angga segera bergeser agar menciptakan jarak. Papah memberi tahu bahwa makan siang sudah siap dan meminta kami untuk segera menuju meja makan.


“Whoaaa. Banyak sekali makanannya.”


Aku terkejut ketika mataku melihat meja makan yang sudah penuh terisi oleh beberapa jenis makanan yang berbeda. Bahkan karena terlalu penuh, piring yang seharusnya menjadi wadah kami makan tidak dapat menempati meja tersebut. Hanya menyisakan ruang kecil bak lubang untuk semut.


Kami menikmati makan siang dengan sangat khidmat. Bahkan aku yang baru sembuh dari sakit juga ikut makan dengan porsi yang besar. Jujur aku kangen dengan lezatnya masakan Mamah. Aku juga udah bosan jika harus menyantap masakan rumah sakit.


Terdengar suara sendok dan garpu yang bertabrakan dengan piring, menjadikan suasana hangat di tengah-tengah makan. Setelah semua piring kosong, maka aku membantu Mamah untuk membersihkan piring-piring yang kotor. Walaupun telah di larang sebelumnya, tetapi aku tetap melakukannya dengan alasan bahwa tubuhku juga perlu bergerak.


“Pak, Bu…” Ucap Pak Angga secara tiba-tiba ketika semua orang telah kembali berkumpul di meja makan.


“Iya.”

__ADS_1


“Ada apa Pak?”


Tanya Papah dan Mamah secara bergantian. Aku tidak tahu apa yang akan di ucapkan oleh Pak Angga. Entah itu hanya merupakan percakapan yang biasa, atau bahkan pernyataan serius yang sudah ingin Pak Angga ucapkan sejak tadi.


“Saya ingin meminta restu dari Ibu dan Bapak untuk hubungan saya dengan Angel. Saya sangat tulus mencintai anak kalian. Bukan cuma sekadar main-main, saya ingin membawa Angel menuju jenjang yang lebih serius. Saya ingin mengarungi bahtera rumah tangga bersama Angel. Bahkan jika kalian merestui, saya akan melamar Angel detik ini juga.”


Aku dibuat terheran dengan keberanian Pak Angga. Meskipun sikap Papah belum menunjukan kesenangan terhadap kehadirannya, tetapi Pak Angga sudah berani meminta restu sebagai bukti bahwa cintanya bukan becandaan.


“Kalau kamu bagaimana perasaannya terhadap Pak Angga, sayang?”


“Angel juga sangat menyayangi Pak Angga, Mah. Ketika berada di dekat Pak Angga, Angel merasa tenang dan nyaman. Dan hanya Pak Angga yang mampu menghadirkan pelangi setelah duka yang Angel rasakan.”


“Apakah kamu tidak masalah dengan status Pak Angga yang duda beranak satu? Bukankah usia kalian juga terpaut jauh?”


“Usia bukan penghalang tumbuhnya rasa cinta di hati Angel. Justru akan lebih baik jika usia pria yang Angel cintai lebih dewasa dari Angel. Karena dengan begitu dia akan membimbing Angel menjadi wanita yang lebih bijak. Dan juga perihal status duda yang di sandang oleh Pak Angga, Angel sama sekali tidak mempermasalahkannya. Angel menerima Pak Angga apa adanya. Termasuk dengan Rendy. Buah hati hasil dari pernikahan sebelumnya.”


“Apa yang membuat Pak Angga jatuh cinta kepada Angel? Dan apa yang membuat Pak Angga yakin untuk menjadikan Angel sebagai ibu sambung dari anak Bapak?”


“Jika ditanya perihal alasan mengapa saya bisa jatuh cinta sama Angel, jujur saya tidak pandai dalam merangkai kata. Yang saya tahu hanyalah perasaan senang, bahagia dan nyaman ketika berada di dekat Angel. Dan ketika Angel tidak berada di dekat saya, maka rasanya ada sesuatu yang hilang.”


Pak Angga menarik nafas dalam-dalam dan melanjutkan pembicaraannya, “Dan alasan saya mempercayai Angel untuk menjadi ibu sambung Rendy, karena saya yakin Angel bisa menjadi ibu yang baik untuk anak-anak saya kelak. Begitupun Angel bisa menerima dan menyayangi Rendy tanpa membedakan bahwa dia bukan anak kandungnya.”


“Tapi bagaimana dengan status Angel yang masih menjadi Mahasiswi?”


“Itu tidak masalah, Bu. Jika Angel siap menikah disaat masih kuliah, maka saya akan menikahinya. Tetapi jika Angel tidak siap, saya akan menunggu sampai Angel lulus dan benar-benar siap untuk menikah dengan saya. Saya juga tidak akan buru-buru.”


“Kalau Mamah menyerahkan saja semua keputusannya kepada kamu Angel. Kebahagiaan kamu berada di tangan kamu. Pilihlah sesuatu yang benar-benar bisa membahagiakan kamu! Karena yang tahu apa yang bisa membuat kamu bahagia hanya diri kamu sendiri.”


Aku dapat tersenyum ketika mendapatkan balasan dari Mamah barusan. Itu berarti bahwa Mamah merestui hubungan aku dengan Pak Angga asalkan aku bahagia. Aku menatap Pak Angga yang juga sedang menampilkan senyuman termanis miliknya.

__ADS_1


Sejak tadi Papah tidak merespon apa-apa. Hanya Mamah yang melontarkan beberapa pertanyaan kepada Pak Angga. Dan ketika aku menatap mukanya seperti sedang menahan jiwa yang menggebu. Tidak ada kata yang terucap. Hanya tatapan mata yang sangat tajam serta bibir mengerucut.


*Bersambung*


__ADS_2