
Rasanya melelahkan melakukan aktivitas pembuka setelah sebelumnya vakum tidak melakukan kegiatan yang bersangkutan dengan mata pelajaran. Penat, pening rasanya. Biasanya kalau seperti ini, Bi Dara selalu membuatkan aku teh manis hangat yang memiliki aroma menenangkan. Tetapi sekarang aku harus membuatnya sendiri. Aku harus melakukan segala hal yang bahkan belum pernah aku lakukan ketika berada di rumah. Tetapi inilah jalan yang aku pilih. Aku harus melaluinya. Tidak boleh menyerah.
“Hallo. . .”
“Kenapa kok lemas gitu ?”
“Angel lelah, mungkin karena belum terbiasa.”
“Semangat ! Jangan ngeluh ! Kamu pasti bisa !!”
“Makasih, Pak. Eehh maksud Angel eu-eu maka-makasih Bang.”
“Tidak apa kamu bebas memanggil aku apa. Sekarang aku tidak masalah lagi jika kamu memanggil dengan sebutan Bapak. Aku senang mendengarnya. Ternyata kamu benar itu unik, terdengar sexy jika kamu yang mengatakannya.”
Ucapan Pak Angga seperti menjadi pembangkit energiku. Rasa penat telah terangkat. Dan aku tidak lagi merasa lelah. Semangatku telah kembali lagi.
“Ada cerita apa hari ini ? Kamu betah kuliah disana ?”
“Angel kesal hari ini. Angel malu. Pokoknya Angel mau hari ini hilang dalam ingatan Angel.”
“Kenapa ? Ada apa ?”
“Gimana Angel gak malu coba Pak, Angel salah masuk ruangan. Mending kalau ruang biasa. Ini ruangan yang di dalamnya berisi para senior. Malu banget Angel iihhh.”
“Hahahah.”
“Bapak kok ketawa sih. Nyebelin.”
“Aku sekarang lagi bayangin gimana ekspresi muka kamu. Pasti lucu banget.”
Kata-kata yang dikeluarkan oleh Pak Angga selalu mampu menenangkan. Sekarang kami tidak lagi merasa canggung. Aku lebih sering melihat senyum dan tawa Pak Angga yang dulu sangat susah terlihat. Aku selalu merasa nyaman bila berada di dekatnya. Bahkan hanya mendengar suaranya saja melalui panggilan selular, aku bisa terlelap dengan indah.
Jarak dari kost-an aku serta kediaman Alessyia menuju kampus tidak begitu jauh. Jika ditempuh dengan jalan kaki santai cuma membutuhkan waktu 15 menit. Tetapi jika dengan buru-buru 7-8 menit juga telah tiba.
Aku dan Alessyia memilih berjalan kaki berangkat kampus. Kami pikir hal tersebut bisa menjadi alternatif untuk berolahraga pagi.
“Awass !!!”
Untung saja aku segera menundukkan kepala. Jika terlambat 3 detik saja, maka bola basket telah mendarat tepat di keningku.
“Maaf ! Kamu gak papa kan ?”
Seseorang berlari ke arahku untuk mengambil bola basket yang baru saja ia lempar hampir mengenai kepalaku.
“Tidak apa.”
“Angel ? Nama kamu Angel kan ?
__ADS_1
“Iy-ya. Kok Kakak tahu nama Angel ?”
“Kemarin kamu menyebutnya seperti itu. Kamu lupa ya ?”
Benar juga. Aku menyebutkan namaku sendiri ketika salah masuk ruangan. Ternyata pendengarannya kuat juga. Ingatannya juga sangat kuat. Atau aku yang pelupa ? Aku memang ingin melupakan hari kemarin, tetapi aku tidak menyangka bisa melupakannya secepat ini. Jika Reza Mahardika tidak mengingatkannya, mungkin aku benar-benar telah lupa.
“Cha, lo kenapa diam aja ?”
“. . .”
“Cha ?”
“Angel gue tuh lagi ngebayangin muka gantengnya Kak Reza. Gue kayak.nya suka deh sama dia.”
“Suka ? Bagaimana bisa lo bilang suka secepat itu ?”
“Dia kan ganteng Angel. Semua wanita pasti jatuh cinta sama dia.”
“Kalau jatuh cinta karena fisik itu tidak akan bertahan lama. Jika kamu menemukan sosok yang lebih tampan dari dia, maka cinta itu akan berpaling. Dan jika orang yang lo cintai telah tua dan keriput, tidak lagi tampan, cinta itu juga akan hilang.”
“Gue gak peduli. Pokoknya gue cinta sama Kak Reza.”
Aku tidak mengerti pemikiran Alessyia tentang cinta. Aku sama sekali tidak setuju terhadap pendapat orang yang menjadikan fisik sebagai penilaian utama untuk memilih cinta. Kebanyakan menginginkan bentuk rupa yang sempurna, tetapi melupakan sikap dan kepribadian.
Memang banyak diluar sana yang memiliki wajah ganteng atau cantik, tapi berkepribadian kurang baik. Sedangkan zaman sekarang good attitude selalu terkalahkan dengan good looking. Kalau menurut aku untuk apa mengutamakan penampilan. Penampilan itu bisa diubah. Tetapi sikap tidak dapat berubah dengan mudah. Jadi tidak perlu takut tidak terlihat menarik ! Karena orang yang bersungguh-sungguh tidak hanya menilai dari luar, tetapi dari hati. Maka fokuslah untuk memantaskan diri menjadi lebih baik !
“Ya udah gue tunggu di kantin aja, ya.”
“Heem.”
Akhirnya mata kuliah telah selesai. Perutku sudah demo dari tadi. Aku lupa tidak sarapan. Biasanya kalau bangun kesiangan telah disiapkan bekal sama Mamah. Tapi sekarang tidak. Jika bangun kesiangan ya sudah, maka aku tidak bisa sarapan sebelum berangkat.
“Bu, bakmie sama jus jeruk 2 porsi !”
Aku memesan menu sama dengan titipan Alessyia. Alessyia bilang untuk memesannya dahulu, sehingga jika dia telah keluar dari toilet, tidak perlu buang-buang waktu lagi menunggu makanan.
Aku memutarkan pandangan untuk melihat dan memilih tempat duduk. Ternyata sudah sangat ramai pengunjung sebelum aku kesana. Kursi dan meja telah dipadati oleh mahasiswa-mahasiswi. Beruntunglah masih ada tempat duduk yang terletak disamping pojok belum berpenghuni.
Jus jeruk dan bakmie telah tersaji di meja. Tetapi Alessyia belum juga kembali. Padahal aku sudah sangat lapar. Aku tidak sabar ingin segera memakannya. Tetapi aku tidak mau Alessyia marah. Jadi aku hanya bisa menikmati jus jeruknya terlebih dulu.
“Boleh saya duduk disini ?”
“Kak Reza ? Iya silahkan Kak.”
Aku tidak tahu kenapa dia ada disini. Tapi yang pasti aku tidak bisa menolak senior.
“Kok belum dimakan ? Kamu sendiri ? Kenapa ada dua porsi ?”
__ADS_1
“Tidak. Teman Angel lagi ke toilet dulu.”
Dia tidak membalas dengan ucapan. Hanya anggukan kepala yang ditunjukkan. Kemudian meneguk es teh manis yang dibawanya. Seketika 2 teman dekat Kak Reza menghampiri kami. Aku tidak mengerti apa yang mereka bicarakan. Aku hanya terdiam menunduk. Aku juga masih malu atas kejadian waktu itu. Mereka adalah orang-orang yang berada dalam ruangan yang sama.
“Wah pantesan lo buru-buru, ternyata disini.”
“Oohh jadi ini orangnya, Za ?”
“Duuhh. Kalian ngapain sih kesini ? Berisik.”
“Kayanya gue pernah lihat. Kamu yang kemarin salah masuk kan ?”
“Iy-ya, Kak.”
“Siapa nama kamu ?”
“Angel, Kak.”
“Nama yang cantik.”
Kak Reza segera memisahkan jabatan tangan perkenalan antara aku dengan temannya. Aku belum tahu namanya, karena belum sempat ia menyebutkan, tangan kami telah dipisahkan.
“Boleh juga, Za.”
“Lo tuh bisa aja milih yang bening.”
“Apaan sih ? Mending lo pada pergi deh dari sini.”
“Ya udah iya. Kita pergi nih. Gak akan gangguin lo deh.”
Dua rekannya Kak Reza telah berlalu meninggalkan kami berdua. Aku benar-benar tidak mengerti apa yang menjadi topik pembicaraan mereka barusan.
“Jangan dengarkan mereka ! Mereka orangnya gitu. Suka asal kalau bicara.”
“Tidak apa-apa, Kak.”
“Cha lo dimana sih ? Cepetan sini ! Gue gak mau sendirian.”
Sepertinya Alessyia mendengar panggilan suara hatiku. Sekarang ia telah berada dihadapanku. Ia hanya berdiri dengan tatapan mata seperti terhipnotis. Alessyia benar-benar tersihir oleh ketampanan Kak Reza.
Mungkin aku harus membantu sahabatku ini. Aku harus membantu dia agar bisa bersatu dengan Kak Reza. Alessyia belum pernah pacaran. Ia memang mudah jatuh cinta, tetapi cinta sesaat. Ketika melihat sosok pria yang baru, ia akan langsung tertarik. Tetapi cinta itu tidak bertahan lama. Setelah dirasa bosan, maka cintu itu hilang. Mungkin sosok Kak Reza akan memperbaiki sikap buruk yang dimiliki Alessyia.
“Cha sini duduk !”
“Kak Reza, kenalin ini sahabat Angel, namanya Alessyia. Kakak bisa memanggilnya Echa atau Cha.”
*Bersambung*
__ADS_1