My Teacher Is Mine

My Teacher Is Mine
MTIM-71 Mencintai dan Dicintai


__ADS_3

Berada di suatu ruang yang berisikan ranjang berukuran besar. Jendela yang tertutup oleh gorden berwarna merah muda. Lampu duduk yang menyala namun masih terkalahkan oleh sinar lampu yang menggantung di atas. Boneka beruang berwarna cokelat dan putih dengan ukuran lebih besar dari manusia menjadi penghuni ranjang tersebut.


Kamar Alessyia sangat nyaman. Sangat jauh berbeda dengan kamar kost-an aku. Suasana ini mengingatkan aku pada kamar di rumahku. Bedanya boneka beruangnya cuma satu dilengkapi dengan boneka-boneka lainnya yang berukuran sedang dan lebih kecil.


“Angel, gue mandi dulu ya !”


“Oke. Eehh Cha, gue pinjam laptop lo dong. Mau nonton film.”


“Boleh. Itu ambil aja di atas meja.”


Aku beranjak dari kasur empuk dengan boneka beruang sebagai bantalnya. Aku mengambil laptop yang terletak di atas meja belajar. Ketika laptop itu aku angkat, ada kertas yang terjatuh. Mungkin tadinya menempel pada laptop. Aku segera mengambil kertas tersebut dan hendak menyimpannya.


Tapi ternyata itu bukan kertas biasa. Itulah foto seorang pria dengan kostum lengkap pemain basket. Dengan tangan yang sedang memegang bola basket.


“Kak Reza. . .” Ucapku lirih.


“Angel ada gak laptopnya ?”


“Eu-eu iy-iya ada, Cha.”


Aku segera menyimpan kembali foto tersebut pada meja dengan posisi terbalik agar Alessyia tidak menyadari kalau aku telah melihat foto itu.


Layar laptop aku buka. Tombol power on/off aku tekan. Setelah menyala, aku menyusuri berkas yang disimpan pada Lokal Disk D. Disana terdapat beberapa koleksi film. Dari film kartun Indonesia, anime, film layar lebar Indonesia, Hollywood, sampai drama Korea.


Tetapi sebelum menuju folder khusus film, mataku teralihkan pada sebuah folder yang diberi nama My Mine. Aku penasaran folder apakah itu. Karena terakhir kali aku meminjam laptop Alessyia, folder tersebut belum ada.


“Hoaaa !!!”


Aku membelalakan mata dengan mulut yang terbuka lebar. Folder tersebut berisi foto yang berjumlah 1.210 dengan berbagai macam kostum dan pose. Aku tidak percaya Alessyia mengoleksi foto-foto Kak Reza. Ternyata cinta Alessyia kepada Kak Reza sangat besar. Bahkan screen saver pc nya saja menggunakan album Kak Reza.


Klek !!!


Pintu kamar mandi dibuka. Aku segera memindahkan layar menuju folder film agar tidak diketahui oleh Alessyia.


“Lo nonton film apa, Ngel ?”


“Hah ? Oh ini. Eu-eu anu. Hollywood Cha. Iya Hollywood. Hehe.”

__ADS_1


Aku menjawab dengan sangat gugup. Semoga saja Alessyia tidak menyadarinya.


“Emangnya lo suka Hollywood ?”


“Suka. Maksud gue gak terlalu sih. Tapi gue ingin tahu.”


Alessyia kembali ke kamar mandi untuk menyimpan handuk yang telah menutupi tubuhnya. Ia juga membawa pakaian ganti yang hendak di kenakan. Karena ada aku di kamar, Alessyia harus menggantinya di kamar mandi.


Tidak lama Alessyia kembali. Ia menuju meja rias dan mengoleskan cream ke mukanya. Alessyia sangat berbeda dengan diriku. Ia sangat mengutamakan penampilan. Kalau aku melakukan perawatan tergantung mood. Kalau Alessyia tidak ada hari yang terlewat tanpa melakukan perawatan.


Kali ini aku tidak tahu apa yang ia pakai. Mungkin itu cream malam untuk menjaga kelembaban kulitnya agar tetap ternutrisi. Karena aku jarang memakai hal tersebut, jadi aku tidak tahu jenis-jenis dan fungsinya masing-masing.


“Cha . . .”


“Hem ?”


“Gak jadi deh.”


“Kenapa ? Ada apa ?”


“Lo masih suka sama Kak Reza ?”


“Kenapa lo nanya gitu ?”


“Enggak Cha. Gak papa. Lo jangan marah, ya ! Gue cuma ingin tahu.”


Alessyia menutup wadah cream dan menyimpan pada tempatnya. Ia berbalik dan menatapku.


“Gue emang masih cinta sama Kak Reza, Ngel. Mungkin lo tahu gue cuma sekedar bermain-main bersama pria sebelum Kak Reza. Tetapi setelah ketemu dia, semua rasa itu berubah. Gue tidak berniat mencari pria lain meskipun ada yang lebih tampan dari Kak Reza. Gue juga tidak berniat mencintai orang lain, selain Kak Reza.”


“Gue minta maaf, Cha !”


“Kak Reza benar, tidak ada yang bisa menyalahkan perasaan seseorang. Cinta itu tidak bisa dipaksakan. Sebesar apapun cinta gue kepada Kak Reza, itu tidak akan membuat Kak Reza kembali mencintai gue.”


Alessyia berdiri dan berjalan menghampiri diriku. Ia terduduk berhadapan denganku.


“Akan sangat menyenangkan jika dicintai oleh seseorang yang kita cintai. Mencintai dan dicintai, itulah impian terbesar gue. Gue tidak mau bersama seseorang yang hatinya bukan untuk gue. Waktu gue terlalu berharga untuk dihabiskan bersama seseorang yang pura-pura mencintai gue. Lebih baik gue menunggu orang yang tulus mencintai gue. Dan gue juga mencintai orang tersebut.”

__ADS_1


Aku memeluk Alessyia. Dia telah berubah sekarang. Pikirannya sangat dewasa. Aku saja tidak berpikir sampai ke arah sana. Tetapi Alessyia mampu memikirkan apa yang terbaik bagi semua pihak.


Waktu telah semakin malam. Sebelum orang-orang masuk kandang. Dan sebelum jalanan berubah menjadi tak bertuan, aku segera meninggalkan rumah Alessyia. Papi sama Mami Alessyia telah membujuk aku untuk menginap. Apalagi Alessyia, dia sangat melarang aku pulang. Tetapi aku menolaknya.


Aku lupa tidak mengunci pintu. Karena pulang dari kampus buru-buru langsung ke rumah Alessyia. Aku takut ada orang yang sembarangan masuk. Apalagi di dalamnya terdapat barang-barang berharga. Jika itu lenyap, bagaimana nantinya aku menjalani hidup selama disini.


Beruntunglah jalanan masih ramai oleh para pengguna jalan. Sehingga aku tidak perlu merasa takut. Penghuni kost juga sepertinya sedang ada di kamarnya masing-masing. Itu semua dapat terlihat dari cahaya lampu yang tersorot dari pentilasi udara yang terletak di atas pintu.


Aku membuka pintu dan hendak menyalakan lampu. Tetapi terhenti ketika menyadari lampu kamar telah menyala. Aku masuk lebih dalam untuk mengecek kamar yang telah aku tinggalkan beberapa jam. Pintu yang menuju balkon terbuka. Padahal aku pastikan sebelum meninggalkannya semuanya dalam keadaan tertutup.


Aku segera membuka lemari dimana aku menyimpan semua barang-barang berharga. Syukurlah semuanya masih ada dan tertata rapih. Mungkin jika ada yang masuk juga tidak bisa membukanya karena kuncinya aku yang bawa.


Aku menuju pintu luar hendak menutupnya sebelum udara dingin memenuhi sudut ruang kamar. Tetapi aku seperti melihat bayangan hitam dari arah luar. Dengan perasaan penuh ketakutan, aku memberanikan diri untuk melihat bayangan apa itu.


“Hoaaa.”


Aku segera menutup mulutku agar suara teriakan tidak terdengar oleh seseorang yang sedang tertidur di kursi. Siapa dia yang telah berani memasuki kediamanku, aku tak tahu. Tubuhnya tertutupi mantel hitam sampai menutupi mukanya.


Mungkinkah itu Frans ? Karena tidak banyak yang mengetahui tempat tinggalku. Bayangan ketika Frans hendak melakukan perbuatan tidak senonoh kembali menghantui pikiranku. Aku harus segera pergi sebelum dia terbangun.


Perlahan aku memundurkan langkahku. Karena mataku tidak melihat jalan, sehingga kakiku tidak sengaja membuat vas bunga terjatuh dan menimbulkan suara. Seseorang yang barusan sedang dalam keadaan tertidur, kini membuka matanya. Ia menarik tanganku.


Aku takut. Aku tidak berani mengeluarkan suara. Aku mencoba menarik tanganku agar bisa terlepas dari genggaman dia. Perlahan ia membenarkan mantel yang menutupi mukanya.


“Pak Angga ?”


“Apakah aku membuatmu takut ?”


“Heem.”


Aku mengangguk dengan ekspresi penuh ketakutan bercampur kesedihan. Pak Angga menepuk-nepuk bahuku untuk membantu menenangkan aku.


“Angel kira itu Frans. Angel takut akan terjadi sesuatu yang mengerikan.”


“Aku akan selalu ada disamping kamu. Tidak akan ada lagi yang mengganggu kamu. Percayalah !”


*Bersambung*

__ADS_1


__ADS_2