
Dua pekan telah berlalu sejak sidang pertama digelar. Berdasarkan jadwal yang telah ditetapkan, hari ini adalah pelaksanaan sidang kedua proses perceraian antara Pak Angga dengan Windy. Sejak kejadian perdebatan antara aku dengan Windy yang terjadi waktu itu, aku tidak gentar sama sekali. Aku malah semakin dekat dengan Pak Angga. Kami sering jalan bersama, dan makan di luar tanpa sepengetahuan Mamah.
“Ayo berangkat ?”
“. . .”
“Pak . .?”
“. . .”
“Hallo !!!” Aku melambai-lambaikan tangan tepat di depan muka Pak Angga. Karena sejak pertama kehadirannya tatapannya enggan berpaling dariku. Matanya tidak berkedip sedetikpun.
“Ehh, iya. Sudah siap ?”
“Sudah.”
“Hari ini kamu berbeda.”
“Kenapa ? Jelek ya ?”
Aku segera menghampiri spion motor dan mencoba untuk menghapus riasan yang aku pakai hari ini. Aku memang sengaja memakai make up sedikit tebal dari hari biasanya. Dengan perona yang sedikit cerah, tetapi masih terlihat natural.
Pak Angga segera menahan gerakan tanganku, “Tidak usah dihapus. Kamu cantik. Saya suka. Kita berangkat sekarang ?”
Sedikit susah jika mau menduduki jok motor itu karena posisinya yang cukup tinggi. Pak Angga semakin memperlihatkan bentuk kepeduliannya kepadaku. Ia membantu aku dengan menggenggam lengan kananku.
Perlahan ia tancapkan gas. Refleks aku memeluk Pak Angga karena secara tiba-tiba ia mempercepat laju motornya. Pak Angga membalas pelukanku dengan menggenggam jemariku beriringan dengan laju motor yang semakin diperlambat. Tapi kini aku sudah terlambat untuk melepaskan pelukannya, karena tanganku yang telah dikunci oleh genggamannya.
“Pak sudah tiba. Lepaskan ! Angel mau turun.”
“Tidak bisa lebih lama sedikit ?”
“Nanti sidangnya keburu dimulai, Pak.”
Sama seperti waktu itu, aku memasuki ruangan persidangan dengan tangan yang digandeng oleh Pak Angga. Dari arah berlawanan nampak sepasang mata yang mengamati pergerakkan kami. Sepertinya dia selalu tampil menggoda. Rok span berwarna putih yang panjangnya pas lutut, dengan atasan berwarna putih tulang yang hampir senada dengan bawahannya. Tak lupa dengan riasan make up tebalnya.
Pak Angga semakin mengeratkan genggamannya. Ia menatap ke arahku. Aku tahu dengan tatapannya ia berkata, “Jangan Pedulikan dia ! Tetaplah disampingku !”
Aku membalas tatapannya dengan senyuman termanis yang aku miliki. Disertai anggukan yang berarti, “Angel akan selalu disamping Bapak. Angel tidak akan pernah pergi.”
Ternyata sidang belum juga usai. Hakim memberikan kesempatan kepada kedua belah pihak untuk melakukan mediasi. Sebenarnya Pak Angga telah menolak melakukan mediasi. Karena dia yakin, sangat yakin untuk bercerai dari Windy. Tetapi Windy memaksa untuk tetap melakukannya.
Sebelum mediasi dilangsungkan, mereka diberi waktu untuk beristirahat terlebih dahulu. Aku mengajak Pak Angga untuk menunggu di warung bakso yang terletak di depan pengadilan. Memang tadi pagi aku hanya sarapan cuma beberapa suap. Sehingga sekarang perutku sudah lapar kembali.
“Pak . .”
__ADS_1
“Hem ?”
“Apakah mediasi akan merubah ?”
“Merubah apa ?”
“Merubah keyakinan Bapak ?”
“Angel dengarkan ! Mediasi tidak akan merubah apapun. Saya hanya mengikuti sesuai prosedur sebagai warga dari Negara Hukum. Perasaan cinta yang saya miliki tidak bisa berubah dengan mudah. Apa sekarang kamu takut ?”
“Hanya saja Windy selalu tampil menarik. Dia terlihat dewasa. Berbeda dengan Angel yang masih kekanak-kanakan.”
“Saya sama sekali tidak peduli dengan wanita di luar sana selain kamu. Apalagi Windy. Dia hanyalah seseorang yang hadir di masa lalu. Saya tidak mau kembali pada masa lalu. Ketakutan kamu tidak akan pernah terjadi, Angel. Percayalah !”
Benar. Aku memang takut. Bukan berarti aku meragukan ketulusan Pak Angga. Aku percaya sama Pak Angga. Tapi aku tidak percaya sama Windy. Bisa saja dia melakukan berbagai cara untuk kembali bersama Pak Angga. Aku bisa mengetahui bahwa dia adalah orang yang licik. Ia adalah pelaku kejahatan, tapi berpura-pura seakan dia adalah korbannya.
Meskipun aku telah mencoba menutup mata, tetap saja Windy memanglah cantik dan sexy. Semua orang yang melihatnya juga akan setuju. Bagaimana aku tidak minder jikalau berada disampingnya ?
“Saya akan tetap bercerai dengan dia, Pak.”
“Tidak, saya tidak mau bercerai. Pak Hakim tolong bantu saya, Pak ! saya tidak mau bercerai. Bagaimana nasib anak saya jika kami bercerai, Pak ? Saya mohon !”
“Keputusan saya tidak akan berubah, Pak.”
“Cukup. Semua ini salah kamu. Berhenti menyalahkan Angel dengan menyebutnya pelakor. Kamu lupa siapa yang mengotori janji suci pernikahan kita ? Kamu lupa ?”
“Cukup-cukup ! Sepertinya mediasi ini tidak bisa dilanjutkan lagi. Kita lanjutkan menuju sidang putusan yang akan digelar 2 pekan kemudian !”
Saat mediasi dilakukan aku tidak bisa mendampingi Pak Angga. Karena sesi tersebut tertutup untuk umum, dan hanya pihak yang bersangkutan yang berada dalam ruangan.
Pak Angga keluar dan langsung menyambut aku dengan senyuman. Aku tidak berani bertanya. Aku takut mood nya masih belum stabil. Aku hanya akan menunggu sampai Pak Angga menceritakannya sendiri padaku.
“Angga, saya ingin bicara sama kamu.”
“Tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi.”
“Sebentar. Saya janji hanya sebentar. 10 menit ?”
“Tidak.”
“5 menit ?”
Pak Angga bertanya padaku melalui pegerakan bola matanya.
“Tidak apa. Angel tunggu di parkiran.”
__ADS_1
Lima menit sudah aku berdiri di samping motor merah yang terparkir. Tapi Pak Angga belum juga kembali. Padahal janjinya tidak lebih dari 5 menit. Aku memutuskan untuk kembali ke tempat disaat terakhir kali bersama Pak Angga. Tapi disana tidak ada siapa-siapa. Hanya terdapat petugas kebersihan yang sedang menjalankan pekerjaannya.
Aku terus berjalan menyusuri koridor ruangan dengan mata yang tak pernah berhenti melihat sekeliling. Berharap sosok yang kucari ditemukan. Langkahku telah tiba pada taman yang terletak disamping gedung tersebut. Terlihat sepasang pria dan wanita sedang berbicang-bincang. Kemudian wanita tersebut memeluk pria yang berada dihadapannya.
Tunggu dulu. Sepertinya aku mengenali siapa mereka. Aku paham betul bagaimana penampilan Pak Angga hari ini. Bukankah dia Pak Angga ? Dan wanita itu. Siapa lagi kalau bukan Windy. Apa yang mereka lakukan disana ? Aku tidak mau menyaksikan adegan tersebut.
“Itu bukannya Angel ?”
“Windy apa yang kamu lakukan ? Lepaskan !”
Pak Angga berusaha melepaskan lengan Windy yang melingkar ditubuhnya.
“Kamu tahu Angel ada disana kan ? Kamu sengaja melakukan ini ?”
“Iya.”
“Jahat. Kamu wanita terjahat yang pernah saya temui.”
Pak Angga segera berlari untuk mengejar kepergian diriku. Tetapi karena emosi yang telah memuncak, aku tidak sadar bahwa lariku terlalu cepat. Sekarang aku tidak tahu ada dimana. aku tidak mengingat jalan. Karena sepanjang jalan aku hanya menunduk sembari meneteskan air mata.
"Please siapapun, tolong Angel ! Angel mau pulang."
“Pak Angga . . ?”
“Kenapa kamu lari. Sudah saya katakan jangan pernah pergi. Tetaplah berada disamping saya.”
“Bagaimana Angel bisa kuat melihat Pak Angga berpelukan dengan Windy ? Meskipun dia hanyalah bagian dari kisah masa lalu Bapak, tetap saja Windy pernah menjadi wanita yang Bapak cintai. Angel sekarang sadar. Angel bukanlah siapa-siapa. Angel hanya murid yang tidak tahu sopan santun hingga berani mencintai gurunya.”
“Tidak. Kamu sangat berarti bagi saya. Kamulah masa sekarang dan masa depan saya.”
Pak Angga mengusap air mata yang sedari tadi berjatuhan membasahi seluruh pipiku.
“Saya bisa jelaskan semuanya. Saya mohon kamu jangan salah paham. Karena yang kamu lihat tidak seperti apa yang kamu pikirkan. Sudikah kamu untuk memberikan saya kesempatan ?”
Aku tidak mau menjadi sosok yang ditinggalkan. Karena aku tidak yakin akan setegar apa jika kehilangan orang yang aku sayang. Aku akan berusaha untuk mengerti, meskipun itu sulit. Karena bertahan adalah salah satu pilihanku agar aku bisa hidup bersama seseorang yang aku cintai.
*Bersambung*
.
.
Terimakasih sudah mendukung 🥰
Jangan lupa like, komen, rate 5, dan vote 💙💙💙
__ADS_1