My Teacher Is Mine

My Teacher Is Mine
MTIM-92 Pak Angga Menggoda


__ADS_3

“Hai sayang ...”


Aku terkejut dengan perkataan Pak Angga. Baru saja aku menghampiri dia, aku langsung disambut dengan panggilan sayang. Gadis-gadis yang berada di dekat Pak Angga spontan meilirik ke arahku. Ia menatapku dengan penuh pertanyaan.


“Hah? Sayang?”


“Dia pacarnya pak Angga?”


“Kok masih muda?”


Kurang lebih seperti itu perkataan dari mereka yang dapat aku dengar. Aku kikuk dibuatnya. Bahkan aku tidak tahu apakah harus tersenyum atau menyapa mereka terlebih dahulu.


Pak Angga menarik tanganku dan melingkarkan lengannya di bahuku. Aku menatap Pak Angga dengan penuh perasaan aneh. Padahal tadi kami sudah berjanji untuk tidak membocorkan perihal hubungan ini.


“Perkenalkan ini pacar saya."


“Hah Pacar?”


“Bapak serius?”


“Bukankah dia adik Bapak? Sepertinya usianya tidak jauh dengan kita.”


“Saya serius. Namanya Angel Azzahra Caroline. Dia kekasih saya.”


Semua yang mendengar menutup mulut mereka agar tidak keluar teriakan histerisnya.


“Ya ampun Mbak, aku minta maaf! Tadi aku sudah tidak sopan sama Mbak. Meminta Mbak untuk mengambil foto kami. Kami benar-benar tidak tahu Mbak.”


Gadis itu bergantian meminta maaf padaku. Aku hanya tersenyum kepada mereka. Pak Angga segera membawaku menjauhi mereka.


“Bee, kenapa malah bilang seperti tadi?”


“Karena lebih baik seperti itu, mereka tahu kalau aku sudah menjadi milik kamu. Dan jujur aku juga kurang nyaman atas sikap mereka. Mereka seperti berusaha untuk bisa mendekatiku.”


“Tapi itu bagus untuk karir kamu, Bee. Kamu bisa di anggap sebagai guru yang pandai bergaul dengan muridnya.”


“Maksud kamu, aku tidak akan lagi di cap sebagai guru dingin seperti kulkas. Begitu?”


“Lho, bukan gitu. Bee, maksud Angel...”


Cup!


“Kita pulang sekarang. Aku lelah.”


Aku langsung diam seribu bahasa. Mematung tanpa kata. Jika bukan Pak Angga yang menyeretku untuk masuk ke dalam mobil, mungkin aku masih berdiri membayangkan kecupan yang Pak Angga berikan secara tiba-tiba di pipi kananku.


“Sayang, kita pulang ke rumah aku atau ke kost-an kamu?”


“...”


“Sayang...”


“...”


“Angel...”


“Iy-ya. Ada apa?”


“Kamu kenapa melamun?”


“Hah? Eu-enggak. Gak papa kok. Tadi kamu bilang apa?”


“Aku tanya mau pulang ke rumah aku atau kost-an kamu?”


“Eu-eu ke kost-an Angel aja.”

__ADS_1


Setelah mendapatkan jawaban atas kemana arah dan tujuan si hitam, Pak Angga segera melajukan mobil itu dengan cepat. Selama perjalanan tidak ada topik pembahasan apapun. Pak Angga hanya fokus menatap jalanan. Dan aku masih terpana atas sikap manis yang diberikan Pak Angga secara tiba-tiba. Memang dia selalu pandai untuk mengubah duniaku menjadi lebih berwarna.


“Duduk dulu, Bee! Mau minum apa?”


“Gak usah. Nanti aku ambil sendiri aja.”


“Serius?”


“Heem.”


“Kalau gitu Angel mau mandi dulu ya, Bee. Gak enak, keringatnya lengket.”


“Boleh ikut ?”


“Bee...”


“Haha. Enggak kok, becanda sayang.”


Sebelum menuju kamar mandi, aku membuka lemari untuk memilih pakaian yang akan dipakai. Aku tidak mau peristiwa waktu lalu terulang lagi.


“Ada apa, Bee?”


Keran yang mengeluarkan air aku hentikan untuk sementara. Sebelumnya aku mendengar seperti suara Pak Angga memanggil namaku. Oleh karena itu aku menghentikan aktivitas sementara untuk memastikan apa yang dibicarakan olehnya.


“Aku mau tidur sebentar.”


“Oh iya, Bee.”


“Hmm, aku kira ada sesuatu yang penting. Rupanya hanya meminta ijin untuk tidur.” Batinku.


Sebelum badanku membeku karena dinginnya air, aku segera keluar dari kamar mandi. Tentunya dengan keadaan yang sudah berpakaian lengkap.


Klek!


“Bee, kok gak pakai bantal sih? Nanti lehernya sakit.”


Perlahan aku mengangkat kepala Pak Angga dan menggeser bantal tepat dibawahnya. Secara hati-hati juga aku meninggalkan ranjang. Tetapi langkahku terhenti. Tanganku ditarik dengan sangat kuat.


Mataku masih terpejam. Aku dapat mencium aroma khas yang sangat menyengat. Detak jantung sangat nyaring terdengar. Aku yakin ini bukan detak jantungku. Dan benar saja. Ketika aku membuka mata, kepalaku berada tepat pada dada bidang milik Pak Angga.


“Aaaaaa.”


Aku berusaha untuk mengubah posisi. Karena dengan keadaan Pak Angga di bawahku, membuat aku tidak nyaman. Tetapi usahaku untuk berdiri gagal. Pak Angga menahan tubuhku agar tidak beranjak.


Bahkan sekarang aku tidak lagi berada pada dada bidangnya. Melainkan berhadapan langsung dengan wajahnya. Aku dapat melihat sangat dekat bola mata yang memancarkan keindahan, serta bibir tipis merah muda natural tanpa sapuan lipbalm.


“Bee...eu eu...Angel...”


“Kenapa gerogi gitu?”


Batinku, “Bagaimana aku tidak gerogi jika posisi kita sangat dekat seperti ini. Mataku tidak kuat melihat keindahan paras milik kamu. Rasanya aku ingin mencobanya. Apakah seperti es krim cokelat? Atau strawberry?”


“Aaarrgghhh. Tidak! Tidak tidak tidak!”


Untung saja aku segera tersadar. Jika aku masih dalam pengaruh gangguan pihak ketiga, bisa saja aku memakannya tanpa berpikir panjang kali lebar terlebih dahulu.


“Kenapa sayang?”


“Bee, Angel mohon lepaskan!”


“Kenapa? Kamu gak mau dekat dengan aku?”


“Bukan gitu, Bee. Tapi seperti ini membuat pikiran Angel berkelana.”


“Hahaha. Kamu mikir apa?”

__ADS_1


Aku menggelengkan kepala dengan sangat cepat. Mengingatnya saja aku merasa malu. Dan juga aku tidak menyangka bisa berpikiran seperti itu. Untung saja kali ini Pak Angga tidak mengunciku. Aku berhasil terbebas dari dekapannya dan sedikit duduk berjauhan.


Pak Angga juga ikut terbangun. Melihat aku dengan tatapan menunduk, Pak Angga menarik daguku dan meletakan kedua tangannya di pipiku untuk mengarahkan tatapanku kepadanya.


“Kamu kenapa?”


“...”


“Hei! Kenapa?”


“...”


“Oke aku minta maaf jika kamu terganggu dengan perlakuanku barusan!”


“Enggak Bee. Angel malu.”


“Malu kenapa sayang?”


Tidak banyak lagi kata yang keluar dari mulutku. Aku tidak mau Pak Angga mengetahui tentang pikiranku barusan yang sangat absurd. Aku hanya menggelengkan kepala untuk menjawab pertanyaan yang diberikan oleh Pak Angga.


“Aku janji tidak akan melakukan hal seperti tadi lagi. Maafkan aku sayan!”


“Bukan salah kamu. Ini salah Angel. Angel benci sama pikiran Angel sendiri.”


“Itu bukan kesalahan kamu sayang. Aku yang memulainya. Aku tahu maksud pikiran kamu. Jujur aku juga memikirkan hal yang sama. Dan jika aku egois, mungkin sekarang aku telah berhasil merasakannya. Tetapi aku sangat menyayangimu. Aku tidak mau melakukan sesuatu yang tidak kamu suka.”


“Bee...”


“Hem?”


“Ternyata benar ya, jika dua orang beda jenis berada dalam satu ruangan, maka yang ketiganya adalah setan. Mungkin karena itu juga Angel hampir tergoda.”


“Hahaha.”


Pak Angga mengacak-acak rambutku dengan tawanya yang sangat menggelegar. Sedangkan aku masih terdiam heran. Tidak tahu hal apakah yang mampu membuat tawa Pak Angga pecah.


“Rupanya kamu masih memikirkan perkataan Alessyia.”


“Tapi itu benar kan, Bee?”


“Iya. Makanya kita gak boleh seperti ini. Apalagi berada di atas ranjang yang sama. Kamu tahu apa yang aku pikirkan?”


Aku bergidik setelah mendengar perkataan Pak Angga. Rasanya bulu punuk, tangan dan kakiku juga ikut berdiri. Seperti sudah menyaksikan sesuatu yang menyeramkan. Dengan langkah cepat aku berdiri dan meninggalkan Pak Angga.


“Eh ehh Angel mau kemana?”


“Kata Pak Angga juga tidak boleh berada di atas ranjang yang sama. Angel keluar cari angin dulu.”


Dred...dred...


“Hallo.”


Pak Angga menjawab panggilan yang masuk ke ponselnya. Sedangkan aku berdiri di balkon menatap awan yang perlahan mulai menggelap karena ditinggalkan oleh sinar mentari. Tidak berselang lama, Pak Angga menghampiriku. Ia merangkul bahuku dan berdiri tepat di sampingku.


*Bersambung*


.


.


.


Jangan lupa like, komen, rate 5 & vote 🥰


Terimakasih 🙏

__ADS_1


__ADS_2