
Tidak ada lagi kata yang menghangatkan suasana. Papah sedang meresapi kata demi kata yang di ucapkan oleh Mamah. Sedangkan Mamah masih menatap Papah dengan harapan akan ada kesempatan yang Papah berikan kepadaku.
“Keluarga pasien atas nama Angel Azzahra Caroline?”
“Kami, Sus.”
“Silakan masuk, Bu! Dokter akan menjelaskan.”
Seorang perawat yang menghampiri memecahkan keheningan yang melanda Papah dan Mamah. Mereka mengikuti langkah perawat memasuki ruang dimana aku berada. Betapa terkejutnya Mamah ketika melihat selang infus kembali mengalir ke tanganku.
“Dok, bagaimana anak saya? Apa sakitnya serius?”
“Angel kekurangan cairan, Bu. Oleh karena itu kami memberikannya infus untuk menetralkan kondisinya. Saya berpesan jika Angel sudah sadar untuk diberi beberapa asupan bergizi dan memperbanyak minum air putih. Nanti akan kami kasih obat untuk mempercepat pemulihannya.”
“Baik, Dok.”
“Oh iya, saya juga minta agar Angel tidak memikirkan apa-apa, apalagi sesuatu yang berat. Karena melalui depresi itu Angel menjadi kehilangan cairannya.”
“Baik Dok, terimakasih.”
Dokter melangkah keluar ruangan ditemani oleh perawat dari belakang. Mamah langsung berjalan dengan cepat untuk mendekat kepadaku. Mamah menjabat erat tangan kananku dan berulang kali menciumnya.
“Angel, bangun sayang! Maafkan Mamah membuat kamu kesakitan seperti ini. Bangun Nak! Mamah tidak tega melihat kamu terbaring tak berdaya seperti ini. Andai Mamah bisa menggantikan posisi kamu, biarkan Mamah yang merasakan sakit itu. Jangan kamu sayang!”
Mamah masih terus berbicara kepadaku padahal tidak ada respon apa-apa yang aku berikan. Sedangkan Papah sedang duduk di sofa yang terletak di sudut ruangan dengan mata yang terus menatap ke arah aku dan Mamah.
“Mah…”
Usaha keras yang aku lakukan untuk membuka mata akhirnya berhasil. Dengan penglihatan yang masih buram, aku dapat melihat Mamah di sampingku dengan tangan yang tidak pernah lepas menggenggam tanganku.
Melihat aku tersadar, Papah berlari ke luar ruangan dengan buru-buru. Aku sempat berpikir bahwa Papah sudah tidak peduli lagi denganku. Buktinya bukannya mendekat dan bertanya kabarku, Papah malah ambil seribu langkah menjauhiku. Mungkin Papah tidak mau lagi berbicara denganku.
“Biar saya periksa ya, Angel!”
Ternyata pikiranku salah. Mungkin itu hanyalah ketakutan semata. Bukannya Papah melarikan diri dariku. Tetapi ia keluar untuk memberikan kabar kepada dokter yang bertugas menjagaku dan meminta dokter untuk memeriksa kondisiku yang baru sadar dari pingsan.
“Syukurlah keadaannya sudah mulai membaik. Tapi tetap jangan terlalu banyak melakukan aktivitas, ya!”
“Baik, Dok.” Ucap Papah. Sedangkan aku hanya mengangguk untuk menjawab perkataan dokter karena tubuhku yang masih lemas.
“Mah…”
“Iya sayang, kamu jangan terlalu banyak bicara dulu.”
“Tolong ambilkan handphone Angel. Pastinya teman-teman Angel sudah sangat cemas.”
“Mamah lupa tidak membawanya sayang.”
__ADS_1
“Sebentar! Papah akan mengambilnya.”
Belum ada jawaban dariku dan Mamah, Papah sudah berlalu menutup pintu. Sedangkan aku hanya menatap Mamah penuh heran. Tapi tidak dengan Mamah. Aku melihat senyuman yang terukir di wajahnya.
“Mah, tapi Papah…”
“Papah tidak pernah marah sama kamu sayang. Papah menjadi orang pertama yang sangat mengkhawatirkan kamu. Percayalah, semua yang Papah lakukan semata-mata demi kebaikan kamu.”
“Maafkan Angel Mah…Hiks…”
“Ssttt! Jangan nangis! Lebih baik sekarang kamu istirahat ya, agar kamu bisa pulih secepatnya.”
Aku tidak tahu berapa jarak dari rumah sakit menuju kediaman Papah. Aku juga tidak tahu membutuhkan waktu berapa lama untuk kembali lagi kesini. Mungkin karena efek obat yang aku konsumsi, membuat mataku sangat berat untuk terbuka. Akupun tertidur ketika menunggu Papah kembali lagi kesini.
Klek!
“Tidur?”
“Sstt! Angel lagi tidur.”
Suara Mamah sudah sangat pelan. Mamah berbisik dengan Papah. Tetapi aku masih mendengarnya jelas. Aku teringat bahwa aku meminta Papah untuk mengambilkan handphone yang tertinggal di rumah. Dengan segera aku membelalakan mata agar dapat terbangun dari tidur.
“Pah…”
“Papah minta sama kamu untuk menenangkan pikiran kamu dulu! Jangan terlalu lama mengoperasikan handphone!”
Papah tidak menjawab ucapan syukur yang aku lontarkan kepadanya. Dia hanya mengusap pelan ujung kepalaku, kemudian membalikan badan untuk kembali merebahkan badannya pada sofa.
Saat layar handphone telah terbuka dari kuncinya, aku langsung disuguhkan potret ayah dan anak yang sangat kompak. Sepertinya aku lupa tidak mengembalikannya ke posisi awal setelah semalam aku menatap gambar mereka.
Dred..dred…
Fokus tatapanku teralihkan ketika getar ponsel menandakan ada pesan yang masuk. Dan saat aku lihat, sudah banyak pesan yang dikirim oleh Kak Aldo dan Alessyia. Bahkan saking banyaknya aku tidak dapat membaca satu per satu pesan yang mereka kirim.
Untuk mempersingkat waktu dan mengurangi tenagaku, aku mengirimkan pesan melalui grup chat yang di dalamnya terdiri dari beberapa anggota, yaitu aku, Alessyia, Kak Aldo dan Kak Beni. Sebenarnya masih ada nomor Kak Reza, tetapi sepertinya nomornya sudah tidak aktif lagi.
Mohon maaf yang sebesar-besarnya Angel ucapkan kepada kalian. Bukan karena Angel melupakan kalian atau karena Angel tidak menganggap kalian. Tetapi karena situasi dan kondisi yang memaksa Angel harus melakukannya. Angel sudah berada di Jakarta. Dan saat ini Angel sedang di rawat di rumah sakit. Untuk detail rumah sakitnya Angel tidak tahu. Karena Angel dibawa dalam keadaan pingsan dan sekarang baru menyadarkan diri.
Kurang lebih seperti itu pesan yang aku kirim. Aku segera menyimpan ponsel di samping nakas ketika perawat memasuki ruangan. Sempat terdengar ponsel yang bergetar kembali. Tetapi aku tak menghiraukannya.
“Permisi Bu! Saya membawakan makan beserta obat yang harus di konsumsi oleh Non Angel.”
“Oh iya, terimakasih Sus.”
“Semua obatnya diminum setelah makan ya, Bu.”
“Baik, Sus.”
__ADS_1
“Kalau begitu saya permisi!”
Mamah mengambil mangkok di atas nampan. Aku dapat melihat nasi beserta kuah sop yang sangat pucat. Sudah dipastikan rasanya hambar. Karena bukan pertama kalinya aku memakan masakan rumah sakit.
“Ini sayang, aaaa!”
Mamah menyodorkan sendok yang telah penuh terisi makanan yang sebelumnya sudah di tiup-tiup agar panasnya hilang. Aku menerima suapan tersebut dengan ekspresi meringis.
“Mah rasanya tidak enak.”
“Wajar sayang. Kan namanya juga makanan rumah sakit.”
“Tapi Angel gak suka Mah…”
“Mah, Angel...” Ucap Papah sembari berjalan ke arah kami.
“Iya Pah.” Jawab aku dan Mamah kompak.
“Papah keluar sebentar ya! Ada urusan bisnis mendadak. Oh iya, makannya dihabiskan sayang! Biar cepat sembuh.”
Papah memberikan kecupan di keningku, kemudian Mamah mencium punggung tangan Papah. Dengan segera Papah melangkah meninggalkan kami berdua. Mamah melanjutkan kembali aktivitas menyuapi aku. Namun percuma, hanya beberapa suap saja yang berhasil mendarat di perutku.
“Udah Mah, Angel mual. Ingin muntah.”
“Ya udah deh. Tapi obatnya di minum ya sayang! Biar cepat sembuh kata Papah juga.”
Mamah menyimpan mangkok ke atas nampan yang terletak di atas nakas. Kali ini di tangannya telah ada beberapa obat dengan bentuk yang berbeda. Obat itu berpindah pemilik ke tanganku. Dengan segera aku memasukannya ke dalam mulut dan mengambil gelas berisi air putih yang telah disiapkan oleh Mamah.
Dred..dred..dred…
Ponsel kembali bergetar. Tetapi kali ini berbeda. Bukan berasal dari milikku. Mamah segera memeriksa ponselnya yang disimpan di dalam tas.
“Sayang, Mamah jawab dulu panggilannya ya!”
“Heem.”
Dan benar, panggilan itu untuk Mamah. Setelah berpamitan Mamah langsung keluar. Dan tidak lama aku kembali memejamkan mata. Mungkin benar bahwa obat yang aku konsumsi mengakibatkan aku menjadi mudah mengantuk.
*Bersambung*
.
.
.
Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak berupa like, komen, rate 5 & vote seikhlasnya 🥰
__ADS_1
Terimakasih 🙏🙏