
*Flashback on*
Aku tengah berada di kamar mandi untuk membersihkan diri. Sedangkan Alessyia menungguku sambil tiduran di atas kasur. Bagi aku itu sudah menjadi kebiasaan. Kedekatan antara aku dan Alessyia sudah terjalin cukup lama.
“Angel. . .”
“Angel. . .”
Alessyia berulang kali memanggil namaku. Namun karena aku tengah asik menikmati dinginnya air yang mengguyur seluruh tubuhku, aku tidak bisa mendengarnya. Hanya samar-samar seperti seseorang sedang berbisik.
“Angel ini ada panggilan masuk ?”
“Angel ini neleponin lo terus takutnya penting.”
Karena panggilan dilakukan secara berulang-ulang, Alessyia menjawab panggilan tersebut. Ditakutkan ada sesuatu yang penting atau mendesak. Tidak ada nama yang tertera. Hanya berupa barisan angka yang tersusun rapi.
“Angel. Kakak mau ucapin terimakasih sudah menemani Kakak mencari buku.”
Tidak ada jawaban dari Alessyia. Ia tahu suara siapa itu. Tapi tidak mungkin. Bisa saja hanya suaranya yang mirip.
“Angel, kok diam aja ?”
“. . .”
“Ya udah kamu istirahat ya ! Mungkin kamu kecapekan.”
Alessyia yakin, tidak mungkin cuma sekedar mirip. Itu benar-benar Kak Reza. Aku memang belum sempat menyimpan nomor Kak Reza. Jadi masih kosong tanpa sebuah nama. Tetapi Alessyia bisa mengenalinya.
Tanpa menunggu aku keluar dari kamar mandi, Alessyia telah berlalu pergi.
*Flashback off*
“Benar itu Kak Reza ? Iya ?”
“Cha gue bisa jelasin semuanya.”
“Jelasin apa ? Itu semua udah cukup membuktikan bahwa lo nikung gue.”
“Cha, itu semua gak seperti yang lo pikir.”
“Terserah lo. Gue gak mau dengerin penjelasan apapun dari mulut seorang pelakor.”
“Cha jaga mulut lo ! Gue bukan pelakor.”
“Lo lupa, dulu lo merebut Pak Angga dari istrinya ? Dan sekarang lo juga suka sama cowok yang disukai oleh sahabat lo ? Apa itu yang namanya sahabat ? Apa itu bukan pelakor ?”
Aku tidak menyangka Alessyia bisa mengucapkan kata-kata seperti itu. Padahal dia tahu betul apa yang terjadi antara Pak Angga dan Windy di masa lalu. Dulu bahkan Alessyia yang selalu mendukung aku. Dia meyakinkan bahwa aku bukanlah perusak hubungan orang. Tetapi kenapa sekarang dia mengungkitnya kembali ? Dan yang lebih menyakitkan, dia menyalahkan aku atas retaknya rumah tangga Pak Angga dengan menyebut diriku pelakor ?
Aku berusaha untuk terlihat tenang. Walaupun aku sangat tidak nyaman. Semua orang yang berada di ruangan memperhatikan aku. Dan sudah dapat dipastikan mereka berpikir bahwa aku benar seorang pelakor. Aku sudah terbiasa mendengarnya. Bahkan dulu aku dipermalukan di depan gedung pengadilan.
Aku tidak mau bolos dalam satu pelajaran. Aku sudah berjanji untuk bisa lulus kuliah. Apalagi Pak Angga telah berpesan agar aku bisa cepat wisuda. Jadi aku harus menutup telinga, dan fokus mendengarkan dosen yang ada di depan.
“Jadi dia pelakor ?”
“Kok gitu ya ? Padahal dia cantik.”
__ADS_1
“Zaman sekarang emang pelakor itu yang cantik-cantik dan muda.”
“Ihh gak punya harga diri banget sih.”
Beruntunglah dosen telah selesai memberikan materi dan tugas. Aku segera keluar dari ruangan itu. Jika lama-lama mendengarnya, telingaku seperti akan pecah. Padahal aku belum lama kuliah disini. Tetapi citra nama aku telah rusak. Aku telah di cap pelakor oleh orang-orang.
“Hai ! Sendirian aja.”
Aku segera menghapus air mata yang menetes. Aku tidak mau ada yang mengetahui kesedihanku. Walaupun ini bukan pertama kalinya aku di judge, tetap saja selalu membekas dihati. Mereka tidak tahu cerita yang sebenarnya. Mereka tidak tahu bagaimana proses dan perjuangan aku untuk bersama Pak Angga. Tetapi dengan mudahnya mereka menghinaku. Sungguh menyakitkan.
“Kamu nangis ?”
“Enggak kok, Kak. Cuma kelilipan aja.”
“Mana mana ? Biar Kakak lihat.”
Kak Reza segera meletakkan tangannya dipipiku, kemudian mendekatkan wajahnya, dilanjutkan dengan meniup bola mataku yang memerah. Rasanya gatal. Dengan segera Kak Reza menghentikan pergerakan tanganku yang akan menguceknya.
“Jangan dikucek ! Nanti bisa iritasi.”
“Makasih ya, Kak.”
“Heem. Oh iya ini Kakak bawakan minum.”
“Tidak usah. Buat Kakak aja.”
“Kakak belinya dua kok. Kalau cuma satu juga tidak akan Kakak kasih ke kamu.”
”Hahaha.”
Kami tertawa bersama. Kak Reza memang sangat baik hati. Ia juga sosok yang ramah, murah senyum. Pantas saja kalau ia sangat dikagumi. Tampan, hidung mancung, hitam manis. Tapi aku tidak tahu kenapa dia masih betah menjomblo. Padahal dengan rupanya saja dia bisa menggaet lebih dari 3 cewek sekaligus.
“Heem.”
“Apakah pacar Kakak tidak akan marah ?”
“Marah kenapa ?”
“Karena Kakak dekat dengan Angel.”
“Kakak tidak punya pacar. Jadi tidak akan ada yang marah.”
“Kenapa Kakak tidak punya pacar ? Padahal Kakak ganteng, baik pula.”
“Jadi saya ganteng ya ?”
Ya ampun kenapa aku bisa ngomong gitu sih. Jadi malu sendiri kan.
“Hahaha. Becanda. Santai aja, kenapa mukanya tegang gitu ?”
“Hehe.”
“Kamu sendiri punya pacar ?”
“Hmmm.”
__ADS_1
“Atau pacar kamu marah ya karena kemarin kita jalan bareng ?”
“Tidak. Pacar Angel tidak disini. Kita LDR.”
“Jadi kamu sudah punya pacar ?"
“. . .”
“Tidak apa. Belum menikah juga kan ? Kakak bisa menunggu.”
“Hah ?”
Apa maksud dari perkataan terakhir Kak Reza barusan ? Apa maksudnya dengan menunggu ? Aku hendak menanyakan kepadanya, tetapi ia berlalu pergi dengan cepat meninggalkan aku dengan rasa penasaran.
Aku juga tidak mau terus-menerus berdiam diri memikirkan ucapan Kak Reza. Toh mungkin itu asal bicara saja. Apalagi aku harus segera pulang sebelum matahari semakin menghilang.
“Heh lo anak baru.”
Seketika langkahku terhenti. Sekelompok wanita menghadang perjalananku. Aku tidak bisa melarikan diri. Mereka telah mengepung. Sehingga tidak ada celah yang tersisa.
“Lo Maba ?”
“Kenapa lo berani sekali mendekati Reza Mahardika ?”
“Punya apa lo ?”
“Hah ? JAWAB !!!” Dia menarik daguku.
“Tid-tidak.”
“Kalau lo mau aman disini. Jauhi Reza ! Jangan pernah bermimpi untuk mendapatkan dia ! Reza Mahardika hanya milik gue. NGERTI ?”
Dia melepaskan tangannya kemudian mendorongku dengan sangat keras sehingga membuat aku terdampar di atas rumput hijau.
“Lo gak tahu siapa gue ?”
“Oh iya gue lupa. Lo Maba kan, jadi belum tahu siapa gue.”
“Kasih tahu guys siapa gue !”
Seseorang menghampiriku dan menggunakan jari telunjuknya tepat dihadapanku.
“Kenalin, dia Zea. Mozea. Anak dari pengusaha terbesar di kota Bandung. Apapun keinginan dia harus terwujud. Jika ada yang berani melawan dia, maka akan mendapatkan balasan yang setimpal. Termasuk lo. Jika lo masih berani mendekati Reza Mahardika. Walaupun hanya sekedar mengobrol, apalagi sampai gue lihat jalan bareng. Kita bakal bikin lo gak betah kuliah disini.”
Entah apa salah aku, kenapa semua orang membenciku. Apa segitu hinanya aku sampai direndahkan seperti ini ? Bahkan Alessyia sahabat yang aku miliki sekarang menjauhiku. Aku tidak mau mengecewakan Papah dan Mamah. Aku telah memohon kepada mereka untuk mengijinkan aku kuliah disini. Tetapi kenapa baru awal sudah seperti ini ?
Kenapa ujian selalu datang kepadaku ? Masih saja terasa berat. Aku tidak tahu apakah bisa melewatinya ? Ataukah aku akan terkalahkan ? Apa salah jika aku ingin hidup bersama seseorang yang aku cintai ? Apakah salah jika aku hanya menginginkan kedamaian ? Aku hanya ingin dicintai dan dikelilingi oleh orang-orang yang menyayangiku. Bukan orang-orang yang membenciku. Bukan orang-orang yang tidak menginginkan kehadiranku.
*Bersambung*
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak berupa like, komen, rate & vote🥰🥰
Terimakasih 🙏🙏