My Teacher Is Mine

My Teacher Is Mine
MTIM-33 Salah Paham


__ADS_3

Hari ini aku harus pulang larut malam. Ternyata belajar dewasa itu tidak mudah. Jika saja aku tidak melakukan kesalahan, aku tidak mungkin pulang pukul 20.00 WIB. Tetapi aku tidak menyesalinya. Bertanggung jawab atas kesalahan kita itu menyenangkan. Tidak ada lagi beban yang mengganggu pikiran.


Jalanan masih ramai oleh kendaraan bermotor yang melintas. Terdapat juga beberapa kelompok remaja pria yang tengah berkumpul. Sedikit ketakutan menyelimuti. Apalagi aku hanya wanita seorang diri. Sampai saat ini rupanya aku masih belum bisa beradaptasi dengan kehidupan disini.


“Haaiii !!!”


“Aaaaa.”


Tiba-tiba saja seseorang berlari ke arahku dan menepuk bahuku dengan sangat keras. Aku kira itu salah satu dari pria yang sedang berkumpul.


“Hahahaha.”


“Cha, sumpah gue kaget. Bisa ga sih lo gak ngagetin gue sekali aja ?”


“Hehehe iya iya maaf !”


“Lo baru pulang ?”


“Iya.”


“Jam segini baru pulang ? Lo darimana aja ?”


Apa yang harus aku katakan sama Alessyia ? Aku tidak mungkin berkata jujur bahwa aku telah menemani Kak Reza mencari buku. Walaupun aku mengatakan alasannya, aku tidak yakin Alessyia akan percaya. Aku tahu Alessyia sangat mencintai Kak Reza. Aku takut Alessyia salah paham.


“Angel kenapa gak di jawab ?”


“Tadi. .tadi gue habis beli buku. Ini bukunya.”


Untung saja aku menemukan alasan. Aku menunjukan sebuah Novel Romance yang baru dibelikan oleh Kak Reza. Semoga Alessyia tidak lagi bertanya-tanya.


“Oohh ini. Kenapa lo gak ngajak gue kalau mau ke toko buku ?”


“Lo kan pulang duluan. Katanya lo sakit. Gue gak mungkin ngajak lo.”


“Iya juga sih. Ehh btw, tadi gue lihat lo diantar cowok ?”


Gimana ini ? Apa Alessyia lihat kalau aku diantar pulang oleh Kak Reza ? Padahal aku udah minta Kak Reza untuk membiarkan aku pulang sendiri. Tetapi Kak Reza sangat keras kepala.


“Hah ? Lihat dimana ?”


“Itu di depan pas lo turun.”


“Ohh itu. . . itu. . .”


“Itu apa sih ? Lo pulang sama siapa ?”


“Sama taksi online. Iya sama taksi online. Emangnya gue pulang sama siapa lagi sih, Cha ?”


“Masa sih ? Tapi gayanya keren banget. Kaya bukan driver taksi online.”


“Iya mungkin abangnya mau langsung pulang. Jadi tidak memakai aribut. Udah ah gue mau mandi dulu.”


Aku memasuki kamar mandi dengan membawa handuk. Kuputarkan keran yang membasuhi seluruh tubuhku. Rasanya menyegarkan. Tubuhku seakan kembali menemukan sebuah vitamin. Aku menikmati dinginnya air yang menghilangkan bau tidak sedap yang menempel di tubuhku. Aku sama sekali tidak bisa mendengar suara apapun diluar sana. Termasuk Alessyia yang berulang-ulang memanggil namaku.


“Cha lo dimana ?”

__ADS_1


“Lo udah pulang ?”


Padahal tadi aku samar-samar mendengar Alessyia berteriak memanggil namaku. Tetapi sekarang aku tidak dapat menemukan keberadaan Alessyia. Sudahlah, mungkin dia tidak sabar menunggu aku. Mungkin dia memutuskan untuk pulang.


“Kok handphone aku jadi ada disini ? Aku yakin tidak menaruhnya disini sebelum mandi.”


Aku masih mengingatnya dengan jelas. Handphone ini aku taruh di atas meja. Tetapi sekarang sudah tergeletak di kasur. Apa mungkin aku lupa?


Entahlah aku tidak mau pusing memikirkan hal sepele seperti itu. Fokus aku juga teralihkan oleh dering ponsel yang menandakan panggilan masuk.


“Hallo.”


“Bapak tidak apa-apa kan ?”


“Aku baik-baik saja. Memangnya kenapa ?”


“Angel takut Bapak kenapa-kenapa. Bapak gak ada kabar.”


“Apakah kamu marah ?”


“Tidak. Hanya saja Angel khawatir.”


“Kamu tidak ingin tahu alasan kenapa aku tidak menghubungi kamu ?”


“Tidak. Karena Angel paham kesibukan Bapak.”


“Maafkan aku ! Kamu telah sangat baik kepadaku. Kamu telah mengerti kesibukanku. Tetapi aku tidak mengerti bahwa kamu juga membutuhkan perhatian.”


“Angel kangen sama Bapak.”


“Tidak apa. Angel paham. Angel hanya tidak ingin menyimpan rindu ini sendirian.”


“Sabar ya. Kita pasti bisa menjalani LDR ini.”


“Angel juga percaya, bahwa kita mampu mengalahkan jarak.”


“Semangat kuliahnya sayang. Agar cepat wisuda.”


Aaaaaa mimpi apa aku semalam. Barusan Pak Angga bilang ‘sayang’ ? Apakah ini mimpi ? Tolong pegang tanganku agar aku tidak melayang terbang tinggi ! Bahagia sekali. Aku sangat bahagia.


Kebahagiaan itu sederhana. Tidak harus dengan harta berlimpah. Barang-barang mewah. Jalan-jalan keluar negeri. Diperlakukan dengan sangat baik oleh seseorang sangatlah membuatku bahagia. Mencintai seseorang yang juga membalas cinta kita. Dicintai dengan tulus sepenuh hati. Itu lebih bahagia dari mendapatkan hadiah berupa barang branded.


Sekarang aku mendapatkan kebahagiaan yang baru. Aku menemukan sosok yang bisa membuat aku bahagia. Pak Angga, dialah kebahagiaanku yang kedua setelah Mamah dan Papah.


***


“Cha . .”


“Echa tungguin !"


“Cha kok lo ninggalin gue sih ?”


Aku berteriak-teriak sambal mengejar Alessyia tetapi tidak ada jawaban sama sekali darinya. Alessyia terus melangkah meninggalkan aku seorang diri.


“Gapapa.”

__ADS_1


“Lo kenapa sih dingin gitu ? Lo masih sakit ?”


Ada apa dengan Alessyia ? Tidak seperti biasanya. Kenapa dia ninggalin aku ? Apakah aku melakukan kesalahan yang membuat Alessyia marah ? Padahal semalam kami masih baik-baik saja.


“Cha tungguin gue !”


“Angel.”


Tiba-tiba Kak Reza menghentikan langkah pelarianku. Ia baru saja keluar dari mobil yang membawanya kemari. Aku dapat melihat Alessyia menghentikan langkahnya. Bahkan sekarang dia sedang mengamati aku dan Kak Reza. Tetapi aku tidak bisa mengejarnya lagi. Kak Reza berdiri tepat dihadapanku.


“Kamu lari dari kost sampai sini ?”


“Enggak ko, Kak."


“Itu nafas kamu tersengal-sengal gitu.”


“Hehehe.”


“Besok Kakak jemput kamu, ya. Biar kamu gak usah lari-lari.”


“Tidak, Kak. Tidak usah. Kan dekat juga dari kost kesini. Hitung-hitung olahraga.”


Aku semakin tidak enak dengan Alessyia. Aku takut Alessyia benar-benar salah paham. Apalagi sekarang bukan hanya Alessyia yang mengamati aktifitas aku dan Kak Reza. Semua sorot mata tertuju pada kami. Mendadak kami berdua menjadi pusat perhatian.


“Kak, Angel duluan ya ! Ada kelas pagi.”


“Santai aja Angel ! Masih lama jam dimulainya.”


“Tidak apa, Kak. Angel harus bur-buru.”


“Nanti kita ketemu lagi. Oke ?”


Kak Reza mengedipkan sebelah mata sambil mengacungkan jempol. Aku hanya membalasnya dengan senyuman.


Aku tidak enak melintasi sekumpulan mahasiswi senior. Mereka menatapku penuh kedengkian. Aku sadar kesalahanku. Aku tidak seharusnya dekat sama Kak Reza. Jarang sekali wanita yang bisa mendekati Kak Reza. Bahkan senior-senior yang telah mengenal lama Kak Reza masih tidak berhasil mendapatkan hatinya. Sedangkan aku hanya seorang Mahasiswa Baru. Wajar saja mereka tidak suka jika melihat kedekatan yang terjalin antara aku dan Kak Reza. Walaupun tidak ada apa-apa yang terjadi antara aku dengan Kak Reza.


Aku tidak mau memikirkan hal tersebut. Sekarang aku hanya ingin menjelaskan kepada Alessyia. Aku tidak mau Alessyia marah karena salah paham.


“Cha, lo kenapa ? Apa salah gue ? Kenapa lo menjauh dari gue ?”


“Lo nanya apa salah lo ? Lo benar-benar gak tahu apa gak mau tahu ?”


“Gue sama sekali gak ngerti, Cha.”


“Lo tahu gue suka sama Kak Reza ?”


“Iya gue tahu, Cha.”


“Terus kenapa lo jalan sama Kak Reza.”


“Jalan apa Cha ?


“Gue gak bodoh Angel. Gue tahu kemarin lo jalan sama Kak Reza. Dan pagi ini setelah gue melihat Kak Reza turun dari mobil yang dikendarainya, gue semakin yakin yang nganterin lo semalam itu Kak Reza, bukan taksi online.”


*Bersambung*

__ADS_1


__ADS_2