My Teacher Is Mine

My Teacher Is Mine
MTIM-13 Kebimbangan Hati Angel


__ADS_3

“Lho pak Angga mau kemana ?”


“Saya mau pulang, Bu. Sudah malam.”


“Angel nya mana ? Kok gak nganterin Bapak ?”


“Tidak apa, Bu. Saya bisa sendiri. Biar Angel langsung istirahat.”


Entahlah, semuanya terasa membingungkan. Jawaban apa yang akan aku beri ? Tidak bisa kupungkiri, aku memang jatuh hati kepadanya. Tapi aku bukanlah wanita yang kejam. Bagaimana mungkin tega menyakiti hati wanita lain. Apapun itu alasannya, perselingkuhan tidak dapat dibenarkan.


“Angel . . .”


“Angel gue udah di depan.”


Sudah terdengar dari jenis suaranya. Siapa orang yang berani teriak-teriak di pagi buta. Untung saja aku berbaik hati tidak menyiramnya dengan air bekas cucian.


“Echa kenapa gak masuk ?”


“Eh iya tante. Echa nunggu disini aja.”


“Cha, sumpah lo ngeselin. Berisik tau gak sih lo. Sakit telinga gue masih pagi udah dengar teriakan cempreng lo.”


“Ya sorry. Gitu aja marah. Hehe.”


“Ihh malah ketawa lagi.”


“Maafin gue Angel. Udah yuk berangkat ntar kesiangan.”


Pagi ini ada janji yang harus aku tuntaskan. Janji yang telah dibuat dari jauh-jauh hari dengan Alessyia. Kembali mengunjungi tempat yang telah mengukir sejarah, dan menemani kisah remajaku.


Pagar yang di cat berwarna abu-abu beserta bangunan 3 tingkat yang diberi cat senada telah berada tepat di depan penglihatanku.


“Ini Ibu kasih beberapa brosur dari Universitas berbeda. Kalau kalian sudah yakin, nanti bisa langsung hubungi Ibu !”


“Baik, Bu.” Jawab aku dan Alessyia bersamaan.


“Kalau gitu kami permisi, Bu.”


“Angel, lo duluan ya ! Masih ada hal yang harus gue konsultasikan.”


“Kalau gitu gue tunggu di kantin ya, Cha.”


Beruntunglah jam keluar anak-anak belum dimulai. Sehingga kantin masih sangat kosong. Aku bisa leluasa memilih tempat yang aku inginkan. Untuk memesan makananpun tidak perlu menunggu lama. Berbeda pada saat waktu sekolah, aku harus mengantri untuk bisa menikmati makanan yang aku inginkan.


Pagi ini aku memilih menu nasi goreng, karena sedari pagi aku belum sarapan. Alessyia menjemputku terlalu pagi, aku tidak mempunyai waktu untuk sekedar meminum air putih.


“Ini Neng nasi gorengnya.”


“Iya, Bu. Makasih.”


Tidak lebih dari 10 menit sudah tersaji di meja tepat dihadapanku sepiring nasi goreng dilengkapi toping daging suwir dengan keju mozarella, disertai dengan jus jeruk yang tampak menggoda. Setelah aku melihatnya cacing-cacing di perutku semakin nyaring berbunyi. Beruntungnya tidak ada yang mendengar. Sehingga aku tidak perlu menahan rasa malu seperti waktu itu bersama pak Angga.


Sedang asiknya menikmati santapan yang sangat lezat, tiba-tiba seseorang menghampiriku. Hampir saja membuat selera makanku hilang.

__ADS_1


“Boleh saya duduk disini ?”


“Maaf ya Pak tapi kan di tempat lain masih ko . . song.”


Baru saja aku teringat saat bersama pak Angga. Dan sekarang dia telah duduk berlawanan dengan pandanganku. Entah kenapa dia selalu muncul secara nyata setelah sebelumnya hadir dalam bayanganku. Mungkinkah kami mempunyai keterikatan ? Itu hanyalah kebetulan. Sudah dibilang jangan terlalu berharap !


“Jadi gak boleh saya disini ?”


“Boleh. Maksud Angel silahkan, karena tempat ini milik umum. Siapa saja bebas untuk menempatinya.”


Aku tidak bisa berbohong bahwa kehadiran Pak Angga benar-benar aku inginkan. Sehingga spontan saja aku menjawabnya dengan penuh semangat. Tidak mungkin aku mengatakan ‘Tidak boleh’ atas tawaran yang pak Angga berikan. Terserah jika aku dianggap terlalu agresif. Toh aku juga tidak melakukan hal yang berlebihan terhadap Pak Angga. Setidaknya aku masih sadar, dan tahu batasan.


Aku sama sekali tidak menatap wajahnya. Aku hanya fokus untuk menghabiskan nasi goreng yang telah lama aku idamkan. Dan anehnya orang diseberang sana malah tertawa menyaksikan lahapnya aku makan.


“Kamu lucu.”


Uhuk. . .uhuk. . .


Perkataanya yang begitu tiba-tiba membuat makanan yang sedang aku kunyah nyangkut di tenggorokan. Ia segera menyodorkan jus jeruk yang langsung aku terima. Karena aku tidak tahan seperti ada yang mengganjal di dalam sana.


“Pelan-pelan makannya. Saya tidak akan minta.”


Aku sama sekali tidak merespon perkataannya. Aku tidak tahu harus bagaimana ? Kata apa yang harus aku keluarkan sekarang ? Aku tidak tahu.


“Kamu ada perlu apa ke sekolah ?”


Syukurlah kali ini dia melontarkan pertanyaan yang tidak susah untuk aku jawab.


“Angel habis bertemu guru BK untuk meminta rekomendasi beberapa Universitas.”


“Belum, Pak. Angel harus mendiskusikannya dengan Papah terlebih dahulu.”


“Angel, apa kamu sudah siap untuk menjawabnya ?”


Please ! Angel kira pak Angga sudah melupakan itu, sehari saja. Angel masih tidak tahu harus menjawab apa. Masih banyak hal yang harus Angel pikirkan.


“Haiii.”


“Cha, lo kebiasaan banget. Bisa gak sih sehari saja gak ngagetin gue ?”


Bagaimana aku tidak kaget, disaat pikiran aku sedang kosong, tiba-tiba tepukan keras mendarat di bahu.


“Ya maaf ! Marah-marah mulu ntar cepet tua lho.”


“Ehh ada pak Angga. Sejak kapan disitu, Pak ?”


“Sejak kamu belum kesini.”


“Pak Angga dari tadi disini. Lo nya aja yang tidak sadar.”


“Lo mau pulang bareng gue ? Atau dianterin sama Pak Angga ?”


“Gue ikut lo !”

__ADS_1


Aku segera berlalu meninggalkan Pak Angga seorang diri, sebelum aku dicecar kembali dengan pertanyaan-pertanyaan yang aneh. Aneh, karena aku sendiri tidak yakin dengan perasaanku. Masih terasa ada yang mengganjal. Tapi entah apa itu.


Kedekatan antar dua keluarga aku dengan Alessyia tidak dapat ditutupi. Mamahku telah menganggap Alessyia seperti anaknya. Begitupun dengan Alessyia, telah menggangap Mamahku sebagai Ibu kedua. Berlaku pula untuk aku dan Mami Alessyia. Sehingga bagi kami, rumahku adalah rumah Alessyia, dan rumah Alessyia adalah rumahku.


“Ngel lo kenapa sih dari tadi bengong terus ?”


“Gapapa, Cha.”


“Gapapa gimana ? Lemes gitu.”


“Cha, gue bingung.”


“Kenapa ? Ada masalah apa sih ?”


Walaupun Alessyia terkesan orang yang berisik, tetapi dia adalah sahabat yang paling bisa di andalkan. Ia tidak pernah membocorkan rahasia yang kami buat. Sehingga aku tidak ragu untuk menceritakan segala masalah yang aku hadapi kepada dia.


“Cha, Pak Angga mengutarakan perasaannya ke gue.”


“Tungu. . tunggu. Maksud lo perasaan ? Perasaan apa ?”


“Dia bilang cinta, Cha ?”


“Cinta ? Cinta apa gue gak ngerti ?”


“Pak Angga bilang dia cinta sama gue, Cha.”


“What ? Serius lo ? Sumpah demi apa ?”


“Ssstttt. Jangan berisik ! Kalau Mamah gue dengar gimana ?”


“Tuh kan, Ngel. Gue juga bilang kalau Pak Angga itu suka sama lo. Terus kalian udah jadian ?”


“Enggak lah.”


“Kenapa enggak ? Bukannya lo juga suka sama Pak Angga ?”


“Gue emang suka sama Pak Angga, Cha. Gue cinta.”


“Terus nunggu apa lagi. Pak Angga udah nembak lo !”


“Masalahnya tidak semudah itu, Cha.”


“Lantas apa ? Perbedaan usia ?”


“Aku tidak mempermasalahkan usia kami yang terpaut jauh.”


“Terus apa lagi, Ngel ? Lo udah lulus dari sekolah, dan itu tidak akan lagi jadi masalah.”


“Pak Angga sudah menikah.”


Seketika tangisanku pecah. Air mata yang sudah susah payah aku bendung tidak dapat tertahan lagi.


“Karena Pak Angga sudah menikah, Cha. Dia telah mempunyai anak. Apa perasaan gue pantas disebut cinta ? Bagi gue, cinta sejati tidak akan ada yang tersakiti. Jika rasa gue kepada Pak Angga nantinya akan ada hati yang tersakiti, itu bukan cinta, tapi emosi.”

__ADS_1


*Bersambung*


__ADS_2