My Teacher Is Mine

My Teacher Is Mine
MTIM-49 Menolak Restu Pak Angga


__ADS_3

Terkadang sesuatu yang kita harapkan tidak dapat terwujud. Kita hanya bisa berencana. Tetapi Tuhan yang menentukan segalanya.


Bbrraaakkkk. . .


Aku segera menjauh dari Pak Angga. Begitupun dengan Pak Angga. Ia melepaskan tanganku dan langsung berdiri menjauhi posisi aku duduk. Aku tidak bisa lagi menghindar. Mungkin ini waktunya aku menceritakan perihal Pak Angga dan hubungan kami. Sudah terlambat untuk mencari alasan. Mereka telah mengetahui aku berduaan bersama Pak Angga.


“Angel. . .”


Aku dapat melihat muka merah yang dipenuhi oleh amarah. Aku tidak tahu kenapa mereka bisa tiba-tiba ada disini. Bukankah seharusnya mereka sibuk dengan aktivitasnya masing-masing.


“Pah, ini tidak seperti yang Papah pikirkan. Aku tidak melakukan. . .”


“Papah gak mau dengar penjelasan apa-apa dari kamu.”


“Tapi Pah, Angel dan Pak Angga. .”


“Dan Anda. Saya pikir Anda adalah guru yang terhormat. Saya sangat menghargai Anda. Mengagumi dan bahkan menyukai Anda. Tapi apa yang Anda lakukan bersama putri saya ? Padahal saya telah mempercayai Anda.”


Aku tidak bisa menjelaskan kepada Papah. Setiap aku membuka mulut, Papah segera memotong argumen yang ingin aku sampaikan.


“Saya dan Angel tidak melakukan apa-apa, Pak.”


“Saya sangat menyesal telah mempercayai Anda. Ternyata Anda tidak lebih dari orang hina.”


“Pah stop ! Jangan hina Pak Angga seperti itu. Pak Angga gak salah apa-apa. Kalau Papah mau marah, marahin aja Angel ! Hukum Angel ! Asal jangan Pak Angga.”


“Kamu jadi berani berteriak sama orang tua pasti pengaruh dari guru kamu yang sok kecakepan ini, iya ?”


“Enggak Pah. . .”


“Papah gak pernah berkata kasar dan menaikan suara ketika berbicara sama kamu, Angel. Kamu gak punya sopan santun kepada kedua orang tua kamu sendiri.”


Aku berpaling dan menutupi pipiku. Mamah segera menahan pergerakkan tangan Papah yang menyisakan 5 cm mendarat di pipiku.


“Pah, stop ! Jangan kasar sama Angel ! Ini bisa dibicarakan lagi.”


Mamah segera memeluk aku untuk melindungi dari amarah Papah yang semakin meledak-ledak. Dalam pelukannya air mataku tumpah.


“Hiks. .hiks. .hiks.”


“Cup cup ! Maafkan Papah sayang. Papah lagi kebawa emosi aja.”

__ADS_1


“Angel takut, Mah. Hiks. . hiks. .”


Tiba-tiba orang yang sangat aku tidak ingin melihatnya masuk melalui pintu. Seperti biasa dengan wajah polos tanpa dosa ia muncul dengan senyuman naifnya. Sungguh aku sangat kesal. Kenapa dia bisa ada disini ? Bagaimana caranya mengetahui keberadaan aku sekarang ?


“Frans. . .”


“Hallo Angel ? Apa kabar ?”


“Lo ngapain disini ? Pergi sekarang ! Gue gak mau lihat lo lagi.”


“Eits, tenang dulu ! Bukan gue yang seharusnya pergi dari sini. Tapi dia !”


Frans menunjuk ke arah Pak Angga. Apa maksud dengan perkataannya tentang Pak Angga yang harus pergi dari sini ? Siapa dia sampai berani sekali mengusir Pak Angga. Yang ada juga dia yang harus pergi dari sini. Karena melihatnya saja membuat aku mual.


“Pak Angga, saya minta Anda keluar dari sini !"


Papah seakan mendapat perintah dari Frans. Ia segera mengusir Pak Angga dari sini. Aku bingung. Apa yang harus aku lakukan ? Jika aku menahannya itu akan membuat amarah Papah semakin menjadi-jadi.


“Saya yakin Anda tahu caranya meninggalkan kaki dari sini. Apa perlu saya tunjukkan caranya ?”


“Paahhh. . .”


“Baik. Saya keluar dari sini sekarang.”


Aku tidak bisa melawan Papah. Hanya tangisan air mata yang mengiringi langkah kaki Pak Angga.


“Kenapa kamu berhubungan sama orang yang sudah berkeluarga ? Apa kamu gak punya harga diri ? Kamu itu cantik Angel. Masih banyak yang ingin sama kamu. Kenapa harus Pak Angga yang sudah mempunyai anak dan istri ?”


“Tapi mereka sudah bercerai, Pah.”


“Apa bedanya kamu dengan pelakor ? Kamu salah satu bagian dari mereka Angel.”


“Enggak, Pah. Aku tidak merusak rumah tangga Pak Angga. Hubungan mereka retak jauh sebelum kehadiran Angel di dalam kehidupan Pak Angga.”


“Enggak, om. Itu bohong. Jelas dia masih mempunyai keluarga.”


“Frans ! Lo gila ? Lo tahu apa tentang Pak Angga ?”


“Gue tahu dia sudah menikah. Nama istrinya Windy. Dan anaknya Rendy berusia 3 tahun.”


“Frans, lo gak tahu kisah sesungguhnya.”

__ADS_1


“Udah cukup ! Jangan pernah kamu berhubungan lagi dengan Pak Angga. Kalau kamu masih berkomunikasi bahkan sampai bertemu, Papah akan mencabut semua fasilitas yang Papah berikan. Kamu akan mengurus hidup dan mencari nafkah sendiri. NGERTI ?”


“Hiks. . .hiks. . .”


Semakin banyak air mata yang keluar. Telah cukup lama aku menangis, tetapi air mataku masih enggan untuk mengering. Melihat kepergian Pak Angga di depan mataku sendiri, apalagi sebelumnya telah dibentak oleh Papah, itu membuat hatiku sakit. Ditambah dengan kemarahan Papah yang sudah di ubun-ubun membuat aku sangat ketakutan. Jika tidak ada Mamah yang memeluk aku, aku gak tahu apakah masih bisa berdiri seperti ini.


“Om, tante, ijinkan saya menjadi pacarnya Angel.”


“Frans, maksud lo apa ?”


“Saya akan menjaga Angel. Termasuk dari laki-laki berhidung belang seperti Pak Angga.”


“Enggak. Gue gak mau. Sampai kapanpun gue gak mau jadi pacar lo.”


Aku tahu sumber masalah ini dari Frans. Aku ingat ucapannya bahwa dia ingin mencari tahu kebenaran Pak Angga dan menjauhkannya dariku. Dia yang mengatakan kepada orang tuaku bahwa Pak Angga telah berkeluarga. Tetapi dia menjelaskan tidak sampai ke akarnya. Pasti Frans tidak bilang kalau sebenarnya Pak Angga telah bercerai. Aku gak tahu apa yang direncanakan oleh Frans Psycho. Apa maksudnya dengan meminta ijin untuk menjadi pacarku kepada Papah dan Mamah.


“Saya janji om, tante, akan mencintai dan menyayangi Angel setulus hati.”


“Oke, om setuju.”


“Enggak, Pah. Jangan. Dia itu psycho, Pah.”


Aku berusaha membujuk Papah tetapi tidak di respon sama sekali. Aku berbicara seperti televisi yang ditinggal tidur oleh si pemiliknya.


“Mah, Angel gak mau sama dia. Dia itu yang Angel ceritakan. Dia selingkuh ketika masih menjadi pacar Angel. Angel gak mau, Mah.”


Mamah bukannya tidak ingin membantu. Tetapi pusat kendali Papah yang pegang. Jika ada yang berani melawan perintahnya, sudah dipastikan akan mendapatkan hukuman darinya. Salah satu jalan terakhir bagiku adalah menerima segala keputusan Papah. Aku juga tidak ingin meminta bantuan Mamah untuk memohon kepada Papah. Aku takut Papah akan berlaku kasar kepada Mamah. Dan pada akhirnya Mamah akan terluka. Aku gak mau melihat Mamah kesusahan.


Papah dan Mamah berpamitan untuk keluar mencari angin. Mungkin udara segar bisa membantu pikiran Papah lebih tenang.


“Angel. . .akhirnya aku bisa mendapatkan kamu lagi.”


“Frans, maksud lo apa ? Gue gak mau jadi pacar lo. Dan gue belum memberikan jawaban.”


“Aku tidak butuh jawaban darimu, Angel. Yang terpenting aku sudah mendapatkan ijin dari orang tua kamu, khususnya Papah kamu. kamu gak mungkin bisa menolak Papah kamu kan ?”


Frans seperti tahu apa yang menjadi kelemahanku. Ia menggunakan Papah sebagai senjata. Licik. Frans orang terlicik yang pernah aku jumpai.


“Frans lo sangat licik. Bagaimana bisa lo menghalalkan segala cara untuk mendapatkan keinginan lo ? Mungkin lo bisa membeli barang-barang mewah limited edition dengan uang yang lo miliki. Lebih tepatnya itu uang orang tua lo. Tetapi lo gak mungkin bisa membeli hati dan perasaan seseorang. Kalau lo ingin tahu rasanya dicintai secara tulus. Maka cara mendapatkannya pula harus dengan jalan yang benar."


*Bersambung*

__ADS_1


__ADS_2