My Teacher Is Mine

My Teacher Is Mine
MTIM-120 Berterus Terang


__ADS_3

Sebelum lanjut jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak berupa like, komen, rate 5 & vote seikhlasnya 🥰


Semuanya itu gratis kok. Tapi sangat berarti untuk author. Karena itulah penyemangat author😍😍


Salam sejahtera untuk kita semua 😇😇


Terimakasih 🙏🙏🙏


**************************************************


Aku masih enggan membuka mata. Apalagi Pak Angga belum beranjak dari posisinya. Justru dia semakin asik menggodaku. Tangannya melingkar di punggungku dan secara perlahan mulai menaik sampai menyentuh leherku. Sentuhan yang sangat lembut membuat tubuhku merinding.


Ingin sekali aku menendang tubuh Pak Angga agar menjauh dariku. Tetapi aku tidak mungkin membuat orang yang aku cinta terluka. Apa yang akan dia lakukan sekarang kepadaku, aku tidak tahu. Tapi yang pasti, aku belum siap untuk melakukan sesuatu hal yang belum pernah aku lakukan sebelumnya.


Pak Angga berbisik lirih, hembusan nafas beraroma menyegarkan kembali menyengat masuk ke hidungku, “Tidak usah takut! Aku melakukannya dengan sangat lembut.”


Entah apa maksud dari perkataannya barusan. Tapi yang pasti berhasil membuat bulu punukku kembali merinding. Lengan kiri Pak Angga semakin mendorong tubuhku dan mendekapnya erat. Sedangkan tangan kanannya menahan tengkuk aku agar wajah kami semakin mendekat.


Aku semakin memejamkan mata dengan bibir bawah yang digigit. Irama detak jantungku semakin tidak beraturan. Kaki kanan dan kiri melemas seakan kehilangan tenaganya. Tubuhku gemetar, seperti habis melihat sesuatu yang menakutkan.


“Hahaha.”


Aku kembali mendengar gelak tawa khas pita suara pria. Dengan mata yang masih menutup, tetapi aku dapat mengenali sumber suara tersebut. Lagi lagi Pak Angga tertawa dengan sangat lepas. Dan aku masih tidak mengerti alasannya.


Pergerakanku masih dikunci olehnya, tetapi aku berusaha memberanikan diri untuk membuka mata. Dan benar saja, aku dapat melihat paras tampan yang sedang menampilkan lengkungan garis bibirnya.


“Kenapa ketawa?”


“Kenapa? Kamu kecewa karena aku tidak jadi melakukannya?”


“Huh? Apa?”


Pak Angga mulai mengubah posisinya. Ia beranjak mundur beberapa langkah agar tubuh kami berjarak. Tangannya juga terlepas dari pinggangku. Hanya menyisakan tangan kanan yang kini sedang membelai lembut rambutku.


“Sudah aku katakan jauh-jauh hari bahwa aku tidak akan melakukannya sebelum kamu siap. Kecuali jika kamu yang meminta, maka aku akan mengabulkan. Tetapi jika kamu tidak menginginkannya, maka aku tidak akan melakukannya. Aku tidak akan memulai terlebih dahulu, sebelum kamu yang menginginkannya.”


Setelah beberapa kalimat yang Pak Angga ucapkan, ia membalikan badannya dan melangkah mendekati pintu. Tanpa permisi dan berpamitan, kaki kirinya sudah keluar melewati pintu.


“Pak Angga mau kemana?”

__ADS_1


“Aku mau pulang. Sudah larut malam. Tidurlah! Besok kamu harus kuliah. Nanti aku kembali lagi, setelah berhasil menyelasikan misi.”


“Tu-tunggu!”


“Ada apa lagi? Aku tidak mau berlama-lama disini. Aku takut akan menelan ludahku sendiri karena gagal mengendalikan nafsuku. Kamu tahu kan kalau aku juga seorang pria yang normal?”


Apa yang di ucapkan oleh Pak Angga benar. Aku juga tidak mau peristiwa seperti tadi terulang lagi. Jika sampai kembali terjadi, sudah pasti aku tidak bisa bebas lagi dari cengkraman Pak Angga. Setelah langkah kaki beliau tidak lagi terlihat, aku segera kembali masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu.


Cukup lama untuk dapat terlelap. Karena pikiranku masih berkutik dengan semua ucapan Pak Angga serta perlakuannya kepadaku beberapa menit yang lalu. Hingga mataku sudah sangat berat untuk terbuka, barulah aku dapat tertidur.


Tidak lama setelah aku terlelap, matahari sudah kembali memancarkan sinarnya. Entah mungkin karena waktu tidurku yang singkat, sehingga aku merasa baru tidur beberapa jam. Tetapi aku tidak mungkin tetap bersembunyi di balik selimut. Aku masih harus kembali melanjutkan aktivitas sehari-hari, termasuk kuliah.


Kali ini, wajahku tidak memancarkan sinar menyilaukan seluruh mata yang melihat. Mataku juga tidak berbinar, seperti terdapat masalah dibaliknya. Alessyia yang paham bagaimana situasi dan kondisiku, sudah pasti menyadari keanehan yang terjadi padaku pagi ini. Apalagi aku tidak banyak bicara. Hanya menjawab setiap pertanyaan yang datang dengan sangat singkat.


“Angel, lo kenapa sih? Aneh banget pagi ini? Lo ada masalah apa? Atau lo berantem lagi sama bokap?”


“Gak papa.”


“Gak mungkin. Biasanya lo tuh gak banyak diam kayak sekarang. Cerita dong sama gue!”


“Gak papa, Cha.”


Ketika jam pelajaran telah usai, aku juga tidak menyadarinya. Jika bukan diseret oleh Alessyia, mungkin aku akan diam duduk di kursi sampai jam pelajaran kembali dimulai atau sampai jam pulang tiba. Setelah tiba di kantin juga aku masih menatap dengan tatapan kosong.


“Angel, lo mau makan apa?”


“Terserah.”


“Lah kok terserah sih. Kan lo yang mau makan, bukan gue.”


“Samain aja kayak lo.”


Aku memang menjawab, tapi jujur pikiranku tidak fokus kepada orang-orang yang berbicara. Ajakan untuk memulai kembali suatu hubungan sampai Pak Angga kembali pulang masih terngiang-ngiang di benakku.


Kehadiran Alessyia dengan membawa dua mangkuk mie ayam juga tidak disadari olehku. Tak lama hadir pula Kak Aldo dan Kak Beni. Sapaan dari mereka juga tidak mendapatkan balasan dariku.


“Cha, Angel kenapa sih? Kok aneh gitu ekspresi mukanya? Kita tanya juga gak dijawab.” Tanya Kak Beni heran.


“Echa juga gak tahu, Kak. Sejak pagi kita berangkat ke kampus, Angel sama sekali tidak berubah. Tatapannya kosong, fokusnya hilang, tidak banyak bicara. Bagaimana Echa bisa tahu kalau Angel tidak berbicara apa-apa sama Echa.”

__ADS_1


“Angel…"


“Angel…”


Kak Aldo dan Kak Beni bergantian memanggil namaku disertai dengan tepukan pelan yang mendarat di bahuku. Aktivitas tersebut sama sekali tidak membuyarkan lamunanku. Justru aku semakin terbuai dalam lamunan. Hingga suara teriakan yang sangat mengganggu gendang telingaku berhasil membuat kesadaranku kembali.


“ANGEL!!!”


“Whoaa…” Sontak aku memukul wajah Alessyia yang saat ini berada dekat dengan telingaku.


“Aww Angel, sakit tahu.” Ucap Alessyia sambil mengelus pipinya. Mungkin benar pukulanku terlalu keras, sehingga membuatnya kesakitan.


“Eh maaf maaf! Gue gak sengaja, Cha. Lagian ini salah lo. Kalau lo gak ngagetin gue, lo juga gak bakal kena pukulan gue.”


“Lo tuh ya, udah salah gak mau di salahin lagi. Malah nyalahin gue.”


“Ehh udah stop! Kenapa jadi berdebat sih? Udah jangan dilanjutkan! Bisa bahaya. Nanti kalian bisa berantem.” Ucap Kak Aldo menenangkan.


Jika tidak ada Kak Aldo dan Kak Beni, sudah pasti aku dan Alessyia masih adu mulut. Bahkan jika hanya menyisakan kami berdua, sudah pasti akan melakukan hal yang dapat menyakitkan satu sama lain, saling menjambak misalnya.


Aku dan Alessyia saling meminta maaf satu sama lain. Tidak ada yang benar di antar kami. Semuanya melakukan kesalahan. Dan kami menyadari itu. Tetapi kami sudah memaafkannya, sehingga tidak ada lagi dendam yang tersisa.


“Angel, Kak Ben mau tanya, kenapa hari ini kamu terlihat berbeda? Ada masalah dengan kamu?”


Sejenak aku terdiam, menghentikan gerakan sendok dan garpu yang mengambil mie dalam mangkok. Tanganku beralih untuk mengambil gelas berisi teh manis dan menyeruputnya dengan pelan.


Batinku berkata, “Apakah aku menceritakan semuanya kepada mereka? Bagaimana kalau mereka juga menentang hubungan aku dengan Pak Angga?”


Aku tidak tahu teman-temanku akan berada di pihak aku atau Papah. Aku menceritakan kepada mereka bukan untuk mendapatkan dukungan, hanya saja aku ingin pikiranku lebih tenang karena beban yang ada sudah dibagi.


“Semalam Pak Angga datang ke kediaman Angel.”


“Hah?” Ucap Alessyia, Kak Aldo dan Kak Beni kompak.


“Mau ngapain lagi dia?” Tanya Kak Beni.


“Pak Angga meminta kesempatan kedua kepada Angel untuk memperbaiki hubungan kita lagi. Dia berjanji tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Apapun yang terjadi, dia tidak akan pernah meninggalkan. Dia juga sudah berjanji akan mendapatkan restu dari Papah, baru kami akan memulai hubungan seperti dulu lagi.”


*Bersambung*

__ADS_1


__ADS_2