
2 EPISODE TERAKHIR !!!
Sebelum lanjut jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak berupa like, komen, rate 5 & vote seikhlasnya 🥰
Semuanya itu gratis kok. Tapi sangat berarti untuk author. Karena itulah penyemangat author😍😍
Author ingin menyampaikan bahwa MTIM akan END hanya menyisakan 3 episode lagi.
Tetap saksikan terus kelanjutan kisah cinta Angel dan Pak Angga ya 🥰🥰
Salam sejahtera untuk kita semua 😇😇
Terima kasih 🙏🙏🙏
**************************************************
Memang ini bukan pertama kalinya bagiku bertatap muka dengan Pak Angga dalam keadaan belum mandi. Tetapi tetap saja aku masih merasa malu. Ini benar-benar memalukan. Aku takut jika Pak Angga akan ilfeel melihat keadaan kucel aku ketika baru bangun tidur.
Untung saja tadi aku bergegas membalikan badan. Tetapi mungkin Pak Angga sudah mengetahui kehadiranku sejak pertama menuruni tangga. Setidaknya dia hanya sepintas menatapku. Tidak dalam jangka waktu yang lama.
Setelah berlari menuju kamar mandi dan mengguyur seluruh tubuh menggunakan air dingin, aku segera kembali menghampiri meja makan. Dengan outfit santai celana jeans biru donker serta kaos polos dilengkapi dengan sepatu kets. Meskipun masih terasa memalukan, tetapi sudah mulai menghilang tergantikan dengan rasa percaya diri yang dibantu oleh setelan pakaian yang aku pakai hari ini.
Selama proses sarapan pagi diselingi dengan perbincangan hangat. Pak Angga yang meminta izin untuk membawa aku kembali ke Bandung, serta Papah yang memberikan beberapa petuah kepada Pak Angga. Barulah setelah selesai menikmati sarapan pagi, aku dan Pak Angga segera melangkah memasuki mobil. Pak Angga segera menancap gas dan membunyikan klakson sebagai tanda perpisahan.
“Angel…”
“Heem.”
“Kamu tadi kenapa lari?”
“Huh? Itu… itu…” Jawabku gugup.
“Kamu lupa ya, itu bukan pertama kalinya aku melihat kamu baru bangun tidur. Kenapa kamu masih malu?”
“Hmmm, Angel tidak mau jika nanti kamu ilfeel karena melihat muka Angel yang sangat jelek ketika baru bangun tidur.”
Pak Angga terkekeh geli. Tatapan matanya masih fokus menatap jalanan. Tangan kanan masih mengoperasikan setir kemudi. Tangan kiri menggenggam tanganku. Sekilas ia menengok kepadaku dan memberikan senyuman yang sangat indah untuk dilewatkan.
__ADS_1
“Jika suatu hari nanti kita telah menikah, maka aku akan menjadi orang pertama yang melihat kamu dalam keadaan baru membuka mata. Apa kamu pikir aku akan ilefeel? Tidak sayang. Justru aku akan sangat menikmati muka natural kamu. Jadi, jangan pernah malu lagi kepadaku! Kamu harus ingat satu hal, aku tidak akan pernah meninggalkan dalam keadaan apapun. Badai saja kita lewati bersama. Apalagi masalah sepele seperti itu.”
Pak Angga membawa tanganku untuk memberikan kecupan di sana. Tatapan matanya melirik ke arahku. Aku tersenyum kepadanya. Ucapan beliau selalu membuat aku terharu. Hanya dia pria selain Papah yang berhasil membuat aku merasa aman, nyaman dan tenang ketika berada di dekatnya. Aku sangat berharap, jika Pak Angga menjadi pelabuhan terakhirku. Melanjutkan tugas sosok Papah dalam hidupku.
“Bee, Angel boleh gak memberikan kabar bahagia ini kepada teman-teman Angel?”
“Maksudnya kabar yang mana?”
“Soal restu Papah, Bee…”
“Oh itu, boleh dong sayang.”
“Yeayy! Makasih, Bee.”
Aku tidak dapat menemani Pak Angga selama perjalanan. Kantuk datang secara tiba-tiba dan aku tidak bisa melawannya. Sehingga aku tertidur dan baru bangun ketika Pak Angga membangunkan dan berkata bahwa kita telah sampai.
Perlahan aku membuka mata. Sinar mentari dari kaca depan terasa menyilaukan, sehingga aku menyipit untuk mengembalikan penglihatanku. Dan ternyata benar, mobil yang dikendari oleh aku dan Pak Angga telah terparkir di depan bangunan indekost.
“Sayang, aku langsung pulang ya! Kasihan Rendy, sudah lama tidak berjumpa.”
“Nanti aku kesini lagi, oke?”
“Baiklah. Titip salam buat Rendy sama Bi Rani ya, Bee!”
Pak Angga hanya menjawab ucapanku dengan acungan jempol serta mata yang dikedipkan sebelah. Beliau segera menancapkan gas meninggalkanku setelah sebelumnya berpamitan untuk pulang. Setelah mobilnya tidak nampak dalam penglihatanku, aku segera memasuki kamar yang telah dua hari aku tinggalkan.
Beruntunglah sebelum aku meninggalkan kamar ini, telah dibereskan terlebih dahulu. Sehingga aku bisa langsung merebahkan badan di atas ranjang. Ketika mataku terpejam, tiba-tiba aku mengingat sesuatu. Aku segera mengambil handphone yang di simpan di dalam tas. Tujuan utamaku mengirim pesan pada grup chat.
‘Ada sesuatu yang ingin Angel sampaikan. Nanti malam Angel tunggu di kafe dekat kampus, ya!’
Kurang lebih seperti itu pesan yang aku kirim. Tidak lama muncul balasan dari Alessyia, Kak Aldo dan Kak Beni. Mereka bertanya apa yang ingin aku sampaikan. Tetapi tidak ada balasan dariku. Aku hanya akan mengatakannya ketika tatap muka secara langsung, tanpa perantara.
“Sekarang tinggal memberitahu Pak Angga.” Gumamku lirih.
Aku segera mencari nomor Pak Angga untuk melakukan panggilan telepon. Tidak lama aku menunggu, orang diseberang sana telah menjawab panggilan tersebut.
“Iya sayang, ada apa? Aku baru nyampe lho, masa iya kamu udah kangen lagi?”
__ADS_1
“Bee, nanti malam kita ketemu di kafe yang di dekat kampus ya!”
“Iya nanti aku kesana. Tapi emangnya ada apa sih?”
“Nanti juga kamu tahu.”
Tidak ada penjelasan lagi dariku. Bahkan kepada Pak Angga saja aku tidak berbicara alasan kenapa ingin bertemu di salah satu kafe yang berlokasi di samping depan kampus. Rasanya aku tidak sabar ingin segera tiba malam nanti dan bertemu dengan teman-teman. Walaupun tidak berjumpa baru dua hari, rasa rindu telah hadir di hati.
Akhirnya aku terjaga sampai tiba waktunya. Mataku juga susah untuk terlelap, meskipun aku telah berusaha untuk membuatnya tidur dan tubuhku juga sudah berbaring di atas ranjang, tetapi tidak bisa tidur pulas.
Pak Angga mengirimkan pesan yang mengabarkan bahwa dia telah ada di bawah. Aku segera menuruni anak tangga dan menghampiri seseorang yang tengah berdiri di samping mobil hitamnya. Setelah bertegur sapa, Pak Angga membuka pintu penumpang agar aku bisa masuk. Kemudian dia berputar dan menempati kursi kemudi. Pelan tapi pasti, mobil Pak Angga melaju menuju tempat tujuan.
Setibanya di kafe, Pak Angga menggandeng tanganku. Di dalam sana telah ada Kak Beni menunggu dengan tangan dan mata memainkan smartphone. Tetapi ketika menyadari aku dan Pak Angga tiba, ia menghentikan aktivitasnya dan beralih menatap kami.
“Akhirnya… Dua sejoli yang terpisah kembali bersatu. Selamat ya Angel, Pak Angga!”
“Terimakasih, Kak.”
Aku menjawab ucapan selamat Kak Beni dengan senyuman yang tergambar. Sedangkan Pak Angga hanya menjawabnya dengan senyuman, kemudian Pak Angga memundurkan kursi yang akan aku tempati. Kami masih menunggu kehadiran Alessyia dan Kak Aldo sambil memesan minuman.
Tidak lama, orang yang kami nanti tiba dengan tangan Alessyia yang di gandeng mesra oleh Kak Aldo. Bahkan mereka saling menatap dan bertukar senyuman. Tentu saja aktivitas tersebut berhasil menarik perhatian kami bertiga.
“Ini apa-apaan sih? Pertama Angel datang di gandeng Pak Angga. Kedua Alessyia juga di gandeng sama Aldo. Kalau Angel sih gak papa, kan mereka memang sudah lama berpacaran. Nah ini kalian berdua? Apa maksudnya?" Tanya heran Kak Beni.
Belum ada jawaban dari Alessyia maupun Kak Aldo. Mereka mengambil posisi untuk duduk. Sama dengan yang dilakukan Pak Angga, Kak Aldo juga memundurkan kursi yang akan ditempati oleh Alessyia. Kak Beni semakin bingung menyaksikannya.
Setelah minuman yang di pesan berada di hadapan kami, aku mencoba untuk membuka acara.
“Sebelumnya Angel minta maaf karena telah mengganggu waktu kalian. Sebenarnya yang Angel sampaikan juga tidak terlalu penting. Tetapi menurut Angel, ini sangat berarti. Dan Angel pikir kalian sebagai teman baik Angel juga harus mengetahuinya.”
Sejenak aku menarik nafas dalam, kemudian menyerahkan pembicaraan kepada Pak Angga.
“Syukur Alhamdulillah, saya telah mendapatkan restu dari kedua orang tua Angel. Kita bisa kembali menjalin hubungan secara terbuka. Saya juga sangat berharap dukungan dari kalian. Dan semoga kalian bisa menerima kehadiran saya di dalam pertemanan yang kalian ciptakan.”
Semua yang hadir memberikan ekspresi penuh kebahagiaan, senyum yang merekah. Mereka bergantian memberikan ucapan selamat serta mendoakan yang terbaik untuk hubungan aku dan Pak Angga ke depannya.
*Bersambung*
__ADS_1