My Teacher Is Mine

My Teacher Is Mine
MTIM-52 Menendang Senjata


__ADS_3

Seseorang dapat menciptakan kenyamanan sendiri. Ketika bersamanya hati menjadi tenang. Tidak ada risau, resah dan gelisah. Dan hanya bersamanya tempat untuk berbagi segala cerita di berbagai situasi dan kondisi.


“Kamu belum cerita, kenapa kamu lari-lari ?”


“Oh itu. . hmmm. . .”


Bagaimana aku menjelaskannya ? Aku bingung untuk menyusun katanya. Aku takut Pak Angga akan salah paham. Padahal kami baru saja menikmati kebersamaan yang telah lama tidak terjalin.


“Kalau kamu tidak mau cerita gak papa. Aku tidak maksa.”


“Bukan itu, Bee. Tapi. . .”


“Apa sayang ?”


“Tapi janji ya, jangan marah !”


“Tergantung bagaimana ceritanya.”


“Ih kok gitu sih. Ya udah Angel gak mau cerita. Angel gak mau Pak Angga salah paham dan marah. Angel masih kangen sama Bapak, masa harus diisi dengan perdebatan.”


“Hahaha. Kamu itu lucu banget. Aku cuma becanda, sayang. Aku janji gak akan marah. Apapun itu yang akan kamu ceritakan.”


Pak Angga mencubit pipi kananku. Kemudian dia menggenggam jemariku untuk meyakinkan bahwa semuanya akan baik-baik saja.


“Jadi gini, Bee. Frans menjadi tangan kanannya Papah untuk menjaga Angel. Dia antar jemput Angel kemanapun Angel pergi. Termasuk antar jemput Angel kuliah. Tadi juga pulang kuliah dia jemput Angel. Terus dia ikut masuk ke kamar Angel. Padahal Angel sudah melarangnya. Terus. . .”


Aku menarik nafas dalam-dalam dan membuangnya perlahan. Pikiranku berputar kepada peristiwa satu jam yang lalu. Aku masih enggan untuk bercerita. Tetapi aku tidak ingin ada yang dirahasiakan antara aku dan Pak Angga. Toh emang aku dan Frans gak melakukan apa-apa. Semoga saja Pak Angga mengerti dan tidak marah.


“Terus apa sayang ?”


“Terus Frans mau mencium Angel. Jelas Angel gak mau. Angel tampar aja tuh pipinya sekencang-kencangnya.” Kataku dengan semangat menceritakannya.


“Angel juga menendang senjatanya Frans.” Pada kata-kata bagian itu aku sedikit mengecilkan volume suara agar tidak terdengar oleh orang lain.


“Hahahaha.”


Pak Angga tidak marah sama sekali. Sebaliknya, dia malah tersenyum sangat puas mendengar ceritaku.


“Kamu gak kasihan ? Itu pasti sakit banget lho sayang.”


“Siapa suruh berani bermain-main dengan Angel. Biar tahu rasa dia.”


Dred. .dred. .


Dering ponsel menghentikan gelak tawa Pak Angga. Aku melihat nama siapa yang tertera di bagian atas layar. Aku melirik ke arah manik mata Pak Angga. Seolah mengerti dari isyarat tubuh yang aku lakukan, Pak Angga mengijinkan aku untuk menjawab panggilan tersebut.


“Iya, Pah.”

__ADS_1


“Kamu dimana Angel ? Frans katanya nyariin kamu.”


“Angel lagi di mini market beli keperluan khusus cewek, Pah. Sebentar lagi juga Angel pulang.”


“Cepetan ya ! Kasihan Frans.”


Maaf Pah ! aku berbohong lagi. Aku tidak mau Papah semakin marah jika mengatakan bahwa aku sedang bersama Pak Angga.


“Bee, Angel harus pulang sekarang.”


“Papah kamu yang telepon ?”


Aku mengangguk dengan menunjukan ekspresi penuh kesedihan. Aku masih sangat ingin bersamanya untuk menghilangkan segala kerinduan. Padahal baru sebentar setelah sekian lama tidak jumpa, tetapi harus sudah terpisah lagi.


“Bee, tolongin Angel agar bisa terbebas dari Frans Psycho.”


“Oh iya, kalian pacaran sekarang ?”


“Itu cuma status aja, Bee. Angel sama sekali tidak cinta sama dia. Tapi Angel terpaksa. Jika tidak, maka fasilitas yang Papah berikan akan dicabut. Dia itu jahat, Bee. Dia yang mengadukan sama Papah tentang status pernikahan Bapak. Aku yakin dia menceritakannya ada yang di kurangi dan ada yang di tambah. Kenapa sih dia selalu membuat hidup Angel susah ?”


“Kamu sabar, ya ! Untuk saat ini kamu patuhi perintah Papah kamu demi kebaikan kamu. kamu tidak akan bisa tanpa fasilitas dari orang tua kamu. Kamu masih terlalu kecil Angel untuk hidup tanpa bantuan orang tua.”


“Tapi Angel gak kuat, Bee. Frans seenaknya sama Angel. Dia mengekang Angel. Angel seperti burung dalam sangkar.”


“Aku janji akan membawa kamu kembali ke dalam pelukanku. Setelah berhasil mengantongi lampu hijau dari Papah dan Mamah kamu, aku berjanji kita akan bahagia. Tidak akan ada lagi yang bisa memisahkan kita. Kamu sabar, ya ! Kamu percaya kan sama aku ?”


“Ya udah sekarang kamu pulang, ya. Aku akan terus berusaha mencari jalan keluar dari masalah ini. Kamu juga gak usah khawatir, aku akan terus mengawasi dan menjaga kamu meskipun dengan jarak yang jauh.”


Dengan berat hati kami berdua kembali berpisah. Saat ini bahkan Pak Angga tidak bisa mengantar aku sampai ke gerbang kost-an. Dia hanya menatapku dari kursi taman. Inilah yang terbaik bagi semua. Jika Frans melihat aku bertemu dengan Pak Angga, sudah pasti dia akan bilang sama Papah. Aku tidak ingin Papah semakin membenci Pak Angga dan memarahinya lagi.


Dari kejauhan saja aku sudah dapat mengenali siapa dia yang sedang berdiri di pintu gerbang dengan tangan yang dimasukkan ke dalam saku. Sungguh, aku malas untuk bertemu dengannya. Jika bukan perintah dan aturan Papah yang buat, sudah dipastikan dia mendapatkan pukulan dari sepatu kets yang saat ini aku kenakan.


“Angel kamu darimana aja ? Aku cari kamu kemana-mana lho.”


Dia menyambut aku dengan sangat ramah. Jangankan untuk menjawab, melirik ke arahnya saja aku enggan.


“Angel, kalau kamu begini terus nanti aku bilangin sama Papah kamu, lho.”


“Bilangin aja Frans. Silahkan bilang ! Aduin semua perbuatan gue sama bokap. Jangan pikir gue akan mencintai lo. Gue malah semakin ilfeel sama lo.”


“Angel kamu kok. . .”


“Kenapa ? Gue galak ? Iya ?”


“Angel. . .”


“Gue capek Frans dengan tingkah lo yang sangat kekanakan seperti ini. Jangan lo kira gue diam aja selama ini karena gue takut sama lo. Gue juga punya titik lelah, Frans. Gue capek dikekang sama lo. Gue capek harus diikutin terus kemana-mana sama lo. Gue capek jadi boneka mainan lo. Gue capek. .hiks. .hiks.”

__ADS_1


Telah lama aku menahan umpatan kepada Frans. Tetapi kali ini rasanya sudah seperti di ubun-ubun. Aku ingin meluapkan segala kekesalanku kepadanya.


“Lo udah gede Frans. Kenapa lo masih mengadu kepada bokap gue ? Lo itu ganteng, tampan, mapan, banyak yang mau sama lo. Yang lebih cantik dan lebih sexy dari gue. Kenapa lo malah milih gue ? Kenapa lo milih gue menjadi mainan lo ? Kenapa lo nyiksa gue terus-terusan, Frans ? Kenapa ? Hiks. .hiks. .”


Alessyia yang sedari tadi menyaksikan ketika aku meluapkan amarah kepada Frans. Dia juga ikut gregetan terhadap sikap Frans yang semena-mena semaunya sendiri.


“FRANS. . lo keterlaluan. Gue minta sekarang lo pergi dari sini ! PERGI !!!”


“Angel aku minta maaf ! Aku melakukan ini semua karena aku tulus mencintai kamu.”


“Gue bilang pergi dari sini sekarang juga.”


“Pergi sebelum gue panggil petugas keamanan buat ngusir lo dari sini.”


Akhirnya Frans pergi meninggalkan aku dan Alessyia. Aku gak tahu apa yang akan terjadi jika tidak ada Alessyia. Mungkin aku tidak akan berhenti mengumpat sampai tenagaku terkuras habis.


“Angel lo gak papa ?”


Alessyia segera menahan tubuhku yang hampir terjatuh. Ia memelukku dengan sangat erat. Kehadiran Alessyia menjadi pengganti Mamah ketika aku berada jauh dari rumah. Saat ini aku hanya butuh seseorang yang bersedia mendengarkan keluh kesahku. Memberikan aku bahu untuk bersandar dan pelukan hangat yang menenangkan.


Mencintai seseorang dengan tulus seharusnya tanpa paksaan. Jika dipaksakan itu namanya bukan cinta, tetapi penyiksaan. Seseorang masih bisa diam ketika emosinya masih bisa terkontrol. Tetapi jika titik lelahnya sudah menguasai seluruh jiwa dan raganya, maka jangan salahkan mereka jika dia sangat marah. Karena diam dan sabarnya selama ini tidak dihargai sama sekali. Justru semakin dimanfaatkan untuk kebahagiaan sebelah pihak.


*Bersambung*


.


.


.


Terimakasih kepada para pembaca setia yang sudah meluangkan waktunya untuk mampir di Novel My Teacher Is Mine 😇😇


.


.


Jangan lupa untuk selalu mendukung author dengan memberikan kritik & saran yang membangun🥰🥰


Tentunya dengan menggunakan kata-katan yang sopan ya😉


.


.


Tinggalkan jejak berupa like, komen, rate 5 & vote 💙💙


Terimakasih 🥰🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2