My Teacher Is Mine

My Teacher Is Mine
MTIM-125 Perubahan Drastis


__ADS_3

Sebelum lanjut jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak berupa like, komen, rate 5 & vote seikhlasnya 🥰


Semuanya itu gratis kok. Tapi sangat berarti untuk author. Karena itulah penyemangat author😍😍


Salam sejahtera untuk kita semua 😇😇


Terimakasih 🙏🙏🙏


**************************************************


Akan selalu ada jalan bagi mereka yang tidak pernah putus asa. Sesuatu proses yang di kerjakan akan membuahkan hasil. Entah itu datang secara cepat ataupun lambat. Perjuangan itu lebih berarti daripada hasil. Karena yang terpenting usaha yang kita lakukan itu seperti apa. Perihal hasil tiada yang bisa mengubahnya. Cukup serahkan saja pada yang Maha Kuasa.


Sudah tidak ada lagi rasa penasaran yang bersemayam di hatiku. Pak Angga telah menjelaskan kronologis yang sesungguhnya. Kini aku bisa bernafas lega dan menjalani hari-hari menjadi lebih tenang. Tanpa ada rasa takut akan terbongkarnya suatu rahasia yang besar.


“Oh iya sayang, nanti aku pulang ya.”


“Pulang? Pulang kemana? Terus Angel nanti berangkat ke Bandungnya bagaimana?”


“Besok aku jemput lagi kesini. Aku pulang menengok rumah aku yang ada disini. Kamu lupa ya kalau aku juga punya rumah disini?”


“Heem, ya udah. Tapi besok jemput Angel lagi kan?”


“Iya, sayang.”


Pak Angga benar bahwa dia juga masih mempunyai rumah disini. Aku tidak mungkin melarangnya dan menahan dia untuk tidak pergi. Tidak lama setelah itu, Pak Angga segera mengajak aku untuk melangkah menuruni anak tangga dan berpamitan kepada Papah dan Mamah.


Kedua orang tuaku masih setia di tempat terakhir kami meninggalkan. Yang berubah hanyalah posisi Mamah yang kini sedang duduk di samping Papah. Mereka menghentikan percakapan ketika aku dan Pak Angga datang menghampiri.


“Pak, Bu, saya mau pamit untuk pulang ke rumah terlebih dahulu. Besok saya kesini lagi untuk menjemput Angel.”


“Angel tidak ikut?”


“Tidak Bu, biarkan Angel untuk istirahat. Kasihan sudah melakukan perjalanan yang menghabiskan waktu cukup lama.”


Tidak ada lagi pertanyaan yang Papah dan Mamah berikan. Pak Angga segera melangkah keluar meninggalkan kediamanku. Aku juga tidak mengantarnya sampai ke depan. Karena Pak Angga telah melarangku untuk melakukan hal tersebut. Aku segera kembali kepada tempat semula untuk merebahkan badan.


Rasa lelah masih menghampiri diriku. Bahkan aku terlelap tanpa disadari. Jika bukan Mamah yang membangunkan aku, mungkin aku tidak tahu jika matahari telah terbenam tergantikan oleh sinarnya cahaya rembulan.


“Angel sayang, bangun yuk! Kita makan malam dulu!”

__ADS_1


“Iy-iya Mah.” Jawabku dengan suara parau.


Sudah tidak ada lagi suara Mamah yang terdengar. Sepertinya beliau sudah meninggalkan kamar tidurku. Ketika aku membelalakan mata menatap jam yang terpasang di dinding, rupanya benar bahwa waktu sudah menunjukan waktu malam hari. Bahkan aku belum sempat membersihkan badan dari keringat yang menempel.


Aku segera menurunkan badan dan tubuh secara perlahan meninggalkan ranjang menuju kamar mandi. Air yang mengalir memberikan rasa sejuk ke tubuhku. Aroma kurang sedap juga kini telah tergantikan oleh wangi harum bengkoang yang tercipta dari sabun yang di kenakan.


Setelah keluar dari kamar mandi dan mengenakan pakaian yang lengkap, aku segera keluar meninggalkan kamar menghampiri Papah dan Mamah yang sudah menantikan kehadiranku. Dan benar, mereka masih setia menunggu di meja makan tanpa menyentuh sedikitpun makanan yang tersaji di atas sana.


“Mah, Pah…”


“Hai sayang, ayo sini duduk!” Perintah Papah dengan sangat ramah.


Aku segera menempati kursi yang masih kosong. Mamah segera mengambilkan nasi beserta lauk pauknya untuk ditaruh pada piring kami. Setelah makanan siap, kami segera menikmatinya dengan khusu tanpa ada percakapan yang tercipta. Sampai makanan telah dipastikan habis, barulah kami membuka percakapan bersamaan dengan Bi Dara yang mengambil piring dan gelas kotor.


“Kamu besok kembali lagi ke Bandung, Nak?”


“Iya, Pah.”


“Mau Papah antar atau bareng sama Pak Angga aja?”


“Pah, Angel biar sama Pak Angga aja. Lagian Papah juga harus berangkat lagi ke Jakarta kan?” Ucap Mamah.


“Enggak deh, Nak. Maaf ya! Papah berangkatnya di hari senin aja. Kebetulan jadwalnya juga tidak terlalu padat. Kamu besok aja berangkatnya biar bisa istirahat terlebih dahulu, jadi begitu sampai tidak langsung berangkat kuliah.”


Aku hanya mengangguk untuk menjawab ucapan dari Papah.


“Oh iya Pah, ini kan makanannya masih banyak. Bagaimana kalau di kasih aja ke Pak Angga? Kayaknya Pak Angga juga belum makan kan? Kan gak ada yang masak.”


“Boleh tuh Mah, nanti Angel aja yang antar.”


“Angel? Enggak ah Pah, Mah, lagian pasti Pak Angga sudah beli makanan atau memasak makanan instan.”


“Jangan gitu dong Nak, kamu antar aja dulu. Perihal nantinya di makan atau enggak sama Pak Angga, itu urusan belakangan.”


Sesuatu memang bisa berubah. Papah yang dulunya sangat menentang aku berhubungan dengan Pak Angga, bahkan melarang aku untuk bertatap muka, kini justru Papah menjadi orang yang membuat aku selalu bersama dengan Pak Angga.


Aku tidak bisa lagi menolak perintah dari beliau. Mau tidak mau aku harus keluar malam-malam untuk mengantarkan makanan ke rumah Pak Angga. Dengan menggunakan taksi online, aku menyusuri jalanan untuk tiba di tempat tujuan.


Tok..tok..tok…

__ADS_1


Itu ketukan pintu yang kesekian kalinya. Aku masih berdiri di depan pintu karena pemilik rumah belum juga membuka pintunya. Tetapi aku tidak mungkin balik badan pulang lagi ke rumah. Sia-sia usahaku keluar malam-malam tetapi tidak bertemu dengan orang yang di tuju.


“Pak Angga…”


Aku meneriakan nama beliau sambil mengetuk pintu, tetapi belum juga ada jawaban. Aku memutuskan untuk menghubunginya melalui panggilan telepon. Tetap saja tidak mudah. Puluhan kali aku meneleponnya, tetapi tidak ada yang mendapat respon.


“Aku janji ini yang terakhir, jika Pak Angga tidak juga menjawab teleponku, aku memutuskan untuk pulang.” Gumamku lirih.


Aku kembali mencari nomor Pak Angga. Tetapi sebelum panggilan dilakukan, aku telah mendapatkan telepon dari beliau terlebih dahulu.


“Maafkan aku, tadi aku ketiduran sehingga tidak mendengar dering ponsel. Ada apa kamu menelponku sampai puluhan kali? Apakah ada yang mengganggu kamu?” Tanya orang diseberang telepon dengan suara khas bangun tidur.


“Tolong buka pintunya! Angel ada di depan sekarang.”


Tut..tut..tut…


“Ih kok di matiin sih. Kan Aku belum selesai berbicara. Kenapa di matiin seenaknya tanpa ada jawaban apapun. Ngeselin.” Gerutuku kesal.


Sikap Pak Angga yang memutuskan panggilan secara sepihak membuat diriku meradang. Kali ini aku tidak mempedulikan apa-apa lagi. Dengan segera aku melangkah membalikan badan dan berjalan meninggalkan rumah beliau.


Klek!


Tetapi langkahku terhenti karena tanganku sudah ditarik oleh seseorang dari belakang. Dia membawa tubuhku ke dalam dekapannya. Hal tersebut membuat aku terkejut dan tidak bisa bergerak.


“Maafkan aku membuatmu menunggu lama! Aku benar-benar tidak sadar karena tidur terlalu pulas.”


Aku melepaskan pelukan Pak Angga untuk mengeluarkan beberapa kata. Karena dalam posisi yang seperti itu aku tidak bisa membuka mulut. Bahkan untuk menghirup nafas saja terasa berat karena kepalaku tenggelam dalam dada bidangnya.


“Angel yang harusnya minta maaf karena telah mengganggu tidur lelap Pak Angga. Angel cuma ingin mengantarkan ini.” Ucapku seraya menunjukan kotak makanan yang tersusun dengan rapi.


“Apa ini?" Tanya Pak Angga sambil menerima kotak makanan tersebut.


“Mamah sama Papah memaksa Angel untuk mengantarkan makanan itu kepada Pak Angga. Padahal Angel sudah menolaknya karena ini terlalu malam. Tetapi Papah sama Mamah sangat keras kepala. Mereka terus membujuk Angel dengan alasan kasihan takut Pak Angga belum makan. Paadahal pasti Pak Angga sudah makan kan?”


“Hmmm, sebenarnya aku memang belum makan malam. Sejak pulang dari rumah kamu, aku mengerjakan projek yang deadline. Setelah selesai aku langsung ketiduran di sofa, dan baru bangun ketika mendapatkan telepon dari kamu. Terimakasih ya, sayang. I love you.”


Pak Angga kembali membawa tubuhku dalam dekapannya. Kali ini ia memelukku sangat erat, tidak mempedulikan kondisiku yang terasa sesak untuk bernafas.


*Bersambung*

__ADS_1


__ADS_2