
Aku tidak bisa membayangkan bagaimana orang-orang yang terkurung dalam jeruji besi untuk jangka waktu yang lama. Baru saja beberapa hari di dalam rumah, aku sudah merasa bosan. Bangun pagi, makan, tidur, nonton. Seperti itu terus secara berulang-ulang. Tidak bisa melihat awan yang terhampar luas. Hanya pemandangan yang berasal dari lukisan yang dapat dinikmati.
“Bagaimana kabarnya Pak Angga ?”
Semenjak aku menerima hukuman, aku tidak dapat berjumpa dengan Pak Angga. Terakhir ketika mengumpulkan berkas pendaftaran. Itu juga cuma beberapa menit. Mengingat waktu itu, aku jadi kepikiran, aku yakin ada sesuatu yang mau Pak Angga ceritakan. Tapi apa itu ?
“Pak Angga jahat banget sih. Sama sekali gak ada kabar. Gak ada chat. Gak ada panggilan. Apa mungkin aku telah terlupakan ?”
Aku tahu Pak Angga adalah sosok yang dingin. Tapi setidaknya dia bisa menghubungi aku, menanyakan kabar misalnya. Apa iya harus aku yang memulainya ? Tapi jika tidak ada balasan aku malu nanti. Andai saja aku bisa menghilangkan rasa gengsi ini, dan andai aku tidak mempunyai saraf malu, aku telah melakukan apa yang aku inginkan tanpa berpikir panjang kali lebar terlebih dahulu.
“Non, itu bunganya sudah disiram."
“. . .”
“Non. . .”
“. . .”
“Non Angel ?”
“Eh iya, Bi. Kenapa ?”
“Bunga yang itu sudah disiram. Jangan terlalu banyak airnya.”
Sepertinya aku lupa jika saat ini aku sedang memegang selang yang tengah mengalir air. Seharusnya aku menyemprotkannya secara bergantian kepada bunga yang lain. Tetapi karena aku terlalu asik memikirkan Pak Angga, aku hanya fokus kepada satu bunga saja. Untung saja Bi Dara membantu aku tersadar sebelum airnya dihabiskan oleh satu tanaman.
“Non Angel jenuh ya di rumah terus ?”
“Iya sih, Bi. Bahkan untuk sekedar ke mini market di depan aja Angel tidak bisa."
“Maafkan Bibi ya, Non. Bibi tidak bisa bantu apa-apa.”
Aku segera memutarkan keran dan menaruh selang di tanah. Aku menghampiri Bi Dara dan memeluknya dari arah samping.
“Tidak apa Bi. Bibi tidak salah. Ini hukuman Angel. Angel yakin ada hikmah dibalik semua ini. Dan Angel harus menjadikan ini pelajaran agar tidak mengulanginya lagi.”
“Non Angel.”
“Iya Bi.”
“Bukannya itu guru Non ?”
“Hah ?”
Aku tidak menyangka seseorang yang sangat aku rindukan kini telah berada di depan mataku. Dengan celana bahan warna hitam, dilengkapai kemeja yang dimasukkan berwarna cream berlengan panjang yang digulung sampai sikut. Tidak lupa ikat pinggang menjadi pelengkap penampilannya.
“Pak Angga ? Ada apa kesini ?”
__ADS_1
“Saya ingin bicara sama kamu. Orang tua kamu ada ? Saya ingin meminta ijin terlebih dahulu.”
“Papah tidak ada. Hanya ada Mamah. Ijin ? Ijin apa Pak ?”
“Ijin untuk berbincang-bincang dengan kamu perihal kuliah.”
“Oh heem.”
Awalnya aku takut ketika Pak Angga berkata untuk meminta ijin dari Mamah. Beruntunglah bukan ijin tentang hubungan kami. Mungkin saat ini aku sedang berusaha menyembunyikan kebahagiaan dibalik senyum yang tertahan. Tapi mataku tidak bisa berbohong. Ia berbinar memancarkan sinarnya.
“Eh Pak Angga. Bapak apa kabar ? Sudah lama tidak jumpa.”
“Kabar baik, Bu. Ibu sendiri bagaimana kabarnya ?"
“Syukurlah. Kabar baik juga. Oh ya, ada keperluan apa Pak ?”
“Saya ingin berbicara perihal kuliah sama Angel.”
“Lho, bukannya berkasnya sudah Angel lengkapi. Apa masih ada yang kurang, Pak ?”
“E-eu perihal gambaran singkat aktifitas yang akan dilakukan Angel ketika awal masuk, Bu.”
“Oh ya udah silahkan. Sekalian kasih tips & trik agar bisa kuliah dengan lancar ya, Pak.”
“Iya, Bu.”
“Mamah. Ihh Mamah apa-apaan sih. Malu-maluin Angel ah.”
Mamah seperti tahu saja apa yang sedang berada dalam pikiranku saat ini. Tentu saja aku sangat mengharapkan kehadirannya. Mamah memberikan kami waktu untuk bercakap-cakap berdua. Aku mengajak Pak Angga menaiki beberapa anak tangga untuk sampai di lantai atas.
Di lantai atas terdapat taman yang aku buat sendiri. Aku sengaja membuatnya di samping kamar tidurku. Jika aku sedang jenuh atau pikiranku sedang kacau, maka alternatifnya adalah melihat jenis-jenis tanaman bunga yang berbeda-beda. Apalagi jika semuanya sedang bermekaran pada waktu yang sama. Aku tidak akan membiarkan tangan-tangan jahat merusaknya. Biarkan mereka bermekaran dan layu dengan sendirinya.
“Saya punya sesuatu untuk kamu ?”
“Apa itu ?”
Pak Angga membuka tas yang dibawanya dan mengambil selembar kertas. Kemudian dia menunjukkannya kepadaku. Aku tidak bisa membacanya dengan jelas, jaraknya terlalu jauh dan hurufnya terlalu kecil. Sehingga hanya menyerupai kumpulan semut yang sedang berjalan.
Aku segera mengambilnya dari tangan Pak Angga agar aku dapat mengetahui isi dari kertas tersebut dengan jelas. Sungguh aku tidak menyangka. Ternyata Pak Angga benar-benar membuktikan keseriusannya kepada diriku. Aku dapat melihat tanda tangan kedua belah pihak yaitu, Pak Angga dan Windy.
“Surat cerai ?”
“Iya.”
“Kapan sidang dilaksanakan ? Kok Angel gak tahu.”
Itulah isi dari selembar kertas yang Pak Angga pamerkan. Sekarang ia telah resmi bercerai dari Windy. Dan ia juga resmi menyandang status duda.
__ADS_1
“Kemarin. Tadinya saya ingin kamu mendampingi saya lagi. Tetapi kamu sedang menjalani hukuman.”
“Iihhh terus kenapa gak kasih tahu Angel sebelumnya ?”
“Biar menjadi kejutan.”
Aku tidak bisa berkata-kata. Mungkin kali ini aku tidak bisa menyembunyikan kebahagiaan yang aku rasakan. Senyuman yang terukir nampak sangat lebar.
“Tapi kenapa Bapak terlihat muram ? Apa Bapak tidak senang dengan keputusan pengadilan ?”
“Tidak.”
“Apa itu artinya Bapak menyesali perceraian ini ?”
“Bukan itu. Saya sangat bersyukur telah resmi bercerai dari Windy. Tapi ada satu hal yang membuat saya tidak tenang.”
“Kenapa ?”
*Flashback on*
Sidang putusan perceraian Pak Angga dan Windy hari ini digelar. Tetapi karena suatu alasan, aku tidak bisa menemani Pak Angga seperti saat sidang-sidang sebelumnya. Ketika Hakim Ketua telah mengumumkan bahwa mereka telah resmi bercerai, kemudian dilanjutkan dengan putusan hak asuh anak.
“Pak Hakim, saya mohon untuk hak asuh anak jatuh kepada saya seutuhnya. Saya ibunya Pak. hanya saya yang mampu mengurus anak saya.”
“Tidak bisa. Hak asuh anak harus menjadi milik saya. Dia memang ibunya. Tetapi dia yang meninggalkan kami. Dia pergi bersama pria lain dan meninggalkan anaknya. Bagaimana bisa dia mengurus anak kami nantinya ?”
“Saya ibunya. Tidak ada ibu di dunia ini yang tidak menyayangi anaknya. Saya dulu memang pergi. Tetapi untuk membantu perekonomian keluarga. Dan ketika saya pergi, suami saya berselingkuh. Dan yang lebih megerikan, dia berkencan dengan muridnya sendiri. Bagaimana bisa seorang gadis yang masih muda mengurus seorang anak yang bukan anak kandungnya sendiri ? Saya takut anak saya akan ditelantarkan. Atau jika mereka telah menikah dan mempunyai anak, anak saya akan diperlakukan berbeda.”
“Jangan dengarkan dia, Pak Hakim. Dia memutarbalikkan fakta. Jelas dia yang berselingkuh. Dia tidak pantas menjadi seorang ibu.”
Namun Hakim Ketua telah mempunyai keputusan yang ia yakini sendiri. Jadi bagaimanapun usaha seseorang secara keras meyakinkan untuk merubah pendapat Hakim Ketua, tetap tidak akan berhasil.
“Hak asuh anak jatuh kepada ibunya, yaitu saudari Windy !”
*Flashback off*
“Maafkan Angel, Pak. Semua salah Angel. Andai Angel tidak hadir dalam kehidupan Bapak dan Rendy, kalian tidak mungkin berpisah.”
Pak Angga menggenggam tanganku dan membalikan posisi aku berdiri agar mata kami saling bertatapan. Teduh, menenangkan, sangat nyaman kala kulihat sorot matanya.
“Sekali lagi saya mohon jangan pernah menyalahkan diri kamu ! Dari awal telah saya ucapkan bahwa saya yang memilih kamu. Apapun yang terjadi saat ini bukan salah kamu. Itu konsekuensi dari keputusan yang telah saya ambil.”
“. . .”
“Saya yang minta maaf ! Karena saya, kamu jadi mengalami beberapa masalah. Kamu dihukum oleh orang tua kamu. Kamu juga harus mengenal wanita berhati nenek sihir seperti Windy. Saya harus mengambil tindakan atas perlakuan Windy. Tidak bisa diabaikan terus-menerus. Dia telah merebut buah hati yang sangat saya sayangi. Dan saya tidak bisa tinggal diam jika dia berani menyakiti hati wanita yang sangat saya cintai. Saya bisa terima jika dia menghina atau merendahkan saya. Tetapi saya tidak akan terima jika kamu menjadi korban bully-an dia. Hati saya jauh lebih sakit ketika mendengar nama kamu dijatuhkan.”
Pak Angga menarik dan membawa aku ke dalam dekapannya. Aku bisa merasakan hangatnya tetesan air mata yang mengalir jatuh di bahuku. Ternyata rasanya seperti ini ketika dicintai dengan sepenuh hati oleh seorang pria. Bahagia, lebih dari bahagia. Ketika melihat dia sampai menangis mendengar seseorang yang menjadi penghuni hatinya direndahkan. Dan dia siap menjadi benteng perlindungan dari segala bahaya yang menimpa diriku.
__ADS_1
*Bersambung*