
Jika seseorang dengan tulus mencintai kita, maka tidak akan ada alasan untuk meninggalkan. Walaupun jarak memisahkan, itu bukanlah sebuah penghalang. Karena jarak hanya memisahkan raga, bukan hati dan perasaan. Meskipun harus menunggu dalam periode waktu yang lama, akan tetap di lakukan. Tujuannya cuma satu, yaitu untuk menciptakan suatu kebersamaan.
Semenjak kepergian Kak Reza, aku dan Alessyia tidak lagi di ganggu oleh Geng Mozea. Bagaimana kabar mereka, aku tidak tahu. Kehadiran mereka juga tidak pernah aku rasakan. Aku juga tidak melihat mereka di sekitar kampus.
Dred. .dred. .
Aku dan Alessyia memeriksa ponsel secara bersamaan untuk melihat pesan yang masuk.
“Kak Aldo mengirimi lo pesan juga, Ngel ?”
“Iya. Kok tumben di taman belakang ? Enggak di kantin ?”
“Gak tahu. Ya udah, yuk !”
Aku dan Alessyia melangkah menuju taman yang terletak di belakang kampus. Disana bukan hanya taman, ada beberapa lapangan yang disediakan untuk beberapa jenis olahraga yang berbeda. Seperti lapang voli, bulu tangkis, dan basket.
Sudah pasti yang paling ramai penontonnya yaitu lapang basket. Karena biasanya para pemain basket terkenal dengan ketampanannya.
Ketika mengingat suatu ruangan yang terletak di barisan belakang gedung, aku menghentikan langkah kakiku.
“Cha, tunggu !”
“Kenapa ?”
“Lo yakin itu nomornya Kak Aldo kan ?”
“Iya. Kan itu nomor yang biasa di pakai Kak Aldo.”
“Kok gue ngerasa ada yang aneh ya, Cha. Kenapa Kak Aldo mengajak ke taman belakang ? Basecamp kita kan di kantin.”
“Maksud lo ?”
“Gak tahu kenapa gue jadi ingat sama Mozea. Dan gudang itu juga terletak tidak jauh dari taman belakang kampus kan, Cha ?”
Alessyia juga ikut termenung. Gudang itu masih memberikan rasa trauma bagiku. Apalagi untuk melangkah mendekatinya, hatiku ragu. Takut akan terjadi sesutau yang lebih mengerikan lagi. Alessyia memutuskan untuk menghubungi kembali nomor yang telah mengirim pesan kepada kami.
“Gimana, Cha ?”
“Udah tenang aja ! Itu benar Kak Aldo kok.”
“Lo yakin ?”
“Iya. Itu suaranya Kak Aldo.”
__ADS_1
Tidak lama setelah itu aku dapat melihat Kak Aldo datang dari arah berlawanan. Barulah perasaanku lega. Karena memang benar pengirim pesan itu Kak Aldo. Bukan Mozea.
Kak Aldo membawa aku dan Alessyia menuju taman belakang setelah sebelumnya mencoba menenangkan aku dengan meyakinkan tidak akan terjadi apa-apa. Ketika melintasi di depan gudang yang pernah menyekapku beberapa menit, Alessyia menggenggam tanganku sangat erat. Mungkin dia tahu apa yang sedang aku khawatirkan.
“Angel. . .kamu kenapa ? Muka kamu pucat gitu ?”
Setelah sampai di taman belakang, disana telah ada Kak Beni yang sedang duduk sambil memainkan gadgetnya. Dengan beralaskan karpet yang di tengahnya di penuhi oleh beberapa makanan dan minuman yang masih dalam keadaan tertutup.
Kak Beni menanyakan kondisiku. Aku yang masih shock segera di persilahkan untuk duduk. Alessyia memberikan aku air mineral. Kemudian Alessyia juga menceritakan kronologis mengapa aku sampai pucat pasi seperti ini.
“Oh iya, kita lupa belum cerita sama kalian. Mozea sama gengnya udah gak kuliah disini.”
“Maksudnya ?”
“Mereka di DO oleh pihak kampus.”
“Lho kenapa, Kak ?”
“Waktu itu mereka ikut tertangkap rajia di sebuah club. Mereka tertangkap basah sedang bersama pria. Ketika mereka di interogasi, mereka memberikan pernyataan bahwa ikut menjadi psk yang di pimpin oleh salah satu mucikari.”
Kak Beni melanjutkan pembicaraan setelah sebelumnya menarik nafas dalam-dalam.
“Dan yang membuat pihak kampus marah, polisi menemukan barang bukti berupa almamater kampus ini. Jelas itu telah mencoreng nama baik kampus kita.”
“Jadi kalian gak usah khawatir lagi. Geng Mozea sudah tidak akan pernah berani lagi menginjakkan kaki d kampus ini.”
Kak Aldo masih terus berusaha menenangkan aku dan Alessyia. Jika memang benar seperti itu, akhirnya aku benar-benar telah terbebas dari masalah yang selalu mengganggu pikiranku. Terbebas dari Frans Psycho. Juga terbebas dari Geng Mozea. Mungkin beginilah rasanya ketika burung lepas dari sangkarnya. Sangat menyenangkan.
“Terus kenapa kalian ngajak kita kesini ? Biasanya kita kan di kantin.”
“Beni tuh. Katanya mau cari suasana baru.”
“Heem. Kali-kali kita makan di ruang terbuka dengan udara alam. Tenang aja, makanannya udah disiapkan. Ayo makan dulu ! Lapar nih.”
“Waaahhh.”
Aku tidak menyangka ternyata mereka sangat niat untuk makan di taman belakang. Saat tutup kain dibuka, aku dapat melihat makanan yang sangat banyak dan berbeda jenis. Dimulai dari makanan pembuka sampai penutup. Ada yang manis, asin, pedas dan asam. Semuanya lengkap.
Setelah kegiatan makan selesai. Dan setelah tempatnya kembali di bersihkan, kami beranjak hendak meninggalkan kampus sebelum matahari semakin menghilang.
Kami berjalan bersama dengan para cowok berada di ujung, bak tameng perlindungan. Untuk menghilangkan rasa bosan, kami berjalan sembari membicarakan topik yang santai dan terdengar lucu.
Tetapi seketika mereka menghentikan gelak tawa. Aku segera menatap ke arah depan untuk memastikan hal apakah yang membuat mereka menghentikan perbincangannya.
__ADS_1
“Haaaa.”
Aku menutup mulut untuk menutupi betapa terkejutnya diriku ketika manik mata menatap ke luar gerbang. Disana telah berdiri seseorang di sebelah mobil hitamnya dengan tatapan tajam seperti hendak memangsa.
Aku segera berlari untuk menuju pria itu dan berbisik lirih, “Bee, jangan seperti itu. Teman-teman Angel jadi takut.”
Tidak ada jawaban darinya. Aku jadi merasa tidak enak kepada Kak Aldo, Kak Beni dan Alessyia. Pak Angga sepertinya marah melihat aku terlalu dekat dengan Kak Aldo dan Kak Beni. Padahal aku sudah menjelaskan bahwa mereka hanyalah senior yang baik hati dan selalu menolongku.
“Hai Pak Angga.”
“Hallo, Pak.”
Sapa Alessyia yang diikuti oleh Kak Aldo dan Kak Beni. Tidak ada jawaban dari Pak Angga. Ia malah semakin menatapnya dengan sangat sinis. Aku berusaha menepuk bahunya. Tetapi dia tidak mau memalingkan pandangannya.
“Maaf ya Kak Aldo, Kak Ben, Cha. . . Angel pulang sama Pak Angga.”
“Iya, Ngel. Hati-hati.”
Aku segera menarik tangan Pak Angga untuk masuk ke dalam mobil. Bahkan aku yang membukakan pintu kemudi agar Pak Angga bisa segera menjauh dari sini. Jika lebih lama sedikit, ditakutkan akan terjadi perang ketiga.
“Bee. . .”
“Bee. . .jangan marah dong.”
“Angel kan udah jelasin. Mereka hanya senior di kampus Angel. Mereka yang selalu menolong Angel ketika membutuhkan bantuan.”
“Bee. . .”
Aku telah mengemis kepada Pak Angga untuk tidak marah lagi. Tetapi sama sekali tidak di dengarkan olehnya. Ia malah semakin mempercepat laju mobilnya. Aku telah bergelayutan di lengan kekar miliknya. Tetapi masih tidak berhasil.
“Bee, Angel minta maaf !”
“Angel janji tidak akan dekat lagi sama mereka.”
“Bee, jawab dong. Jangan cuekin Angel terus.”
“Bee. . .”
Cup !
Seketika aku langsung mematung. Tidak ada lagi ocehan yang memohon-mohon. Dan tidak ada lagi aktifitas yang menarik lengan bajunya. Bagaimana aku tidak terkejut ketika Pak Angga mendadak mendaratkan ciuman di pipi kananku ketika aku sedang berusaha merayunya agar tidak lagi meradang.
*Bersambung*
__ADS_1