My Teacher Is Mine

My Teacher Is Mine
MTIM-101 Harta Berharga


__ADS_3

Sebelum lanjut jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak berupa like, komen, rate 5 & vote seikhlasnya 🥰


Semuanya itu gratis kok. Tapi sangat berarti untuk author. Karena itulah penyemangat author😍😍


Salam sejahtera untuk kita semua 😇😇


Terimakasih 🙏🙏🙏


**************************************************


Hatinya patah. Bagaimana bisa ia terbang mencari cinta yang lain? Sedangkan satu nama telah mengukir sejarah panjang dalam hidupnya. Tapi apalah daya, aku hanyalah diri yang lemah. Bagaimana mungkin bisa melawan dan mengubah pemikiran orang tua? Hanya semesta yang dapat menjawabnya.


Dibalik pintu aku bersandar. Jantungku bergetar, tetapi itu bukan getaran cinta. Air mata tidak mampu lagi tertahan. Tetes demi tetesan telah berhasil lolos membasahi pipi menyentuh pakaian. Sangat sakit menangis tanpa suara. Andai saja aku masih menjadi anak kecil, maka aku akan menangis sambil menjerit sekencang-kencangnya.


Smartphone yang berada dalam genggamanku kini sedang menunjukan gambar seorang pria dengan setelan kemeja berwarna silver. Dalam foto itu tidak hanya seorang diri, anak kecil dengan setelan jas mini berwarna senada dengan pria dewasa berdiri di samping pria tersebut.


“Maafkan Angel, Bee! Angel harus pergi meninggalkan kamu dan Rendy. Angel tidak menghargai pengorbanan kamu yang sudah rela meninggalkan kota kelahiran agar bisa berdekatan dengan Angel. Disaat kamu sudah pindah tugas, Angel malah pergi meninggalkan kamu.”


Aku memeluk smartphone tersebut seakan sedang memeluk orang-orang yang ada dalam foto itu.


“Bahkan Angel tidak berada di samping kamu disaat kamu sedang terbaring lemah tak berdaya. Padahal kamu selalu menjaga dan merawat Angel disaat Angel sedang sakit. Angel jahat ya, Bee? Angel tidak bisa membalas rasa cinta, kasih dan sayang, serta perhatian yang kamu berikan untuk Angel.”


“Hiks…”


Air mata semakin deras mengalir. Aku tidak berusaha untuk menghapus jejaknya dari mukaku. Aku semakin mengeratkan pelukan kepada smartphone.


“Tapi apakah Angel egois, jika Angel masih mengharapkan dan menginginkan kamu tetap mencintai Angel? Setelah apa yang Angel berikan dan perlakuan kasar yang kamu dapat dari orang tuaku. Apakah Angel masih pantas menyebut ini semua cinta? Padahal sudah aku katakan jauh-jauh hari, bahwa bukan cinta jika harus menyakiti salah satu pihak. Melainkan itu namanya ego.”


Mungkin mataku akan berhenti dengan sendirinya untuk tidak mengeluarkan air mata. Seperti saat ini, setelah lebih dari 3 jam aku menangis, kantuk perlahan menghampiri. Dan tanpa tersadar, mataku terpejam dan membawanya ke alam bawah sadar.


Tok..tok..tok…


“Angel bangun sayang! Kita makan dulu. Kamu dari kemarin belum makan apa-apa lho.”


Tok..tok…


“Angel ayo bangun!”


Pintu telah diketuk berulang kali. Mamah sudah memanggil-manggil namaku. Tetapi mataku masih enggan untuk terbuka. Rasanya badanku juga sangat lemas. Bahkan untuk membelalakan manik mata pun aku tak mampu.


Tok..tok..tok…


“Angel, ayo keluar! Percuma saja kamu drama seperti ini. Papah tidak akan mengubah keputusan Papah. Dan besok, kamu harus segera daftar kuliah di Unversitas pilihan Papah.”

__ADS_1


“Pah, jangan bicara seperti itu dong! Yang ada Angel semakin tidak mau keluar dan mengurung dirinya terus.”


“Biarkan saja. Dia sendiri yang memutuskan hidupnya. Angel sudah dewasa. Buktinya dia sudah bisa berpacaran.”


“Pah…”


Tok..tok..tok…


Aku masih sangat berusaha keras untuk tersadar. Meskipun aku belum membuka mata secara lebar, tetapi telingaku sudah berfungi. Mendengar ucapan Papah semakin membuat hatiku terbakar.


“Ayo Angel! Kamu pasti bisa! Kamu harus buktikan kepada Papah kalau kamu bukanlah wanita yang lemah! Dan aku masih harus meyakinkan Papah untuk merestui Pak Angga.” Gumamku dalam hati.


Tok..tok..tok…


“Sayang, ayo bangun!”


Klek!


“Sayang akhirnya, kamu membuka pintunya.”


“Mah…”


“Sayang…”


“Pah…Pah Angel….”


“Halah paling dia drama. Udah deh Angel, Papah tidak bisa dibohongi.”


“Papah jahat banget sih. Ini anaknya pingsan, Pah. Badan Angel demam.”


Setelah mendengar penjelasan Mamah, barulah Papah luluh. Ia memeriksa dengan tangannya sendiri suhu tubuhku. Dan tanpa berbicara apa-apa lagi, Papah telah membawa aku dalam gendongannya.


“Mah, buka pintu mobil! Kuncinya ada di atas nakas kamar Papah.”


“Heem.”


Mamah berlari sangat cepat memasuki kamar tidur yang biasa ia tiduri dengan Papah. Sedangkan Papah masih menopang berat badanku berjalan keluar menuju tempat mobilnya terparkir. Sesekali Papah menatap wajahku yang semakin pucat pasi. Ia sudah berdiri di samping mobil, dan Mamah masih sibuk berlari keluar rumah.


“Mah, cepat!”


“Iya Pah, sebentar.”


Mamah menekan remot kontrol untuk membuka pintu mobil. Mamah berjalan untuk membuka pintu tersebut agar lebih lebar. Dengan segera Papah membawa tubuhku masuk dan menempatkannya pada kursi.

__ADS_1


“Mamah duduk di belakang temani Angel@”


“Baik, Pah.”


Setelah Mamah berada di kursi sebelahku, dan Papah telah siap-siap memegang setir kendali. Perlahan tapi pasti gas diinjak dengan tempo yang semakin lama semakin dipercepat. Mamah masih memeluk tubuhku dari arah samping. Sedangkan Papah semakin fokus membelah jalanan.


“Pah, suhu tubuh Angel semakin tinggi.”


“Sebentar lagi kita sampai Mah.”


Papah menggunakan jalan raya seperti miliknya sendiri. Ia tidak mempedulikan pengendara lain. Sudah banyak mobil dan motor yang ia serobot. Bahkan hampir saja Papah melanggar peraturan lalu lintas dengan menerobos lampu merah. Beruntunglah ada Mamah yang menemani. Jika tidak diingatkan oleh Mamah, maka sudah pasti Papah akan kena sanksi tilang.


“Papah akan membawa Angel dengan cepat. Jika Mamah kehilangan jejak Papah, Mamah kirimkan lokasi terakhir Mamah kepada Papah! Nanti Papah akan mendatangi Mamah.”


“Heem.”


Setelah mobil terparkir pada tempatnya, Papah segera keluar dan menuju kursi belakang. Ia membuka pintu dengan tidak sabaran. Kemudian berlari dengan membawa tubuhku dalam dekapannya.


“Suster…suster tolong anak saya!”


“Sus tolong anak saya!”


“Baik, Pak. Sebentar saya akan membawa brankar terlebih dulu.”


Setelah teriakannya mendapatkan respon dari perawat rumah sakit, Papah akhirnya bisa merasa lebih tenang. Tidak berselang lama Papah membaringkan tubuhku untuk dibawa memasuki salah satu ruangan yang ada di rumah sakit tersebut.


Dari arah kejauhan Mamah sudah bisa menyaksikan Papah yang mengikuti langkah 2 orang perawat yang mendorong brankar. Langkah Papah terhenti ketika aku sudah masuk ruangan dan pintu ditutup. Mamah segera menghampiri Papah dan melingkarkan lengannya pada bahu lebar Papah.


“Mamah tahu sebenarnya Papah sangat peduli sama Angel. Papah sangat menyayangi Angel. Buktinya Papah sangat sigap ketika melihat keadaan Angel seperti saat ini.”


“Bagaimana bisa Papah tidak menyayangi Angel? Dialah harta Papah satu-satunya. Jika Papah disuruh memilih, maka Papah lebih baik kehilangan harta kekayaan daripada harus kehilangan Angel.”


Papah menghentikan ucapannya untuk mengambil nafas panjang. Mamah dapat melihat setetes air mata yang keluar dari bola mata milik Papah.


“Mamah ingat cerita Alessyia tentang trauma Angel yang membuatnya harus masuk rumah sakit?”


“Iya, Mamah masih mengingatnya dengan jelas.”


“Papah takut Angel seperti waktu itu dirawat di rumah sakit. Dengan bantuan oksigen serta selang infus yang mengalir di tangannya. Ayah mana yang tega melihat anaknya kesakitan? Apapun akan Papah lakukan demi kebahagiaan Angel. Apapun akan Papah usahakan demi membuat Angel selalu tersenyum menjalani hari-hari.”


“Apakah Papah sudah memaafkan Angel?”


“Papah tidak pernah membenci Angel. Apapun yang Papah lakukan demi kebaikan dan masa depan Angel. Bahkan Papah sudah memaafkan jauh sebelum Mamah bicara seperti barusan.”

__ADS_1


“Jika memang seperti itu, berikan Angel waktu untuk menjelaskan yang sesungguhnya! Papah menginginkan kebahagiaan Angel. Sedangkan kita tidak tahu apa yang sebenarnya bisa membuat dia bahagia. Biarkan Angel memilih sendiri kebahagiaannya.”


*Bersambung*


__ADS_2