
Mungkinkah ketika merasa tidak asing saat melihat seseorang itu karena sudah pernah bertemu dengannya sebelumnya ? Atau perasaan itu tidak ada sangkut pautnya ? Tapi feeling aku mengatakan wanita yang bersama Kak Beni seperti pernah hadir dalam kehidupan sebelumnya.
“Kak Ben, Angel mau tanya nih.”
“Ya udah tanya aja. Kayak sama siapa aja mau tanya harus ijin dulu.”
“Soal yang semalam. Pasangan Kak Beni. Bagaimana kalian berkenalan ?”
“Oh itu, jadi gini ceritanya. . .”
Kak Beni menceritakan detail pertemuannya dengan Clarissa di malam pesta topeng.
*Flashback on*
“Gue doang yang datang sendirian nih ? Ih, miris sekali. Melihat orang lain berpasang-pasangan membuat gue merasa canggung. Gue juga harus menepati janji gue kepada Aldo. Sialnya kenapa gue menyetujui untuk datang kesini. Argh, dalam waktu singkat kemana coba gue harus nyari cewek yang mau jadi pasangan gue malam ini.”
Kak Beni terus mengumpat dalam hati. Ia menyesali ajakan Kak Aldo untuk datang ke pesta topeng ini. Awalnya ia pikir akan mudah untuk mendapatkan pasangan. Ternyata semua yang hadir sudah membawa gandengannya masing-masing. Tidak mungkin Kak Beni merebutnya. Yang ada nanti malah menciptakan kerusuhan.
Ketika pembawa acara menyampaikan bahwa acara yang selanjutnya yaitu berdansa bersama pasangan, semakin membuat Kak Beni pesimis. Ia menghindar memberi jarak dari keramaian menuju sofa yang terletak di sudut ruangan.
Kak Beni mengambil gelas yang berisi jus orange untuk diteguknya. Tiba-tiba seseorang dengan dress hitam menghampiri dirinya yang sedang bersantai.
“Boleh saya duduk disini ?”
Kak Beni memang kurang peduli terhadap wanita. Mungkin itulah alasan mengapa sampai sekarang ia belum juga mempunyai pasangan. Seperti kepada wanita yang meminta ijin untuk duduk di sebelahnya, Kak Beni menjawabnya hanya dengan anggukan kepala.
“Dansa akan dimulai, kenapa malah kesini ?”
“Kamu tidak ada pasangannya ?”
Wanita itu terus berbicara kepada Kak Beni. Tetapi tidak ada respon apa-apa darinya. Namun ada kalimat yang membuat Kak Beni mengalihkan perhatian kepada wanita yang berada di sebelahnya.
“Maukah kamu jadi pasangan saya malam ini ?”
“Nama saya Clarissa. Nama Mas siapa ?”
“Beni. Nama saya Beni.”
Kak Beni menerima uluran tangan perkenalan dari wanita yang dengan beraninya menawarkan diri untuk menjadi pasangannya malam ini. Tidak dapat dipungkiri, Clarissa memang cantik. Bahkan Kak Beni dibuat terpesona ketika pertama melihat Clarissa. Apalagi dilengkapi dengan bentuk tubuhnya yang sangat mumpuni.
*Flashback off*
“Jadi begitu guys singkat cerita pertemuan gue sama wanita yang tadi malam.”
Kak Beni mengakhiri penjelasannya. Aku dan Alessyia masih terdiam. Mungkinkah hanya kebetulan nama ? Tapi kenapa sepertinya mereka orang yang sama.
“Jadi dia namanya Clarissa, Kak ?”
“Iya.”
“Cha, kok gue ngerasa mereka adalah Clarissa yang sama, ya.”
“Gue juga sama, Ngel. Bentukannya persis kayak Clarissa.”
“Maksud kalian apa ?”
“Kak Ben lihat wajah wanita itu gak yang tidak pakai topeng ?”
__ADS_1
“Lihat. Setelah acara selesai sebelum pulang, kita ngobrol terlebih dahulu.”
“Dia yang ini bukan, Kak ?”
Aku menunjukan foto Clarissa yang disimpan di memory card ponselku kepada Kak Beni.
“Iya yang ini. Kok Angel tahu ? Terus bisa punya fotonya ?”
“Dia itu model, Kak. Memang namanya belum terkenal di seluruh Indonesia. Tetapi sudah banyak orang yang mengenali dirinya.”
“Kak dia itu cew. . .”
“Cha, kita pulang yuk ! Ntar kesorean lagi.”
Sebelum Alessyia membuka mulut, aku segera menariknya menjauh dari Kak Aldo dan Kak Beni. Meskipun Alessyia memberontak meminta untuk di lepaskan, tetapi aku tidak menghiraukannya sebelum benar-benar telah menjauh dari mereka.
“Ih Angel lepasin !”
“Maafin gue, Cha ! Sakit gak ?”
“Ya sakit dong. Perih tahu. Lagian lo kenapa sih gue kan mau bilang tentang Clarissa. Kenapa lo malah narik-narik gue ?”
“Justru itu. Gue gak mau lo cerita yang sebenarnya tentang Clarissa.”
“Kenapa gak boleh. Gue kasihan sama Kak Beni. Gue gak mau Kak Beni menjadi korban kebusukannya Clarissa.”
“Jangan sekarang, Cha. Kita harus memilih waktu yang tepat. Dan mencari cara agar Kak Beni percaya dan tidak tersinggung. Aku takut Kak Beni malah berpikir kalau kita telah menjelek-jelekan Clarissa.”
“Ya emang aslinya Clarissa itu kayak sampah. Orang-orang yang gak tahu masih bisa menyanjungnya. Tapi gue yakin setelah semua aibnya terbongkar, tidak ada lagi orang yang respect sama dia.”
“Oke, kita cari cara. Takutnya Kak Beni telah benar-benar jatuh cinta sama Clarissa. Lo gak lihat betapa antusiasnya Kak Beni ketika bercerita tentang Clarissa ? Gue bisa melihat pancaran kebahagian dari sorot matanya. Gue gak mau mematahkan hati Kak Beni. Dan ketika lo jatuh cinta terhadap seseorang, lo bisa saja berperilaku tidak peduli kepada orang lain yang membicarakan kejelekan orang yang lo cintai itu.”
Akhirnya Alessyia mengerti juga maksud dan tujuanku. Ia sekarang bisa lebih tenang.
“Angel, itu bukannya Pak Angga ?”
“Mana ?”
“Itu !”
Alessyia menunjuk ke arah parkiran dalam gerbang bangunan kost-kostan. Aku dapat melihat seorang pria di sebelah mobil hitamnya dengan rokok yang menyala di tangan kanannya. Alessyia segera berpamitan dan aku segera menghampiri pria tersebut.
Sengaja aku datang tanpa menciptakan suara. Sebelum Pak Angga menyadari kehadiranku, aku lebih dulu merampas rokok yang tengah dilayangkan menuju mulutnya. Aku segera membuang sebatang rokok itu ke tanah dan menginjaknya. Padahal rokok itu masih panjang. Sepertinya Pak Angga baru membakarnya beberapa detik yang lalu.
“Angel. . .”
“Angel maaf. . .”
Aku sama sekali tidak memberikan waktu kepada Pak Angga untuk berbicara. Dengan langkah cepat aku melarikan diri menuju kamarku. Pak Angga tidak menyerah. Ia terus mengikuti langkahku. Namun aku tidak membiarkan Pak Angga ikut masuk. Sebelum Pak Angga sampai, aku segera menutup pintu itu.
“Angel maafkan aku ! Aku tahu aku salah. Aku melanggar janjiku. Tapi aku mohon beri aku kesempatan untuk memperbaikinya.”
Pak Angga terus mengemis meminta maaf sembari menggedor-gedor pintu. Sedangkan aku berada dibalik pintu tersebut.
Di khianati oleh seseorang yang sangat kita cintai itu jauh lebih menyakitkan. Karena aku telah sangat mempercayainya. Tetapi di depan mata kepalaku sendiri, ia mengingkari janjinya. Rasanya seperti kehadiranku tak di anggap olehnya. Ucapanku sama sekali tidak ia perdulikan.
“Angel aku mohon. Maafkan aku !"
__ADS_1
Rasa cintaku terlalu besar kepadanya. Itu tidak akan hilang dengan mudah. Seberapa kecewanya diriku kepadanya, tidak akan sebanding dengan rasa sayangku. Dan jika aku tidak memaafkannya. Maka sama saja aku harus ikhlas kehilangannya. Aku tidak mau seperti itu.
Aku membuka pintu untuk memberikan waktu Pak Angga menjelaskan semuanya. Dengan tatapan yang tidak memandang ke arahnya, aku membiarkan dia masuk. Dan sangat tidak disangka, Pak Angga sampai berlutut demi mendapatkan maaf dariku. Aku yang tidak tega juga ikut terduduk sejajar dengannya.
“Tolong jangan seperti ini !”
“Aku tidak akan berdiri sebelum kamu memaafkan aku.”
“. . .”
“Maafkan aku, Angel. Aku telah mengecewakanmu. Aku menodai kepercayaan yang telah kamu berikan.”
“Jangan pernah berjanji. Karena ketika janji itu tidak bisa ditepati akan menyakiti seseorang yang telah membuat janji bersamamu.”
“Maafkan aku !”
“Angel sadar tidak akan bisa untuk berhenti secara instan dari kebiasaan merokok. Angel memberikan waktu kepada kamu untuk bisa berubah sedikit demi sedikit. Tidak harus langsung berhenti total. Mungkin bisa dengan cara menguranginya dari kebiasaan lama. Angel juga sadar bahwa semuanya perlu proses.”
*Bersambung*
.
.
.
Terimakasih kepada para pembaca tercinta yang telah meluangkan waktunya untuk membaca novel My Teacher Is Mine 🥰🥰
.
.
Mohon maaf jika ada typo dan alur yang kurang jelas yang tidak kalian suka🙏🙏
.
.
Jika ada kritik & saran silahkan sampaikan di kolom komentar 👇👇
Jangan lupa untuk selalu menggunakan bahasa yang sopan yaa😉💙
.
.
.
Author meminta dukungan dari para pembaca dengan meninggalkan jejak berupa like, komen, rate 5 & vote😍💙💙
.
Jika kalian suka bisa tambahkan ke daftar favorit agar mendapatkan notifikasi bila novel ini up🥰🥰
.
.
__ADS_1
Terimakasih 🙏