My Teacher Is Mine

My Teacher Is Mine
MTIM-122 Congrats Angel & Pak Angga


__ADS_3

Sebelum lanjut jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak berupa like, komen, rate 5 & vote seikhlasnya 🥰


Semuanya itu gratis kok. Tapi sangat berarti untuk author. Karena itulah penyemangat author😍😍


Salam sejahtera untuk kita semua 😇😇


Terimakasih 🙏🙏🙏


**************************************************


“Aku telah berjanji akan meminta restu dari orang tua kamu. Setelah aku berhasil mendapatkan restu, kamu berjanji akan memberi aku kesempatan kedua untuk memperbaiki hubungan yang telah retak. Sekarang aku ingin menagih janji kamu. Beri aku kesempatan untuk kembali bersama kamu!”


“Bagaimana dengan restu dari Papah?”


“Oleh karena itu aku menagihnya sekarang. Itu berarti aku telah berhasil meluluhkan hati Papah kamu.” Jelas Pak Angga.


Tidak dapat di pungkiri aku senang mendengar penjelasan Pak Angga barusan. Tetapi kesenanganku tidak sepenuhnya terlukis, mengingat Papah adalah orang yang keras kepala, tidak mungkin dapat goyah dengan mudah. Apalagi selama ini pendiriannya kukuh untuk melarang hubungan aku dengan Pak Angga.


“Tidak mungkin. Papah tidak mudah percaya begitu saja dan mengubah keputusannya.”


“Kalau kamu tidak percaya, silakan tanyakan langsung kepada Papah dan Mamah kamu!”


Aku semakin bingung dibuatnya. Apakah aku harus percaya dengan Pak Angga atau tidak. Tapi yang pasti, sampai saat ini aku masih belum mengambil keputusan. Cukup lama suasana menjadi hening. Sehingga aku mengambil handphone untuk melakukan panggilan telepon.


“Hallo sayang. Ada apa?”


“Mah, apa benar Papah merestui Pak Angga?”


“Iya sayang. Selamat ya!”


“Tapi Mah, bagaimana caranya?”


“Nanti kita jelaskan kalau kamu pulang ke rumah! Sekalian ajak Pak Angga ya, sayang!”


“Kenapa gak sekarang aja jelasinnya, Mah? Mah? Mah…”


Tut..tut..tut…


Sebelum aku menyelesaikan pembicaraan, Mamah telah lebih dulu mematikan panggilan. Jujur aku masih tidak percaya dengan semua ini. Seakan semua ini terjadi dalam mimpi. Memang aku sangat mengharapkan restu dari orang tuaku, tetapi aku sungguh tidak menyangka itu semua akhirnya terjadi.


Seseorang yang sedari tadi duduk di sebelahku juga tidak mengeluarkan kata-kata. Dia menatap lekat wajahku dengan senyuman termanis yang ia miliki. Mungkin saat ini dia sedang mengobati rindunya kepadaku, karena sudah cukup lama kami tidak duduk berdua saling menatap satu sama lain.


“Pak Angga, ini tidak mimpi kan? Angel tidak sedang tidur kan?”


Cup!


Tidak ada jawaban dari Pak Angga. Ia justru meresponnya dengan memberikan kecupan yang mendarat di pipi kananku. Kini tatapanku beralih kepada pria yang memancarkan binar kebahagiaan.

__ADS_1


Aku semakin yakin bahwa ini semua hanyalah mimpi. Kedua tanganku kini diletakkan di pipi yang saat ini masih terasa panas seperti terbakar. Panas tersebut berasal dari rasa gugup serta kaget karena mendapatkan kecupan secara tiba-tiba.


“Apakah menurut kamu masih terasa seperti mimpi?”


Pria yang berada di sebelahku kini menggenggam jemariku dengan erat. Ia membawanya mendekat dan memberikan ciuman penuh kasih sayang pada punggung tanganku. Cukup lama bibirnya menyentuh kulit tanganku. Kini dia menatapku lekat dengan senyuman yang tidak pernah gagal membuat aku terhipnotis.


“Ini bukan mimpi sayang. Aku berhasil membuat Papah kamu percaya dan akhirnya sekarang merestui hubungan kita. Apakah kamu mau kembali bersamaku? Kita mengukir sejarah bersama sampai hari tua hingga maut memisahkan?”


Tidak ada kata yang mampu ku ucap. Aku belum sempat merangkai kata. Spontan aku menganggukan kepala untuk menjawab pertanyaan yang di ucapkan oleh Pak Angga. Bahkan karena perasaanku yang sudah tidak karuan, aku memeluk Pak Angga secara tiba-tiba dengan sangat erat. Sehingga membuat Pak Angga sedikit kesusahan untuk menghirup oksigen.


“Angel mau, Bee. Kita kembali lagi seperti dulu! Angel mohon jangan pernah tinggalkan Angel lagi! Angel tidak mau kehilangan Pak Angga untuk kedua kalinya. Karena bagi Angel, menjalani hari tanpa kamu itu seperti setengah nyawa Angel menghilang. I love you, Bee.”


“I love you more sayang. Aku mencintai dan menyayangi kamu melebihi cinta terhadap diriku sendiri. Bahkan mungkin cintaku lebih besar dari cintamu. Maafkan aku telah meninggalkan. Aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Bukan hanya kamu yang merasa separuh nyawamu menghilang, aku pun begitu. Seperti tidak ada lagi tujuan untuk hidup.”


Cukup lama aku berada di dalam pelukan Pak Angga. Aroma maskulin yang selalu aku rindukan. Detak jantung yang semakin cepat dapat aku rasakan dengan jelas. Tangan kekarnya mengelus punggungku. Perasaan nyaman selalu berhasil beliau ciptakan. Bahkan sekarang secara perlahan, mataku terlelap di bahunya.


“Angel…”


“…”


“Sayang…”


Pak Angga sudah berulang kali memanggil namaku, tetapi tidak ada respon apa-apa dariku. Bahkan ia merasakan tubuhku semakin terasa berat. Dengan sangat hati-hati dia menatap wajahku, dan mataku sudah terpejam dengan senyuman yang masih terlihat semakin menambah kesan indah di parasku.


Perlahan Pak Angga beranjak dari kursi untuk berjalan masuk dengan membawa tubuhku yang masih dalam dekapannya. Tanpa menciptakan suara dan gerakan yang tidak terlalu terasa, Pak Angga membaringkan tubuhku di atas ranjang.


Entah mungkin karena terlalu lelah atau terlanjur nyaman, sejak aku tertidur di pangkuan Pak Angga sampai berpindah ke atas kasur sama sekali tidak aku sadari. Aku hanya terbangun ketika matahari sudah muncul dari persembunyiannya.


Ketika mataku terbuka, aku pun merasa heran. Aku sungguh tidak ingat kejadian semalam kenapa aku bisa ada disini. Karena terakhir aku mengingatnya sedang duduk bersama Pak Angga di balkon. Sambil terus memutar ingatan, aku beranjak dari ranjang. Beruntunglah hari ini weekend, sehingga aku bisa bersantai karena tidak perlu kuliah. Aktivitasku terhenti kala melihat Pak Angga sedang tertelungkup di kursi.


“Pak Angga? Kenapa ada disitu?” Ucapku lirih.


Aku menyibakan selimut yang menutupi tubuhku. Kaki kanan dan kiri melangkah bergantian menuruni ranjang. Langkah kakiku berjalan mendekati pria yang masih terlelap dengan pulasnya. Tanganku mengusap mukanya dengan lembut.


Sebelum membuat Pak Angga terjaga, aku segera berlalu untuk membiarkan dia kembali menikmati mimpi indahnya. Tetapi langkahku tidak berjalan lancar karena tanganku ditarik dengan kasar olehnya. Hal tersebut membuat tubuhku terjatuh tepat pada pangkuannya. Tangannya kini melingkar di perutku.


“Whoaaa.” Teriakku dengan histeris.


“Mau kemana? Jangan pergi!”


“Bee, lepasin!”


“Tunggu sebentar! Biarkan seperti ini! Sebentar saja!”


Tatapanku kini berbalik untuk menatap wajah Pak Angga. Matanya masih terpejam. Tetapi aku yakin bahwa sebenarnya dia sudah terjaga. Usahaku untuk memberontak percuma, karena dekapannya sangatlah kuat. Aku membiarkan seperti itu sampai dengan kesadarannya sendiri ia melepaskan ikatan tangannya.


Perlahan matanya mulai terbuka lebar. Aku segera menanyakan kronologis yang terjadi sampai aku bisa di atas ranjang.

__ADS_1


“Bee, apakah semalam Angel ketiduran?”


“Heem.”


“Apakah kamu yang membawa Angel masuk ke dalam.”


“Memangnya ada orang lain?”


Benar, tidak ada orang lagi selain Pak Angga. Ingatanku perlahan kembali. Terakhir aku sadar sedang memeluk Pak Angga. Dan ketika aku bangun pagi, sudah ada di dalam kamar.


“Kenapa Pak Angga tidur di sofa?”


“Emangnya boleh aku tidur di samping kamu?”


“Huh? Enggak, bukan gitu. Maksudnya kenapa kamu gak pulang?”


“Aku ingin menjaga kamu. Rinduku juga belum terobati sepenuhnya. Jadi lebih baik aku tidur disini, bisa menatap wajah kamu sepuasnya.”


Aku tersenyum tersipu malu mendengarkan ucapan Pak Angga sebelum melanjutkan percakapan.


“Bee, jelaskan kepada Angel bagaimana prosesnya sampai Papah merestui kita!”


“Bukankah kamu sudah bertanya sama Mamah kamu?”


“Udah. Tapi gak di jawab. Mamah hanya bilang akan menjelaskan kalau Angel pulang ke rumah, bersama Pak Angga.”


Pak Angga hanya mengangguk-anggukan kepala. Aku semakin gemas dibuatnya. Bukannya menjawab, dia hanya diam mematung.


“Bee, jelaskan! Angel ingin tahu.”


“Ya udah sekarang kita pulang.”


“Sekarang? Pulang? Ke rumah Angel?” Tanyaku heran.


“Heem.” Jawab Pak Angga dengan santai.


“Kenapa gak bisa sekarang aja sih disini jelasinnya? Emangnya ada apa sih sebenarnya? Kenapa harus pulang dulu? Apa bedanya kalau menjelaskan disini dan di rumah? Toh penjelasannya juga sama kan?”


*Bersambung*


.


.


.


Yeaayyyy 🥳🥳🥳

__ADS_1


Akhirnya. . . . Congratulation Angel dan Pak Angga 🥰🥰


Ciee di restuin nih🤭😍😍


__ADS_2