
Kehadiran seseorang yang sangat dicintai akan membangkitkan kembali semangat yang sempat patah. Ketika dia telah berjanji untuk berjumpa tetapi bayangannya tidak dapat terlihat, maka semua anggota tubuh akan berusaha untuk menemukan keberadaannya.
Semalam aku tidak ingat melakukan apa saja. Mungkin karena terlalu lelah atau badan yang belum fit seutuhnya, sehingga aku tertidur lebih awal. Pagi ini aku membuka mata masih menyaksikan pemandangan yang sama. Ruang kamar rumah sakit disertai dengan 4 orang yang selalu menemaniku.
Melihat mereka tidur dengan pulasnya, aku tidak tega untuk membangunkannya. Tetapi rupanya Alessyia terbangun sendiri dan langsung menatap ke arahku.
“Angel, lo udah bangun ? Lo mau apa ? Mau makan ? Minum ?”
Sepertinya aku melupakan sesuatu. Kemarin ketika di aula aku menyuruh Alessyia pergi lebih dulu karena ingin menjawab panggilan dari Pak Angga. Katanya Pak Angga telah menunggu aku di depan gerbang kampus, tetapi sekarang aku tidak bisa melihat Pak Angga. Apa mungkin Pak Angga telah menipuku ? Atau dimanakah ia kini berada ?
“Cha, tolong ambilin hp gue !”
“Lo masih sakit Angel. Sebaiknya jangan main ponsel dulu.”
“Gue mau nelepon Pak Angga, Cha. Kemarin dia berjanji akan kesini, tetapi sampai sekarang gak ada. Apa Pak Angga berbohong ya, Cha ?”
“Oh iya, kemarin Pak Angga juga nelepon gue menanyakan keberadaan lo. Habis itu gue gak tahu. Gak ada lagi kabar dari Pak Angga.”
Aku tidak bisa menghubungi Pak Angga. Nomornya menandakan sedang aktif, tetapi tidak ada jawaban darinya. Telah aku kirim puluhan pesan singkat serta panggilan telepon kepadanya, tidak ada satupun yang mendapatkan respon.
“Cha, gue bisa minta tolong gak ?”
“Boleh Angel. Lo mau minta apa dari gue ?”
“Tolong cari tahu kabar Pak Angga ! Gue khawatir, Cha.”
“Jika emang Pak Angga ada di Bandung, gue akan membawanya kesini. Tetapi jika dia berani berbohong, gue gak akan membiarkan dia mendekati lo lagi.”
Alessyia melakukan hal yang sama denganku. Ia melakukan panggilan kepada Pak Angga dan mengiriminya pesan. Alessyia keluar masuk ruangan untuk mencari Pak Angga. Nihil. Tidak membuahkan hasil apa-apa.
“Biar kita bantu, Ngel. Apa yang harus kita lakukan ?”
Dengan sangat mulianya mereka menawarkan jasa sebelum aku meminta pertolongan. Kak Reza dan temannya juga keluar ruangan untuk mencari Pak Angga. Sebelumnya aku telah mengirim foto Pak Angga sebagai bekal dalam misi pencariannya.
Masih sama, mereka kembali dengan tangan kosong.
“Kakak akan coba telepon dia. Mungkin nomor kalian telah dia kenal, jadi tidak dijawab olehnya. Siapa tahu jika nomor baru akan mendapatkan jawaban.”
Alessyia memberikan nomor handphone Pak Angga kepada Kak Reza. Setelah selesai memasukkannya ke dalam buku telepon, Kak Reza segera memanggilnya. Dan benar saja Pak Angga menjawab panggilan itu.
“Anda dimana sekarang ? Jika benar Anda sedang berada di Bandung, tolong temui Angel ! Angel sangat mengharapkan kehadiran Anda disisinya sekarang.”
__ADS_1
Aku tidak mengerti kenapa Pak Angga mengabaikan aku. Apa aku berbuat salah kepadanya ? Atau ada sesuatu hal yang membuat Pak Angga menghindariku ?
“Angel, Kakak sudah mengirimkan alamat rumah sakit kepada dia. Semoga dia bisa datang kesini. Kamu jangan terlalu banyak pikiran, ya ! Nanti kamu bisa drop lagi.”
“Iya, Kak. Makasih ya !”
Satu jam telah berlalu sejak Kak Reza mengirimkan alamat kepada Pak Angga. Tetapi belum ada tanda-tanda dia akan menemuiku. Aku masih tidak mengerti kenapa Pak Angga memperlakukan aku seperti ini. Belum pernah sebelumnya dia mengabaikan chat dariku. Meskipun lama, pasti Pak Angga selalu berusaha membalas chat yang aku kirim.
“Permisi ! Waktunya sarapan dulu Non Angel. Nanti setelah sarapan, jangan lupa obatnya diminum, ya !”
“Iya Sus. Terimakasih.”
Suster memasuki ruangan dengan membawa nampan yang berisi nasi beserta lauk pauknya, dan beberapa jenis obat untuk aku konsumsi pagi ini.
“Angel makan dulu, ya ! Biar gue suapin.”
“Kak Aldo suapin ya, Ngel ?”
“Sama Kak Beni aja gimana ? Kak Ben suapin ya ?”
Aku tidak menjawabnya. Aku hanya menggeleng-gelengkan kepala ketika mereka bergantian menawarkan aku makan.
“Kamu makan ya, Ngel. Kakak gak mau kamu sakit lagi. Kamu harus makan agar cepat sehat. Nanti setelah sehat kamu bisa pulang. Katanya kamu bosan jika berada di rumah sakit terus.” Bujuk Kak Reza.
“Iya Kakak janji akan membawa dia kesini. Tapi sekarang Angel makan dulu.”
Rayuan Kak Reza tidak berhasil. Usahanya sia-sia untuk membujuk aku sarapan. Saat ini aku tidak mood untuk memakan apa-apa. Aku hanya ingin kehadiran Pak Angga disini. Menemaniku, disampingku.
Tok. . .tok. . .tok
“Masuk !”
Kita tidak tahu siapa yang ada dibalik pintu. Tetapi Alessyia telah menyuruhnya untuk masuk. Bagaimana jika orang itu mempunyai niat jahat ? Bukannya aku berpikir negatif terhadap orang-orang, hanya saja akhir-akhir ini aku selalu merasa khawatir dan kurang percaya terhadap orang asing.
“Pak Angga. . .”
“Siapa kamu ?”
Aku dan Alessyia meneriakan nama yang sama. Sedangkan Kak Reza, Kak Aldo, dan Kak Beni menanyakan siapa dia yang baru datang. Wajar saja mereka belum pernah berkenalan dengan Pak Angga. Bahkan bertemu saja ini untuk pertama kalinya.
“Pak Angga kemana aja sih ? Angel nyariin Bapak. Pak Angga gimana sih kasihan tahu Angel khawatir.”
__ADS_1
“Cha udah jangan marah-marah sama Pak Angga.”
“Ya habisan gue kesal. Dia membuat lo khawatir sedangkan lo aja masih dalam keadaan sakit.”
“Cha. . .”
“Iya deh maaf !”
“Anda yang waktu itu di kost-an nya Angel bersama Ibunya Angel kan ?”
“Oh iya, Kak Reza, Kak Aldo dan Kak Beni, kenalin ini Pak Angga.”
“Dia yang kamu cari-cari dari tadi ? Emang dia siapanya kamu, Ngel ? Sebegitu spesialnya sampai kamu sangat mengharapkan kehadiran dia ?”
Kak Aldo bertanya sembari menunjuk ke arah Pak Angga. aku dapat melihat raut kekesalan Kak Aldo.
“Iya, Kak. Maafkan Angel ya ! Angel telah merepotkan kalian. Pak Angga itu pacar Angel. Makanya Angel sangat mengkhawatirkannya.”
Semuanya nampak terkejut mendengar pengakuan diriku, terkecuali Alessyia yang telah mengetahui bahwa aku berpacaran dengan Pak Angga. Wajar saja mereka terkejut, aku emang belum menceritakan kehidupan asmaraku kepada mereka. Aku hanya menceritakan kehidupan keluarga dan perjalanan selama bersekolah.
“Angel boleh minta waktu berdua bersama Pak Angga ?”
Tanpa perlu dijelaskan terlebih dahulu, mereka telah mengerti. Mereka meninggalkan kami berdua di dalam ruang tersebut. Banyak hal yang ingin aku tanyakan kepada Pak Angga. Banyak penjelasan juga yang ingin aku dengar dari Pak Angga.
“Bapak kemana sebenarnya ? Apa Bapak berbohong mengatakan ingin menjumpai Angel ?”
“Aku tidak pernah berbohong sedikitpun kepada kamu.”
“Lantas kemanakah Bapak pergi ? Kenapa menghindari Angel ?”
“Aku pikir kehadiranku tidak kamu butuhkan lagi. Telah banyak yang menyayangi kamu. Mereka selalu berada disamping kamu dalam keadaan suka maupun duka. Mereka menolong kamu disaat kamu keusahan. Sedangkan aku ini apa ? Aku tidak pernah tahu kalau kamu mengalami masa-masa sulit seperti ini. Bahkan aku tidak tahu kalau kamu mempunya phobia ruang pengap.”
“Itu bukan salah Bapak. Itu karena Angel tidak menceritakannya kepada Bapak.”
“Sebelum kamu bercerita seharusnya aku telah mengerti."
“Tapi Pak. . .”
“Ada yang mencintai kamu sangat besar. Bahkan dia rela terluka demi menyelamatkan kamu. aku yakin jika kamu bersamanya akan bahagia.”
“Maksud Bapak apa ? Apa Bapak menyerah atas cinta Angel ? Bapak bilang Angel akan bahagia bersama orang selain Bapak ? Bagaimana Angel akan bahagia sedangkan kebahagiaan Angel terletak pada Bapak. Angel tidak ingin mencari kebahagiaan kepada yang lain. Angel tidak ingin jatuh cinta selain kepada Bapak. Tolong jangan pernah berkata untuk menyerahkan Angel kepada orang lain. Karena Angel tidak yakin akan sebahagia ketika bersama Bapak jika bersama yang lain.”
__ADS_1
*Bersambung*