
Sebelum lanjut jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak berupa like, komen, rate 5 & vote seikhlasnya 🥰
Semuanya itu gratis kok. Tapi sangat berarti untuk author. Karena itulah penyemangat author😍😍
Salam sejahtera untuk kita semua 😇😇
Terimakasih 🙏🙏🙏
**************************************************
Ketika rasa suka, sayang dan nyaman telah hadir pada hati seseorang, maka dia tidak akan memandang rupa, fisik, status sosial, harta dan usia. Yang ia tahu hanyalah perasaan selalu ingin bersama dan takut kehilangan.
Begitupun denganku. Aku mencintai Pak Angga tanpa syarat. Tidak peduli dengan status duda dan usianya yang 10 tahun lebih tua dariku. Sama dengan Pak Angga, ketika dia tidak ada di sampingku maka aku merasa ada sesuatu yang hilang. Bahkan jika aku boleh meminta, aku ingin selalu bersamanya tanpa terhalang ruang dan waktu.
“Tidak bisa. Apapun alasannya Papah tidak akan merestui hubungan kalian.”
“Tapi Pah…”
“Mah, Angel tuh anak Papah satu-satunya. Papah selalu ingin memberikan yang terbaik buat kebahagiaan Angel. Termasuk perihal pendamping hidup. Apalagi suami. Pernikahan itu bukan main-main Angel. Hanya sekali dalam hidup kamu. Jangan sampai kamu salah memilih!”
Papah kini beralih menatap Pak Angga, “Dan Anda! Sudah saya peringatkan kemarin saya menerima kehadiran Anda karena kondisi Angel yang sedang sakit. Bukan berarti bisa mengubah keyakinan saya kepada Anda.”
Papah terus berbicara tanpa memberikan waktu kepada orang lain untuk memberikan argumennya.
“Jika memang Pak Angga mencintai anak saya, lepaskan Angel! Bukankah cinta tidak harus memiliki? Biarkan Angel bahagia hidup bersama pria yang pantas menjadi pendampingnya. Bukankah Anda juga seorang Ayah? Orang tua mana yang tidak menginginkan kehidupan yang layak untuk anaknya? Apalagi Angel anak perempuan saya. Dia mahkota di keluarga kami.”
“Tapi Pah, Angel mencintai Pak Angga.”
“Kamu ini masih kecil Angel. Tolong bedakan antara cinta sejati dan cinta semusim! Dan Papah yakin apa yang kamu rasakan saat ini hanyalah cinta semusim. Begitu kamu bertemu dengan pria yang lebih tampan, lebih mapan dan lebih baik dari Pak Angga, kamu juga akan jatuh cinta kepadanya.”
__ADS_1
Mendengar ucapan Papah seperti membuat hatiku teriris, sangat sakit. Dan juga seperti sedang mengupas bawang tepat di depan mata, sangat perih. Air mata sudah berhasil lolos. Hanya saja tidak terdengar isak tangis.
“Ayolah Angel. Buka mata kamu! Dunia ini luas. Bukan hanya Pak Angga pria di dunia ini.”
“Pah udah stop! Kasihan Angel. Bagaimana kalau dia drop lagi?”
“Pah…Angel memang masih kecil. Tapi setidaknya Angel juga bisa merasakan jatuh cinta. Mencintai dan juga dicintai. Angel tidak yakin akan ada pria yang lebih baik di luar sana yang mencintai Angel. Menerima Angel apa adanya tanpa memandang rupa dan harta.”
“Kalau kamu masih keras kepala ingin berhubungan dengan Pak Angga, maka Papah akan mencabut semua fasilitas kamu. Termasuk Papah tidak akan membiayai kamu kuliah. Kamu juga tidak boleh tinggal di rumah Papah. Silakan pergi dari sini! Karena Papah tidak ingin mempunyai anak yang suka membangkang.”
“Pah…Hiks…”
Tangisan semakin pecah. Bahkan kini aku tidak peduli jika menciptakan suara yang sangat nyaring, sama seperti tangisan anak kecil yang kalah rebutan mainan. Mamah yang tidak tega melihat aku tersedu sedan, segera menghampiri dan memeluk aku dari arah samping.
“Tetapi kalau kamu berhenti berhubungan dengan Pak Angga, Papah akan tetap membiarkan kamu kuliah di Bandung. Bukankah Bandung menjadi kota impian kamu sejak kecil? Apakah kamu tidak ingin mewujudkan cita-cita kamu disana? Apakah kamu tidak ingin kembali bersama Alessyia, sahabat yang sudah lama kamu kenal?”
Kali ini Pak Angga tidak bisa diam saja hanya menjadi pendengar, ia membuka suara untuk mengeluarkan pendapatnya.
“Enggak. Hiks…enggak mau. Angel tidak mau berpisah dengan Pak Angga.”
“Tolong jangan memarahi Angel lagi! Ini bukan kesalahan Angel. Semua yang terjadi adalah murni karena bentuk kelalaian saya. Tolong lupakan kejadian hari ini! Dan sayangi Angel seperti dulu sebelum bertemu dengan saya! Mohon maaf jika kehadiran saya telah membuat kegaduhan di keluarga Bapak. Saya permisi!”
“Hiks…hiks…”
Pak Angga berlalu meninggalkan aku yang masih dalam tangisan. Bahkan ia sama sekali tidak menatap mataku ketika hendak meninggalkan kaki dari rumah kami. Tidak mau kehilangan dia begitu saja, aku segera mengejar langkah Pak Angga yang masih berada di halaman depan rumah. Dengan segera aku melingkarkan kedua tanganku pada pinggang dan memeluknya dari belakang.
“Bee, jangan pergi! Apa jadinya Angel menjalani hari tanpa kehadiran kamu? Tolong bawa Angel pergi kemanapun kamu melangkah! Angel lebih memilih di usir dari rumah daripada harus menjalani hari-hari tanpa kehadiran kamu. Angel rela tidak kuliah asal selalu berada di dekat kamu.”
Pak Angga meletakan kedua tangannya di atas tanganku yang masih berada di perutnya. Aku pikir dia akan membalas pelukanku dan menggenggamnya erat, namun ternyata pikiranku salah. Semua itu hanya ada dalam imajinasiku. Pak Angga justru melepaskan tanganku dan menjauhkan posisinya berdiri dariku.
__ADS_1
“Kamu jangan gila! Kamu masih harus kuliah. Kamu juga tidak mungkin pergi dari kedua orang tua kamu. Kamu pikir cinta kita akan berjalan mulus jika tanpa restu orang tua? Itu namanya bukan cinta Angel, tapi ego. Kamu tidak mungkin bisa hidup tanpa keluarga. Kamu ini masih kecil. Belum tahu seberapa keras dan pahitnya kehidupan luar. Apalagi kamu ini hanyalah anak manja yang tidak bisa bekerja apa-apa. Bahkan sekadar memasak makanan sederhana pun kamu tidak bisa.”
“Iya Angel memang gila. Dan Pak Angga tahu hal apa yang membuat Angel gila? Rasa cinta Angel yang terlalu besar buat seseorang. Dan Bapak tahu siapakah orang yang mengenalkan kepada Angel arti nama cinta? Anda orang tersebut. Bapak datang membawa cinta. Dan sekarang Bapak pergi meninggalkan sejuta rasa cinta yang telah tumbuh di hati Angel.”
Sejenak aku mengusap air mata yang mengalir membasahi pipi dan kembali melanjutkan pembicaraan dengan berusaha agar tidak lagi menangis di hadapan Pak Angga.
"Dan Bapak benar bahwa Angel ini masih kecil. Angel belum merasakan keras pahitnya dunia luar. Angel hanya anak manja yang selalu menggantungkan kehidupan kepada kedua orang tua. Pak Angga juga benar, bahwa Angel tidak bisa memasak. Bahkan untuk membuat nasi goreng saja Angel tidak bsia.”
"Hiks..hiks…"
“Angel sadar diri kalau Angel tidak pantas menjadi pendamping hidup Bapak. Pak Angga layak mendapatkan wanita yang dewasa, pintar memasak dan bisa melayani Bapak dengan sangat baik. Silakan pergi jika itu sudah menjadi keputusan Pak Angga! Angel tidak bisa menahan seseorang yang sudah tidak menyimpan rasa cinta di hatinya untuk Angel.”
“Saya minta lupakan saya! Lupakan semua kenangan yang telah kita buat! Lupakan semua hari-hari yang kita lalui bersama! Anggap saja ini hanya terjadi dalam mimpi kamu! Kembalilah kepada Ibu dan Bapak kamu! Serta wujudkan impian kamu di kota Kembang! Saya percaya kamu akan mendapatkan pria yang jauh lebih baik dari saya.”
Perlahan Pak Angga melangkahkan kaki kanan dan kirinya secara bergantian mendekati mobil milliknya yang terparikir di pojok halaman. Pelan tapi pasti, ia membawa mobilnya keluar dari gerbang menjauhi kediamanku.
“Hiks…”
“Hiks…”
Aku masih belum rela melepaskannya. Membiarkan dia pergi meninggalkan pilu yang teramat dalam.
“Pak Angga…”
“Pak…hiks…”
“Pak Angga…”
Percuma sudah. Mobil hitam semakin melaju dengan cepat. Tidak mungkin bisa langkah kakiku menyeimbangi lajunya. Tubuhku terkulai di atas aspal berwarna hitam. Ketika tanganku menyentuhnya, aku dapat merasakan panas menyentuh kulit tipis tanganku. Tetapi rasa sakit di hatiku mengabaikan rasa panas yang terasa di telapak tanganku.
__ADS_1
Aku tidak menyangka perpisahan ini terjadi. Aku tidak pernah menginginkan perpisahan seperti ini. Ditinggalkan dan meninggalkan. Bukankah keduanya sama-sama sakit?
*Bersambung*