My Teacher Is Mine

My Teacher Is Mine
MTIM-87 Benih Cinta


__ADS_3

Hari ini author akan crazy up nih😱😱


Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak berupa like, komen, rate 5 & vote seikhlasnya 🤭


Jangan menjadi pembaca gelap ya tanpa meninggalkan jejak apa-apa🥰🥰


.


.


************


“Do, kalau lo gak suka lihat gue bahagia, lo ngomong langsung sama gue ! Jangan dengan menjelak-jelekan Clarissa.”


“Ben, bukan seperti itu...”


“Clarissa yang membuat gue jatuh cinta, Do. Dan Clarissa yang membantu gue melupakan Angel. Terus sekarang lo mau misahkan gue dengan Clarissa ? Hah ?”


“Ben, Clarissa bukan orang yang tepat. Dia bukan perempuan baik-baik. Dia habis dipakai Frans, Ben.”


Bukk !!!


Lagi-lagi pukulan mendarat di wajah tampan Kak Aldo. Bahkan darah yang mengalir bertambah banyak. Semua yang menyaksikan berteriak histeris tidak tega.


“Gue gak nyangka lo bisa berpikir jahat seperti itu, Do. Kalau lo iri karena gue lebih dulu punya pasangan daripada lo, bukan seperti ini caranya. Kita bersaing secara sehat, Do. Gue gak mau berteman sama lo lagi !”


“Ben...”


“Kak Ben...”


Kak Beni meninggalkan Kak Aldo dengan darah yang menutupi paras tampannya. Bahkan ia tidak menghiraukan aku dan Alessyia yang terus memanggil namanya.


Akhirnya apa yang aku dan Alessyia takutkan terjadi. Kak Beni tidak percaya pada fakta yang mengatakan bahwa Clarissa tidak sebaik pikirannya. Justru ia balik marah dan membenci orang yang telah mengungkap kebenaran itu.


“Kak, biar Echa bantu.”


“Aww...”


Kak Aldo meringis kesakitan ketika dibantu Alessyia berdiri. Aku yang melihatnya juga ikut meringis seolah merasakan ngilu yang Kak Aldo rasa. Apalagi tetesan darahnya terus mengalir membasahi kemeja yang ia kenakan.


Alessyia terus menggandeng Kak Aldo selama perjalanan menuju klinik kampus. Meskipun sepanjang jalan dirinya menjadi pusat perhatian. Tetapi Alessyia terus berjalan tergopoh-gopoh karena menopang Kak Aldo yang berat badannya melebihi dirinya.


Beruntung masih banyak yang baik hati. Sebagian orang-orang yang menyaksikan perkelahian tadi membantu aku dan Alessyia untuk membawa Kak Aldo. Sehingga jika ada mahasiswa yang bertanya atau hendak menghampiri Kak Aldo, akan langsung dihadang oleh mereka.


“Kenapa ini ? Ada apa ?”


“Sus, jelasinnya nanti saja. Sekarang tolong bantu Kak Aldo !”


Ketika Alessyia telah memasuki ruang rawat, ia langsung disambut oleh perawat yang hari itu sedang bertugas. Sedangkan aku masih berada di luar.


“Kakak-kakak Angel mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya karena sudah berkenan membantu Kak Aldo. Sekali lagi Angel sangat berterimakasih !”


“Semoga Aldo tidak apa-apa, ya !”


“Sampaikan salam kita kepada Aldo. Semoga cepat membaik.”


“Baik, Kak. Terimakasih !”


Setelah mengucapkan syukur kepada mereka, aku segera menyusul Alessyia masuk ke klinik. Aku melihat Alessyia duduk termenung di kursi dengan tatapan yang menunduk.


“Cha...”

__ADS_1


“Angel...”


Entah apa yang Alessyia rasakan, ia langsung memelukku sangat erat.


“Gimana kalau luka Kak Aldo parah, Ngel ?”


“Enggak Cha. Kak Aldo orang yang kuat. Gue yakin Kak Aldo bisa melawan sakitnya.”


“Hiks..hiks.”


Gorden yang menjadi penghalang antara ruang tunggu dan ruang rawat telah terbuka. Seseorang dengan seragam serba putih menghampiri aku dan Alessyia.


“Pasien sudah bisa dijenguk, Mbak.”


“Lukanya gak parah kan, Sus ?”


“Enggak kok, Mbak. Setelah dikasih antibiotik rasa sakitnya akan hilang.”


“Kita bisa melihatnya, Sus ?”


“Silakan, Mbak.”


Ketika telah mendapat restu untuk menjenguk Kak Aldo, aku dan Alessyia segera beranjak. Apalagi Alessyia sangat bersemangat untuk mengetahui keadaan terkini Kak Aldo.


“Kak masih sakit gak ?”


“Yang ini sakit ?”


“Atau yang ini masih sakit ?”


Alessyia menunjuk satu per satu luka yang tergambar jelas dimuka putih milik Kak Aldo.


“Hah ? Sakit Kak ? Tapi tadi kata suster sudah dikasih obat pereda nyeri, Kak.”


“Hahaha. Kamu kenapa panik banget sih, Cha ?”


“Echa takut Kak Aldo kenapa-kenapa.”


“Kakak gak papa. Udah gak sakit kok.”


“Ih, Kak Aldo bohongin Echa.”


Aku tersenyum melihat Alessyia sangat perhatian kepada Kak Aldo. Bahkan aku rasa ia sangat over protektif. Kak Aldo meringis ketika Alessyia menepuk sikutnya.


“Aww yang ini sakit, Cha.”


“Gak tahu ah. Pasti bohong lagi.”


“Serius. Kayaknya tadi kebentur lantai atau kursi gitu. Kakak juga gak sadar.”


Kak Aldo semakin meringis ketika Alessyia mengangkat lengannya. Dan ketika lengan kemeja Kak Aldo ditarik ke atas, ternyata ada memar dibagian tulang lengannya. Mungkin benar itu terjadi pada saat dirinya terlempar ke lantai. Alessyia semakin menunjukan perhatiannya.


“Maaf Kak ! Echa gak tahu.”


“Hahaha.”


“Ekhem...kayaknya kehadiran Angel gak di anggap nih. Ya udah Angel keluar aja ya. Daripada disini jadi obat nyamuk.”


“Ehh jangan dong, Ngel. Lo ngomong apa sih ? Gue gak ada apa-apa kok sama Kak Aldo. Gue cuma kasian aja sama Kak Aldo.”


“Emangnya kamu gak mau Cha kalau ada apa-apa sama Kakak ?”

__ADS_1


“Hmmm...Kak Aldo bicara apa sih.”


Sepertinya aku merasakan ada yang berbeda dari Alessyia. Tidak biasanya ia merasa gugup seperti ini ketika digoda oleh Kak Aldo. Bahkan Alessyia dengan senang hati mengantarkan Kak Aldo pulang.


“Angel lo yakin gak papa pulang sendiri ?”


“Ya ampun udah santai aja kali, Cha. Gue bukan pertama kali kemana-mana sendirian. Udah mending lo temenin Kak Aldo pulang, ya !”


Akhirnya mobil Kak Aldo telah melesat meninggalkan kampus dengan Alessyia yang menjadi supirnya. Kak Aldo tidak mungkin menyetir dengan kondisi tangannya yang masih sakit. Aku pun segera berlalu keluar gerbang. Tetapi langkahku terhenti ketika melihat mobil hitam dengan pemilik di dalamnya yang melambai ke arahku.


“Ayo masuk !”


“Mau kemana, Bee ?”


“Aku antar kamu pulang.”


Tanpa bertanya lagi, aku segera melakukan perintah Pak Angga. Tetapi anehnya ia membawa mobilnya berlawanan arah dengan kost-anku.


“Bee, kost-an Angel bukan kesini kan ?”


“Kita jalan-jalan dulu sebentar. Sudah lama aku tidak menikmati waktu berdua bersama kamu.”


“Tapi baru kemarin kita ketemu, Bee.”


“Iya, tapi tidak berdua. Ada Rendy sama Bi Rani. Apalagi kalau ada Rendy aku tidak bisa dekat-dekat sama kamu. Harus mengalah sama Rendy.”


“Ya ampun, Bee. Mengalah sama anak sendiri gak papa kali.”


“Makanya, sekarang beri aku waktu untuk berduaan.”


Aku menatap Pak Angga dengan tersenyum manis. Pak Angga menggenggam tanganku kemudian ia mengecup dibagian punggungnya. Aku menyenderkan kepalaku pada tempat yang paling nyaman, yaitu bahunya.


“Bee, Angel kasihan sama Kak Aldo dan Kak Beni.”


“Emangnya kenapa ?”


“Padahal mereka itu dekat. Tetapi sekarang harus berdebat.”


“Maksudnya gimana ?”


“Semua ini gara-gara Clarissa.”


“Aku tidak mengerti dengan pembicaraan kamu sayang. Coba jelaskan yang lebih lengkap !”


“Jadi Kak Beni tidak sengaja mendengar ucapan Kak Aldo yang membicarakan keburukan Clarissa. Tetapi Kak Beni tidak percaya dan malah balik marah sama Kak Aldo.”


“Clarissa yang kemarin kita lihat ?”


“Heem.”


“Emangnya dia kenapa ?”


Untuk kesekian kalinya aku membeberkan keburukan Clarissa. Aku tahu tidak baik membicarakan kejelekan orang lain. Tetapi ini demi kebaikan semua agar tidak tertipu dengan wanita berbulu domba itu.


“Aku yakin suatu hari mata hati Beni akan terbuka. Kamu jangan menyalahkan diri sendiri atas semua yang terjadi. Karena sikap Aldo benar. Beni harus mengetahui sebelum semuanya semakin jauh.”


“Tapi Bee, persahabatan yang telah lama mereka jalin jadi retak.”


“Percayalah, setiap masalah akan ada solusinya. Aku yakin mereka akan kembali menyatu. Karena persahabatan lebih kuat daripada emosi sesaat. Boleh saja sekarang Beni meradang kepada Aldo. Tetapi aku yakin ia masih menyimpan kenangan-kenangan bahagia bersama Aldo. Dan suatu saat ia akan kembali kepada Aldo untuk mengulang kenangan itu.”


*Bersambung*

__ADS_1


__ADS_2