
Aku menikmati suasana sore menembus hangatnya suasana kota Kembang dengan ditemani Pak Angga. Tiada momen yang lebih membahagiakan selain bisa menghabiskan waktu bersama seseorang yang kita cintai.
“Ayo !”
“Ngapain kita kesini, Bee ?”
“Nanti kamu tahu kalau sudah di dalam.”
Aku merasa heran ketika Pak Angga menghentikan mobilnya di depan butik. Aku memasukinya dengan tangan yang digandeng oleh Pak Angga. Dan kehadiran kami langsung disambut ramah oleh pegawai disana.
“Ada yang bisa dibantu, Pak ?”
“Tolong pilihkan gaun yang cocok buat gadis ini.”
“Untuk acara seperti apa, Pak ?”
“Formal.”
“Silahkan ikut sama saya, Mbak !"
“Tapi, Bee...”
Pak Angga hanya mengangguk. Ia seperti setuju terhadap pegawai itu yang mengajak aku untuk ikut bersamanya. Kemudian ia memberikan beberapa baju untuk aku coba. Aku segera menuju ruang ganti untuk memakainya. Dan setelah selesai, aku menghampiri untuk menunjukannya kepada Pak Angga.
“Tidak.”
Sudah beberapa gaun yang aku pakai. Tetapi belum ada yang disetujui oleh Pak Angga. Ia hanya berkata tidak atau menggelengkan kepalanya.
“Tidak.”
“Tidak lagi ?”
Dan ini sudah gaun kelima. Aku merasa telah lelah terus mengganti pakaian. Dan tinggal tersisa satu gaun lagi. Aku harap ini menjadi yang terakhir pilihan Pak Angga.
Ketika aku keluar dari ruang ganti dan hendak memamerkan gaun itu, Pak Angga menatapku sangat teliti dari atas sampai bawah. Bahkan ketika aku bertanya apakah terlihat bagus atau tidak, Pak Angga tidak menjawabnya sama sekali. Ia semakin asik menikmati gaun yang aku pakai.
“Cantik.”
“Aku suka yang ini.”
“Mbak, saya ambil yang ini !”
Akhirnya Pak Angga tidak menolak lagi kali ini. Karena jika sampai dia tidak suka lagi, aku tidak tahu harus gaun seperti apa yang terlihat cocok untuk aku pakai. Dia segera memesan gaun itu kepada pegawai yang melayaniku sedari tadi.
“Bee, tapi buat apa beli ini ? Angel tidak membutuhkannya."
“Nanti kamu akan membutuhkannya. Kamu pasti lelah kan ? Sekarang kamu duduk manis disini !”
“Mbak, pilihkan jas yang senada dengan gaun yang tadi !”
“Untuk pacarnya gadis itu ya, Pak ?"
“Iya.”
“Kalau boleh tahu ukurannya bagaimana, Pak ?”
__ADS_1
“Buat saya, Mbak.”
Pegawai itu seperti kebingungan ketika Pak Angga menyebut dirinya pacarku. Aku menebak bahwa yang ada dalam pikiran pegawai itu. Mungkin ia tidak percaya jika aku kekasih Pak Angga. karena terlihat dari tampilan luarnya saja, usia kami seperti terpaut jauh.
Kemudian pegawai tersebut membawa Pak Angga menuju tempat khusus untuk pakaian pria. Aku tidak mengikutinya. Kakiku masih lelah setelah mencoba 5 gaun yang berbeda.
Pusat perhatianku teralihkan dengan kehadiran seseorang. Tatapan mata yang awalnya tengah asik menatap layar smartphone, kini beralih kepada seseorang dengan setelan jas yang sangat terlihat cocok ia kenakan. Entah apa yang melengkapi penampilannya, aku merasakan Pak Angga lebih gentle dengan memakai pakaian tersebut.
“Tampan.”
“Kamu suka ?”
“Heem. Angel suka.”
“Ya udah, saya ambil yang ini aja, Mbak.”
Pak Angga segera mengikuti pegawai tersebut untuk melakukan transaksi. Setelah barang yang diinginkan berada pada tangannya, Pak Angga segera mengajak aku untuk pulang. Aku langsung melingkarkan tanganku pada lengan kekar Pak Angga. Bahkan kami tidak mempedulikan terhadap semua pasang mata yang menyaksikan keharmonisan kami sore itu.
“Bee, tapi untuk apa semua pakaian itu ?”
“Aku ingin kamu menemani aku pada acara sekolah yang di adakan pekan nanti.”
“Tapi kenapa Angel, Bee ?”
“Jika acara seperti itu, maka akan di dominasi oleh orang yang berpasangan. Kamu pikir aku akan datang bersama siapa selain dengan kamu ?”
“Apakah kamu tidak akan malu membawa pasangan yang hampir se-usia dengan murid kamu ?”
“Apakah kamu malu berpasangan dengan orang yang usianya lebih tua dari kamu.”
“Tak masalah jika aku di anggap seperti om-om dengan perut buncitnya yang selalu menggoda gadis polos seperti kamu.”
“Ihh, Bee. . .”
Pak Angga tidak mempedulikan apa yang aku cemaskan. Ia malah menggodaku dengan mencubit hidungku. Kemudian ia membuka pintu mobil agar aku dapat masuk. Setelah ia menempati kursi kemudi, mobil itu ia lajukan dengan kecepatan yang semakin lama semakin dipercepat.
“Bee, gak mau masuk dulu ?”
“Enggak. Next time aja, ya. Kamu istirahat ! Pasti kamu capek.”
“Hmm.”
“Kalau perlu bantuan segera hubungi aku !”
“Baik Pak Guru.”
Aku berbalik hendak meninggalkan Pak Angga.
“Ehh tunggu !”
“Ada apa lagi, Bee ?”
“Ini gaunnya kamu yang simpan ! Jangan lupa pekan nanti !”
Aku segera menerima bingkisan yang di dalamnya terdapat gaun yang baru saja kami beli. Pak Angga mengedipkan sebelah matanya. Membuat aku tidak tahan ingin tertawa. Padahal di dalam butik ia sangat kaku, berbicara pada pelayan saja sangat singkat. Tetapi kepadaku, ia bisa bersikap sangat manis.
__ADS_1
***
Sudah empat hari berlalu. Aku kehilangan masa masa bersama menghabiskan jam istirahat di kantin. Kak Beni selalu menghindar ketika berpapasan dengan aku, Alessyia atau Kak Aldo. Bahkan Ibu kantin juga bertanya kenapa kami tidak lagi bersama. Mungkin karena kebiasaan kami yang selalu bersama, dan sekarang tidak, membuat semua orang yang melihat merasa heran.
Bahkan tak jarang rekan-rekan mahasiswa yang lain juga sengaja menghampiri kami hanya untuk menanyakan kemanakah Kak Beni. Aku tidak tahu apakah pertanyaan mereka tulus. Atau ada niat usil dibaliknya. Tetapi kami selalu menjawabnya dengan mengatakan bahwa kami baik-baik saja.
Semakin lama aku tidak tahan melihat kami yang dulunya dekat tak terpisahkan, sekarang seperti orang asing yang tidak saling mengenal. Aku memberanikan diri untuk menjumpai Kak Beni yang sedang latihan basket. Meskipun aku masih takut jika harus ke taman belakang dan melewati gudang bersejarah dalam hidupku. Tetapi aku melupakan sejenak rasa trauma itu demi bertemu Kak Beni.
“Kak..."
“Kak tunggu Angel !”
“Beri Angel kesempatan untuk menjelaskan semuanya !”
Ketika aku telah tiba di halaman belakang kampus, aku melihat Kak Beni baru selesai dari latihannya. Aku berusaha untuk menghentikan langkahnya yang awalnya tidak di dengar olehnya. Tetapi karena aku yang menghalangi jalannya, Kak Beni tidak lagi bisa menghindar.
“Minggir !”
“Kak, beri Angel waktu untuk menjelaskan !”
“Gue gak mau dengar ucapan yang keluar dari mulut kalian.”
“Kak, bukan maksud kita untuk menjauhkan Kak Beni dari Clarissa. Tetapi ini semua juga demi kebaikan Kakak.”
“Kebaikan ? Kebaikan buat kalian maksudnya ?”
“Enggak, Kak...”
“Kalau kalian ingin ini semua demi kebaikan gue tolong jangan ikut campur hubungan gue dengan Clarissa.”
“Tapi Kak, Clarissa itu. . .”
“Udah cukup, Ngel ! Kakak udah berhasil melupakan kamu. Jangan menghalangi Kakak untuk bersama orang yang Kakak cintai. Karena jika dengan kamu itu tidak mungkin.”
“Kak Ben..."
“Kamu hanya takut kehilangan orang yang sangat mengagumi kamu, iya kan ? Dan kamu gak mau orang yang mengejar mengemis cinta kamu berpaling kepada wanita lain, iya ?”
“Bukan seperti itu, Kak...”
Aku tidak mengerti kenapa ini menjadi rumit. Semua tuduhan Kak Beni sama sekali tidak benar. Aku hanya tidak mau ia dimanfaatkan oleh wanita berbulu domba itu.
“Angel...”
Alessyia dan Kak Aldo segera menghampiri diriku yang telah terduduk di atas rumput hijau karena kesedihan yang aku rasa akibat dari ucapan Kak Beni membuat lututku lemas.
*Bersambung*
.
.
.
Jangan lupa like, komen, rate 5 & vote🥰
__ADS_1
Terimakasih 🙏