
Tidak mungkin mereka membiarkan aku pulang sendiri dengan kaki yang masih belum kuat menahan berat badan. Akan sangat kejam, jika mereka meninggalkanku begitu saja.
“Ayo kita pulang !”
“Hiks...”
“Udah lo jangan nangis. Kita cari solusi dari masalah ini.”
Kak Aldo mengajak aku dan Alessyia untuk naik ke dalam mobilnya. Padahal jarak kampus ke kost-anku tidak terlalu jauh. Tetapi dengan tekadnya yang kuat, Kak Beni mengantarkan kami berdua.
Setelah tiba mereka juga tidak langsung pergi begitu saja. Apalagi melihat kondisiku yang masih mengeluarkan isak tangis. Tentu mereka mendampingi diriku di dalam ruangan yang sempit tersebut. Alessyia menghampiriku dan memeluk dari arah samping. Dengan tangan yang terus menepuk-nepuk bahuku.
“Udah, Ngel. Gue dengar semua ucapan Kak Beni. Apa yang dituduhkannya kepada lo jelas itu tidak benar. Gue tahu kok maksud lo.”
“Tap Cha, Kak Beni salah paham...”
“Itu karena Kak Beni sedang dikuasai oleh aura negatifnya. Beri dia waktu untuk bisa mengontrol emosinya.”
“Kalian tenang aja. Kak Aldo akan memikirkan bagaimana caranya agar Beni bisa mengerti dan tidak lagi meradang. Ini semua juga salah Kak Aldo. Jadi Kakak harus bertanggung jawab atas semua yang telah Kakak perbuat.”
“Kak, ini bukan salah Kak Aldo. Semua ini salah Echa. Jika mulut Echa tidak cempreng, maka Kak Aldo tidak akan mendengar pembicaraan pagi itu bersama Angel. Dan Kak Aldo juga tidak akan penasaran.”
“Enggak. Semua ini salah Angel. Jika saja Angel tidak bercerita kepada kalian perihal Kak Beni dan Clarissa, maka masalah ini tidak akan ada. Kak Beni tidak akan menjauh dari kita.”
“Jika kalian terus menyalahkan diri sendiri atas apa yang terjadi. Maka masalah ini tidak akan ada akhirnya.”
“Pak Angga...”
Semua yang sedang berada di ruang kamar miliku menatap heran kepada seseorang yang baru masuk langsung memberikan nasihatnya.
“Kok Bapak ada disini ?” Tanya Kak Aldo heran.
“Saya ingin mengunjungi pacar saya. Dan ternyata bukan hanya Angel yang ada disini. Saya juga tidak sengaja mendengar apa yang kalian bicarakan.”
Pak Angga kembali melanjutkan pembicaraannya.
“Aldo, kamu tidak salah. Tindakan kamu sudah benar untuk menceritakan yang sesungguhnya kepada Beni. Dan Alessyia, kamu tidak salah sama sekali. Karena itu hanya kebetulan. Jangan menyalahkan atas suara cempreng yang telah di anugerahkan Tuhan !”
“Dan kamu Angel, pilihan kamu untuk menceritakan kepada Alessyia dan Kak Beni juga bukan kesalahan. Jika kamu tidak bercerita, maka tidak akan ada yang berani untuk mengungkapkan kebenaran.”
Pak Angga menghentikan penjelasannya. Ia menarik nafas dalam-dalam. Tiga orang yang telah diberi petuah juga belum mengeluarkan argumen. Suara detikan jam dinding menjadi penghangat suasana sore itu.
“Bapak benar. Sudah terlambat untuk menyesali semua ini. Justru kita harus fokus untuk memikirkan jalan keluarnya. Bukan malah meratapi kesedihan.”
“Iya. Echa gak akan berpikir sampai kesana jika tidak di kasih tahu sama Bapak. Ternyata Pak Angga sangat dewasa. Angel, lo harus bersyukur bisa memiliki Pak Angga. Kalau Pak Angga belum jadi milik lo, gue juga mau jadi pacarnya Pak Angga.”
“Cha....”
“Hahaha. Enggak, Ngel. Gue becanda kali. Lagian, kalau lo bukan pacar Pak Angga, gue gak tahu kali kalau Pak Angga punya sikap yang seperti itu. Yang gue tahu Pak Angga itu guru paling dingin, kayak kulkas.”
“Oh jadi saya kayak kulkas ?”
“Eu-eu...”
“Hahaha.”
Semua tertawa melihat ekspresi Alessyia yang berubah menjadi gelagapan. Dan berkat kehadiran Pak Angga, kami tidak lagi menyalahkan diri sendiri. Atas bantuan guyonan Alessyia juga berhasil mengubah awan kelabu menjadi biru cerah.
“Cha, Pak Angga kan sudah ada Angel, mending kamu sama Kak Aldo aja. Gimana ?”
__ADS_1
“Ih, Kak Aldo. Apaan sih ?”
“Ciee...ciee...” Goda aku kepada Alessyia.
Sedangkan Pak Angga hanya tersenyum tipis menyaksikan Alessyia yang salah tingkah digoda Kak Aldo.
“Ayolah Cha ! Kita ke depan yuk ! Biar ikut berduaan juga.”
“Enggak. Echa gak mau.”
“Ehh Cha, dengar nih ! Kalau ada dua orang, maka yang ketiganya adalah se...”
“Setan.” Ucap Alessyia melengkapi.
“Anak pintar! Kamu gak mau kan jadi set...”
“Iya iya gak mau.”
Dengan muka kesal terpaksa Alessyia menuruti kemauan Kak Aldo. Ia mengikuti langkah Kak Aldo dengan sangat lesu menuju balkon depan kamar. Tetapi belum sempat menginjak keluar, Alessyia kembali ke dalam untuk membawa cemilan.
“Angel, gue minta yang ini boleh gak ?”
“Boleh...”
“Ambil aja semuanya. Nanti saya belikan lagi.”
“Serius Pak ?”
“Heem.”
“Yeayyy !”
“Angel, jangan nangis terus dong! Muka kamu jelek banget tuh.”
“Ih.”
“Sayang, jangan cemberut gitu dong !”
“Tahu ah.”
“Haha, maafin aku deh !”
Aku malah semakin kesal sama Pak Angga. Dengan mulut yang panjangnya sekitar 5 cm. Serta tatapan yang menghindar darinya. Tetapi Pak Angga tidak menyerah. Ia masih terus merayuku.
Sekarang ia membawa wajahku dengan diapit dua lengan besarnya dan di arahkan untuk menatap mukanya. Sedangkan aku masih sama. Justru membuat bibirku semakin memonyong panjang.
“Haha. Itu bibir kamu sayang. Gemes, aku jadi pengen.”
“Ih Bee...”
Sebelum Pak Angga berpikiran yang aneh-aneh lagi. Aku segera melepaskan tangannya dari kedua pipiku dan menjauhkan wajahnya. Dengan berat hati, aku juga berusaha mengembalikan bentuk bibirku agar tidak lagi menarik perhatian Pak Angga.
“Makanya jangan monyong-monyong kayak bebek gitu. Bibir kamu sangat menggoda.”
“Iya enggak nih. Hiiii.”
Aku menunjukan senyuman lebar dengan sangat terpaksa. Meskipun memperlihatkan barisan gigi putih yang tertata rapih, tetapi tidak ada garis mata yang terlihat.
“Kamu jangan nangis terus, ya ! Mata kamu jadi bengkak. Lihat tuh ! Item-item gini ih.”
__ADS_1
“Serius, Bee ?”
Pak Angga menunjuk kantung mataku. Aku segera mengambil ponsel yang akan aku gunakan untuk bercermin.
“Jelek ya, Bee.”
“Jelek dong. Besar kan kantung matanya? Item lagi.”
“Kayak panda ya, Bee ?”
“Iya, makanya kamu jangan nangis lagi !”
"Whoaaa."
“Angel tolongin gue !”
“Pak Angga, tolong Echa !”
Keharmonisa aku dengan Pak Angga dirusak oleh kehadiran Alessyia yang berlari dari luar. Ia langsung naik ke ranjang dan bersembunyi dibalik badanku. Kak Aldo juga mengikuti Alessyia. Ia berdiri di dekat Alessyia.
“Cha, ini lihat dulu !”
“Gak mau. Kak Aldo jorok banget sih. Echa geli tahu.”
“Cha, ini bohongan kali.”
“Gak ada. Mana ada bohongan. Echa lihat sendiri Kak Aldo mengambil langsung yang masih hidup.”
“Aaaaaaa. Angel tolongin gue! Pak Angga usir Kak Aldo dari sini !”
Alessyia semakin teriak histeris ketika Kak Aldo menarik lengannya dan hendak memberikan sesuatu yang sedari tadi disembunyikan di balik badannya. Aku dan Pak Angga menutup telinga agar suara cempreng Alessyia tidak merusak gendang telinga kami.
“Do, udah. Kasihan Echa !”
“Tapi Pak...”
“Do...Kalau kalian berantem terus kayak gini, lama-lama tumbuh cinta di antara kalian, lho.”
“Ih amit-amit.” Ucap Alessyia sembari menepuk-nepuk jidatnya.
“Whoaaa-.”
“Aaaaaa.”
Karena kelalaian Alessyia, Kak Aldo berhasil menarik lengannya. Alessyia tidak bisa kabur lagi. Kak Aldo membuka kepalan yang sedari tadi ia sembunyikan. Alessyia semakin menangis sejadi-jadinya. Persis seperti anak kecil yang tidak diberi uang jajan.
Kak Aldo yang tidak tega melihatnya mengucapkan maaf dan terus berusaha menenangkan Alessyia.
“Cha, Kak Aldo minta maaf! Cicaknya udah gak ada kok. Udah Kak Aldo buang. Jangan nangis lagi, ya! Kakak minta maaf !”
*Bersambung*
.
.
.
Jangan lupa tinggalkan jejak berupa like, komen, rate 5 & vote🥰
__ADS_1
Terimakasih 🙏