My Teacher Is Mine

My Teacher Is Mine
MTIM-12 Pengakuan Angel


__ADS_3

Malam ini masih sama, terasa dingin hingga menembus ulu hati. Jika bukan karena keinginan untuk memakan makanan yang manis, aku tidak mau keluar dalam keadaan membeku.


“Pak, martabak manis cokelat toping pisang kacang, 1 porsi ya !”


“Siap, Neng. Silahkan ditunggu !”


Aku gosok-gosokkan kedua tanganku dengan harapan dapat menghangatkan suhu tubuhku. Sedari dulu seperti itu, apapun keinginanku harus selalu dituruti. Apalagi perihal makan. Padahal nantinya aku cuma memakannya ¼ bagian. Dan sisanya, terserah siapa saja yang menghabiskan. Biasanya Mamah menyimpannya di dalam lemari pendingin, dan bagi yang mau memakannya diberi kebebasan untuk mengambilnya sendiri.


“Ini Neng martabaknya sudah siap !”


“Terimakasih, Pak.”


Aku memberikan uang pas kepada Bapak penjual martabak, dan segera kembali menuju rumah. Karena jika terlalu lama berada di luar, bisa saja aku terkena hipotermia. Dimana perubahan suhu secara drastis karena terlalu lama berada pada suhu dingin, yang nantinya akan berakibat fatal.


Ternyata gang ini tidak berubah sama sekali. Masih selalu sepi bak desa tak berpenghuni. Sebenarnya dipinggir jalan gang dipenuhi oleh rumah, tapi entah kemana tuan pemiliknya. Setiap kali aku melintas, tidak pernah kutemui orang-orang. Hanya ada aku dan bayangan yang terpantul oleh sorot lampu.


Tiba-tiba terdengar langkah kaki. Aku tidak berani untuk menengok. Sedari tadi suasananya sudah mencekam. Apalagi sekarang seperti ada yang mengikuti pergerakanku. Dengan sekuat tenaga aku mencoba berlari menjauh dari sana. Entah bagaimana caranya, kini sosok yang mengikutiku berada tepat dihadapanku. Dengan mantel tebal berwarna hitam, hoddie yang menutupi sebagian mukanya, ditambah jeans biru dongker. Aku sama sekali tidak mengenalinya.


"Apa maunya ? Tuhan tolonglah aku. Aku benar-benar ketakutan."


Saat perlahan hoddienya terbuka, sedikit demi sedikit aku baru ingat siapa dia.


“Frans ?”


“Iya ini aku. Kamu pasti gak menyangka kalau aku ada disini kan ?”


“Sumpah ya, gue tuh takut. Mau ngapain lagi sih lo ?”


“Maaf, tapi aku gak bermaksud membuat kamu ketakutan. Aku cuma kangen sama kamu Angel.”


“Gue sama sekali gak ngerti dengan jalan pikiran lo. Lo tuh orang aneh yang pernah gue temui. Lo dulu datang ngemis-ngemis minta balikan. Terus lo ngilang entah kemana. Dan sekarang lo datang lagi dengan alasan kangen ? Lo pikir gue ini apa, Frans ? Kenapa dengan mudahnya lo mempermainkan perasaan gue ?”


“Angel kamu harus percaya sama aku, sampai detik ini dan seterusnya aku akan tetap mencintaimu.”


“Jika sudah tidak ada yang penting, saya permisi !”


Bagiku, mendengarkan celotehan seorang Frans hanya akan membuang-buang waktu. Semua ucapan yang keluar dari mulutnya sama sekali tidak menarik perhatianku.


Ketika aku hendak berlari meninggalkannya, tiba-tiba saja pergelangan tangan kiriku ditarik sekencang-kencangnya sehingga membuatnya terasa perih.


“Frans lo gila ! Ini sakit tahu.”

__ADS_1


“Maaf, Ngel. Aku hanya ingin kamu tahu seberapa besar aku mencintaimu.”


“Lepasin sakit, Frans. Lepasin. Hiks. . hiks. .hiks. . .”


Rupanya tangisanku sama sekali tidak mengubah pendiriannya. Ia masih menggenggamnya dan malah semakin erat. Aku berharap kali ini saja ada orang yang melewat. Aku butuh pertolongan, please !


Tuhan memang selalu ada bagi umat-Nya yang sedang berada dalam kesusahan. Seperti saat ini, motor gede berwarna merah berhenti tepat dihadapanku. Tanpa membuka helm hitamnya ia segera melepaskan aku dari cengkraman ganas Frans.


“Terimakasih. Terimakasih sudah hadir pada waktu yang tepat.”


Itulah ucapan rasa syukur aku terhadap Tuhan atas kekuasaan-Nya. Jika bukan karena pertolongan-Nya aku tidak tahu apa yang akan Frans lakukan selanjutnya padaku. Bisa saja ia akan menjadi lebih kasar.


Sosok yang baru saja menolongku telah melepaskan penutup kepalanya beberapa detik yang lalu. Dan aku ingin memastikan seperti apa sosok superhero yang Tuhan kirimkan malam itu.


“Pak Angga ?”


“Hei, Om ! Ini urusan saya dengan pacar saya. Anda tidak perlu ikut campur !”


Pak Angga melirik ke arahku, aku menggeleng-gelengkan kepala untuk meyakinkan bahwa apa yang diucapkan Frans tidaklah benar. Aku bukanlah pacarnya.


“Pacar ? Pacar apa yang berbuat kasar kepada kekasihnya ?”


Pak Angga menarik tangan kiriku dan memperlihatkannya kepada Frans. Rupanya perilaku kasar Frans meninggalkan bekas lebam disana.


“Gadis ini, sama orang tuanya saja tidak pernah diperlakukan kasar. Anda yang mengatas namakan pacar bisa berbuat kasar seenaknya terhadap dia ?”


Sungguh aku tidak menyangka Pak Angga akan membelaku seperti itu. Pak Angga benar-benar pria dewasa. Pola pikirnya jauh berbeda dengan Frans si playboy.


“Apa hak anda ikut campur urusan Angel dengan saya ?”


“Dia pacar gue. Pacar gue yang sekarang.”


Aku menatap mata Pak Angga dan melingkarkan tanganku ke tangan kekar milik Pak Angga.


“Tidak. Ini tidak mungkin. Ini hanya alasan kamu untuk menghindar dariku kan ?”


“Kenalin, dia Angga Sutantyo, pacar gue. Dan mulai sekarang gue minta lo jangan pernah muncul di hidup gue lagi !”


Aku segera menarik Pak Angga untuk segera meninggalkan tempat itu. Setelah tiba di rumahku, kami tidak bisa lolos begitu saja. Pertanyaan bertubi-tubi terus Mamah cecar kepada aku dan Pak Angga. Benar, aku melupakan martabak. Sesuatu yang aku perjuangkan sampai harus melawan suhu dingin, hilang entah kemana. Semua ini gara-gara Frans. Jika saja dia tidak muncul, pasti saat ini aku sedang menikmati martabak dengan cokelat yang lumer di mulut.


Pak Angga membuka kotak P3K yang telah Mamah sediakan. Ia segera mengobati lebam ditanganku dengan mengolesi salep. Peristiwa itu terasa de javu bagiku. Tentu ini pernah terjadi waktu itu. Persis seperti saat ini, ketika ia menolongku dari gangguan Frans. Tentu saja aku berusaha menahan senyuman agar tidak terlihat oleh Pak Angga.

__ADS_1


“Terimakasih atas pertolongannya, Pak. Dan juga Angel minta maaf karena tadi bilang kalau Bapak pacar Angel.”


“Siapa lelaki itu ?”


“Dia kekasih Angel dahulu. Tapi sekarang sudah tidak.”


“Saya rasa dia sedikit psycho.”


“Hmm entahlah. Angel tidak mau memikirkan dia.”


“Apa tangannya masih sakit ?”


“Tidak. Kan sudah diobati sama Bapak.”


“Angel . . . tidak bisakah apa yang tadi kamu ucapkan menjadi kenyataan ?”


Seketika suasana berubah menjadi hening. Aku masih memikirkan jawaban apa yang akan aku beri.


“Apa boleh Angel berkata jujur ?”


“Tentu.”


“Walaupun itu akan menyakitkan ?”


“Saya siap dengan segala jawaban yang akan kamu beri.”


“Jujur Angel kagum sama Bapak. Sikap bapak membuat Angel terpukau. Entah mengapa kata-kata Bapak selalu mampu menenangkan, dan motivasi dari Bapak membangkitkan semangat Angel. Eratnya genggaman Bapak seakan membuat Angel begitu sangat disayangi. Penampilan Bapak yang selalu terlihat rapih berhasil menarik perhatian Angel. Sikap dewasa Bapak membuat Angel merasa nyaman. Tapi Angel sadar semua itu tidak mungkin. Bagaimana bisa Angel mencintai seseorang yang telah menikah ? Makanya Angel berusaha untuk mengubur perasaan ini.”


“Saya akan segera menceraikan dia. Setelah kami resmi bercerai saya akan minta restu dari orang tua kamu. Kamu bisa percaya sama saya ?”


“Angel gak tahu, Pak. Angel bingung. Beri Angel sedikit waktu !”


“Baiklah. Kamu tidak usah buru-buru. Saya akan sabar menanti sampai kamu siap untuk menjawabnya.”


“Tetapi jika sutau hari jawaban yang Angel kasih tidak seperti yang Bapak harapkan, Apakah Bapak akan menghindar dari Angel ?”


“Selagi kamu belum menikah dengan pria lain, saya akan terus berusaha meyakinkan kamu untuk memilih saya. Tetapi jika kamu telah resmi menjadi milik pria lain, maka cara yang paling jantan bagi saya yaitu mundur.”


“. . .”


“Kamu harus ingat satu hal, jika suatu hari pria yang kamu yakini bukan saya, kemudian dia menyakiti kamu, saya sendiri yang akan membawa kamu kembali ke dalam pelukan saya.”

__ADS_1


*Bersambung*


__ADS_2