My Teacher Is Mine

My Teacher Is Mine
MTIM-63 Aksi Frans & Clarissa


__ADS_3

Mengabaikan seseorang itu bukan keahlianku. Apalagi permintaan bantuan dari orang yang sudah tidak muda lagi. Meskipun aku tidak peduli sama sekali dengan Frans. Tetapi aku akan membantu Ibunya Frans untuk menemukan dirinya.


Terpaksa aku meninggalkan Alessyia dan yang lainnya untuk mencari keberadaan Frans. Nomornya sama sekali tidak bisa di hubungi. Aku tidak tahu tempat tinggal Frans selama kuliah disini. Aku cuma ingat kampus yang menjadi tempatnya mencari ilmu.


Dengan menggunakan ojek online yang telah aku pesan sebelumnya melalui aplikasi gadget, kini aku berada di depan salah satu kampus yang letaknya tidak terlalu jauh dari kampusku.


Ternyata sama, pembelajaran disini juga belum efektif. Aku dapat melihat para mahasiswa masih dalam keadaan santai. Aku menanyakan kelas yang menjadi tempat Frans menimba ilmu. Beruntunglah aku masih mengingat fakultas apa yang Frans ambil.


“Kak maaf, lihat Frans gak ?”


“Frans siapa, ya ?”


“Frans Haritama, Kak.”


“Oh Frans anaknya pengusaha Haritama itu ?”


“Iya, Kak.”


“Kita gak lihat. Kayanya dia gak masuk deh. Soalnya dari pagi juga gak ada.”


“Gitu ya, Kak. Terimakasih ya, Kak.”


Sepertinya nama Frans Haritama sudah sangat terkenal di kampus ini. Buktinya setiap orang yang aku tanyakan dapat menjawabnya dengan berkata bahwa dia anak dari Haritama sang pengusaha sukses.


Tetapi tidak ada satupun yang aku jumpai memberikan jawaban yang pasti. Mereka menjawabnya tidak tahu. Kemana lagi aku harus mencarinya ? Hanya ini yang aku ketahui tentang Frans. Mungkin karena aku terlalu cuek sama Frans, bahkan alamat rumahnya saja aku tidak tahu.


“Kamu siapanya Frans ?”


“Aku sepupunya, Kak.”


“Waahh Frans kok gak bilang-bilang kalau punya sepupu cantik.”


“Hehe. Kakak tahu alamatnya Kak Frans ?”


“Katanya kamu sepupunya. Masa gak tahu alamatnya Frans ?”


Duuhhh gimana ini ? Aku sudah terlanjur mengaku sepupunya Frans. Jika aku berubah, mereka pasti tidak akan percaya. Apalagi aku juga tidak mau mengakui dia sebagai pacar aku. Hubungan kami itu sama sekali tidak dilandasi dengan rasa cinta dan sayang.


“Eu-eu iya Kak. Kebetulan aku baru kesini. Sebelumnya aku tidak pernah kesini, jadi aku tidak tahu alamatnya Kak Frans.”


“Baiklah.”


Beruntunglah mereka percaya dengan omonganku. Mereka segera menuliskan alamat tempat tinggal Frans. Kata orang-orang, mereka bertiga yang paling dekat dengan Frans. Kemana-mana pasti selalu bersama. Dan benar saja, mereka juga tahu tempat tinggal Frans.

__ADS_1


Masih bersama abang ojol yang tetap setia mengantar aku kemana-mana. Sekarang aku telah berdiri di depan sebuah rumah yang sangat megah. Dengan tanaman bunga yang memenuhi pekarangan. Dilengkapi cat berwarana cokelat keemasan. Itulah villa keluarganya Frans. Pantas saja serupa dengan rumah orang tuanya Frans.


“Siang, Mbak. Ada yang bisa saya bantu ?”


“Eemm aku pacarnya Frans. Apakah Frans ada disini ?”


Kedatanganku langsung disambut oleh petugas keamanan yang menggunakan seragam serba hitam. Kali ini aku terpaksa mengaku kekasihnya Frans. Aku tidak mau dicecar ribuan pertanyaan oleh Pak Security.


“Ada, Mbak.”


“Kalau gitu, aku boleh masuk kan ?”


“Eh ehh tunggu, Mbak.”


Langkah aku terhenti karena Pak Security berdiri di depan menghalangi jalanku.


“Ada apa, Pak ? Frans ada di dalam kan ?”


“Iya ada, Mbak. Tapi . .”


“Masa pacarnya gak boleh ketemu sih ?”


“Tapi. .tapi, Mbak. . .”


Aku segera berlalu meninggalkan Pak Security dan mengabaikan panggilan yang dilakukan berulang-ulang yang ditujukan kepadaku.


Klek !


Pintu terbuka. Beruntunglah pintunya tidak dikunci. Aku dapat masuk ke dalamnya untuk mencari keberadaan Frans.


Aku dibuat takjub oleh isi dari bangunan tersebut. Disini lebih mewah dari rumahnya Frans yang satu lagi. Corak-coraknya sangat unik. Aku yakin ini semua adalah barang-barang limited edition. Karena aku baru pertama kali melihatnya disini. Di villa keluarganya Frans.


“Frans. . .”


“Frans lo dimana ?”


“Frans ini gue Angel.”


Mataku bekerja berputar mengelilingi seluruh penjuru ruang untuk dapat melihat ciri-ciri kehadiran Frans. Hidungku juga jadi sangat aktif agar dapat mencium parfum yang selalu digunakan Frans. Rumah ini terlalu besar bagiku. Meskipun mengelilinginya dengan cara berjalan, tetap saja membuat aku lelah.


“Frans dimana sih ? Kok gak ada. Tadi kan kata Pak Security Frans ada di dalam. Tapi kok sekarang gak ada, ya.”


Rumah lantai dasar ini telah aku jelajahi. Tetapi aku belum juga dapat menemukan Frans. Handphonenya masih sama, tidak bsia dihubungi. Masih ada satu lantai lagi yang belum aku periksa.

__ADS_1


“Lantai atas. Mungkin Frans ada di lantai atas.”


Aku senang karena aku berharap akan menemukan Frans jika menaiki tangga menuju lantai dua. Setelah Frans ketemu, aku tidak lagi merasa terbebani dengan Maminya Frans yang telah sangat mempercayaiku. Dengan begitu, urusan aku dengan Frans untuk hari ini bisa berakhir.


“Eemmpphhh.”


“Mmpphh.”


“Frans. . .emmph.”


Ketika kedua kakiku telah menginjak di lantai atas, telingaku mendengar suara yang sangat aneh. Terkadang mengaduh seperti kesakitan. Sesekali juga menyebut nama Frans dengan sangat lirih dan terengah-engah. Dan yang paling membuat aku bergidik ngeri yaitu suara erangan yang sangat keras.


Rumah ini memang mewah. Tapi sayangnya tidak dilengkapi dengan pengedap suara. Sehingga aku dapat mendengar sesuatu yang seharusnya tidak aku ketahui.


Meskipun aku jijik mendengarnya, tetapi ini kesempatan bagiku untuk mendapatkan bukti keburukan Frans. Aku langkahkan kaki mendekati sumber suara. Sepanjang perjalanan aku melihat pakaian yang berceceran di lantai. Dimulai dari sepatu, jaket, dress, dan bagian pakaian yang paling sensitif.


Aku tidak tahu dari ruang mana mereka memulai permainannya. Tetapi yang pasti, itu sangat mengganggu penglihatanku. Aku segera berkedip dan menutup mata dengan kedua tanganku. Setelah melewati itu semua, barulah aku bisa membuka mata.


Suara itu semakin nyaring di telingaku. Aku melihat satu ruangan yang pintunya dibiarkan terbuka. Aku yakin suara itu berasal dari sana. Aku mendekatinya secara perlahan agar tidak menimbulkan suara yang dapat mengganggu permainan yang sedang mereka lakukan.


Dan benar saja. Pemandangan yang sangat menjijikan. Pemandangan yang menodai penglihatanku. Kini sangat terlihat jelas dihadapanku. Sepasang pria dan wanita tanpa sehelai kain yang menutupi tubuhnya. Aku segera menutupi telingaku agar erangan demi erangan tidak merusak gendang telingaku.


Tetapi sebelum itu, aku telah mengeluarkan ponsel yang digunakan untuk mengabadikan momen tersebut. Ini kesempatan bagus untuk aku melapor kepada Papah. Bahwa Frans adalah seorang sampah yang tidak layak menjadi kekasihku.


“Emph Frans. . . aahhhh.”


“Aku . . .aku. . .tidak kuat. .lagi Frans. . .”


Aku tidak tahan berlama-lama disini. Terserah mereka akan sampai kapan mengakhiri permainannya. Yang penting aku sudah mendapatkan bukti kelakuan bejat Frans.


“Aaarrgghhh suara itu. Sangat menodai telingaku.”


Sebelum Frans dan wanita itu menyadari kehadiranku, aku segera berlalu pergi dari villa. Ini belum waktunya untuk aku mengungkap kejahatan Frans. Aku harus menyusun rencana terlebih dahulu. Agar ketika semuanya di ungkap akan menjadi momen paling indah yang tak terlupakan dalam hidup Frans.


“Lho Mbak, mau kemana ?”


“Eh Pak Security. Angel pulang dulu ya, Pak. Sampaikan salam Angel sama Frans. Angel tidak berhasil menemukan keberadaan Frans.”


Aku tersenyum ketika berbicara kepada security villa itu. Aku tahu kenapa dia tadi sangat gugup ketika aku hendak masuk ke dalam. Bahkan dia menghadang pergerakan kakiku. Dia pasti sudah mendapat pesan dari Frans untuk berjaga-jaga jika ada seseorang yang hendak masuk. Maka aku harus berpura-pura tidak menemukan Frans. Agar karir dia masih selamat.


Hari ini aku sangat senang. Karena sebentar lagi, aku akan terbebas dari Frans. Aku yakin Papah akan kecewa terhadap Frans dan tidak akan membiarkan Frans mendekatiku lagi.


“Akhirnya aku bisa merasakan terbang tinggi bebas di angkasa lagi.”

__ADS_1


*Bersambung*


__ADS_2