My Teacher Is Mine

My Teacher Is Mine
MTIM-103 Bagaimana Kabar Pak Angga?


__ADS_3

Sudah dua hari dan dua malam aku menghabiskan waktu di dalam ruang rumah sakit. Meski ini bukan pertama kalinya bagiku, tetap saja selalu merasa jenuh karena tidak bisa bergerak dengan bebas.


“Mah Angel kapan pulang? Angel bosan disini terus.”


“Sabar ya sayang! Kata dokter masih dalam tahap pemulihan.”


Hffttt.


Aku menarik nafas panjang dan membuangnya dengan kasar. Setelah itu aku memejamkan mata. Tetapi bukan untuk tertidur, melainkan untuk sejenak memikirkan Pak Angga. Aku belum tahu kabar terkini darinya. Apakah dia sudah keluar dari rumah sakit atau belum. Apakah sudah kembali sehat atau belum. Aku tidak tahu.


Sudah berulang kali aku memeriksa smartphone, tetapi masih belum ada kabar tentang Pak Angga. Hanya Kak Aldo dan Alessyia yang dengan cerewetnya mengirimkan puluhan pesan, bahkan aku tidak mampu membalasnya satu per satu.


Klek!


Pintu dibuka. Dan aku segera membelalakan mata untuk melihat siapa yang berada di balik pintu. Rupanya itu Papah yang baru kembali setelah ke ruang dokter untuk berkonsultasi mengenai kesehatanku.


“Bagaimana kata dokter, Pah?” Tanya Mamah dengan cemas.


“Pah, Angel kapan pulang?” Aku juga bertanya kepada Papah dengan lesu.


“Kata dokter sampai botol infusannya kosong. Paling lama sampai hari esok.”


“Setelah itu Angel bisa langsung pulang kan, Pah?”


“Tentu sayang. Sekarang kamu istirahat ya! Biar bisa pulang secepatnya.”


Papah mendekat ke arahku dan memberikan kecupan selamat malam yang mendarat di kening. Tak mau terlewat, Papah juga memberikan kecupan di pipi kanan dan kiri Mamah. Tidak berselang lama seluruh penghuni yang ada di dalam ruangan sudah berada di alam mimpi.


***


“Whoaaa…”


“Angel, kenapa lo bisa ada disini? Gue kangen tahu sama lo. Kenapa lo gak bilang dari awal kalau lo ada di Jakarta?”


“Aduh Cha, kalau nanya tuh jangan nyerocos terus dong. Kasih gue waktu untuk menjawabnya. Kalau begitu gue jadi lupa kan lo tadi nanya apa.”


“Heheh iya maaf!”


Alessyia masih sama seperti dulu yang selalu mengeluarkan suara cemprengnya ketika sedang berbicara. Ia tidak memilih tempat dan waktu. Seperti saat ini ia berbicara dengan lantang padahal sedang berada di rumah sakit.


“Kenapa kalian ada disini?”


“Emangnya gak boleh? Ya udah deh kita pulang aja yuk, Kak!”


Alessyia menarik tangan Kak Aldo. Seperti ada ikatan yang sama, Kak Aldo juga mengikuti ajakan Alessyia dengan mudah.


“Eitt tunggu! Bukan seperti itu maksud gue. Maksudnya emang kalian gak kuliah?”


“Ya ampun Angel ini weekend kali. Masa iya lo amnesia.”


“Ih ngawur deh lo kalau ngomong.”


Ucapan kami terhenti ketika pintu dibuka dan terlihat dua pasang kaki berjalan menghampiri kami.


“Ini tante bawakan camilan buat kalian. Di makan ya!”


“Waah ini sih aku sendiri yang ngabisin juga siap tante.”

__ADS_1


Mamah membawa beberapa kue, snack dan minuman untuk dinikmati oleh Alessyia dan Kak Aldo yang sudah menempuh perjalanan cukup panjang dari Bandung ke kota Jakarta. Tetapi Mamah tidak ikut serta bersama kami. Mamah dan Papah segera berpamitan dan berpesan kepada Alessyia dan Kak Aldo untuk menjagaku selama Mamah belum kembali.


“Darimana kalian tahu rumah sakit ini? Perasaan Angel gak memberikan detailnya.”


“Oleh karena itu, kita bertanya langsung kepada ibu lo. Lagian lo jahat banget sih membuat kita penasaran. Bagaimana kalau kita mati penasaran?”


“Ih serem banget sih lo, Cha.”


“Eh udah-udah jangan berdebat! Kasihan Angel belum kembali sehat sudah di ajak berantem.”


Sejenak suasana berubah menjadi hening. Kak Aldo memainkan handphonenya untuk mengalihkan perhatian agar tidak terlalu canggung. Sedangkan aku masih bingung bagaimana caranya bertanya perihal Pak Angga.


“Eu..euu kalian…”


“Hem? Ada apa Ngel?”


“Ka..kalian…”


“Lo kenapa sih gugup gitu?”


“Hehe. Ada yang tahu kabarnya Pak Angga gak?”


“Jadi lo nanya itu? Kenapa harus gugup gitu sih?”


“Iya Cha. Gue gak tahu lagi bagaimana kabarnya Pak Angga. Apalagi sekarang dia lagi di rawat di rumah sakit. Kemarin pun Angel baru donor darah untuknya. Seharusnya sekarang dia sudah tersadar.”


“Emangnya kenapa dengan Pak Angga?” Tanya Kak Aldo dengan raut wajah bingung.


“Haemoglobinnya menurun karena gagalnya sistem dalam memproses sel darah merah. Oleh karena itu membutuhkan transfusi darah.”


“Lo jahat banget sih, kenapa gak bilang kalau Pak Angga di rawat di rumah sakit? Dan kenapa gak bilang kalau lo sedang ada di Jakarta?”


“Apa lo juga akan pindah kuliah?”


“Sepertinya iya, Cha. Lo tahu kan gak ada yang bisa membantah dia. Dan Papah gak mau gue berhubungan lagi dengan Pak Angga. Inilah cara untuk memisahkan kami.”


Tatapan Alessyia berubah menjadi sendu. Begitupun dengan Kak Aldo yang memperlihatkan ekspresi kehilangan. Sedangkan aku masih terus berusaha menampilkan senyuman. Meskipun sebenarnya aku tidak mau berpisah dari mereka. Tetapi jika aku bersedih, maka mereka juga akan lebih bersedih.


“Udah dong jangan mellow begini. Semangat! Masa semangat kalian terkalahkan sama gue yang sedang sakit. Lagian Bandung-Jakarta dekat kok. Nanti kalau weekend kita akan kumpul. Oke?"


Masih juga belum ada respon baik dari mereka. Aku sudah kehabisan topik pembahasan untuk menghangatkan suasana dan memecahkan kesedihan.


“Oh iya, bagaimana kabar Kak Beni?”


“Belum ada perubahan. Masih dingin seperti waktu itu.”


“Oh iya, gue ingat. Lo punya rekaman Frans bersama Clarissa di villa itu kan, Ngel?”


“Kayaknya sih masih ada di memory card handphone gue. Emangnya buat apa sih, Cha?”


“Aduh Angel makanya jangan masuk rumah sakit terus, jadi agak susah memikirkan ide-ide cemerlang kan.”


“Ih Cha, nyebelin banget sih lo.”


“Hahaha. Enggak gue becanda. Jadi gini…”


Alessyia berbicara dengan cara berbisik menjelaskan rencana yang akan dijalankan. Aku dan Kak Aldo mendengarkannya dengan cara seksama.

__ADS_1


“Bagaimana setuju?”


“Oke.”


“Deal.”


Rencana Alessyia langsung mendapatkan dua surat suara yang berpihak kepadanya. Kali ini kami membicarakan sesuatu yang tidak terlalu penting. Sesekali kami tertawa karena topik yang dibahas berhasil membuat perut geli.


“Cha, ini Kak Aldo suapin.”


“Gak mau. Ih apaan kayak anak kecil aja disuapin. Echa mau makan sendiri.”


Alessyia menolak tawaran Kak Aldo yang hendak memberikan potongan buah apel. Sedangkan Kak Aldo masih terus membujuk Alessyia agar mau menerima suapan darinya.


“Ayolah Cha, sekali aja!"


“Ya udah deh, tapi sekali aja.”


“Iya. Aaaa…”


“Ih Kak Aldo…nyesel deh Echa mau nerima.”


“Hahaha.”


Muka Alessyia langsung ditekuk karena ulah Kak Aldo. Bukannya memberikan potongan buah itu kepada Alessyia, Kak Aldo malah mendaratkan di mulutnya. Aku pun jadi ikut tertawa geli menyaksikan tingkah lucu mereka. Apalagi sekarang ekspresi yang ditunjukan oleh Alessyia berhasil membuat tawaku pecah.


Melihat tingkah gemas yang diciptakan oleh Alessyia dan Kak Aldo membut pikiranku kembali mengingat Pak Angga.


“Angel lo mau buah apa? Biar gue yang mengupasnya khusus buat lo.”


“Jangan mau. Biar Kak Aldo aja yang mengupasnya. Echa belum ahli dalam hal seperti itu.”


“Angel…”


Tawaran dari Alessyia dan Kak Aldo tidak mendapatkan jawaban. Aku tengah asik tenggelam dalam lamunan.


“Angel lo kenapa bengong?”


“Angel…”


“Eh iy-ya. Kenapa? Ada apa?”


“Lo kenapa sih? Perasaan barusan lo bisa tertawa. Kenapa sekarang berubah sedih gitu?”


“Kamu terganggu ya sama suara cemprengnya Alessyia?”


“Atau kamu risih ya sama gombalannya Kak Aldo?”


*Bersambung*


.


.


.


Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak berupa like, komen, rate 5 & vote seikhlasnya 🥰

__ADS_1


Terimakasih 🙏🙏


__ADS_2