
Sebelum lanjut jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak berupa like, komen, rate 5 & vote seikhlasnya 🥰
Semuanya itu gratis kok. Tapi sangat berarti untuk author. Karena itulah penyemangat author😍😍
Salam sejahtera untuk kita semua 😇😇
Terimakasih 🙏🙏🙏
**************************************************
“Hahaha mana mungkin. Angel yakin bukan wanita itu yang meminta untuk dipotret. Terus ngapain juga dia menyuapi Pak Angga?”
“Mungkin bukan yang itu, karena kamu hanya fokus kepada gadis yang meminta langsung kepada kamu untuk jadi fotografer. Tetapi wanita yang waktu itu menyuapi aku, dia juga ikut berfoto. Dan dia menyuapi aku dengan alasan kasihan karena aku terlalu fokus mengerjakan projek. Waktu itu juga kami tidak hanya berdua. Ada dua orang temannya lagi. Dan kebetulan mungkin pada waktu kamu melihatnya, dua orang itu sedang memesan makanan atau sedang ke toilet.”
Entah apa aku harus percaya atas apa yang di ucapkan oleh Pak Angga atau tidak, tetapi sampai saat ini aku selalu dibuat terpesona oleh karisma yang terpancar darinya. Aku hanya mematung meresapi kata demi kata yang keluar dari bibir tipis Pak Angga. Tetapi mataku enggan menatap bola matanya. Jika sampai aku menatap pancaran keindahan dari manik matanya, sudah pasti akan luluh kembali.
Pak Angga juga belum mengucapkan kata-kata lagi. Dia memberikan jeda untuk menarik nafas panjang. Belum ada respon dariku juga, Pak Angga segera mengambil posisi jongkok untuk bersimpuh kepadaku. Sedangkan aku sedikit memundurkan diri agar tidak terlalu dekat dengannya.
“Angel, aku mohon maafkan aku! Berikan aku kesempatan untuk memperbaiki hubungan yang pernah retak! Akan aku pastikan semua peristiwa buruk tidak akan terulang lagi. Aku tidak bisa menjalani hari tanpa kehadiran kamu. Awalnya mungkin aku pikir akan tegar, tetapi nyatanya hidupku terasa hampa. Bahkan untuk bernafas saja terasa berat. Tak ada lagi penyemangat untuk menjalani hidup ini.”
“Angel tidak bisa, Pak. Angel tidak mungkin kembali bersama Pak Angga dan mengkhianati kepercayaan Papah untuk yang kedua kalinya.”
“Kalau begitu berikan aku kesempatan untuk meminta restu lagi sama orang tua kamu! Jika aku berhasil mengantongi restu mereka, apakah kamu mau kembali denganku?”
Ucapan Pak Angga seperti terjadi dalam mimpi. Aku tidak menyangka jika Pak Angga akan kembali dan memohon untuk bersama. Padahal dari awal dia yang memutuskan untuk pergi. Aku pikir akan benar-benar kehilangan dia.
Sejak dulu tidak ada niat dariku untuk meninggalkannya. Bahkan ketika Pak Angga memutuskan untuk pergi, aku masih tetap mencintainya. Meskipun luka telah ditabur olehnya, tetapi rasa cinta kepadanya lebih besar dari rasa kecewa.
Jujur ketika Pak Angga meminta untuk kembali, ingin sekali aku menerimanya. Tetapi aku tidak hanya memikirkan perasaanku sendiri. Aku tidak mau membuat Papah dan Mamah kecewa untuk yang kesekian kalinya.
“Angel mau menerima Pak Angga kembali, tapi dengan satu syarat…”
Pak Angga masih berada pada posisinya. Ketika aku menjawab seperti itu, terdapat senyuman di wajahnya. Hanya saja tidak lama, ekspresi wajahnya kembali menampilkan rasa penasaran ketika aku mengajukan sebuah syarat.
“Syarat apa? Apapun akan aku lakukan.”
“Pak Angga harus mendapatkan restu dari Papah terlebih dahulu, maka Angel akan menerima Bapak lagi. Tetapi jika Pak Angga gagal mendapatkannya, maka tidak ada harapan lagi untuk hubungan kita.”
__ADS_1
Belum ada jawaban yang diberikan oleh Pak Angga. Ia beralih dari posisinya dan berdiri menghadapku. Senyuman yang terlihat semakin lebar. Tanpa meminta izin terlebih dahulu, Pak Angga telah membawaku ke dalam pelukannya. Tubuhku di dekapnya dengan sangat erat. Bahkan aku terasa sesak untuk menghirup oksigen.
Sedangkan aku masih mematung mendapatkan pelukan secara tiba-tiba. Tidak ada respon dariku, apalagi untuk membalas pelukan tersebut. Aku hanya menyembunyikan kepalaku pada celah dada bidang dan lengannya.
Aroma yang sangat aku rindukan. Kini aku bisa menghirupnya kembali. Sejenak aku memejamkan mata untuk menikmati aroma maskulin ciri khas beliau. Pelukan yang selalu mampu menenangkan. Berada pada dekapannya mampu menghilangkan ketakutan dan keresahan. Tanpa sadar aku melingkarkan lengan pada pinggang Pak Angga untuk membalas pelukannya.
“I love you.”
Hembusan wangi menyegarkan menembus hidung. Debaran nafas mengenai leher menciptakan rasa geli. Detak jantung semakin kuat terdengar, apalagi telingaku tepat berada pada dada bidang Pak Angga.
Pak Angga mengubah posisi tangannya dari yang semula melingkar di pinggang, kini berada di kedua pipiku dan mengapitnya. Tatapan kami sangat dekat, hanya menyisakan celah 5 cm. Tubuhku di dorong dengan hati-hati hingga berhenti karena telah menyentuh dinding. Perlahan Pak Angga memiringkan kepalanya disertai dengan mata yang terpejam. Aku tidak bisa melarikan diri. Tubuhku telah dikunci oleh badan kekar Pak Angga.
Hidungnya sudah menyentuh kulit wajahku. Aroma menyegarkan miliknya juga semakin kuat menyengat indra penciumanku. Sentuhan jemari yang berpindah ke belakang kepala melalui leher membuat aku semakin geli. Aku pun ikut memejamkan mata.
Dalam hatiku berkata, “Apakah ini waktunya? Apakah aku siap melakukannya sekarang?”
Cup!
Kecupan mesra penuh kasih sayang mendarat di pipiku. Aku masih enggan untuk membuka mata. Karena hembusan nafas Pak Angga masih terasa di leherku. Bahkan kepala Pak Angga sudah bersandar disana. Kumis tipis yang mengenai kulit leher juga semakin membuat bulu punukku merinding.
“I love you, sayang.”
Cup!
Perlahan Pak Angga mulai mengubah posisinya. Kepalanya tidak lagi bersandar di bahuku. Tangannya juga sudah tidak lagi menempel di tubuhku. Kakinya juga mundur dua langkah. Sehingga kami sudah mulai berjarak. Aku pun tidak lagi mencium aroma khasnya yang menyengat. Tetapi mataku masih enggan untuk membuka. Masih terasa canggung bagiku.
“Bukalah mata kamu!”
“…”
“Kenapa masih terpejam?”
“Huh? Emm eu…”
Aku menjawab pertanyaan Pak Angga dengan terbata-bata sambil berusaha membuka mata. Beruntunglah posisi kami tidak lagi dekat, sehingga aku bisa bernafas lega. Bahkan Pak Angga merasa heran ketika aku melepaskan hasil dari tarikan nafas dengan sangat kasar ke udara.
“Kamu kenapa? Apakah kamu gugup atas perlakuanku barusan?”
__ADS_1
“Hem? Eu tid-tidak kok.”
“Hahaha.”
Aku semakin terheran kala Pak Angga mengeluarkan tawanya yang menggelegar. Sungguh saat ini tidak ada yang lucu. Apa alasan yang membuat dia tertawa lepas seperti itu.
“Angel, aku sudah mengenal kamu lama. Aku tahu ketika kamu sedang senang, sakit, sedih, bingung dan gugup. Dan aku tahu saat ini kamu sedang gugup berada di dekatku. Iya kan?”
“Eu-enggak kok. Siapa juga yang gugup.”
Aku masih terus berusaha mengendalikan emosi agar tidak terlihat gugup. Tapi mungkin pria di hadapanku menyadari ekspresiku saat ini yang dengan sangat keras berusaha untuk terlihat baik-baik saja.
“Sudahlah, kamu jangan bohong sama aku! Percuma saja, karena aku sudah mengetahuinya.”
“Bagaimana Angel tidak gugup dengan perlakuan Pak Angga barusan. Angel pikir Bapak akan melakukan…”
Tanpa sadar aku mengeluarkan kata-kata yang sedari tadi aku pendam. Beruntunglah aku segera tersadar dan menghentikan ucapan sebelum mengeluarkan kata-kata yang memalukan. Bisa jadi Pak Angga ketawa lebih puas ketika mendengar alasan yang membuat aku gugup. Lagi pula kenapa aku harus berpikir telalu jauh sih, toh Pak Angga juga tidak melakukan apa-apa.
“Kenapa gak di lanjutkan? Kamu pikir aku akan melakukan apa? Hem?”
Pak Angga semakin asik menggodaku. Ia kembali mengunci pergerakanku dengan kedua tangannya yang mengapit tubuhku.
“Jangan mendekat! Angel mohon jangan mendekat!”
Tidak mendengarkan ucapanku, Pak Angga semakin mendekatkan wajahnya. Jantungku kembali berdebar, berdetak tanpa aturan. Mataku kembali terpejam kala hidung mancung Pak Angga kembali menyentuh pipiku. Pak Angga berbisik di telingaku dan membuatku merasa geli.
“Apakah kamu siap melakukannya sekarang denganku?”
*Bersambung*
.
.
.
Waaah apa yang akan Pak Angga lakukan kepada Angel, ya?
__ADS_1
Maksudnya siap melakukan apa nih?🤔
Eh btw, author mau ngucapin cie ciee udah mulai akur tuh kayaknya Angel sama Pak Angga 🤭🤭