
Tentang perasaan tidak ada yang bisa mengetahui selain diri sendiri. Mungkin bisa membohongi orang lain dengan berkata baik-baik saja. Tetapi kamu tidak bisa membohongi diri kamu sendiri.
Aku tidak mau merusak acara ulang tahun Kak Beni. Meskipun jujur aku merasa canggung atas apa yang telah dikatakan Kak Beni. Aku tidak menduga jika Kak Beni menyukai sosok diriku. Sungguh aku tidak peka.
“Guys. Lihat dia ! Wanita sok cantik yang berani deketin Reza Mahardika.”
Seketika suara seseorang mengubah pusat perhatian semua mata. Aku melihat Alessyia bersama Kak Reza. Tetapi dihadapan mereka ada sekelompok wanita. Wanita tersebut yang membuat suasana menjadi gaduh.
“Angel kamu mau kemana ?”
“Angel harus bantuin Alessyia, Kak.”
“Tapi disana udah ada Reza. Kakak gak mau kamu kenapa-kenapa.”
Aku tidak mempedulikan Kak Beni yang berusaha menghentikan langkahku. Aku harus segera menolong Alessyia. Aku takut Mozea akan kembali mencelakakan Alessyia.
“Zea cukup ! Jangan berani-berani mengganggu Alessyia lagi.”
“Gue akan terus ganggu dia sebelum dia jauhin lo !”
“Sampai kapanpun gue gak akan cinta sama lo. Apalagi melihat sikap lo yang kayak gini. Apa lo pikir gue akan suka ? Enggak Ze, justru gue semakin kehilangan respect buat lo.”
Mendengar ucapan Kak Reza, Mozea beserta rekannya semakin geram. Mereka terus berusaha untuk menggapai Alessyia. Kak Reza sangat kewalahan memisahkan mereka seorang diri. Rambut Alessyia telah berhasil dijambak oleh Mozea. Aku semakin merasa kasihan terhadap Alessyia. Aku tidak tega melihat sahabatku di sakiti oleh orang lain.
“Berhenti !”
“Aaaaaa”
Byurrr. . .
Aku segera berlari sekencang-kencangnya untuk memisahkan tangan Mozea dari Alessyia. Ketika aku menggapai tangan Mozea, ia malah mendorong aku sekuat tenaga. Sehingga aku tidak bisa menahan keseimbangan. Akhirnya aku masuk ke dalam kolam yang terletak di tengah-tengah lokasi pesta ulang tahun.
“Angel. . .”
“Aaaaa. . .”
Semua orang teriak histeris. Aku dapat mendengar Kak Reza, Alessyia, Kak Beni dan Kak Aldo memanggil namaku. Jujur aku tidak pandai dalam berenang. Aku hanya bisa gaya batu. Dan untuk gaya lainnya seperti mengambang, aku masih perlu belajar lagi.
“Lo pergi dari sini sekarang ! PERGI ! Lo mau keluar dengan cara yang halus atau cara kasar ?”
“Gue gak akan pergi.”
“Belum cukup lo menyakiti Angel ? Pergi atau gue panggil security.”
“Enggak.”
Kak Reza segera menghubungi security untuk membawa Geng Mozea keluar. Padahal Kak Reza telah mengusirnya dengan cara yang halus. Tetapi mereka menolak. Terpaksa Kak Reza harus meminta bantuan kepada security.
“To. .long. .”
Dadaku sangat sesak. Aku tidak bisa lama-lama dalam air yang sangat dingin. Apalagi ketinggiannya di atas dada membuat aku susah bernafas.
__ADS_1
Byurr. . .
“Angel bertahan ya ! Kakak akan bantu kamu.”
Aku melihat seseorang yang membantu aku menuju daratan. Ia membawa tubuhku di dalam dekapannya. Setelah itu mataku susah untuk terbuka. Tetapi telingaku masih mendengar obrolan orang-orang yang berada di sekitar. Dadaku terasa sesak. Nafasku sangat memburu.
“Angel sadarlah ! Kakak mohon.”
“Sadarlah. . .”
Usaha dari Kak Reza belum juga berhasil. Aku masih belum menyadarkan diri. Ia telah bersusah payah mengeluarkan air yang masuk ke dalam tubuhku.
“Tidak ada cara lain, Za.”
“Maksud lo ?”
“Nafas buatan.”
“Gila lo. Siapa yang bakal kasih nafas buatan buat Angel. Lo, Ben ?”
“Gue gak bisa. Gue udah janji tidak akan merubah status adik-kakak gue dengan Angel.”
“Terus siapa ? Aldo ?”
“Enggak. Gue gak bisa. Gue gak tahu caranya. Gue belum pernah.”
Hening sejenak. Semua orang tengah memikirkan bagaimana caranya untuk membuat aku sadar. Semuanya frustasi memikirkan aku yang harus segera dibangunkan.
“Ini demi keselamatannya Angel. Gak ada cara lain.”
Kak Reza ragu untuk melakukannya. Tetapi ia harus segera menolong aku. Dengan sangat terpaksa ia menerima saran dari rekan dan tamu undangan yang hadir. Kak Reza menarik nafas perlahan. Kemudian ia mendekatkan wajahnya menuju wajahku.
Uhuk. .uhuk. .
Sebelum nafas buatan diberikan oleh Kak Reza, aku memuntahkan air kolam yang sempat aku teguk. Beruntunglah first kiss tidak jadi aku rasakan.
“Angel kamu gak apa-apa ?”
Aku tidak bisa menjawab pertanyaan Kak Reza. Dinginnya air kolam ditambah suhu rendah membuat tubuhku gemetar. Aku menggigit bibir bawah yang mulai membiru karena refleks menahan dingin. Kak Reza membuka jas yang ia pakai kemudian memakaikannya kepadaku.
“Al-ess-yia Kak.”
“Apa ? Kenapa Angel ?”
“Echa, dimana ?”
Sepertinya Kak Reza melupakan Alessyia. Ia tidak tahu dimana Alessyia sekarang berada. Ketika aku membuka mata tidak ada Alessyia di sampingku. Kak Reza segera menitipkan aku kepada Kak Aldo dan Kak Beni. Ia meninggalkan kami untuk mencari keberadaan Alessyia.
“Angel kita pergi sekarang, ya. Kamu bisa masuk angin.”
“Enggak, Kak. Angel mau ikut cari Alessyia.”
__ADS_1
“Reza sedang mencarinya. Lebih baik kamu pulang ya. Kamu harus segera ganti pakaian.”
“Enggak, Kak. Tolong bantu Angel untuk cari Alessyia.”
Kak Beni ditemani Kak Aldo membantu aku berdiri dan melangkah. Aku tidak mau Alessyia salah paham lagi. Melihat Kak Reza sangat peduli terhadapku, aku yakin Alessyia cemburu. Aku juga seorang wanita. Aku dapat merasakan bagaimana jika orang yang sangat aku cintai ternyata sangat mempedulikan wanita lain di depan mataku sendiri.
“Cha, maafin Kakak !”
“Maaf untuk apa ? Maaf karena Kakak telah menyukai Angel ?”
“Kamu jangan salah paham, Cha. Kakak gak ada niat apa-apa selain menolong Angel.”
“Echa tahu Kak. Echa gak bodoh. Tatapan mata Kakak tidak bisa berbohong. Kakak bukan hanya iba kepada Angel. Tetapi karena Kakak cinta sama Angel.”
“Enggak Cha. Mana mungkin Kakak cinta kepada Angel. Kakak hanya cinta sama kamu. Kakak hanya tidak mau Angel celaka.”
“Sejak pertama Kakak menjemput kita, pandangan Kakak hanya fokus kepada Angel. Bahkan Kakak memanggil namaku Angel. Kak Reza mengaku cinta kepada Echa hanya untuk melindungi Angel dari Geng Mozea, dan agar Echa bisa baikan sama Angel. Iya kan ?”
“Enggak, Cha.”
“Ketika Angel masuk rumah sakit Kakak sangat khawatir bahkan memarahi Echa. Pacar mana yang memarahi kekasihnya demi wanita lain ?”
“Cha. . .”
“Dan dengan sigapnya Kakak segera menolong Angel dari kolam. Bersedia memberikan nafas buatan untuk Angel. Kakak pikir apa yang Echa rasakan ? Kakak pikir Echa akan baik-baik saja ?”
“Cha dengarkan. . .”
“Echa sakit, Kak. Jika memang hati Kakak bukan buat Echa, kenapa Kakak berpura-pura mencintai Echa ? Bersikap seakan Kakak peduli dan menyayangi Echa, namun nyatanya tidak.”
Aku melihat Kak Reza dan Alessyia sedang berdebat. Aku segera menghampiri mereka dengan jalan yang masih tergopoh-gopoh dibantu oleh Kak Beni.
“Gak mungkin. Ini semua pasti salah. Iya kan ? Apa yang Angel dengar tidaklah benar bukan ? Kak Reza gak mungkin suka sama gue, Cha. Kak Reza pacar lo. Dia hanya cinta sama lo.”
“Lo gak peka. Atau sebenarnya lo menutup mata. lo tahu Kak Reza cinta sama lo, tetapi lo bersikap mendukung hubungan gue sama Kak Reza. Itu semua demi menutupi kesalahan lo. Agar lo masih terlihat seperti orang baik. Iya kan ?”
Aku tidak mengerti kenapa semua ini terjadi. Aku sungguh tidak dapat mengetahui hati seseorang. Sepertinya apa yang aku takutkan akan terjadi. Perpisahan antara aku dan Alessyia.
Setelah ini apakah aku masih bisa berkawan dengan Kak Reza dan temannya ? Apakah aku bisa bersikap seolah semuanya baik-baik saja ?
*Bersambung*
.
.
.
Jangan lupa tinggalkan jejak berupa like, komen, rate & vote🥰🥰
Terimakasih 🙏🙏
__ADS_1