
Jika orang yang kita cinta ternyata bahagia, tetapi bukan bersama kita, maka jalan terakhir bagi kita adalah mengikhlaskannya. Mungkin benar cinta tak harus memiliki. Sesuatu yang dipaksakan tidak akan berakhir bahagia. Untuk apa memiliki raganya, tapi tidak dengan hatinya.
Aku lega bisa menjelaskan keadaan yang sesungguhnya kepada Alessyia. Aku harap Alessyia dapat mengerti. Meskipun Alessyia masih menjaga jarak denganku, tetapi aku ingin Alessyia kembali seperti dahulu. Semoga tidak akan ada lagi salah paham yang mengakibatkan perpecahan antara aku dan Alessyia.
Resiko dari jalan yang aku ambil adalah, aku harus benar-benar bertanggung jawab atas kelangsungan hidupku selama di negeri orang. Tugas-tugas kuliah yang menumpuk, ditambah pekerjaan rumah lainnya. Seperti mencuci piring, mencuci pakaian, menjemur pakaian, menyetrika pakaian, dan membereskan ruangan. Terkadang aku merasa lelah dan ingin menyerah, tetapi keinginan dan cita-citaku terlanjur besar untuk dapat dikalahkan oleh kata lelah.
“Angel . . .”
Aku tidak menyangka. Kebahagiaan yang sempat menghilang kini kembali lagi. Hangatnya pelukan dari seorang sahabat yang sangat aku rindukan, kini aku dapat merasakannya kembali. Jika ini mimpi tolong jangan bangunkan aku, karena aku tidak mau kehilangan moment seperti ini.
“Angel gue senang banget.”
“Cha gue gak mimpi kan ?”
“Enggak Angel. Ini gue. Gue minta maaf atas sikap gue yang kemarin, ya ! Gue masih belum bisa bersikap dewasa. Pikiran gue masih kekanak-kanakan.”
“Ini beneran lo, Cha ?"
“Iya ini gue. Lo boleh marah sama gue. Lo boleh hukum gue apapun. Gue sadar apa yang telah gue lakukan ke lo itu keterlaluan.”
“Enggak. Gue gak marah sama lo. Gue senang akhirnya lo bisa memaafkan gue.”
“Bukan lo yang salah. Harusnya gue yang minta maaf. Maafkan gue Angel !”
Inilah keajaiban kesekian kalinya yang Tuhan berikan kepadaku. akhirnya mata hati Alessyia telah terbuka. Ia telah sadar bahwa selama ini yang terjadi antara kita hanyalah kesalah pahaman.
“Tunggu . . tunggu. Katanya lo bilang senang ? Kenapa ?”
“Gue jadian sama Kak Reza, Ngel.”
“Serius lo ? Gimana ceritanya ?”
“Jadi gini ceritanya. . .”
Alessyia menceritakan kisah cinta yang dimulai antara dirinya dengan Kak Reza. Waktu itu setelah pulang kuliah, Kak Reza menghampiri Alessyia dan mengajaknya untuk pulang bersama. Kak Reza tidak langsung mengantarkan Alessyia pulang ke rumah. Mereka berhenti di perjalanan ketika melihat sebuah taman hiburan.
Waktu sudah sore. Sehingga taman hiburan baru dibuka. Terdapat banyak macam-macam wahana permainan. Ada yang khusus untuk anak kecil. Dan ada juga yang diperuntukkan khusus orang dewasa.
Kak Reza memesan sebuah harumanis berukuran sedang dan memberikannya kepada Alessyia.
“Cha, apakah kamu suka sama Kakak ?”
“Hah ? Eu-eu iy-iya, Kak.”
“Apa yang membuat kamu suka sama Kakak ?”
“Sikap Kakak yang ramah.”
“Kamu yakin cuma itu ?”
“Maksud Kakak ?”
“Emangnya Kakak gak ganteng ya ? Kok kamu gak cinta Kakak karena ganteng ?”
Alessyia terdiam membisu. Ia sama sekali bingung harus menjawab apa. Karena emang sejujurnya Alessyia mencintai Kak Reza karena paras rupawan yang dimilikinya. Tetapi Alessyia tidak mungkin mengatakannya secara blak-blakan.
__ADS_1
“Hahaha. Becanda, Cha. Kenapa mukanya jadi tegang gitu sih ?"
“Hmmm, hehehe.”
“Kamu mau jadi pacar Kakak ?”
Apalagi yang dikeluarkan Kak Reza ? Sungguh Alessyia mati kutu dibuatnya. Apa Alessyia tidak salah dengar ? Apa Kak Reza yakin dengan ucapannya ?
“Kenapa diam aja ? Kamu gak mau, ya ?”
“Kakak serius ?”
“Emangnya Kakak kelihatan sedang becanda ?”
“Tidak.”
“Jadi apakah kamu mau ?”
“Iya, Echa mau.”
Kurang lebih seperti itu Alessyia menceritakan kejadian tadi sore. Aku bahagia melihat Alessyia bahagia. Dan aku lebih bahagia karena kami berdua sudah baikan.
“Uuuwww selamat Alessyia sayang.”
“Maacii Angel sayangnya aku.”
“Ih gak mau ah, Cha.”
“Lho kenapa ? Lho gak mau jadi kesayangan gue ?”
“Diihhh. Angel ya ampun bucin banget.”
Benar kata Alessyia, aku menjadi bucin setelah mengenal Pak Angga. Aku belum pernah bersikap manja selain kepada Papah dan Mamah. Dan aku selalu menjaga image agar tetap terlihat kalem dimata orang lain khususnya para pria. Tetapi bersama Pak Angga aku tidak merasa demikian. Aku tidak perlu menutupi sikap aku yang sangat manja. Bahkan sekarang aku lebih manja kepada Pak Angga daripada sama Papah dan Mamah. Bersama Pak Angga aku bisa menjadi diri sendiri. Tidak perlu berpura-pura menjadi orang lain.
***
“Ciiee yang lagi jatuh cinta sumringah gitu.”
“Angel, ini tuh giliran gue. Lo kan udah pernah sama Pak Angga.”
“Eh itu, Cha. Itu Kak Reza.”
Akhirnya setelah cukup lama aku berangkat ke kampus seorang diri berjalan kaki. Hari ini aku melangkah bersama Alessyia. Kami tertawa bahagia seperti saat dulu kala.
Aku melihat Kak Reza baru turun dari sedan merah yang ia kendarai. Kak Reza segera menghampiri aku dan Alessyia.
“Cha, tadinya Kakak mau jemput kamu. Tapi katanya gak boleh.”
“Iya gak usah, Kak. Echa kan berangkat sama Angel.”
“Oh heem. Hai Angel . .”
Aku segera menengadahkan kepalaku. Sebelumnya aku melihat ke bawah untuk mengalihkan perhatianku. Aku masih merasa tidak enak atas perlakuanku kepada Kak Reza yang telah menyuruh dia menjauh dari kehidupanku. Ternyata Kak Reza memiliki hati yang sangat mulia. Ia sama sekali tidak menyimpan dendam. Bahkan ia menyapa aku terlebih dahulu. Aku semakin malu kepada Kak Reza.
“Hai.”
__ADS_1
“Cha gue duluan, ya !”
Aku segera meninggalkan Alessyia dan Kak Reza. Aku tidak mau menjadi pendengar yang tak di anggap di antara mereka. Kalau orang sedang jatuh cinta maka dunia akan terasa milik berdua. Dan yang lain berasa ngontrak. Aku tidak mau mendengarkan ocehan bucin yang keluar. Mendengarkannya saja membuat aku rindu sama Pak Angga. Aku harap ada keajaiban yang mempertemukan aku dengan Pak Angga.
“Hallo Cha, lo dimana ?”
Katanya Alessyia pamit untuk ke toilet, tetapi aku telah menunggu hampir setengah jam Alessyia belum juga kembali. Padahal kami harus buru-buru pulang sebelum hari semakin sore.
“Cha lo dengar gue kan ?”
“Angel, tolong gue. Tolong gue, Ngel.”
“Cha lo dimana sekarang ?”
“Gue mohon tolong gue, Ngel.”
“Iya lo dimana ? Gue akan tolong lo. Sekarang lo dimana ?”
“Sini handphonenya. Sampai kapanpun gak akan ada yang bisa menolong lo keluar dari sini.”
“Kembaliin hp gue ! Kembaliin !”
Tut. .tut. .tut
“Cha lo dimana ? Hallo ?”
Aku tidak tahu Alessyia ada dimana. Ia hanya berteriak meminta pertolongan tanpa menyebutkan suatu tempat. Aku hanya mendengar seseorang berteriak merampas handphone Alessyia sebelum panggilan terputus.
Aku sepertinya kenal suara siapa yang ada di telepon. Apa mungkin Alessyia berada di ruangan ini ? Aku tidak mau masuk lagi ke dalamnya. Tetapi bagaimana jika benar Alessyia ada di dalam ? Aku harus segera menolongnya. Aku harus menghilangkan ketakutan yang bersemi di hatiku.
“Cha. .”
“Hahaha. Persahabatan yang sangat erat. Kenapa lo datang kesini ? Padahal dulu sahabat lo yang membuat lo celaka ?”
“Tolong bebaskan Alessyia ! Angel mohon tolong jangan sakiti dia !”
“Jangan mimpi. Ini balasan buat orang yang berani mengkhianati gue. Balasan kepada seseorang yang telah bermain-main sama gue.”
Aku benar-benar tidak tega melihat kondisi Alessyia dengan tangan yang diikat oleh sebuah tali dan mulut yang dibekap oleh sehelai kain. Aku telah memohon bahkan sampai berlutut kepada Mozea. Tetapi tidak di dengar olehnya. Ia malah meninggalkan kami terkunci di dalam ruang tersebut setelah sebelumnya melakukan hal yang sama kepada aku.
Aku tidak bisa bergerak, semakin aku memberontak tanganku semakin sakit tergores oleh tali yang mengikat. Aku tidak bisa berteriak. Sarang laba-laba masih menempel disana. Bau udara penuh debu masih tercium sangat khas. Dadaku semakin memburu untuk mengambil oksigen. Dan upayaku sia-sia. Energiku makin terkuras habis.
*Bersambung*
.
.
.
Terimakasih selalu mendukung author 🙏
Saksikan terus kelanjutan kisah cinta Angel dan Pak Angga dalam novel My Teacher Is Mine 🥰
Jangan lupa tinggalkan jejak melalui like, komen, rate & vote💙🥰🥰
__ADS_1
Terimakasih 🙏🙏🙏