
Sebelum lanjut jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak berupa like, komen, rate 5 & vote seikhlasnya 🥰
Semuanya itu gratis kok. Tapi sangat berarti untuk author. Karena itulah penyemangat author😍😍
Salam sejahtera untuk kita semua 😇😇
Terimakasih 🙏🙏🙏
**************************************************
Percuma saja terus bertanya tidak akan ada hasilnya. Pak Angga akan tetap pada pendiriannya, diam mematung. Entah apa maksudnya terus menyembunyikan perjuangannya selama ini kepadaku. Apa mungkin dia senang melihat aku terus dihantui rasa penasaran. Atau karena dia sengaja ingin melihat ekspresi tidak senang dariku.
Selama perjalanan, aku telah berusaha merayunya dengan bergelayutan di lengan kekarnya sambil terus mengucapkan kata-kata romantis. Di tengah kata-kata itu aku selipkan pertanyaan dan meminta dia untuk menjelaskan. Itu semua tidak berhasil. Tatapannya hanya fokus menatap jalanan.
Sehingga aku telah merasa lelah karena semua usahaku tidak membuahkan hasil. Aku memutuskan untuk menyerah dan melepaskan ikatan tangan padanya. Kini aku duduk di posisiku dengan tatapan lurus menatap hitamnya aspal jalanan.
Dengan kondisi aku yang seperti itu sama sekali tidak membuat hati Pak Angga luluh. Dia justru tidak bertanya atau berbicara apa-apa kepadaku. Aku semakin kesal dibuatnya. Ingin sekali rasanya memukulnya dengan sangat keras sehingga membuat dia mengaduh kesakitan.
“Angel, udah sampai. Ayo turun!”
“…”
“Angel…”
Bukannya aku tidak mendengar ucapan Pak Angga. Hanya saja aku sengaja tidak meresponnya. Biar dia merasakan bagaimana sakitnya di acuhkan. Pak Angga masih terus menyadarkan aku dan mengajak keluar dari mobil, dan aku masih asik berada di dalam lamunan.
“Angel udah dong marahnya. Nanti juga kamu tahu kok prosesnya. Kalau kamu tidak turun, kamu tidak akan pernah tahu. Udah ya, berheni marahnya! Ayo kita turun! Papah sama Mamah kamu sudah menunggu.” Jelas Pak Angga lirih.
“Pak Angga memang ngeselin. Aku marah dibiarin aja. Bukannya dirayu atau gimana gitu.” Batinku berkata sambil menatap sinis Pak Angga.
Pak Angga seakan menyadari tatapan tidak mengenakan dariku, dia berkata, “Kenapa kamu menatap aku seperti itu? Udah ya, aku minta maaf. Jangan seperti ini dong sayang! Aku takut.”
Mendengar ucapan Pak Angga barusan membuat aku ingin ketawa. Tetapi demi memainkan peranku, aku berusaha keras menahan senyuman agar tidak nampak. Perkataan Pak Angga juga benar. Jika aku ingin segera mengetahuinya, maka aku harus segera turun dari dalam mobil. Jika aku masih terus berada disini, maka akan semakin lama aku mengetahui kebenarannya.
Bukannya aku tidak percaya ketika Pak Angga mengatakan bahwa Papah telah merestui hubungan kita. Hanya saja bagiku itu adalah hal yang sangat penting. Aku ingin mengetahui kejujurannya dari awal hingga akhir. Karena dalam menjalani suatu hubungan yang paling penting adalah restu dari orang tua.
__ADS_1
Mungkin bisa saja menjalin suatu hubungan secara sembunyi-sembunyi meskipun tanpa restu dari orang tua. Tetapi aku tidak yakin bisa menyembunyikannya selama itu. Aku juga tidak yakin semuanya bisa berjalan lancar. Aku takut sesuatu yang buruk menimpa jika berjalan tidak dengan restu dari Papah dan Mamah.
Aku memutuskan untuk melangkah keluar dari dalam mobil. Kami keluar secara bersamaan dari pintu yang berbeda. Tanganku segera di genggam oleh Pak Angga dan melangkah bersama memasuki rumah. Awalnya aku terkejut mendapat perlakuan seperti itu. Aku belum terbiasa memperlihatkan keromantisan di depan Papah dan Mamah. Aku berusaha memberontak dan melepaskan tangan Pak Angga.
“Kenapa dilepas?”
“Bee, nanti kalau Papah lihat gimana?”
“Angel sayang, kan udah aku bilang kalau Papah sudah merestui. Kamu masih tidak percaya?”
“Tapi Bee…”
Tidak ada kata yang terucap. Dia segera menggenggam erat pergelangan tanganku dan menyeretku untuk melangkah bersama. Kali ini aku tidak bisa lagi menolak. Aku berjalan mengikuti langkah kakinya dengan tatapan yang menunduk.
Ketika Pak Angga membuka pintu, aku semakin menunduk dan lebih erat berpegangan padanya. Sejenak Pak Angga melirik kepadaku. Dia sepertinya mengetahui keresahan yang aku alami. Senyum indah ia perlihatkan kepadaku. Senyuman yang selalu mampu membuat hatiku damai.
“Luruskan pandanganmu! Jangan takut! Kamu tidak berjalan sendirian. Ada aku yang selalu menemani.”
Kini aku berusaha untuk menengadahkan kepala. Lagi pula toh ini rumahku, kenapa juga aku harus takut ketika memasuki rumah sendiri. Apalagi kini Papah sudah memberikan lampu hijau kepada Pak Angga. Jadi seharusnya beliau tidak marah lagi ketika aku datang ke rumah bersama Pak Angga. Lagian Mamah juga yang meminta aku datang dengan membawa serta Pak Angga.
“Eh Angel sayang, udah sampai? Kenapa gak manggil Mamah aja tadi?”
“Bagaimana kabar kamu, Nak? Sehat?”
Papah dan Mamah memberikan aku pertanyaan secara bergantian. Belum ada jawaban dariku. Entah kenapa mulutku seolah terkunci, tak mampu untuk mengucapkan kata-kata.
“Pak Angga, bagaimana kabarnya?”
“Baik, Pak. Bapak sama Ibu bagaimana kabarnya?”
“Kami juga baik.” Jawab Papah, sedangkan Mamah hanya menjawabnya dengan senyuman.
“Ayo duduk!” Ajak Mamah.
Tanganku kembali diseret oleh Pak Angga. Tetapi kali ini langkahku semakin berat. Aku masih pada tempat pertama dengan kondisi mematung. Melihat kondisi aku yang membeku, Papah dan Mamah berusaha menyadarkan aku secara bergantian.
__ADS_1
“Angel, ayo duduk! Masa mau berdiri aja disitu.”
“Ayo Nak, kasihan tuh Pak Angga mau duduk. Capek berdiri terus.”
“Huh? Iy-iya.”
Mamah mengisi piring yang kosong dengan menyertakan nasi beserta lauk pauknya. Papah orang pertama yang mendapatkan pelayanan tersebut. Tidak hanya kepada diriku dan Papah, Mamah juga melakukan hal yang sama kepada Pak Angga. Aku dapat melihat kedua orang tuaku saling membalas senyuman kepada Pak Angga. Aku senang melihatnya, hanya saja masih terlalu susah untuk aku menghilangkan kecanggungan.
Selama proses menghabiskan makanan yang tersaji di atas piring, tidak ada pembicaraan yang tercipta. Awalnya aku sangat kaku untuk bergerak. Tetapi lama-lama aku kembali terbiasa sehingga bisa kembali bergerak dengan leluasa.
Setelah piring kembali kosong, barulah percakapan dimulai. Tentunya tidak langsung ke materi inti. Kami berbicara santai topik yang tidak terlalu berat. Lama-lama aku mendengarnya bosan. Karena tidak ada yang berani untuk bertanya atau menjelaskan terlebih dahulu.
Rasa penasaranku tidak pernah hilang, bahkan semakin memuncak. Cukup lama aku terdiam untuk mengumpulkan keberanian. Setelah aku tidak lagi gugup, barulah aku membuka suara.
“Pah, Mah, apa benar kalian telah merestui hubungan Angel dengan Pak Angga?"
“Iya sayang.” Jawab Mamah.
“Angel sudah tahu kalau Mamah merestui dari dulu. Tapi bagaimana dengan Papah? Apakah Papah sudah setuju?”
“Angel, kamu ini anak Papah satu-satunya. Mungkin dulu Papah telah egois. Papah hanya memikirkan perasaan Papah tanpa mengetahui hal apa yang bisa membuat kamu bahagia. Sekarang Papah sadar, bahwa kamu berhak jatuh cinta. Kamu berhak memilih bersama siapa kamu akan hidup.”
“Tapi Pah, bagaimana bisa? Eu maksud Angel, apa yang membuat Papah berubah?”
“Pak Angga telah membuktikan kepada Papah bahwa cintanya tidak main-main. Jujur Papah salut atas keberanian Pak Angga. Meskipun sudah mendapatkan penolakan dari Papah berapa puluh kali, tetapi dia masih berani datang langsung ke hadapan Papah untuk meminta restu, bahkan dia sampai bersimpuh.”
Papah menjelaskan dengan penuh antusias. Apa yang aku yakinkan selama ini telah terwujud. Bahwa dengan tekad yang kuat, maka akan berhasil meluluhkan hati seseorang. Sama halnya dengan batu yang berlubang karena terus-menerus ditetesi air.
“Tapi, ada satu hal yang harus Pak Angga lakukan.”
Sedikit aku terheran ketika mendengar Papah mengajukan syarat. Aku menatap Pak Angga yang sama sekali tidak gentar. Ia terus menampilkan senyuman, seakan tahu apa yang akan Papah ucapkan.
“Apa itu, Pah?” Tanyaku penasaran.
“Pak Angga harus berjanji tidak akan menyakiti perasaan kamu, membuat kamu celaka dan terluka. Jika sampai semua itu terjadi, maka Papah akan langsung mencabut restu itu.”
__ADS_1
*Bersambung*