My Teacher Is Mine

My Teacher Is Mine
MTIM-65 First Kiss Yang Tertolong


__ADS_3

Bukan maksud untuk mengumbar aib seseorang. Tetapi tidak ada cara lain. Hanya dengan begitu satu-satunya cara agar aku bisa merasakan hidup bebas tanpa di awasi. Dengan sangat terpaksa, aku harus melakukannya.


Aku melakukan panggilan video yang dilakukan bersamaan antara aku, Papah dan Mamah. Ada hal serius yang ingin aku sampaikan kepada mereka.


“Ada apa sayang ? Katanya mau bicara serius ?”


“Mah, Pah, Angel ingin mengundang Frans makan malam bersama kita pekan nanti.”


“Serius kamu, Nak ? Emangnya ada apa sih ?”


“Eemm Angel ingin Frans lebih dekat sama keluarga kita.”


“Kalau gitu sama orang tuanya juga dong ?”


“Enggak, Mah. Ini kan baru pertama. Jadi cukup Frans aja.”


“Tapi kayaknya Papah gak bisa, Nak. Ada meeting.”


“Yaahhh Papah. Ini kan weekend. Masa harus kerja sih ?”


“Ya udah nanti Papah usahakan datang, ya.”


Dua langkah telah berhasil. Pertama dengan berpura-pura bersikap baik kepada Frans. Dan yang kedua meminta ijin untuk mengadakan acara makan malam kepada Papah dan Mamah. Tinggal melanjutkan beberapa rencana lagi.


***


Sudah menjadi kebiasaan kantin menjadi saksi bisu perkumpulan antara aku, Alessyia, Kak Beni dan Kak Aldo. Jika tidak ada mata kuliah, atau mata kuliah telah selesai, maka tak ada tempat lain yang menjadi tujuan kaki melangkah. Bahkan meja dan kursi yang biasa kami duduki tidak ada yang berani menempati. Padahal kami tidak melakukan ancaman apapun. Rupanya mereka mengerti dengan sendirinya.


Memang dari dulu Kak Reza beserta rekan-rekannya selalu disegani oleh mahasiswa yang lain. Meskipun sekarang Kak Reza entah dimana, tetapi orang-orang masih segan kepada Kak Beni dan Kak Aldo. Karena aku dan Alessyia selalu bersama mereka. Maka kami juga ikut disegani.


Tetapi tak jarang juga banyak yang mencibir aku dan Alessyia. Mungkin karena mereka tidak suka seorang mahasiswa baru bisa kenal dekat dengan orang-orang yang namanya sudah bersinar di kampus itu.


Aku dan Alessyia tidak mendengarkan setiap kata-kata yang kurang enak di dengar. Anggap saja seperti angin lalu. Kami juga tidak melaporkannya kepada Kak Beni dan Kak Aldo. Takutnya orang-orang yang berbicara buruk kepada kami akan mendapatkan pelajaran dari Kak Beni dan Kak Aldo.


“Angel, gimana rencana lo ?”


“Beres.”


Aku menjawab pertanyaan Alessyia diiringi dengan acungan jempol.


“Rencana ? Rencana apaan ?”


“Ada deh.”


“Hahaha.” Aku dan Alessyia tertawa bersama. Sedangkan Kak Aldo dan Kak Beni semakin penasaran perihal rencana apa yang aku dan Alessyia bicarakan.


“Rencana apa sih ?”


“Jadi gitu, Ben. Udah main rahasia-rahasiaan sekarang.”


“Oke. Ya udah kita juga bikin rahasia yuk, Do.”


Aku dan Alessyia semakin terkekeh geli melihat ekspresi penuh tanda tanya yang ditunjukkan oleh Kak Beni dan Kak Aldo. Tetapi aku juga tidak bisa menutupi sebuah rahasia kepada mereka. Jadi aku menceritakan secara detail terkait rencana yang akan aku lakukan.

__ADS_1


“Wiihhh keren. Keren keren.”


“Ide Alessyia tuh, Kak.”


“Mantap ide kamu, Cha.”


“Hehe makasih.”


“Pokoknya Kak Ben doakan semoga usaha kamu berhasil. Agar kamu bisa bebas lagi. Kak Ben gak mau melihat kamu tersiksa, Ngel.”


“Setuju. Kak Aldo ingin kamu bahagia dengan seseorang yang kamu cintai. Lagian kalau menurut gue si Frans itu aneh. Mana ada cinta yang menyakitkan sebelah pihak. Egois sekali. Dia hanya memikirkan perasaannya sendiri.”


“Aamiin. Makasih ya Kak Ben, Kak Aldo.”


“Sama gue enggak nih ?”


“Mana mungkin enggak dong, Cha.”


Aku memeluk Alessyia, “Makasih Echa sayang. Kalau gak ada lo gue gak tahu harus bagaimana. Pokoknya gue sayang sama lo.”


***


Akhirnya hari yang aku nantikan tiba. Padahal baru seminggu aku tinggal di Bandung setelah libur akhir semester. Tetapi aku harus pulang lagi ke rumah untuk menyelesaikan misi.


Kali ini aku harus memberikan penampilan berbeda dari biasanya. Dengan gaun berwarna merah menyala. Dilengkapi akseseoris gelang dan anting bulat berukuran besar berwarna silver. Rambut yang diikat serta highills senada dengan warna gaun. Tak lupa make up yang sedikit mencolok menjadi penunjang penampilanku malam ini.


Aku segera menuruni anak tangga dengan sangat hati-hati agar tidak melakukan kesalahan yang akan berakibat fatal. Setelah sampai di parkiran, aku dapat melihat mobil mewah di dekat gerbang.


Aku tersenyum manis ke arahnya. Sedangkan dia menatapku sangat lekat. Sejak ia melihat aku keluar pintu. Pandangannya tidak berpaling ke arah lain.


“Ayo berangkat.”


“Frans. . .”


“Frans. . .”


Aku menepuk bahu Frans. Karena sudah beberapa panggilan tetapi Frans tidak meresponnya.


“Eh iya iya.”


“Kita berangkat sekarang ?”


“Ayo.”


Frans membuka pintu penumpang. Kemudian ia berputar untuk memasuki kursi pengemudi. Setelah seatbelt terpakai, Frans segera melajukan mobil mewahnya.


Selama perjalanan aku hanya terdiam. Aku tidak tahu harus membahas apa. Begitupun dengan Frans. Ia tidak berbicara sedikitpun. Sesekali aku melirik ke arahnya ketika Frans juga melirik ke arahku. Tetapi ia dengan segera mengalihkan pandangannya.


“Frans, kamu kenapa keringatan gitu ?”


“Hah ? Eu-eu gak papa, kok.”


Aku mengambil tissue untuk menyerap keringat yang bercucuran memenuhi paras tampan Frans. Keringatnya sangat dingin. Aku juga bisa merasakan bahwa Frans sekarang sedang resah. Ia terlihat sangat gugup ketika aku sangat dekat dengan dirinya.

__ADS_1


Aku menggenggam lengan kiri Frans, “Frans kamu gugup ?”


“Iy-iya.”


“Gak usah khawatir, kamu kan udah ketemu sama Papah dan Mamah, mereka baik kan ?”


“Hah ? Hmm, iy-ya.”


Frans tersenyum. Tetapi senyumnya tidak tulus. Ia hanya memaksakan agar terlihat baik-baik saja. Ia membawa mobilnya ke pinggir jalan. Aku tidak tahu sekarang ada dimana. Karena ini malam hari dan penerangan sangat minim. Aku melihat kanan dan kiri, sangat gelap. Sepertinya jauh dari pemukiman. Di depan dan belakang juga tidak ada mobil lain yang melintas.


Frans memiringkan badannya untuk menatap ke arahku. Aku juga membalas tatapannya. Aku sudah janji untuk berbuat baik kepada dia sampai rencanaku berhasil. Frans menggenggam kedua tanganku.


“Cantik. Kamu sangat cantik Angel.”


“Hehe. Makasih Frans.”


Tangan Frans perlahan mulai menaik. Menyentuh bahu menuju dagu. Kemudian Frans membelai rambutku sampai menyentuh pipi. Sejujurnya aku tidak tahan dan ingin melepaskan tangannya. Jika aku sedang tidak bermain peran, maka tamparan sudah melayang di pipi Frans. Tetapi aku harus menahannya.


“Tahan Angel ! Tahan ! Sebentar lagi.” Gumamku dalam hati.


Frans semakin memajukan wajahnya. Lebih dekat. Semakin dekat. Aku harus bagaimana ? Aku tidak mungkin menerimanya. Tetapi bagaimana cara aku menolaknya ?


“Tolong ! Tolong Angel ! Kali ini mohon selamatkan Angel !”


Aku memejamkan mata dengan harapan akan ada keajaiban yang menggagalkan usaha Frans untuk mendapatkan ciuman dariku.


Dred. .dred. .


“Ada telepon !”


Aku tersenyum ke arah Frans sembari menunjukan ponsel yang telah ada panggilan masuk ke dalamnya. Dengan begitu, Frans segera kembali ke posisi awalnya.


“Thanks Pah, telah menyelamatkan first kiss Angel.” Gumamku dalam hati dengan penuh rasa syukur.


“Iya, Pah.”


“Nak, kamu dimana ?”


“Angel lagi di jalan, Pah. Sebentar lagi juga sampai.”


“Ya udah cepat, ya !”


“Siap, Pah.”


Papah memutuskan panggilannya. Aku menyimpan kembali ponselku ke dalam tas.


“Kata Papah sudah menunggu. Jadi kita harus cepat !”


“Oke.”


Frans kembali fokus menatap jalanan. Aku bisa bernafas lega, karena sebentar lagi mobil Frans akan tiba di rumahku. Tidak ada lagi jalanan yang sepi. Sehingga Frans tidak akan melanjutkan kejadian tadi yang tidak berhasil.


*Bersambung*

__ADS_1


__ADS_2