
“Ini makanan buat Rendy. Dimakan ya!”
“Terimakasih Kak.”
Aku memberikan sandwich beserta susu putih hangat kepada Rendy. Tak lupa aku pun membeli makanan untuk aku dan Bi Rani. Kami menikmatinya di ruang tunggu depan kamar inap Pak Angga.
“Mbak Angel sama Ibu Rani?”
“Saya, Sus.”Ucap aku dan Bi Rani bersamaan ketika seorang perawat datang menghampiri kami.
“Ditunggu di ruang dokter sekarang Mbak.”
“Baik Sus, terimakasih.”
Kami menghentikan makan malam sejenak. Bi Rani membereskan makanan tersebut dan aku menggendong Rendy. Kami berjalan mengikuti langkah kaki perawat menuju ruangan dokter.
“Hasilnya sudah keluar, Bu. Mohon maaf untuk Ibu Rani golongan darahnya tidak cocok sama pasien. Dan syukurlah golongan darah Mbak Angel cocok sama pasien.”
“Syukurlah, jadi kapan Angel bisa mendonorkan darahnya, Dok?”
“Berdasarkan hasil pemeriksaan, kesehatan Mbak baik-baik saja. Jadi proses pendonoran darahnya bisa di segerakan.”
“Angel ingin secepatnya, Dok. Angel ingin Pak Angga kembali sehat.”
“Jika Mbak sudah siap, maka bisa dilangsungkan besok.”
“Saya siap, Dok.”
Kami keluar dari ruang dokter dengan senyuman yang terlukis. Akhirnya Pak Angga bisa kembali sehat. Dan aku bisa melihat Pak Angga seperti sedia kala. Namun sayang, senyuman tersebut tidak bertahan lama.
“Oh iya Bi...”
“Ada apa Non?”
Aku teringat ucapan Mamah yang mengatakan bahwa esok akan kesini. Padahal aku sudah berjanji dengan dokter untuk melakukan donor darah esok hari. Tapi jika ada Papah sama Mamah, apakah aku bisa medonorkannya untuk Pak Angga?
Baru saja masalah sudah terpecahkan, sekarang ada masalah baru lagi. Aku tidak tega melihat muka Pak Angga yang sangat pucat. Aku ingin Pak Angga kembali pulih.
“Eu gak papa, Bii.”
Aku berusaha untuk menutupi masalahku dengan senyuman manis yang tidak pernah hilang.
“Oh iya Bii, kalau Bibi mau pulang gak papa kok. Biar malam ini Angel yang menemani Pak Angga.”
“Bibi disini aja, Non.”
“Tapi seriusan gak papa kok. Kasihan Rendy, biar dia istirahat di rumah aja.”
“Rendy gak papa kok, Kak. Rendy disini aja ya, temani Kak Angel.”
“Ya udah. Tapi sekarang Rendy tidur ya! Udah malam. Ayah biar Kak Angel yang jaga.”
“Nanti kalau Kak Angel lelah bangunin Rendy ya, Kak. Rendy akan menggantikan Kakak untuk menjaga Ayah.”
“Iya sayang.”
Cup!
Aku memberikan kecupan di kening Rendy. Kemudian aku meminta Bi Rani untuk membawa Rendy menuju sofa yang terletak di pojok ruang tersebut. Sedangkan aku terduduk di kursi samping ranjang Pak Angga, dengan tangan yang memegang lengan Pak Angga.
“Bee, sabar ya! Besok Angel akan mendonorkan darah Angel untuk kamu. Setelah itu, kita bisa becanda lagi. Angel kangen sama kamu. Hiks...”
__ADS_1
Bukan hanya mukanya yang pucat, lengannya juga sangat pucat seperti tidak ada darah yang mengalir. Terlihat air infusan yang mengalir melalui selang yang di masukkan di tangannya. Aku bisa merasakan bagaimana ngilunya ketika jarum suntik menembus kulit.
Rendy tidak lagi menangis seperti pertama aku baru tiba. Saat ini aku melihat Rendy sudah terlelap ditemani Bi Rani di sampingnya. Hal tersebut membuat hatiku menjadi lebih tenang. Hingga tanpa tersadar kantuk sudah datang menghampiriku. Aku tertidur dengan tangan yang masih menggenggam Pak Angga.
Sapuan sesuatu yang membelai kepalaku dengan halus membuat aku terbangun dari alam bawah sadar. Dengan mata yang masih menyipit aku berusaha untuk menarik sesuatu yang telah mengganggu tidurku. Tetapi gerakanku terhenti kala aku merasakan sesuatu tersebut adalah jari seseorang.
“Pak Angga...”
“Sssttt! Nanti Rendy bangun.”
Aku mengecilkan volume suara. Dan berbicara layaknya seseorang yang sedang berbisik.
“Bee syukurlah sudah sadar. Angel panggilkan dokter, ya!”
Pak Angga menarik lenganku ketika aku hendak meninggalkannya. Aku kembali membalik dan menatap bola mata Pak Angga yang masih sayu.
“Besok aja ya. Sekarang sudah malam. Aku tidak mau membuat Rendy dan Bi Rani terbangun. Kita tunggu esok pagi untuk memanggil dokter.”
“Tapi Bee...”
“Kamu temani aku disini. Aku mohon jangan pergi!”
Mendengar ucapan Pak Angga membuat aku mengurungkan niat untuk pergi meninggalkan ruangan. Aku kembali terduduk di samping Pak Angga dengan genggaman yang semakin erat.
Cup!
Dengan tenaga yang sangat kecil, Pak Angga menarik tanganku secara hati-hati. Kemudian ia mengecup punggung tanganku. Aku tersenyum menatapnya. Pak Angga juga berusaha untuk menciptakan senyuman yang susah payah ia buat.
“Maafkan aku membuatmu khawatir.”
“Jangan teralu banyak bicara, Bee. Lebih baik Pak Angga istirahat, ya! Angel temani disini. Angel janji tidak akan pergi.”
“Aku kangen sama kamu.”
“Jangan nangis !”
Pak Angga mengusap air mata yang lolos dari pelupuk mataku.
“Oh iya, besok Angel akan mendonorkan darah Angel buat kamu. Pokoknya Pak Angga harus janji sama Angel kalau kamu bisa melawan rasa sakit itu.”
“Kenapa harus kamu? Aku tidak mau menyakiti kamu.”
“Angel sama sekali tidak sakit, Bee. Ini salah satu cara agar Angel bisa melihat Pak Angga kembali sehat.”
“Terimakasih sayang. Aku janji kalau aku akan sembuh.”
“Janji?”
“Janji.”
“Hehehe.”
Aku dan Pak Angga tertawa pelan. Tak lama Pak Angga kembali terlelap. Mungkin efek samping dari obat kimia yang ia konsumsi, membuatnya mudah tertidur. Setelah memastikan tidur Pak Angga nyenyak, aku mengikuti jejaknya.
Aku terbangun ketika mendengar seseorang menahan tawanya. Rasanya baru sebentar aku tertidur. Tetapi ketika melihat jam di tanganku, sudah menunjukan pukul 7 pagi. Dan aku membalikan tatapan ke arah berlawanan. Aku dapat melihat anak kecil dan wanita paruh baya sedang menutupi mulutnya agar tidak menciptakan suara.
“Rendy...”
“Bi Rani...”
Setelah aku tersadar hal apa yang membuat mereka terkekeh geli, aku segera berdiri dan menjauh dari Pak Angga.
__ADS_1
“Kak Angel cocok deh sama Ayah. Kak Angel kenapa gak menikah aja sama Ayah? Nanti kan Kak Angel bisa menjadi ibunya Rendy.”
“Hah? Eu...”
“Rendy ikut Bibi yuk! Katanya Rendy lapar. Kita cari makan!”
“Ayo Bii.”
Hffttt.
Akhirnya aku bisa bernafas lega. Bi Rani sangat peka. Ia membantu aku mengalihkan pertanyaan Rendy. Aku juga masih malu sama mereka. Kenapa juga aku tidak sadar kalau sudah pagi. Andai tidurku tidak terlalu nyenyak, maka mereka tidak akan melihat aku tidur sambil memeluk pinggang Pak Angga.
“Arrgghhh.”
Aku memukul pelan kepalaku. Sesekali juga menjambaknya secara halus tapi masih menimbulkan rasa sakit. Pak Angga yang mendengar aku mengaduh kesakitan juga ikut terbangun.
“Kamu kenapa?”
“Hah? Eu tidak.”
“Kamu sakit?”
“Enggak kok. Hehe.”
Dred..dred..dred...
Dering ponsel mengalihkan perhatian aku dan Pak Angga. Aku memeriksa ponselku. Dan ternyata benar. Itu panggilan untukku dari Mamah. Aku meminta ijin kepada Pak Angga untuk menjawab panggilan tersebut.
“Iya, Mah.”
“Mamah sama Papah lagi di perjalanan, sayang.”
“Sekarang, Mah.”
“Iya. Kalau tidak macet sekitar 30 menit lagi juga tiba.”
“Hah? Kok cepat Mah.”
“Lah emangnya harus berapa lama sayang?”
“Oh enggak. Ya udah Angel tunggu di kost-an ya, Mah.”
Aku kembali menghampiri Pak Angga. Sebelum aku menjelaskan sepertinya Pak Angga sudah mengetahui apa yang aku bicarakan melalui telepon.
“Ya udah kamu pulang aja. Aku tidak mau kamu dimarahi sama orang tua kamu.”
“Tapi Bee, gimana sama kamu?”
“Kamu tenang aja! Ada Bi Rani sama Rendy yang menjaga aku.”
“Maafkan Angel, Bee!”
“Tidak apa. Aku mengerti. Pulanglah!”
*Bersambung*
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak berupa like, komen, rate 5 & vote seikhlasnya 😍😍
Terimakasih 🙏🙏