
“Hahaha.”
Pak Angga mengeluarkan tawanya yang menggelegar. Sedangkan aku masih diam seribu bahasa. Apa yang barusan terjadi, rasanya seperti mimpi. Pak Angga melambaikan tangannya di depan mataku untuk membantu aku tersadar.
“Kenapa melamun ?”
“Bee, bukannya tadi sedang marah ?”
“Enggak. Aku sengaja mau tahu aja bagaimana ekspresi kamu ketika aku sedang cemburu.”
“Ih nyebelin.”
Aku tidak terima karena berkali-kali dijahili oleh orang-orang di sekitarku. Tidak hanya Alessyia. Pak Angga juga selalu menggodaku.
“Kamu lucu kalau lagi merayu. Seharusnya aku biarkan kamu lebih lama mengemis minta maaf.”
“Ih jahat.”
“Hahaha.”
Lagi lagi Pak Angga ketawa dengan lepas. Dia selalu mengatakan bahwa raut muka yang aku tunjukan selalu nampak lucu. Padahal saat ini saja aku sedang kesal kepadanya. Tapi bagaimana aku akan marah jika dia selalu mengucapkan kata-kata yang manis di dengar. Akhirnya aku luluh juga dibuatnya.
“Bee, gimana sekolah barunya ?”
“Hmm masih terlihat normal sih.”
“Nyaman gak, Bee ?”
“Enggak.”
“Lho kenapa ?”
“Karena gak ada kamu.”
“Ih geli Angel dengarnya. Nanti juga ada yang lebih cantik dari Angel. Pasti kamu melirik deh.”
“Iya dong. Masa enggak.”
“Ih kok gitu sih ? Tahu ah. Sebal Angel.”
Gurauan Pak Angga tiba-tiba terasa aneh di telingaku. Padahal aku sendiri yang memulainya. Tapi aku tidak mengharapkan respon seperti itu darinya. Apalagi dia sama sekali tidak mempedulikan aku yang sedang meradang.
Pak Angga asik mengoperasikan setir kemudinya. Sedangkan sepanjang jalan aku hanya menatap arah jendela samping. Ketika lampu merah menghentikan mobil yang dikendarai Pak Angga, aku melihat anak kecil yang membawa gitar berukuran lebih besar dari badannya.
Anak kecil itu mengetuk jendelaku. Aku tidak tega jika harus melihatnya secara langsung. Tetapi akan lebih kejam jika aku membiarkannya menutup terus. Aku menekan tombol untuk menurunkan kaca jendela.
Anak kecil itu mulai bernyanyi dengan suara yang sangat lantang. Aku tidak tahu apa yang ia nyanyikan. Aku juga tidak yakin dia hafal semua lirik dari lagu yang dibawanya. Tetapi dia tidak pernah berhenti bernyanyi. Dan suaranya sangat enak di dengar.
“Semangat ya, Dek !!!”
“Terimakasih, Kak.”
Aku memberikan sepeser uang kepada anak kecil itu. Meskipun jumlahnya tidak terlalu besar. Tetapi aku harap dapat bermanfaat baginya. Tanpa tersadar air mata menetes mengalir melalui pipi. Aku melihat Pak Angga menggenggam tanganku disertai dengan senyuman menghangatkan.
Mobil hitam yang dikendarai oleh Pak Angga telah memasuki gerbang kost-kostan. Sepanjang jalan Pak Angga tidak melepaskan genggamannya. Tetapi kali ini harus terlepas. Karena jika tidak, kami tidak bisa keluar dari mobil ini.
Pak Angga kembali menggenggam tanganku. Kami berjalan bersama menyusuri anak buah tangga untuk tiba pada suatu tujuan.
“Masuk dulu, Bee.”
“Di depan ya !”
__ADS_1
“Oke.”
Aku menyimpan tas kuliahku dan mengambil suguhan untuk Pak Angga. Entah kenapa balkon selalu menjadi saksi pertemuan aku dengan Pak Angga. Mungkin langit yang terbentang luas dihiasi bintang bertaburan. Serta desiran angin malam mampu membuat pikiran kami kembali segar setelah seharian beraktivitas.
“Bee, Angel serius tanya.”
“Apa sayang?"
“Gimana tadi di sekolah barunya.”
“Karena baru pertama masuk. Jadi belum langsung mengajar. Masih tahap pengenalan lingkungan sekolah. Kalau kamu kuliahnya ?”
“Lancar. Dan tentunya selalu ada tugas.”
“Ayo kerjakan !”
“Nanti aja, Bee. Angel masih capek. Lagian buat minggu depan kok.”
“Walaupun tugasnya buat minggu depan, kamu harus kerjakan sekarang. Setelah tugasnya selesai, tidak akan ada lagi beban yang mengganggu pikiran kamu. Tidur kamu jadi nyenyak. Percaya deh.”
“Iya Pak Guru.”
Aku kembali ke dalam untuk mengambil tugas yang diberikan hari ini. Aku meminta Pak Angga untuk membantu menyelesaikannya. Karena dia yang membuat aku mengerjakan tugas itu hari ini. Dia juga telah berjanji akan membantu jika aku mengerjakannya hari ini.
Sejenak aku merelekskan otot-otot jemariku. Rasanya melelahkan terus mengetik. Otot-otot yang terletak disana membuat jemariku kaku.
“Capek ?”
“Heem.”
“Sebentar lagi juga selesai. Ayo semangat !”
“Haaaaa.”
Hoaammm.
“Kamu ngantuk ?”
“Enggak, kok.”
Aku berusaha menutupi mulutku agar tidak terlihat ketika aku sedang menguap. Tetapi kantuk itu tidak bisa dihilangkan. Semakin lama semakin membuat mataku susah terbuka. Perlahan aku menyender di bahu Pak Angga dan tertidur dengan pulas.
Pak Angga berusaha untuk menutupi tubuhku menggunakan jaketnya. Tetapi pergerakan itu mengganggu dan membuat aku terbangun.
“Maaf maaf. Tadi sampai mana tugasnya ?”
“Katanya gak ngantuk. Kok tidur ?”
“Angel gak tidur kok.”
“Itu lihat di laptop.”
Aku mengambil laptop yang diletakan di meja. Aku tidak menyangka layar laptop telah terisi penuh oleh tulisan. Saat memastikan nomor soal. Ternyata semuanya lengkap.
“Bee, ini siapa yang ngerjain ?”
“Kalau kamu gak tidur harusnya tahu dong.”
Aku tidak bisa berbohong lagi. Pak Angga mengetahui kalau aku tertidur pulas di bahunya.
“Iya maaf. Angel ketiduran. Tapi ini siapa yang ngerjain, Bee.”
__ADS_1
“Emangnya ada orang selain aku dan kamu ?”
Aku hanya menggeleng menjawab pertanyaan Pak Angga. Berarti yang mengerjakan itu semua adalah Pak Angga. Aduh, aku semakin tidak enak hati kepadanya. Terlalu sering aku merepotkan hidupnya.
“Terimakasih ya, Bee."
“Kalau kamu mau berterimakasih kepadaku, menikahlah denganku.”
“Bee, ini becanda kan ?”
“Memangnya aku terlihat sedang becanda ?”
“Terus. .terus kalau melamar Angel, kenapa gak ada bunga atau cincin ? Itu gak sah.”
“Karena aku tahu kamu akan menolaknya.”
Aku tidak bisa berkata apa-apa. Menatap manik mata Pak Angga membuat aku semakin merasa bersalah.
“Bee, Angel minta maaf. Angel belum siap untuk menikah.”
“Tak apa. Aku memahaminya.”
“Apa Pak Angga akan setia menanti sampai Angel siap ?”
“Iya.”
“Meskipun lama ?”
Pak Angga terdiam. Aku menantikan jawabannya dengan penuh kecemasan. Takut jika Pak Angga tidak bisa menunggu terlalu lama.
“Jika terlalu lama, aku tidak bisa berjanji.”
Ternyata benar. Pak Angga tidak bisa menunggu terlalu lama. Lagi pula siapa yang mau menunggu waktu yang tidak pasti. Aku saja tidak mau jika menanti sesuatu yang belum ada kepastiannya.
“Haha. Becanda sayang. Dengarkan aku !”
Pak Angga menarik daguku agar bisa menatap wajahnya. Ia berkata dengan penuh perhatian.
“Jika kamu orang yang menjadi penantianku, maka aku akan terus menunggu. Entah itu satu minggu, satu bulan, satu tahun bahkan lebih. Aku akan selalu berdiri menantikan dirimu. Tidak ada alasan aku untuk meninggalkan kamu. Karena dari awal aku memilihmu, maka aku sudah siap dengan segala bentuk konsekuensinya.”
“Angel takut akan menjadi orang yang ditinggalkan.”
“Aku tidak akan meninggalkan. Mungkin kata kamu benar, di luar sana masih banyak yang lebih cantik dan lebih segalanya dari kamu. Tapi itu semua tidak akan mengubah rasa cinta dan sayangku kepadamu. Aku juga tidak bisa menyukai dan mencintai mereka. Karena mereka bukan kamu. Aku tidak bisa menemukan sosok seperti dirimu pada yang lain. Hanya ada satu kamu di dunia ini. Dan hanya kamu yang aku cinta.”
“Apa alasan kamu begitu mencintai Angel ?”
“Jujur aku tidak pandai merangkai kata. Dan jika ditanya seperti itu, aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya. Karena yang tahu hanya aku dan perasaanku. Kamu hanya perlu tahu aku sangat mencintaimu. Tidak akan pernah meninggalkan kamu.”
Jika kita mencintai karena paras rupawan, seiring berjalannya waktu muka itu akan berubah menjadi keriput. Lalu apakah cinta itu akan ikut hilang ?
Dan jika kita mencintai karena harta, ketika hidup kita tidak lagi bergelimang harta. Apakah cinta itu masih ada ?
Menurutku alangkah lebih baik jika mencintai tanpa alasan. Maka tidak akan ada alasan untuk meninggalkan.
*Bersambung*
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa like, komen, rate 5 & vote🥰💙
Terimakasih 🙏🙏