
Jika kepercayaan telah ternodai. Akan sangat sulit untuk mengembalikan pada posisi awal, sewaktu kepercayaan itu masih berpihak kepadanya. Hanya ada dua pilihan. Masih memberikan kesempatan, atau akhiri sampai disini.
“Angel, apakah penjelasan aku masih membuat kamu ragu ?”
Aku masih enggan memberikan jawaban. Pikiranku semberawut. Apa aku harus percaya dengan Pak Angga, setelah aku melihat dengan mata kepalaku sendiri apa yang dilakukan olehnya bersama Windy.
Aku masih sangat mencintainya. Jika kesempatan itu tidak aku berikan kepada Pak Angga, maka hubungan kami akan berakhir. Aku membalikan posisi duduk untuk menatap manik mata Pak Angga. Di matanya masih sama. Terlihat tulus dan meyakinkan.
“Angel akan memberikan kesempatan kepercayaan yang kedua untuk Pak Angga. Tetapi jika peristiwa seperti ini terulang kembali, Angel tidak tahu apakah masih ada kesempatan lagi untuk Bapak atau tidak.”
Pak Angga memeluk dan mencium keningku, “Terimakasih, Angel. Terimakasih.”
***
Libur itu membosankan. Apalagi aku hanya menghabiskan aktifitas sehari-hari di dalam rumah, tidak ada holiday, atau sekedar keliling kota. Andai Papah ikut libur juga dari pekerjaannya, pasti aku sudah mengunjungi tempat-tempat wisata yang sangat ingin aku datangi.
Setelah menyiram tanaman bunga, maka aktifitas aku selanjutnya yaitu makan, tidur, nonton drama, main game, atau sekedar memainkan gadget tidak jelas. Seperti saat ini. Taman bunga dilantai 2 telah aku siram. Begitupun dengan taman di halaman depan rumah. Sekarang giliran aku memainkan gadget.
Sesekali aku terkekeh geli melihat kartun-kartun yang aku putar di salah satu aplikasi pemutar video. Mamah yang menyaksikan aku juga ikut tertawa. Awalnya Mamah menegur jika aku tertawa sendiri. Tetapi setelah mengetahui hal apa yang membuat aku tertawa, Mamah bisa memahaminya.
“Sayang kebiasaan deh ketawa-tawa sendiri.”
“Haha ini lucu banget, Mah.”
“Mamah mau pergi dulu ya, sayang.”
Dari tadi aku menjawab pertanyaan Mamah tanpa menoleh ke arahnya. Sekarang aku melirik, ternyata Mamah sudah berpakaian rapih. Bukan pakaian yang biasa dipakai sehari-hari. Biasanya Mamah memakai itu jika ingin mengunjungi suatu tempat.
“Lho, Mamah mau kemana ? Kok udah rapih banget.”
“Kamu lupa, ya ? Semalam Mamah udah bilang sama kamu, kalau hari ini Mamah ada acara arisan sama teman-teman Mamah.”
“Oh iya. Angel lupa, Mah. Hehe.”
“Hmm kamu ini.”
“Tapi Mamah gak lama kan ?”
“Enggak, sayang. Nanti Mamah pulang sebelum matahari terbenam, ya.”
“Heem. Hati-hati, Mah.”
__ADS_1
Aku baru ingat bahwa semalam Mamah bilang ada arisan hari ini. Jika Mamah tidak pamit lagi, maka aku tidak akan ingat. Entah kenapa aku bisa lupa. Mungkin aku perlu piknik untuk merefresh otakku.
Aku kembali melanjutkan aktifitas yang sempat terjeda.
Dred. .dred. .
Getar ponsel menghentikan aksiku yang sedang asik memutar video kartun. Setelah aku membaca pesan masuk, bukan hanya ketawa yang aku lakukan. Melainkan, melompat dari sofa dan berputar-putar kegirangan. Bagaimana tidak, liburan yang sangat aku impikan, sebentar lagi akan terwujud.
Pak Angga mengajak aku untuk berlibur ke pantai. Aku segera menuju kamar mandi. Karena sejak pagi aku belum mandi, hanya sekedar cuci muka untuk menghilangkan noda bekas tidur.
“Non Angel mau kemana ?”
Bi Dara yang melihat aku sudah berdandan cantik hendak meninggalkan rumah menghentikan langkahku untuk bertanya kemana aku akan pergi. Aku tidak mau berbohong. Tetapi aku tidak mungkin mengatakan yang sejujurnya bahwa aku akan pergi bersama Pak Angga. sudah pasti Bi Dara akan melapor kepada Papah.
“Bi, Angel bosan di rumah terus. Angel mau keliling kota dulu. Sebentar aja !”
“Oh iya, Non. Padahal Non lagi libur kuliah, tapi gak jalan-jalan kemanapun. Pasti jenuh ya, Non ?”
“Iya makanya, Bi. Bolehkan Bi ?”
“Boleh dong, Non. Nanti Bibi sampaikan pada Ibu, ya.”
“Makasih Bibi. Angel sayang Bibi.”
“Ekhem. . .”
Pak Angga menoleh. Ia memperhatikan outfit aku hari ini. Aku memang selalu mengenakan pakaian simpel dan sederhana. Karena yang penting bagiku adalah fakor kenyamanan, bukan kemewahan.
“Bee, kenapa lihatinnya gitu banget. Angel jelek ya ?”
“Cantik. Sangat cantik.”
Aku tersenyum tersipu malu mendengarkan pujian dari Pak Angga. Jarang sekali Pak Angga melontarkan kata-kata pujian. Oleh karena itu, aku sangat senang ketika mendengar pujian dari Pak Angga.
Perjalanan menuju pantai cukup melelahkan. Apalagi berkendara menggunakan roda dua. Sesekali Pak Angga menggenggam tanganku dan bertanya, “Kamu lelah ? Kita istirahat sebentar.”
Aku membalikan pertanyaan itu kepada Pak Angga, “Kalau Bee lelah kita istirahat sebentar.”
Pak Angga terkekeh mendengar jawabanku. Meskipun terhalang helm, tetapi aku masih dapat mendengar tawa Pak Angga. “Aku gak lelah. Kita lanjut aja, gimana ?”
Aku tersenyum. Meskipun Pak Angga tidak dapat melihatnya. Pak Angga kembali kepada posisi awal dengan tangan menggenggam setir kendali dan tatapan menerobos jalanan. Pak Angga mempercepat laju si merah. Aku memeluknya untuk menghilangkan rasa takut.
__ADS_1
Setelah sampai ke tempat yang dituju, aku segera turun dari motor. Pak Angga melepaskan helm yang dipakainya. Kemudian dia membantu aku melepas helm yang menjadi pelindung kepalaku. Pak Angga menggandeng tanganku untuk berjalan di atas hamparan pasir berwarna kecoklatan.
Sinar sang surya membuat pasir terasa hangat ketika terinjak. Pantulan cahayanya menjadikan laut nampak indah dengan warna khas biru yang dimilikinya. Deburan ombak membuat suasana bergemuruh. Angin yang bertiup kencang membuat rambut yang tertata rapih menjadi berantakan.
Panorama yang sangat indah. Pandanganku enggan beralih untuk menatap laut yang sangat luas. Aku tidak tahu apakah ada ujungnya atau tidak. Perhatianku teralihkan ketika pasir basah mendarat di pipi. Tentunya meninggalkan jejak disana. Aku melihat ke samping. Seseorang yang sedang menertawakanku.
“Pak Angga. . .”
“Hahaha.”
“Ihh nyebelin. Angel lagi menikmati suasana pantai tahu.”
“Tapi jangan mengabaikan pacar juga kali.”
Pak Angga kembali mencoret pipiku. Sekarang kedua bagian pipiku telah kotor. Aku tidak bisa terima begitu saja. Aku harus membalas kelakuan Pak Angga. Tetapi aku terlambat. Pak Angga telah lebih dulu melarikan diri. Aku segera mengejar Pak Angga.
Ketika tinggal beberapa langkah untuk menggapainya, aku terjatuh. Pak Angga tidak menolongku. Dia malah memberikan aku semangat agar aku terus berusaha untuk mendapatkannya. Tentu aku tidak mau menyerah. Aku akan terus berlari sampai berhasil mencoret pipi Pak Angga.
“Whoaaa.”
“Hahahaha.”
“Yeay Angel dapat. Angel akan coret pipi Pak Angga.”
“Haha ampun Angel. Haha.”
Pak Angga berusaha menghalangi tanganku. Tetapi sia-sia. Dua tanda telah mendarat dengan sempurna di pipi kanan dan kirinya. Perasaanku sangat lega. Akhirnya apa yang aku kejar bisa aku dapatkan. Meskipun sangat menguras tenaga, dan membuat nafasku terengah-engah.
“Sini duduk !”
Pak Angga mengajak aku untuk duduk di pasir menghadap lautan yang terbentang luas. Tanpa memikirkan apakah akan mengotori pakaianku atau tidak, aku langsung menerima tawaran Pak Angga. karena kakiku pegal, tidak kuat lagi untuk berdiri.
“Apakah kamu bisa mengambil pelajaran dari apa yang terjadi barusan.”
“Hem ?”
“Semua yang kamu impikan tidak dapat diraih dengan mudah. Semuanya perlu proses dan membutuhkan perjuangan. Bahkan yang kamu pikir sudah berada di depan mata, terasa sulit untuk digapai. Tetapi jika kamu pantang menyerah. Melewati rintangan dengan tekad yang kuat. Kamu pasti bisa mendapatkan apa yang kamu inginkan.”
Pak Angga melanjutkan petuahnya dengan senyum manis yang ia tunjukan.
“Jangan pernah menyerah ! Kamu pasti bisa melewatinya. Teruslah berjuang ! Sampai impian berada di genggaman tanganmu.”
__ADS_1
*Bersambung*