
Sendiri itu sepi. Tidak ada tempat berbagi. Tidak ada bahu untuk bersandar. Tidak ada telinga yang bersedia untuk mendengar keluh kesah. Air mata dan cermin. Itulah yang menemaniku saat ini. Cermin tempat terbaik. Ia tidak pernah berbohong. jika objek yang di depannya menangis, maka ia juga ikut menangis. Begitupun jika objek yang di depan tertawa, maka ia akan memantulkan tawa.
“Mah, Pah . . Angel rindu. Angel ingin dipeluk Mamah. Hiks . .hiks. .”
Ini resiko dari jalan yang aku pilih. Aku memilih untuk hidup mandiri. Maka masalah yang menimpa terhadapku, harus diselesaikan sendiri. Sekali lagi aku harus tetap berjalan. Inilah jalan yang aku pilih.
Lebih dari satu minggu berlalu. Aku dan Alessyia masih enggan bertegur sapa. Aku telah mencoba untuk menyapanya terlebih dahulu, namun aku ditinggalkan sebelum selesai berbicara. Belum pernah kami renggang seperti ini. Apalagi ini hanyalah kesalah pahaman.
Aku juga berusaha untuk menghindar dari Kak Reza. Setiap kali melihatnya, aku segera menjauh. Aku tidak mau menambah masalah. Sudah cukup Alessyia membenciku. Aku tidak ingin lebih banyak lagi yang tidak suka atas kehadiran diriku.
“Angel tunggu.”
“Angel. . .”
Aku sama sekali tidak menggubris panggilan itu. Sebenarnya aku telah melihat dari kejauhan sedan merah terparkir di depan gerbang kost-an. Aku tahu siapa pemiliknya. Dialah Reza Mahardika. Namun kali ini aku gagal menghindar. Dia telah berhasil menarik tangan kananku.
“Kenapa kamu menghindar dari Kakak ?”
“Tidak kok, Kak. Angel tidak menghindar.”
“Setiap kali Kakak melihat kamu, kamu selalu menjauh dan pura-pura tidak melihat. Ada apa ?”
“Tidak ada, Kak. Maaf Angel harus segera pergi.”
“Kita berangkat bersama !”
“Angel jalan kaki aja, Kak.”
“Please ! Ayolah. Kakak telah menunggu kamu disini kurang lebih setengah jam.”
Aku tidak tega melihatnya. Apalagi mendengar penjelasan darinya yang telah menungguku cukup lama. Tetapi jika aku mengikutinya, akan menimbulkan masalah yang sangat besar.
“Sekali lagi Angel minta maaf. Tapi Angel tidak bisa, Kak. Permisi.”
Aku segera pergi meninggalkan Kak Reza. Ini pilihan yang paling tepat. Jika aku ingin hidup damai, maka salah satunya cara adalah menjauh dari Reza Mahardika. Aku dan Alessyia akan baikan nantinya. Dan aku tidak akan berurusan lagi dengan Geng Mozea.
Berapa lama lagi akan seperti ini ? Kami berpapasan, tapi tidak saling menyapa. Kami sangat dekat, tetapi seperti orang asing. Kami saling mengenal, tetapi acuh tak acuh.
Aku berjalan menyusuri jalanan sisi ruang. Hanyalah seorang diri. Jangankan jalan bersama, teman sekelas bahkan seolah jijik melihatku. Ternyata dunia terlalu keras bagi aku yang berhati lemah.
Brakk. .
Klek !!!
__ADS_1
Pintu ditutup dan kunci diputar. Aku berada di dalam sebuah ruang, setelah sebelumnya tanganku ditarik oleh seseorang. Pengap sekali. Tidak ada pentilasi mengakibatkan udara yang masuk sangat sedikit. Apalagi di ruangan tersebut dipenuhi oleh tumpukan barang-barang yang sudah tidak terpakai. Sudah pasti jarang dibersihkan, aku dapat melihat sarang laba-laba menempel di atas dinding.
“Gue sudah peringatkan sama lo untuk jauhin Reza Mahardika. Apa lo gak ngerti ?”
“Lo mau gue hukum ? Hah ?”
“Gue bisa lebih kejam dari ini.”
“Gue bisa mempermalukan lo ke seluruh dunia.”
Aku hanya bisa terdiam dengan pandangan menunduk. Aku sudah menjauhi Kak Reza. Tetapi kenapa Mozea masih mengincarku ?
“Aku sudah menjauhi Kak Reza.”
“Apa ? Apa lo bilang ? Gue gak bisa dengar.”
“Aku sudah menjauhi Kak Reza.”
“Lo bilang apa ?”
“Guys ada yang dengar gak dia bilang apa ?”
Mereka terus menyudutkan aku. Aku benar-benar takut. Apalagi aku sendiri melawan 4 orang senior.
“Ini yang lo maksud menjauh ? INI ?”
“Darimana Kakak mendapatkan foto itu ?”
“Itu gak penting. Gue dapat foto ini darimana itu gak penting. Yang penting adalah lo yang telah berani melawan gue.”
“Tapi Kak, itu tidak seperti yang Kakak lihat. Aku sudah menjauhi Kak Reza, tapi . .”
“Tapi apa ?”
“. . .”
Tiba-tiba pintu dibuka dan seseorang masuk ke dalamnya. Apakah aku tidak salah lihat ? kenapa dia ada disini ? Apa yang dia lakukan ? Bagaimana dia bisa mengenal Geng Mozea ?
“Lo tadi nanya darimana gue dapat foto ini ?”
“Inilah jawabannya.”
“Cha. . .”
__ADS_1
“Kenapa ? Lo pasti heran, iya ?”
“Hiks. . .hiks. . .”
“Bagaimana bisa sahabat yang telah lama menemani lo, tetapi malah menyerahkan lo ke kandang macan ?”
“Makanya jangan sok cantik ! Jangan mimpi Reza akan menyukai lo.”
“Lo harus gue kasih pelajaran. Agar lo paham kalau gue gak main-main dengan ucapan gue."
“Ayo guys.”
Mereka segera berlalu meninggalkan ruangan. Alessyia ikut bersama Mozea. Aku hendak mengikuti mereka keluar dari ruangan yang sangat pengap ini. Namun aku terlambat. Pintu telah ditutup dan dikunci dari luar.
“Hiks . .hiks. . .”
Mozea berbisik dari balik pintu, “Tenang aja, ini baru permulaan. Belum apa-apa.”
Aku tidak mengerti kenapa Alessyia bisa bersama Geng Mozea. Kenapa dia tega mengadukan aku kepada Zea ? Apakah segitu marahnya dia terhadapku ? Apakah pintu maafnya telah tertutup untukku ?
Apakah Alessyia telah melupakan kebersamaan kita ? Kita pernah berjanji untuk selalu bersama. Kita menangis bersama ketika gagal dalam ujian. Dan kita tertawa bahagia bersama ketika lulus ujian. Bahkan Alessyia yang membantu aku agar bisa kuliah disini. Itu Karena aku tidak mau berpisah dengannya. Apakah itu semua tidak berarti baginya ?
Kenapa persahabatan kita hancur hanya karena seorang pria ? Jika aku bisa memilih, aku lebih memilih kehilangan pria yang aku cintai daripada kehilangan seorang sahabat. Aku masih bisa menemukan pria yang lain, yang akan mencintai diriku. Tetapi aku tidak bisa menemukan seseorang yang dapat aku jadikan sahabat.
Banyak orang yang datang, tetapi mereka juga mudah pergi. Apalagi mereka hanya datang ketika aku sedang bahagia, tetapi ketika aku sedang susah mereka menghilang entah kemana. Sahabat sejati adalah dia yang selalu berada disampingmu meskipun telah mengetahui keburukanmu. Sekarang aku kehilangan sosok itu.
“*Hallo ?”
“Hallo Angel* ?”
“To. .long. . .”
“Angel ? Kamu dimana Angel ?”
Uhuk. . .uhuk
“Angel kamu bisa mendengar Kakak ? Kamu dimana sekarang ?”
Aku tidak kuat lagi lebih lama disini. Dadaku sesak. Aku tidak tahu harus minta tolong pada siapa. Aku tidak kenal banyak orang disini. Yang aku ingat hanyalah Kak Reza. Aku harap Kak Reza bisa menemukan keberadaanku. Tapi bagaimana bisa ? Aku belum sempat menjelaskan posisiku saat ini.
Tuhan aku sangat mengharapkan keajaibanmu saat ini. Tolong selamatkan aku ! Masih banyak yang harus aku lakukan. Masih banyak tugas yang belum aku selesaikan. Dan masih ada cita-cita yang belum aku wujudkan.
Aku masih perlu menjelaskan kepada Alessyia tentang kebenarannya. Aku tidak mau Alessyia terus membenciku. Dan aku masih harus membuktikan kepada Papah dan Mamah bahwa aku bisa membanggakan mereka. Aku harus membuktikan kepada dunia bahwa aku bisa menaklukan berbagai rintangan. Dan satu lagi, aku masih harus mendampingi Pak Angga. Aku telah berjanji akan selalu berada disampingnya.
__ADS_1
“Tolong selamatkan aku.”
*Bersambung*